Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 107 - Terjebak Keadaan


__ADS_3

Setelah drama panjang, kini ketiga pria gagah dan berwajah tampan sontak menjadi pusat perhatian. Seperti yang telah Yudha katakan, salah satu tokoh Agama yang juga dihormati di sini tengah mengadakan syukuran atas kelahiran cucu ketiganya.


Yudha terlihat santai dengan baju koko dan peci yang dia kenakan. Nyaman sekali berada di tempat ini, sementara Zean mencoba mengikuti Yudha dan menahan diri untuk tidak memainkan ponsel meski jujur pinggangnya sedikit pegal.


"Zean, masih lama tidak?"


"Baru juga mulai, sabar sedikit saja."


"Ck, siallan ... kenapa tidak bilang kalau kita ke tempat begini? Katamu pesta biasa," omel Sean tidak terima, sayangnya semua itu percuma karena sudah terlanjur terjadi.


Berbeda dengan mereka berdua yang masih berusaha untuk betah, Sean justru sebaliknya. Bukan karena dia tidak nyaman di keramaian atau acara semacam ini, tapi yang membuat Sean risih adalah pakaiannya.


Ucapan Zean nyatanya tidak dapat dipercaya, hingga membuat Sean terjebak. Dia pikir tidak akan masuk ke dalam rumah dan ikut duduk bersila berdampingan dengan para kiyai seperti ini.


Percayalah, celana jeans dengan robek yang disengaja dan kaos hitam polos di tubuh Sean membuat pria itu akan terlihat lebih tampan jika di luar. Sayangnya, saat ini penampilan semacam itu tidak lebih dari berandalan.


"Diam, Sean ... ini semua demi nasi berkat, jangan berisik," bisik Zean seraya mencubit lengan saudara kembarnya.


"Aku malu sumpah, kalau tahu begini aku pinjam sarung Papa tadi."


Yudha yang mendengar bisik-bisik tetangga di sampingnya segera menoleh dan memerintahkan keduanya untuk diam. Sungguh, dia malu. Yudha bahkan menelpon banyak orang hanya demi minta diundang malam ini, mencari nasi berkat dengan menu yang diminta Syila bukanlah hal mudah.


"Telanjur, salahmu sendiri pakai itu."

__ADS_1


Eugh!! Sungguh menyesal sekali Sean ikut. Sejak tadi dia meremas jemarinya seraya berusaha menutupi lutut yang sedikit terbuka itu. Sudah berkali-kali Sean menangkap basah sepasang mata yang tengah memerhatikannya, mungkin menghina, pikir Sean.


"Kau tidak bilang, Badjingan ... makanya jelas-je_"


"Shuut, kalian berdua jangan berisik."


Sean mengerutkan dahi kala mendengar Yudha meminta mereka untuk diam persis seorang ayah yang menghentikan anaknya bertengkar di keramaian. Mungkin Yudha sudah terlalu lelah memberikan kode lewat matanya hingga bersuara seperti itu.


Selang beberapa lama, Sean mulai sedikit lebih tenang menjelang doa bersama. Yah, sedikit yang Sean pahami jika sudah begini pasti sebentar lagi selesai. Keduanya memejamkan mata seakan tengah berdoa dengan penuh kesungguhan.


"Aamiin."


Suara dua pria itu terdengar paling jelas, beruntung saja mereka duduk tidak terlalu di tengah-tengah. Zean tersenyum simpul kala mereka usai berdoa, perjuangan pertamanya akan segera membuahkan hasil, sungguh bahagia sekali rasanya.


"Astaghfirullah, sabar, Pak sabar."


Tidak akan pernah lagi Yudha mengajak Zean untuk lain kali. Sungguh, Yudha berharap malam ini terakhir kali Syila meminta hal macam-macam karena jujur dia sedikit was-was diusir karena tingkah bosnya sendiri.


"Oh nanti ya, ah aku tidak sabar."


Jantung Zean berdegub tak karuan, ada sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dia ungkapkan ketika berhasil mendapatkan apa yang Syila inginkan. Sungguh, dia hanya ingin menjadi suami yang baik untuk Syila, meski jujur saja tidak bisa berdiri sendirian.


Mata Zean dengan sabar menanti nasi itu dibagikan, seumur hidup dia baru melihatnya kali ini. Sepertinya Syila benar-benar akan suka, sabar sekali Zean menunggu bagiannya.

__ADS_1


Hingga, ketika sudah dibagikan masing-masing, Zean kembali bertanya dan mempermasalahkan kenapa hanya mendapat satu. Yudha yang kini benar-benar lelah menghadapi Zean hanya bisa menghela napas panjang.


"Yud, apa tidak bisa minta lagi? Masa cuma satu, kita sudah jauh-jauh ke sini."


"Tidak bisa, jatahnya memang cuma satu, Pak."


"Nanti istriku mau lagi bagaimana? Makan Nasyila tu banyak, Yudha," bisik Zean sengaja mendekatkan wajahnya.


Memang dasar tidak tahu diri, beruntung saja diundang , pikir Yudha yang kini memilih diam. Yudha menatap ke arah Sean, berharap pria itu akan mengerti, tapi sepertinya sama saja karena kini Sean menepikan nasi berkat miliknya.


"Anda bisa ambil punya saya."


Pilihan paling baik, Yudha tidak memiliki keberanian jika hendak meminta lagi sekalipun alasannya untuk memenuhi ngidam istri bosnya. Mereka termasuk orang asing dan Yudha mengenal Kiyai Hasan sebagai saudara mendiang kakeknya dari jauh.


"Itu milikmu, aku ingin yang baru saja jika boleh."


Permintaan Zean tampaknya tidak dapat ditawar. Hingga, seorang pria dengan wajah teduh itu mendekati mereka. Bisik-bisik Zean mungkin terlalu kuat hingga membuat kiyai Hasan sedikit penasaran.


"Ada apa, Nak?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2