
Sesuai rencana, hari ini mereka akan ke dokter. Sebenarnya tidak harus Zean ikut, Syila bisa sendiri. Akan tetapi, demi istrinya Zean menunda pekerjaan lebih dulu. Sepanjang pemeriksaan, Zean memperlihatkan wajah masam seakan tengah terlilit hutang ratusan milyar.
Bagaimana tidak, pria yang kini tengah memeriksa keadaan istrinya terlalu sempurna. Kenapa Zean mendadak cupu begini? Selama ini dia tidak prnah merasa kalah dari siapapun. Akan tetapi, mendegar tutur lembut pria itu pada sang istri, tangan Zean gatal seakan ingin mencabiknya saat ini juga.
Dia memang tidak menghalangi pria itu melakukan tugasnya, tapi selama ada di ruangan itu Zean tidak henti-hentinya menatap datar pria bernama Febrian itu. Nama pasaran, pasti lahir bulan Februari, begitulah kira-kira gerutu Zean dalam benaknya.
"Apa ada keluhan selama ini?"
"Ah, tidak, Dok ... saya juga heran kenapa tidak mual-mual begitu ya, sesekali ada dulu, tapi kan kurang berasa hamilnya, Dok."
Keluhan macam apa itu, Zean menatap bingung istrinya yang justru menginginkan kehamilan semacam itu. Lagipula, bukankah itu adalah hal baik, pikirnya bingung sendiri.
"Hahaha lucu sekali, tidak semua ibu hamil mengalami hal yang sama ... ada yang mualnya parah, ada yang biasa saja, bahkan ada yang sama sekali tidak berasa."
Lucu? Apa tadi? Telinga Zean ingin mendengarnya sekali lagi. Bisa-bisanya pria itu dengan santai menyebut istrinya lucu. Dalam diam, Zean mulai merogoh tas Syila yang sejak tadi ada padanya. Kebetulan, senjata yang Zean persiapkan untuk melindungi diri sang istri selalu dia bawa kemanapun itu.
"Ah iya, kalau Anda sendiri apa tidak merasakan mual atau sejenisnya selama istri Anda hamil?" tanya pria itu mencoba menjalin komunikasi bersama suami dari pasiennya kali ini.
"Tidak ada, bahagia-bahagia saja ... Anda kenapa bertanya hal semacam itu? Penasaran dengan kehidupan pribadi saya? Ingat ya, tugas dokter adalah melayani pasien, bukan mengulik kehidupan pribadi walinya."
__ADS_1
Syila mengerjap pelan, padahal dokter di hadapannya hanya bertanya baik-baik. Anggap saja basa-basi agar Zean tidak merasa diabaikan, akan tetapi bukannya menjawab baik-baik dia justru menuduh yang tidak-tidak.
"Ah, sepertinya Anda mengalami kehamilan simpatik ... sensitif sekali, persis ibu hamil."
"Pertanyaanmu aneh, tidak sekalian USG perutku juga?"
Jika semakin lama, maka bisa jadi meja dokter Febrian melayang akibat ulah Zean. Secepat mungkin Syila mengajaknya berlalu, pria ini memang luar biasa gilanya jika sudah marah.
Pengalaman yang sungguh memalukan, padahal sebelum pergi Zean sudah berjnaji tidak akan bertindak seenaknya. Jika selalu begini, lebih baik Syila periksa sendirian saja di bulan-bulan selanjutnya.
"Jangan marah-marah seperti tadi, aku malu."
"Salahku dimana? Dia yang aneh, sudah tahu kamu yang hamil, yang ditanya malah aku."
Sebenarnya bukan pertanyaan itu bermasalah, tapi orangnya. Zean tidak menyukai Febrian, itu saja intinya. Tidak ingin berdebat, Syila memilih diam. Hingga, tiba saatnya mereka terpisah.
Zean harus ke kantor, sementara Syila pulang ke rumah. Pria itu ingin pulang lebih dulu, tapi syila tidak mengizinkan lantaran terlalu panjang perjalanan sang suami jika harus pulang pergi begitu.
"Hati-hati, jangan lupa tidur siang ya, Sayang."
__ADS_1
Setelah memastikan istrinya berlalu pergi, Barulah Zean kembali ke kantor. kembali berkutat dengan kewajiban yang harus dia selesaikan.
.
.
Setibanya di kantor, Zean sudah dihadang oleh Yudha yang membawa berita hangat terkait Nathalia dan Jack saat ini. Telinga Zean sedikit lebih aman mendengarnya, sesuai harapan Jack dan Nathalia hidup normal sebagai pasangan yang kini tengah mencoba untuk bertahan hidup.
Namun, senyum Zean mendadak hilang kala dia melihat foto terakhir yang Yudha berikan. Nathan, pria yang seharusnya ditahan itu justru tertangkap sedang berdiri di teras rumah Nathalia dengan kaos oblong dan celana pendeknya.
"Kenapa bisa? Bukankah dia seharusnya ...."
"Entahlah, saya juga tidak mengerti kenapa Nathan ada di sini, sudah pasti melarikan diri, statusnya kemarin jelas-jelas tersangka."
"Astaga, yang benar saja Yudha."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -