Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 40 - Ancaman


__ADS_3

Pagi menyapa dengan secercah kehangatan di ufuk timur. Udara pagi di luar tampaknya masih dingin, sedingin tatapan istrinya. Pasalnya, perasaan tidak tega Zean hanya bertahan di awal malam, menjelang fajar egonya mengalahkan rasa iba padahal Syila tengah menikmati mimpi indahnya.


Di sini, di kamar yang cukup mewah dan betah untuk sekadar bulan madu dadakan. Zean tengah menatap lekat wajah cantik Syila di hadapanya, sejak subuh wanita itu memilih diam usai mandi. Akan tetapi, meski demikian dia tetap menyiapkan segala sesuatu yang Zean perlukan, bahkan kini dia tengah memasang dasinya.


"Ehem."


Zean berdehem, tampaknya dia mulai tidak betah dengan perang dingin ini. Wajah Syila tetap datar, tidak ada senyuman sama sekali ataupun tatapan takut seperti sebelumnya. Hendak marah, Zean sadar ini memang salahnya.


"Sa-sayang maaf."


Sejatinya seorang Zean tetap sama, egonya tetap tinggi sekalipun sudah melakukan kesalahan gila itu. Kata maaf baru dia ucapkan setelah empat jam kejadian, kejadian yang membuat Syila berteriak di tengah mimpi indahnya akibat terkejut Zean serang tanpa aba-aba.


Bukan hanya itu, Zean yang tidur pulas tanpa peduli dia marah atau tidak juga menjadi pemicu utamanya. Tinggalah kini, Zean tengah menikmati sikap dingin Syila yang membuatnya tersiksa padahal baru hitungan jam saja.


"Jam delapan, ayo cepat ... Bapak harus sarapan sebelum kita ke sana."


"Syila ...."


Zean menggigit bibir bawahnya. Ya Tuhan, semua menjadi rumit akibat kegilaannya. Dia pikir Syila akan menerima dan menikmati sekalipun dia melakukannya tanpa pemanasan seperti tadi. Namun, buktinya berbeda dan tampaknya sang istri merasakan sakit setelahnya.


"Aku tidak akan keluar sebelum kita baik-baik saja," ucap Zean kala Syila hendak berlalu dengan membawa tas yang berisikan alat-alat penunjang pekerjaan selama dia mendampingi Zean hari ini.


"Ya sudah, aku duluan saja."


"SYILA!! Berani keluar tanpa izinku kusebarkan fotomu."

__ADS_1


Zean meninggi, sejak tadi dia memelas dan bersabar. Istrinya sedikit keras kepala, bukankah hal semacam itu lumrah dilakukan suami pada istrinya, batin Zean masih merasa dirinya tidak sepenuhnya bersalah.


"Kemari, jangan membuatku marah," titahnya seketika melemah, sebenarnya Zean bisa saja pura-pura lupa dan beraktivitas sebagaimana mestinya. Namun, jika dia melakukan hal itu maka rasa bersalah Zean akan terlampau besar pada istrinya.


Tidak butuh banyak waktu dan banyak cara untuk membuat Syila patuh. Entah karena mendengar ancaman Zean, atau memang dia khawatir suaminya murka apabila pergi tanpa izin.


Jarak keduanya hanya beberapa langkah saja, Zean menatap tajam Syila yang kini masih cemberut padanya. Itu adalah adalah wajah paling jelek yang pernah Zean lihat.


"Tenangkan dirimu, kita tidak akan keluar jika wajahmu masih seperti itu."


Syila mengerutkan dahi, sejak kapan dia peduli perkara ekspresi wajah seseorang yang mendampinginya. Dulu saja, Syila sembab akibat dia bentak tetap dipaksa terlihat baik-baik saja.


Awalnya Syila pikir hanya bercanda, tapi ketika melihat Zean yang justru duduk di tepi tempat tidur membuat Syila menghela napas kasar. Sudah sepuluh menit berlalu, dan Syila angkat bicara pada akhirnya.


Syila yang khawatir Zean akan terlambat kini memutar bola matanya malas dan mengalah pda akhirnya. Dia melirik Zean yang sejak tadi tetap fokus dengan ponselnya, mungkin sedang berpikir foto yang mana mau disebar, pikirnya.


"Zean ayo."


"Hm? Sudah selesai cemberutnya?" tanya Zean mendongak dan kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.


Wanita itu hanya mengangguk, tapi jujur saja dia belum bisa tersenyum lantaran Zean mengacaukan tidurnya hingga kepala Syila terasa sedikit sakit.


"Sudah."


"Mana? Aku belum melihat senyummu," ucapnya mendekat dan memerhatikan wajah sang istri tanpa berkedip.

__ADS_1


JIka di dunia ini ada award manusia paling menyebalkan, menurut Syila pria ini adalah nominasi terdepannya. Zean tampaknya belum puas sekalipun Syila tidak cemberut lagi.


"Senyum itu harus ikhlas, kamu senyum begitu di depan Mama bisa diceramahin tujuh hari tujuh malam, Syila."


Sebelum sampai di tahap itu, apa mungkin Syila punya hak dan diterima untuk tersenyum di hadapan mertuanya. Sungguh, Syila mendadak tersenyum getir mendengar ucapan Zean. Sayangnya, senyum yang begitu justru membuat Zean berdebar dan mengira istrinya tengah salah tingkah.


"Jangan pernah berikan senyum itu untuk orang lain, Syila."


"Hm, aku akan cemberut sepanjang waktu," balas Syila sebal sendiri dengan wajah yang kini memerah dan menghindari netra hangat Zean.


Ingin sekali dia memaki diri sendiri, kenapa semudah ini pertahanannya runtuh. Padahal, dia sudah bertekad untuk menghukum sang suami sampai nanti kembali ke Jakarta. Tingkah Syila yang mudah sekali terbaca membuat Zean merasa merdeka dan dia besar kepala hingga mengira sang istri sudah memaafkannya.


"Tidak marah lagi, 'kan? Maaf, aku juga tidak mengerti kenapa naffsuku meledak-ledak setiap ada di sisimu," pinta Zean tulus dengan sejuta penyesalan terlihat jelas di matanya.


"Hm, tapi tolong jangan begitu lagi ... Sakit, Zean, sumpah," ucapnya masih menahan kekesalan hingga naik ke ubun-ubunnya.


"Aku janji, tidak akan begitu lagi ... Kalau tahan."


Demi meredam kemarahan sang istri dia berjanji terlebih dahulu, meski dua kata terakhir hanya dia pendam dalam benaknya. Jujur saja, dia tidak berani jamin kedepannya akan mampu menahan diri, semalam saja dia sudah berusaha keras tetap saja kalah.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2