Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 62 - Bukan Keluarga


__ADS_3

Terlalu cepat Halim merasa tenang, hingga ketika dunia mengetahui kebusukan putrinya pria itu kalang-kabut. Meski sama halnya dengan bunuh diri, Halim tetap mendatangi Mikhail dan bermaksud menyelesaikannya secara kekeluargaan.


"Kekeluargaan? Kita bukan lagi keluarga, Halim."


Jawaban singkat Mikhail membuat pria itu geram, dia menatap tajam Mikhail yang kini terlihat santai dengan Beo peliharaannya. Sejak mengetahui perselingkuhan Nathalia, pria itu sama sekali tidak menganggapnya sebagai menantu lagi.


Saat ini, tidak ada lagi hal yang perlu Mikhail pikirkan. Karena dari segala sisi, Halim sama sekali tidak akan mampu berkutik. Sebagai seorang pebisnis, Mikhail sangat paham kenapa Halim nekat mendatanginya padahal keadaan sedang runyam begini.


"Khail, Zean mengingkari janji ... putriku sudah mengajukan gugatan, tapi kenapa putramu justru menghancurkan nama putriku."


Halim sama sekali tidak bisa menerima, apalagi ketika melihat Mikhail yang benar-benar biasa saja. Terkesan tidak peduli dan seakan mengetahui semuanya sejak awal.


"Menghancurkan nama putrimu? Cih, ada baiknya kau pikir lagi sebelum bicara ... putrimu sendiri yang menghancurkan namanya, jangan pernah menyalakan Zean demi membenarkan tingkah keji putrimu."


"Licik kalian, kau pasti terlibat dalam hal ini ... aku sangat paham otakmu, Mikhail. Kalian berdua sengaja menjebak Nathalia dan membuatnya seakan melanggar perjanjian kita," ujar Halim yang kini berhasil membuat Mikhail naik darah.


"Dengan cara itu, kau juga bisa meraih keuntungan dan merebut hartaku ... iya, 'kan?" lanjutnya kemudian masih dengan hati yang memanas.

__ADS_1


Mikhail sejenak terdiam, tatapannya fokus ke wajah merah padam Halim yang kini seakan ingin membunuhnya. Namun, beberapa saat kemudian Mikhail hanya tertawa sumbang, tepatnya mengejek Halim.


"Menarik juga, kenapa tidak dari kemarin aku berpikir seperti itu ya."


Bukannya menolak pernyataan Halim, dia justru melontarkan jawaban yang semakin membuat kepala Halim berasap. Sebenarnya, sama sekali Mikhail tidak pernah memikirkan hal itu setelah mengetahui putranya dikhianati wanita itu.


"Memang dasar licik kalian!! Aku menyesal menerima tawaranmu waktu itu, andai saja aku menolaknya ... tentu Nathalia tidak akan bernasib seperti ini!"


Suara Halim kian meninggi, bahkan mungkin saja terdengar oleh Zia. Namun, sekuat apapun teriakan Halim, Mikhail tetap menghadapinya dengan santai demi menjaga tensinya.


Perjanjian tetaplah sebuah perjanjian, tidak ada yang bisa terlepas begitu saja. Apalagi, butir-butir perjanjian terkait perjodohan mereka bukan hanya Mikhail yang menentukan, tapi Halim juga.


Terutama soal pemindahan keseluruhan harta jika salah satunya terbukti berkhianat, awalnya Mikhail tidak terpikirkan akan hal ini. Namun, Halim mengatakan bahwa sanksi harus dituliskan jelas jika suatu hal terjadi di masa depan.


Sejenak mereka terdiam, Halim sudah kehilangan cara. Sementara putrinya yang tengah tertekan kini tidak berani keluar rumah, kepala Halim benar-benar sakit mengetahui Mikhail sama sekali tidak memiliki empati kepadanya.


"Pergilah, Halim ... biarkan masalah ini selesai sebagaimana jalannya, kau sendiri yang menentukan bagaimana akhirnya sejak dahulu, 'kan?"

__ADS_1


"Orang-orang licik seperti kalian tidak akan bisa tenang, kau sengaja menguras hartaku dengan kesalahan kecil yang dilakukan putriku!! Padahal, putramu juga belum tentu suci."


Telinga Mikhail mulai panas, dia bukan pria sabar, terlebih lagi ketika dia mendengar fitnah semacam ini.


"Kecil? Nathalia menikah di saat masih menjadi istri Zean!! Kecil dari mana? Dan kau tahu apa yang lebih tidak waras?" Mikhail menggantung kalimatnya sesaat, sejak tadi rahang pria itu sudah mengeras dengan tangan yang mengepal begitu erat.


"Kau sebagai orang tuanya justru membenarkan perbuatan putrimu!!"


Tanpa dijelaskan Mikhail sangat sadar jika Halim mengetahui perselingkuhan putrinya itu. Hanya demi membuat posisinya amat, Halim melakukan segala cara bahkan masih membela padahal semua bukti sudah terpampang nyata.


"Pergilah, lebih baik kau beri pelajaran pada menantu bancimu itu, lihat betapa tidak bergunanya dia di saat seperti ini justru melarikan diri," ungkap Mikhail tersenyum miring.


Sejak kabar perceraian putranya mencuat, Mikhail antusias sekali setiap hari menanti kabar yang lebih mengejutkan lagi. Pagi tadi, dia kembali dibuat terhibur dengan berita yang menyatakan Jack melarikan diri.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2