Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 25 - Tidak Ingin Pulang


__ADS_3

Jauh dirindukan, tapi pulang membuat keributan. Itu adalah kalimat yang melekat dalam diri Sean. Pria itu memang tidak pandang bulu jika mau menyakiti seseorang, Zean lagi dan lagi dibuat marah lantaran pergelangan kaki istrinya kini terkilir akibat ulah Sean.


Berbekal ilmu yang dia pelajari sejak dahulu, hal semacam ini bisa Zean atasi. Lagipula ini disebabkan saudaranya, jelas saja Zean harus bertanggung jawab pada akhirnya. Anggap saja sebagai mengulang kenangan, karena memang bukan Sean namanya jika tidak merepotkan Zean.


Setelah hujan sepanjang hari, menjelang malam itu hujan reda. Zean kembali menghilang dari kediaman Megantara dan memilih pulang ke rumah istri keduanya. Selain karena kaki Syila yang terkilir, Zean juga tidak mungkin pulang dalam keadaan babak belur begitu.


Bukan khawatir Zia marah, akan tetapi dia merasa butuh Syila malam ini. Dia terluka, batinnya masih tersiksa dan sekalipun pulang ke rumah Nathalia mana mungkin peduli tentang kesedihannya.


"Kalian begitu mirip, tapi kenapa dia datang terlambat?" tanya Syila di saat Zean tengah fokus memijat kakinya.


"Sean, dia saudara kembarku ... empat tahun lalu dia pergi dari rumah karena menolak perjodohan dengan Nathalia," jawab Zean masih terus fokus menyembuhkan pergelangan kaki istrinya.


"Oh begitu, jadi dulu seharusnya Sean di posisimu?"


Syila penasaran, sebenarnya dia bukan tipe wanita yang ingin tahu segala hal terkait privasi seseorang. Akan tetapi, untuk kali ini dia merasa sangat ingin tahu apa yang dialami sang suami.


"Tidak juga, sebenarnya dulu belum pasti yang akan Nathalia pilih siapa ... tapi Sean kabur sebelum pertemuan itu dilakukan, jadi ya terpaksa aku yang menerima permintaan Papa."


Zean terlihat pasrah sekali mengutarakan isi hatinya. Jelas sekali dia terluka dan keberatan dengan perjodohan yang Mikhail lakukan kala itu. Hanya saja, harapan Zean bahwa kehidupan rumah tangga akan berjalan indah sebagaimana yang Zia gambarkan tetap sebesar itu walau dia tidak mencintai calon istrinya.


Namun, bertahun-tahun Zean menunggu istrinya tetap sama, masih wanita egosi yang selalu ingin diutamakan dalam hal apapun. Dia yang tidak ingin terihat kacau dan membuat orang tuanya hancur memilih bertahan dan menjalani hidupnya tanpa perasaan.


"Sssshh aah," desis Syila kala merasakan sedikit ngilu di area yang Zean pijat, tanpa dia duga hal itu jutsru membuat Zean tersenyum simpul.


"Sakit?"

__ADS_1


"Ehm, sedikit."


Makna senyuman itu sangat mudah ditebak, itu adalah senyum pertama setelah dia pulang dari pemakaman. Syila memandangi wajahnya lekat-lekat, mimpi apa dia Presdir tidak punya hati seperti Zean memijat kakinya sambil duduk bersila di lantai.


Sudah Syila tolak, dia merasa terlalu lancang jika Zean melakukan hal ini. Akan tetapi, pria itu justru tetap melakukannya dan mengatakan tukang pijat yang lain belum tentu bisa membuat Syila sembuh cepat tanpa rasa sakit.


"Sakit tapi mendessah, aneh."


Sudah Syila duga piikiran Zean akan ke arah sana. Hendak marah juga tidak bisa, hingga dia meminta Zean menyudahi aktivitasnya. Luka di wajah suaminya juga mengkhawatirkan, jika saja kakinya tidak terkilir saat ini seharusnya Zean duduk manis sementara dia mengobati luka-luka sang suami.


"Maaf ya ... ini mungkin perih, tapi tahan sedikit."


Jemari Syilla bergetar, dia memang masih segugup itu berhadapan dengan Zean dengan posisi berhadap-hadapan begini. Khawatir sekali akan menyakiti, Syila begitu hati-hati. Padahal, dulu saja Zean sempat babak belur dan lebih parah dari ini akibat pelaku salah sasaran dan mengira dia adalah Sean.


"Tidak masalah, Yudha bisa dipercaya dan dia tahu apa yang aku rasakan, jangan khawatir."


Zean paham ketakutan Syila, sejak awal menikah dia sudah katakan takut ketahuan. Akan tetapi, Zean meyakinkan dan mengatakan tidak ada yang perlu ditakuti selagi Syila tetap berada di sisinya.


.


.


Selesai mengobati luka-luka Zean, wanita itu menghela napas karena Zean bukannya beranjak, melainkan bersandar di sofa dan memejamkan matanya.


"Tidak pulang?" tanya Syila pelan-pelan, ini adalah malam pertama kepergian Ibra. Rasanya tidak baik jika Zean tidak bersama mereka padahal suasana masih begitu berduka.

__ADS_1


Zean tidak menjawab, dia hanya menggeleng kemudian membuka mata perlahan. "Aku ingin tidur di sini, boleh, 'kan?"


Boleh-boleh saja sebenarnya, akan tetapi Syila tidak ingin egos dan seharusnya Zean bersama keluarganya malam ini. Dia hanya takut kepergian Zean justru membuat keluarga pria itu semakin pilu.


"Tapi istri_ maksudnya Mama dan Papamu bagaimana? Apa tidak seharusnya kamu pulang dulu malam ini?"


Syila sontak merubah pertanyaannya, tatapan tajam Zean kala dia hendak mempertanyakan istri sontak membuat Syila bergidik ngeri. Pada faktanya, Zean tetap sama dan masih bisa marah jika seseorang menyebutkan hal yang tidak dia suka.


"Aku sudah minta izin Mama, dia tahu aku tidak akan pulang dalam waktu dekat."


Dia tidak berbohong, meski sama sekali belum mendapatkan jawaban dari sang mama. akan tetapi, sebelum Zean mematikan ponselnya dia sudah mengatakan tidak akan pulang malam ini.


Tidak ingin dia melarang, Syila hanya mengangguk pelan dan hatinya menghangat seketika kala merasa Zean menjadikannya tempat pulang. Hingga, kala pria itu hendak memeluknya, dengan sigap syila menahan tubuh Zean.


"Sebentar."


"Kenapa?" tanya Zean mengerutkan dahi karena merasa Syila hendak menolak pelukannya.


"Ada gunting, nanti kena perutnya," ujar Syila kemudian meletakkan gunting itu ke atas meja, mudah sekali wajah Zean berubah dan mengira hal itu sebagai penolakan untuknya.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2