
Kembalinya Jack membuat Zean sama sekali tidak bisa tenang. Selama ini dia tidak begitu peduli tentang pria itu. Hanya saja, setelah apa yang dia alami, Zean mengkhawatirkan istrinya.
Setelah pertemuannya dengan Sean kemarin, pria itu melakukan panggilan video tanpa henti selama di kantor hingga membuat Paula mengira bosnya tengah kasmaran usai menduda.
Hendak bertanya dia enggan, tapi jika diam dia penasaran. Terlebih lagi, Paula dengan jelas mendengar Zean memanggil wanita itu dengan panggilan Sayang.
Tangan dan matanya memang tetap fokus, pekerjaannya berjalan sebagaimana mestinya. Zean juga tidak mengabaikan Paula, sesekali Paula membicarakan hal penting dan Zean tetap menjawabnya.
Rasa penasaran Paula semakin menjadi, hingga dia memutuskan untuk bertanya pada Yudha. Paula melangkah cepat seakan berita ini penting sekali, Yudha yang menyadari kedatangan wanita itu terlonjak kaget.
"Yudha."
"Ada apa, bu Paula?"
Yudha yang baru saja membaik, sangat berharap hari pertamanya bekerja akan berjalan dengan baik. perubahan Zean yang tidak memaksakan melakukan banyak hal sudah membuat dia tersenyum tadi pagi, jangan sampai Paula membuatnya menyesal masuk kerja hari ini.
"Jadi begini, saya tahu ini adalah hal yang tidak seharusnya saya ketahui ... tapi di sisi lain, saya penasaran."
"Langsung saja, Bu Paula," ucap Yudha putus asa, tampaknya pertanyaan wanita ini akan sedikit berbelit-belit dan dia khawatir justru membuatnya terjebak dalam masalah.
"Zean, ehm maksud saya pak Zean."
"Hm? Kenapa dengannya?"
"Dia sudah punya kekasih? Cepat sekali ... Bukankah dia resmi menduda belum lama ini?"
Benar dugaan Yudha, wanita ini tengah diterpa virus ingin tahu tingkat tinggi terkait privasi Zean. Awalnya dia tidak ingin menjawab, akan tetapi mendengar Paula mengetahui jika Zean melakukan panggilan video berjam-jam, pikirannya mendadak berubah.
"Serius? Masih video call, Bu?" tanya Yudha mendadak tertarik untuk membahasnya.
__ADS_1
"Masih, tadi pagi kamu lihat juga, 'kan?"
Yudha mengangguk pelan, mereka berdua tengah membahas hal luar biasa penting. Yudha yang sejak tadi malas dengan kehadiran Paula, mendadak berbeda dan seakan ada dorongan dari dalam dirinya untuk angkat bicara.
"Ck, mungkin pak Zean terlalu sakit hati ya sampai dia mencari wanita lain secepatnya."
"Ember, Bu Paula tahu sendiri ... Mantan istrinya dulu memang gila, Bu. Sedari awal sudah saya sudah curiga Nathalia itu punya simpanan sampai tidak mau disentuh begitu."
Berawal dari rasa penasaran Paula tentang Siapa wanita yang Zean hubungi, Yudha justru membicarakan lebih luas lagi. Sontak Paula betah dan lupa jika pekerjaannya masih banyak yang menunggu.
"Astaga ... kasihan sekali, padahal pak Zean sewaktu masih kuliah adalah anak baik-baik loh. Dia bahkan tidak punya kekasih, kenapa bisa dapat istri seperti itu."
Paula menggeleng dengan mulutnya yang kini menganga. Benar-benar tidak dapat dia percaya, entah bagaimana bisa seorang pria sesempurna Zean terbuang begitu saja.
"Benar sekali, hanya demi keluarga beliau rela menjalani pernikahan semacam itu ... tapi tenang saja, karena Tuhan sudah mengirimkan bidadari yang lebih sempurna dalam hidup pak Zean sebelum ...."
Yudha kebablasan, dia menyentuh bibirnya seketika. Lancang sekali, bagaimana jika Zean mendengar ucapannya. Pria itu menutup rapat-rapat mulutnya hingga membuat Paula semakin penasaran tentu saja.
Hampir saja rasa penasaran Paula terselesaikan. Akan tetapi, mulut Yudha yang mendadak bungkam membuatnya kesal tentu saja. Hingga dia mendesak Yudha karena ubun-ubunnya mulai panas.
"Yudha apa? Sebelum apa?"
"Sebelum saya resmi bercerai."
Suara tegas yang terdengar dari belakang sejenak membuat Paula bergetar. Bukan Yudha yang bicara, melainkan Zean sendiri. Wanita itu sontak menoleh dan menunduk seketika, sungguh dia tidak sadar sudah selancang itu.
"Apa yang ingin Anda ketahui sebenarnya? Jika memang penasaran ... tanyakan saja pada saya, tidak perlu melalui Yudha agar tidak simpang siur."
"Maaf, Pak, saya lancang."
__ADS_1
Jika ditanya apa penyesalan paling besar dalam hidup Paula selain menolak lamaran pengusaha di masa muda, maka jawabannya adalah nekat masuk ke ruangan Yudha hanya demi mempertanyakan masalah hidup Zean.
"Huft, Yudha ... Aku pikir sudah sembuh, ternyata tabiatmu masih sama.'
Seperti janjinya di awal pada Yudha, selain gaji yang berlipat ganda, dia juga tidak akan marah-marah. Beruntung saja mulut Yudha kembali bocor di saat keadaan sudah mulai membaik dan pernikahannya bersama Nathalia sudah berakhir.
"Jangan melakukan sesuatu yang bukan kapasitas Anda, pergilah."
Beruntung, nasib Paula masih sangat baik karena tidak ada adegan dipecat secara sepihak. Wanita itu tidak ingin kembali terjerat masalah hingga dia berlalu pergi usai memohon maaf pada Zean sekali lagi.
Kini, hanya ada Yudha yang tengah was-was Zean serang. Jika tidak dengan mulut pedasnya, maka pukulan tangannya. Belum juga mendekat, Yudha sudah mundur beberapa langkah.
"Maaf, pak ... Bu paula yang ngajak ghibah."
"Kau juga sama!! Ck, benar-benar tidak dapat dipercaya ... bocor dimana-dimana, besok kau kerja pakai rok saja, Yud." Yudha yang mengerti kemarahan atasannya, hanya menunduk sebagai permintaan maaf.
"Lebih baik kau selidiki keberadaan Jack saja, aku tidak ingin dia mengusikku lagi."
Niat awal Zean masuk sebenarnya memang untuk mengatakan hal itu, tugas penting yang lupa dia sampaikan akibat bicara dengan istri tercinta.
"Jack?"
"Hm, kemarin Sean melihatnya ... aku hanya khawatir dia kembali berulah."
"Syukurlah, dia tidak menarik bonusku ... Paula siallan!! Menyesal sekali aku menjawab pertanyaannya."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -