
"Katakan, wanita itu siapa?"
Benar dugaan Zean, Mikhayla tidak akan membahas Syila lebih dulu, melainkan ingin menuntaskan rasa penasarannya.
"Tugas dokter itu melayani pasien, bukan mengulik privasinya."
"Heh gila, dimana-dimana pasti ditanya, Anda siapanya? Cuma beda kalimatnya saja, Zean."
Mikhayla berdecak sebal dengan tatapan mautnya, memang sejak dahulu berdebat bersama Zean adalah hal yang tidak mungkin dia tinggalkan. Saat ini, Zean tampaknya kalah hingga dia hanya bisa menghela napas perlahan.
"Sekali lagi, wanita itu siapa?" tanya Mikhayla kembali, tatapannya mendadak serius.
"Istriku," jawab Zean santai.
Dalam waktu dekat dia memang akan mengenalkan Syila ke keluarganya. Namun, Mikhail menyarankan tunggu sampai dia resmi bercerai agar tidak menimbulkan masalah. Yah, Mikhail tidak bisa sepenuhnya mempercayai orang-orang di sekitarnya, apalagi dia memiliki putri yang tidak bisa menjaga rahasia dan sedikit kekanak-kanakan.
"Istri?" tanya Mikhayla sedikit meninggi, layaknya seorang istri yang dikhianati suami, gebrakan meja terdengar hingga Zean menatapnya malas.
"Iya, telingamu tuli atau bagaimana?"
Tidak, Mikhayla tidak tuli. Hanya saja dia sama sekali tidak menyangka bahkan masih tidak percaya mendengar jawaban Zean. Untuk sesaat Mikhayla masih menganga, hingga Zean menyentuh dagunya agar mulut wanita itu tertutup.
"Tunggu, kamu tidak bercanda? Istri? Zean astaga ... kamu sadar apa yang kamu lakukan?"
"Hm, sudah katakan saja istriku sakit apa, Mikhayla!! Aku bom tempat ini lama-lama."
Sejak dahulu, Mikhayla selalu berhasil menguji kesabarannya. Bahkan di detik dia sudah dewasa, Mikhayla sama sekali tidak berubah.
"Dia tidak sakit, Zean ... tapi hamil," jawab Mikhayla menghela napas kasar, dia masih dibuat bingung dengan kehadiran Zean yang tiba-tiba membawa istri baru.
__ADS_1
"Serius? Kakak tidak bercanda, 'kan?"
Zean berdesir, jantungnya berdegub tak karuan begitu mendengar pernyataan Khayla. Sekalipun dia meragukan kemampuan Mikhayla bertahun-tahun lamanya, untuk kali ini dia merasakan jika kakaknya memang berguna.
"Jangan bahagia dulu, kalau Papa sampai tahu bagaimana?" Sejak tadi pikiran Khayla sama sekali tidak baik-baik saja, bingung sendiri kenapa Zean bisa setenang itu padahal dirinya tengah berada di lautan masalah.
"Papa sudah tahu, dia juga mengenal Syila sewaktu kami ke Bandung."
Hampir dua bulan yang lalu, Mikhayla semakin tidak bisa berpikir setelah mengetahui fakta ini. Wajar saja ketika pernikahan Zean hancur, Mikhail satu-satunya anggota keluarga yang terlihat santai.
"Jadi benar kata Lengkara, kamu punya cem-ceman?"
"Istri, Mikhayla!! Cem-ceman itu selingkuhan, Syila berbeda."
"Sama saja!! Sebelum jadi istri pasti jadi cem-ceman dulu."
Yah, mereka berdebat layaknya di rumah dan Mikhayla sontak lupa jati dirinya. Hancur sudah citranya sebagai dokter lemah lembut dan berwawasan tinggi ketika sudah bersama Zean.
Mikhayla tidak segera menjawab, dia memegang kepala bagian belakang sembari sesekali melihat pergelangan tangan kirinya. Mungkin dia merasa terlalu lelah sampai kejadian semacam ini terasa bak kepingan mimpi, sejak dahulu Mikhayla sangat berharap bisa menjadi yang pertama mengetahui kehamilan Nathalia.
"Iya, perlukah aku berkenalan?"
"Tidak perlu, nanti saja ... istriku masih banyak pikiran."
"Ck, maksudmu aku apa? Aku beban pikiran atau gimana?" tanya Mikhayla tidak terima lantaran Zean melontarkan kalimat semacam itu padanya.
"Bukan begitu, Acar ketimun ... saat ini, aku ingin dia tenang dulu."
Bukan berarti dia tidak mengizinkan Mikhayla mengenal Syila, akan tetapi Zean khawatir jika nantinya kakaknya ini akan membuat pikiran Syila semakin terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan nanti.
__ADS_1
"Iya sudah kalau begitu, aku siapkan resep saja. Tekanan darahnya rendah, wajahnya sembab apa kalian habis bertengkar?"
"Tidak, hanya sedikit masalah makanya dia menangis ... sudah lakukan saja tugasmu, Dok," pinta Zean segera lantaran Mikhayla kembali menunjukkan rasa penasarannya.
.
.
Cukup lama Zean meninggalkan sang istri, hingga ketika dia kembali mata Syila yang begitu sendu menatap ke arahnya. Seakan memang menunggu sejak tadi, Zean duduk di sisi sang istri sembari menggenggam erat jemarinya.
Tanpa terduga, hal yang tidak mungkin memisahkan mereka datang lebih cepat. Senyum Zean yang sejak tadi tak pernah redup membuat Syila bingung, apa mungkin wajahnya lucu, pikir Syila.
"Kenapa aku ada di sini?"
"Ehm, tadi kamu kelelahan jadi aku bawa ke rumah sakit," jawab Zean masih belum berani mengungkapkan berita bahagia ini, entah karena dia khawatir Syila tidak siap, atau karena hal lainnya.
"Aku sakit apa? Sejak kemarin aku baik-baik saja."
"Tidak sakit, tapi ... kamu hamil, ada anakku di sini," ungkap Zean semakin mendekat, matanya terfokus menatap lekat manik indah Nasyila.
"Hamil?" Mata Syila membola, telapak tangannya sontak menyentuh perut yang masih rata itu.
"Iya, jadi mulai sekarang jangan pedulikan apapun ... karena kamu memiliki segalanya tentangku, Nasyila."
Sekali lagi Zean ingin menegaskan, jika ucapan Nyayu yang mengatakan Syila hanya pemilik Zean di atas ranjang itu sama sekali tidak benar. Mungkin pengaruh hormon atau terlalu banyak menangis sebelumnya hingga kini dia kembali menangis usai Zean bicara, secepat mungkin Zean menyeka air matanya.
"Sudah, jangan menangis lagi ... nanti bola matamu ikut jatuh, Syila." Sedikit bercanda, tapi dia memang tidak suka istrinya menangis begini. Terlebih lagi, jika sebab dia menangis adalah cacian semacam itu.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -