
Setelah drama bertukar peran demi memuaskan dendam Sean, banyak sekali hal yang berubah. Salah satunya, sekretaris yang Yudha pilihkan. Zean yang biasanya selalu membentak dan memprotes bawahannya, dibuat bungkam lantaran khawatir kualat jika sampai bersikap semena-mena.
Yah, sama sekali Yudha tidak salah. Syarat utama memang harus lebih dewasa dan berpengalaman. Namun, yang Yudha terima adalah seorang wanita dewasa berusia empat puluh lima tahun yang merupakan senior Zean di Kampus, jelas tidak mungkin dia berbuat semena-mena pada orang yang dia hormati.
Paula, Ibu satu anak yang tampaknya mencari kesibukan lantaran suaminya seorang pelaut. Semenjak wanita itu yang menjadi pengganti Syila, tidak ada drama calon rekan bisnisnya berani menggoda lantaran wajahnya persis guru BK.
Tapi tidak mengapa, mungkin memang sudah takdirnya dan ini adalah cara Yudha membuat Zean mengurangi dosa. Setidaknya, Zean tidak menggunakan mulutnya untuk memaki setiap harinya.
Soal kemampuan, memang benar-benar mumpuni bahkan Zean tidak punya alasan untuk marah lagi. Seperti hari ini misalnya, dia terburu-buru masuk tanpa mengetuk pintu lantaran menerima telepon dari pihak rumah sakit.
"Pak, pasien atas nama Zulia yang Anda maksud sudah sadar sejak tiga minggu lalu."
"Apa?!!"
Zean terkejut, matanya membeliak dan beranjak dengan begitu cepatnya. Zean memintanya mengulik informasi dari pihak rumah sakit. Semenjak terjadi pertikaian antara Nyayu dan mereka, Zean memang tidak menerima informasi apapun lagi.
"Sudah dipastikan infonya?"
"Sudah, Pak."
Zean mengepalkan tangannya, benar-benar pembohong. Baru saja beberapa hari lalu Syila datang menjenguk sang ibu dan jawaban Nyayu sungguh menyebalkan.
Menyembunyikna fakta tentang perkembangan Zulia dari putri kandungnya hanya karena sebuah kemarahan. Padahal, selama berbulan-bulan Syila khawatir setiap harinya.
Menunggu kabar baik tentang Zulia, bisa-bisanya hal semacam ini justru Nyayu sembunyikan. Tanpa pikir panjang pria itu bergegas pulang. Demi bisa cepat, Zean naik taksi lantaran tidak mungkin meminta Bastian.
Nasib sialnya menjadi anak mama, sudah berhari-hari tidak diizinkan membawa mobil sendiri. Sementara Yudha yang belum sembuh total, harus istirahat lebih banyak dan membiarkan Zean bekerja tanpa dia dampingi.
Jantung Zean berdegup kencang, ini adalah sebuah kabar baik yang harus segera dia beritahukan. Istrinya pasti bahagia, tangis dalam diam Syila akan segera berakhir.
Dia yang terburu membuat Rahman dan Bastian yang sedang bermain catur di pos jaga kebingungan. Tidak biasanya Zean begitu, terlebih lagi dia pulang tanpa mengabari Bastian sama sekali.
"Bas!! Firasatku tidak enak."
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Tadi Bos besar masuk lagi, 'kan?" tanya Rahman memastikan, pangsit goreng yang baru saja dia gigit itu jatuh tiba-tiba.
"Astaga, Man!!"
Tatapan mereka terkunci, sama-sama khawatir dan pikiran mereka semua sama. Sontak keduanya berlari tanpa memikirkan permainan yang sedang memanas itu.
.
.
Sementara di sisi lain, Zean berteriak memanggil sang istri dengan langkah cepatnya membuat Mikhail berpikir macam-macam. Apalagi, Zean tidak menjawab ketika dia bertanya.
"Syila ...." Teriakan Zean membuat seisi rumah menduga-duga.
"Zean?"
"Mas?"
"Alhamdulillah, Bos masih ada."
"Shut!! Dia dengar, masuk peti mati kamu, Man."
Tidak ingin ketinggalan berita, Rahman dan Bastian ikut naik tanpa izin. Mereka juga khawatir akan keadaan istri Zean, hingga ketika tiba di depan kamar Zean, kedua pria itu menabrak tubuh Mikhail.
"Astaghfirullah, Bastian!!"
Sebagaimana semesta ketahui, jika Mikhail sudah istighfar artinya keadaan sedang tidak baik-baik saja. Mata tajamnya membuat Bastian mundur beberapa langkah, khawatir jika tangan gempalnya mendarat di kening dan itu bisa saja membuat kepala cidera.
Ingin sekali dia marah, tapi menantunya lebih penting. Pria itu melangkah masuk mengikuti Zia yang sudah lebih dulu masuk.
"Ada apa, Zean?"
__ADS_1
"Tenang dulu, Mas ... berikan waktu untuk Zean," ucap Zia menenangkan suaminya lebih dulu.
Dia tidak sesabar itu melihat putra dan menantunya berpelukan begini. Apalagi, ketika dia mendengar isak tangis Syila dalam pelukan Zean.
"Zean, tolong jelaskan ada apa?"
"Ibu sudah sadar, Ma."
Zia sempat mengetahui hal ini belum lama. Tentang keadaan Syila dan orang tuanya. Namun, Zia memang belum diberikan izin untuk menjenguknya. Mendengar kabar ini, jelas saja mereka bahagia sekali.
"Kita ke rumah sakit sekarang ... ayo Mas siap-siap. Sudah boleh, 'kan, Zean?"
Zean tidak segera menjawab, entah kenapa dia khawatir jika Nyayu bersikap kasar kepada kedua orang tuanya. Mikhail yang sama paniknya mengangguk cepat, akan tetapi bukannya keluar, pria itu justru melangkah ke area walk in closet dengan sedikit tergesa.
"Heh!! Mas, mau ngapain?"
"Ganti celana, masa ke rumah sakit pakai sarung," ucapnya tanpa dosa dan hal itu membuat Syila yang baru saja menangis terhibur seketika.
"Ini bukan kamar kita!!"
"Oh iya ya?"
Zia menggeleng pelan, berlalu keluar dan hendak bersiap untuk segera ke rumah sakit. Baru saja hendak keluar, dia dibuat terkejut dengan Rahman dan Bastian di depan pintu.
"Ada apa, Nyonya?"
"Bas, siapkan mobil ... kita ke rumah sakit." Belum sempat Zia menjawab, Mikhail yang baru muncul sudah lebih dahulu angkat bicara.
"Sekarang?"
"Lusa!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -