
Tindakan Sean yang nekat masuk ke kandang macan tersebut sampai ke telinga Zean. Sebagai saudara yang pernah berbagi rahim dengannya, jelas saja Zean khawatir. Menjelang siang, dengan didampingi Syila, pria itu mengunjungi Sean di kamar yang tidak begitu jauh dari ruangannya.
Menurut Mikhayla tidak begitu parah, tapi di mata Zean lebam yang ada di wajah pria itu pasti amat menyakitkan. Benar-benar tidak habis pikir, Sean cari mati dan kini mereka sama-sama di rawat di rumah sakit.
"Kau baik-baik saja, Sean?"
"Hm, kak Evan saja terlalu berlebihan."
Mikhayla mendelik kala nama suaminya dibawa-bawa. Bukannya berterima kasih dilarikan ke rumah sakit, Sean justru menggerutu dan menganggap Keyvan berlebihan. Padahal, jika tidak dibawa ke rumah sakit, maka luka itu mungkin saja infeksi atau lain sebagainya.
"Bibirmu pecah, pasti sakit."
Dilihat seakan benar-benar lemah adalah hal yang sangat Sean benci sejak dahulu. perlakukan semua orang menunjukkan seakan dirinya benar-benar tidak berdaya. Padahal, ketika dia sendirian, luka yang lebih mengerikan pernah Sean rasakan.
"Tidak, cuma geli."
Dia menjawab malas dan mulai muak Zean jenguk saat ini. Dia malu, dia yang dilarikan ke rumah sakit seperti ini menunjukkan bahwa Sean belum sanggup menandingi kemampuan Nathan dalam membela diri.
"Keluarlah, pasien mana yang berkeliaran sepertimu."
Sean menatap iba saudaranya yang kini tampak duduk di kursi roda, entah karena memang mengalami masalah serius atau hanya manja lantaran ada istrinya. Terserah, pikiran Sean sudah terlalu penat untuk menerka-nerka.
"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Aku sudah dengar semuanya dari kak Evan, kau nekat sekali, Sean," ucapnya seraya menggeleng pelan, tidak salah jika dia menjuluki Sean pembuat onar sejak dahulu.
"Jangan bodoh, Sean. Aku tahu kau menyayangiku, tapi jangan pernah membahayakan dirimu seperti itu," tutur Zean sedikit kaku mengutarakannya. Ini adalah pertama kali dia bersikap hangat bahkan membuat Mikhayla yang baru saja selesai memeriksa kondisi Sean mendadak mual.
"Tunggu dulu, Zean. Jangan terlalu percaya diri, aku melakukannya karena membenci Nathalia. Bukan karena sayang padamu."
Sejak dahulu, gengsi keduanya tentang rasa sayang dalam persaudaraan sama-sama tinggi. Sean geli mendengar ungkapan Zean, begitupun sebaliknya. Zean juga menyesali kata-katanya.
"Terserah kau saja, tapi yang jelas terima kasih sudah kembali dalam keadaan utuh, Sean."
Kata-katanya begitu manis bukan? Yah, trauma dengan bantahan Sean barusan, pria itu enggan kembali mengucapkan kata-kata manis.
"Hm, sudah sana pergilah, aku ingin tidur sebentar."
Rasa kantuk yang menyerangnya sedikit membuat sean sakit kepala, sejak di bawa ke rumah sakit dia tidak bisa tertidur, pikirannya melayang terlalu jauh dan menyesali kegagalannya untuk kesekian kali.
__ADS_1
Tidak ingin cari masalah, Zean mengalah dan kini keduanya beralih ke ruangan Yudha. Pria itu belum sadar juga, wanita paruh baya yang duduk sembari menggenggam jemari Yudha membuat hati Zean teriris.
Wanita yang tidak lain ibu kandung asistennya itu terlihat menunggu kabar baik meski tak kunjung tiba. Benturan keras yang dialaminya membuat Yudha mengalami luka serius di kepalannya, saat ini Zean hanya berharap mata asisten pribadinya itu lekas terbuka.
Meski banyak sekali kelemahan Yudha, terutama kebiasaan yang gegabah dan tidak bisa menjaga rahasia, tapi jujur saja melihat Yudha di posisi ini Zean tidak bisa berpikir tenang.
"Yud, bangunlah ... kenapa jadi betah tidurnya?"
Zean berbisik pelan demi mendapat respon dari Yudha. Sayangnya, jangankan suara gerakan tanganpun tidak dia dapati. Bahkan, hingga Zean menjanjikan gaji tiga kali lipat sekalipun, Yudha masih diam membisu.
Begitu banyak penyesalan Zean di titik ini, setelah perceraian dengan Nathalia harusnya dia tenang dan bebannya hilang seketika. Sayangnya, Tuhan seakan belum rela jika Zean baik-baik saja hingga harus menyaksikan orang-orang di sisinya terluka dalam waktu yang sama.
Meski Halim dan juga Nathan telah diringkus, tetap saja luka yang mereka alami tidak akan mampu membaik secepat itu. Nama Nathalia kini kembali mencuat ke media, bukan dengan berita terkait kehidupan pasca perceraiannya, melainkan tindakan kriminal yang menyeret nama Halim dan juga Nathan.
Hal itu semakin membuat empati publik tertuju pada keluarga Megantara dan Zean terutama. Hingga kini, beberapa orang sudah diperintahkan Mikhail untuk berjaga di rumah sakit demi melindungi putra dan menantunya itu.
.
.
"Kehidupan kamu rumit ya, sampai nyawa taruhannya."
"Tergantung, kalau sama kamu tidak rumit, Syila," jawab Zean tersenyum simpul dan menatap lekat sang istri yang kini tengah menggosok pelan tubuh Zean dengan tisue basah.
Sebuah permintaan aneh, dia mengatakan tubuhnya gatal, dan tidak ingin disentuh siapapun kecuali istrinya. "Aku bahas yang sekarang, apa itu alasannya sampai bertahan empat tahun?" tanya Syila kemudian, secara jelas Zean memang belum mengatakan alasannya.
"Salah satunya, kamu bisa lihat mereka bisa mencelakai siapapun ... beruntung saja yang jadi sasaran adalah aku, bukan Papa ataupun yang lainnya."
"Tapi tidak seharusnya bertahan dalam luka selama itu."
"Mau bagaimana lagi, obatnya baru kutemukan lima bulan lalu," tutur Zean memandangnya lekat-lekat, tidak bisa dipungkiri andai saja Syila tidak hadir dalam kehidupan Zean, mungkin dia akan menjalani kehidupan bak raga tak bernyawa itu hingga akhir usia.
Merasa jika ucapan Zean adalah tentangnya, wajah Syila sontak bersemu merah. Entah sampai kapan dia bisa biasa saja, menikah dengan Zean sudah cukup lama. Tapi jantungnya benar-benar tidak bisa dapat diajak kompromi ketika sudah Zean tatap intens begitu.
Tangan Syila masih terdiam di sana, otot-ototnya mendadak lesu dan susah payah dia berusaha mempertahankan kesadaran. Hingga, Zean bergeser dan memintanya untuk berbaring di sisinya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tidur di sini, apa tidak capek duduk terus di situ?" Sebenarnya Zean yang tidak nyaman, bukan Syila.
"Ini bukan rumah, jangan macam-macam ya."
"Siapa yang mau macam-macam, aku mau tidur siang ... sekalian kamu juga, masih muat, Syila."
"Kamu sakit, mana bisa berbagi tempat tidur begitu," ucap Syila mengerutkan dahi, sejak kemarin dia lihat keadaan Zean sulit sekali bahkan menggerakkan kaki saja tidak bisa. Kini dia bergeser seakan baik-baik saja.
"Apa hubungannya, cepat naik, Syila ... bantah suami do_"
Belum selesai Zean dengan ucapannya, Syila menurut dan kini berbaring di sisi Zean. Kalimat andalan, tidak terbantahkan dan Syila sama sekali tidak akan membangkang.
"Bagus."
Melihat istrinya yang kini patuh dan tidur dengan menjadikan lengannya sebagai bantal, Zean menarik selimut dan memastikan istrinya seakan benar-benar tidur di kamar. Namun, karena hari masih jam 2 siang, Syila tentu saja risih hingga keduanya berdebat masalah selimut itu.
"Pakai, Sayang."
"Tidak perlu, ini masih siang, Zean."
"Pakai."
"Panas, kamu saja."
"Kita berdua, Syila ...."
Syila sudah menolak baik-baik, tapi si keras kepala itu terus memaksa hingga terjadilah pergerakan aneh yang jika dilihat dari jauh membuat orang lain menduga-duga. Kebetulan, di saat yang sama pintu terbuka dan kehadiran Zia membuat pasangan itu berhenti seketika.
"Mama?"
Zean panik, tapi tidak bergerak dan masih menahan Syila agar tidak turun dari tempat tidur. "Aduh, Mama lupa ketuk pintu ... ruangan Sean mana ya? Bisa-bisanya lupa."
Tampaknya yang malu bukan hanya Syila, tapi mertuanya juga. Wanita itu berdecak kesal dan berusaha berontak segera, "Kamu sih, Mama mikir macem-macem, 'kan."
"Mikir apa memangnya?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -