
Selama bulan puasa, agaknya Hudzaifah dan Mikhail sibuk sekali. Tidak hanya membangunkan keluarganya sahur, tapi menunaikan shalat tarawih di masjid juga dia ikuti. Sejak dahulu Hudzaifah memang begitu dekat pada Mikhail. Namun, setelah Syila hamil, Hudzaifah lebih nyaman berada dalam asuhan Mikhail.
Seakan memberikan kebebasan agar Syila bisa dimanjakan Zean, Hudzaifah merasa cukup dengan kasih sayang Mikhail. Ya, meskipun hal itu kerap mengundang polemik karena Zean tersiksa kerinduan sang putra memilih tidur di rumah opanya.
Tidak heran sejak dalam kandungan, Mikhail begitu menyayanginya, bahkan kala Syila hendak melahirkan Mikhail yang kontraksinya. Kini, setelah dia tumbuh menjadi balita yang pintar, Hudzaifah menjelma sebagai Zean kecil yang mengobati kerinduan Mikhail akan masa masa lalunya.
Malam ini, Hudzaifah bersama Azkara ikut menunaikan shalat tarawih. Tentu saja diikuti Keyvan, menantu paling gagahnya. Mikhail sampai rela berdiri di shaf paling belakang demi bisa mendampingi kedua cucunya. Khawatir jika putra Zean itu merengek minta pulang. Namun, yang terjadi justru berbeda.
Hudzaifah tampak tenang berada di sana. Meski memang tidak begitu serius, dia hanya mengikuti gerakan makmum lainnya beberapa saat, setelah itu memilih duduk di sisi Azkara yang masih mencoba serius untuk menunaikan shalat sunah itu.
Kekhawatiran Zia sama sekali tidak terbukti. Tidak sia-sia Mikhail sampai berdebat sebelum pergi karena kini cucunya tidak berulah. Tidak ada Hudzaifah yang masuk sarungnya tiba-tiba, tidak ada juga Hudzaifah yang naik punggung Mikhail kala pria itu sedang duduk.
Entah cari perhatian atau memang malu karena kini banyak orang, yang jelas Hudzaifah yang duduk manis menunggu opanya selesai. Setelah menunaikan shalat, Mikhail merengkuh tubuh mungil Hudzaifah.
"Syudah, Opa?" tanya Hudzaifah dengan bibir basah karena memang sejak tadi menggigit bibirnya.
"Hm, sudah ... Hudzai doa dulu, begini," tutur Mikhail menegadahkan tangannya.
"Doain om Sean, Dek," tutur Azkara kala menyadari Hudzaifah yang tampak bingung dan mendongak menatap wajah opanya.
"Ya Awa (Allah) cemoga om Teyan cepat pulang."
Hati Mikhail bergetar mendengar suara lembut cucunya. Sebahagia apapun dirinya saat ini, luka tentang kepergian Sean masih begitu menganga. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat jika Mikhail bayangkan, sangat lama sebenarnya.
Tanpa sadar air mata pria itu menetes dan membasahi telapak tangan Hudzaifah, Sebagaimana naluri seorang anak, Hudzaifah mendongak dan berdiri begitu sadar jika Mikhail menitikkan air mata.
"Opa don't clay, Opa ... malu tama pak utad," ucapnya menyeka air mata Mikhail.
__ADS_1
Tidak sia-sia Mikhail memilih shaf paling belakang karena kini dia sedikit malu diperlakukan layaknya anak kecil begini.
"Opa tidak menangis, Hudzai."
"Ah bo'ong ... Opa ada ail matanya, belalti nanis dong."
Hudzaifah masih bertahan di posisinya. Tetap berdiri di hadapan Mikhail yang kini kembali fokus berdoa, melafadzkan Aamiin di setiap kali imam mengutarakan permohonan pada sang khalik.
Selang beberapa lama, keempat pria tampan berbeda generasi keluar dan menghampiri Zia bersama anak cucunya yang lain. Hari ini memang Zean tidak tidur di kediaman Mikhail, Nasyila kurang fit hingga mereka tidak bisa untuk ikut bergabung.
"Oma ... Oma tadi Opa nanis huhu."
Baru saja Mikhail masuk ke mobil, Hudzaifah mulai menyebarkan aib tentangnya. Gelak tawa Lengkara dan Ameera terdengar menyebalkan. Sungguh, Mulut Hudzaifah agaknya tidak akan berbeda jauh dari Zean nantinya.
"Oh iya? Opa nangisnya gimana? Banyak?"
"Iya nanisnya banyak campai Opa jadi jelek," celotehnya yang seketika membuat Zalina ikut terkekeh.
"Hudzai ... bohong dosa loh."
"Hudzai tidak bo'ong, Opa benelan nanis tadi week."
Dia mencebik usai mengejek Mikhail. Malam ini mungkin akan dia habiskan dengan membahas tangisan opanya. Perjalanan malam itu terasa begitu singkat, hal itu tentu diakibatkan ocehan Hudzaifah yang tidak berkesudahan.
Hingga, ketika tiba di rumah mereka justru mendapati Zean yang berdiri di teras menyambut keberadaan mereka. Baru saja mereka turun, Zean menghampiri putranya yang kini berada dalam pelukan Mikhail.
"Kenapa, Zean?"
__ADS_1
"Aku mau jemput Hudzai, Pa," ucap Zean mengikuti langkah sang papa.
Sudah satu minggu putranya tidur bersama Mikhail. Sekalipun Zean dan Syila kerap mengunjunginya di siang hari tetap saja pria itu benar-benar merindukannya.
"Besok saja, Ze sudah malam begini."
"Pa, Syila semakin panas dan dia butuh Hudzai," tutur Zean sejujurnya, sang istri panas tinggi dan memang terus memanggil Hudzaifah.
"Astaghfirullah, kenapa baru sekarang jemputnya?"
"Syila baru minta Hudzai malam ini, Pa."
Hudzaifah tampak bingung melihat mereka seakan berdebat. Namun, beberapa saat kemudian dia luluh seketika kala Zean merayunya untuk pulang lantaran Syila sakit.
"Mama sakit, Hudzai pulang ya."
"Sama dedek juga ya, Papa?" tanya Hudzai yang kini mengalungkan tangan di leher Zean. Kecupan di kedua pipi Hudzai menunjukkan jika yang merindukan putranya bukan hanya Syila, melainkan dirinya.
"Iya, kita pulang ya. Besok sama Opa lagi ... mama sakit rindu Hudzai."
"Iyaah, Opa babay!! Hudzai pulang bental nanti tidul sama Opa ladi ya."
Mikhail menghela napas pelan, padahal dia sudah menyiapkan dongeng yang akan dibacakan malam ini untuk Hudzaifah. Terpaksa dia melepas kepergian Hudzaifah yang kini melambaikan tangannya.
"Seharusnya dia kembar dulu."
.
__ADS_1
.
- Extra Part -