
"Perfect, kamu harus membayar mahal atas karya tangan hebatku ini, Sayang."
"Bayar mahal? Maaf sekali, aku bahkan keberatan membayar sepeser pun hanya demi rambut seperti ini."
Mungkin menurut Syila rambutnya itu mengganggu, membuat sakit mata dan juga kepalanya. Akan tetapi, percayalah saat ini di mata Zean dia bahkan lebih cantik dari seluruh bintang iklan shampo sepanjang abad ini.
"Tapi kamu sudah menerima jasaku, bukankah katamu ketika kita menerima sesuatu maka harus siap membayarnya? Lupa apa gimana?"
Zean yang memulai, Zean yang mengatur dan Zean juga yang mengakhiri. Seujung kuku sama sekali tidak ada keinginan Syila untuk berhutang, Zean saja yang menginginkan hal itu.
"Aku capek, lain kali saja ya ... malam pertamanya ditunda dulu." Tidak ingin dia berbasa-basi, Syila sangat paham apa yang Zean inginkan saat ini.
"Aku bisa pijat, bilang dong dari tadi kalau capek."
Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Itu adalah kalimat yang pantas untuk mendeskripsikan bagaimana Zean saat ini. Jelas-jelas Syila menolak, lantas dia mencari seribu cara untuk membuat sang istri tidak mampu menolak kuasanya.
"Aku mau diapain?" tanya Syila was-was, entah mengapa dia merasa suaminya lebih agresif dari sebelum ini.
Zean kembali membawa wanita itu ke tempat tidur. Entah sejak kapan Zean bisa melakukan segala macam profesi sekaligus begini. Setelah mengubah penampilannya, mini Zean justru memanjakan tubuh sang istri.
"Pijat, katanya capek."
"Jangan macem-macem ya, bohong sama ibu hamil itu dosa loh."
__ADS_1
Dia mendelik seakan benar-benar khawatir disentuh. Zean benar-benar tidak mengerti jika saat ini suasana hati Syila sedang tidak sebaik itu. Setelah lelah Zean usik selama mandi, kini pria itu justru menjadi.
Mata sendunya sudah mempertegas jika dia hanya ingin tidur malam ini, sama sekali tidak lebih. Syila menguap lebar sudah sekian lagi dan tetap Zean yang menutup mulutnya.
"Aku serius ... awas aja sampai melanggar."
Dia mengancam, tapi Zean hanya meresponnya dengan sudut bibir yang tertarik begitu tipis. Meski Syila sudah berusaha segalak apapun, tampaknya tidak begitu berpengaruh hingga membuat Zean hanya terbahak dalam hatinya.
"Hahaha dengan kamu begitu hanya membuatku semakin lapar, Syila."
Dalam kekuasaan Zean, wanita itu kini tengah bingung hendak berbuat apa demi terlihat baik-baik saja. Zean mengatakan jika dia hendak memijatnya, akan tetapi jika di lihat saat ini tujuan Zean semakin jelas saja.
Pertama memang benar Zean memijat istrinya baik-baik. Syila yang sebelumnya sempat curiga besar-besaran kini dibuat bungkam kala sentuhan Zean memang memberikan kenyamanan. Satu hal yang dia lupa, Zean pernah menyembuhkan kakinya sewaktu terkilir dahulu.
Lama kelamaan, tidur Syila semakin lelap hingga dia mendengkur pelan. Secepat itu pasrah, Zean hanya meghela napas panjang seraya memandangi sekujur tubuh istrinya yang hanya mengenakan penutup bagian inti saja.
"Curang, kamu benar-benar tidur ternyata."
Dia tertawa pelan kemudian mengecup kening Syila berkali-kali, penuh kasih sayang dan selamanya akan terus tertanam dalam benaknya.
Meski bisa saja dia mencuri seperti waktu itu, malam ini Zean merasa iba dengan mata lelah sang istri. Suaranya saja bahkan terdengar lemas, Zean memaklumi itu.
Tidak ingin khilaf nantinya, Zean kembali memakaikan piyama sang istri dengan begitu hati-hati. Malam ini mungkin gagal, lagipula memang mereka bukan pengantin baru, seharusnya Zean sadar itu.
__ADS_1
"Aku sangat mencintamu, Nasyila ... lebih dari yang kamu ketahui."
Zean bermonolog sebelum kemudian merengkuh tubuh sang istri begitu erat. Beberapa kali Zean mengecup wajah yang tampak pasrah dia perlakukan semacam itu. Tidak akan habis rasanya, bahkan jika bisa mungkin Zean sudah menggigit Nasyila demi menuntaskan rasa puasnya.
.
.
Hingga menjelang larut malam, Zean terbangun kala sang istri tiba-tiba kesulitan bernapas seraya mencari sesuatu di sampingnya. Tangannya tampak meraba, seakan tengah kehilangan sesuatu hingga dia sepanik itu.
"Syila ... Sayang, kenapa hei."
"Sayang bangun," pinta Zean seraya tidak berhenti menepuk pelan wajah sang istri.
Ini adalah kali pertama Zean melihat istrinya begini. Mimpi buruk, bisa dipastikan sangat amat buruk. Tidak hanya keringat yang kini memanik hingga rambutnya sendiri bahkan basah, tapi juga air mata yang kini mengalir tiada habisnya.
"Syila, ayolah jangan membuatku takut."
Zean panik, dia ketar-ketir dan menurutnya ini lebih mengerikan dari kehadiran makhluk ghaib sekalipun. Dia menatap sekeliling, sudut kamar terutama. Istrinya tidak pernah begini, kenapa malam ini mendadak mengalami hal aneh semacam ini.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -