Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 101 - Tetap Begitu


__ADS_3

Hingga menjelang pagi, sakit yang Zean rasakan cukup membuatnya tidak bisa tidur. Pria itu meringis seraya menatap langit-langit kamar, tangan Zean seakan mati rasa akibat kepala sang istri di atasnya.


Pria itu menggigit bibir sembari menunggu pagi, dia akan menahan dan membiarkan sang istri yang tidur dengan memeluk erat dirinya begini. Bukti jika istrinya tidak bisa lepas, dan Zean sama sekali tidak keberatan meski hal ini sedikit menyiksa.


Pria itu menatap lekat wajah lelap Syila yang tampak lebih tenang setelah bersamanya. Entah apa yang diperbuat Nathan, yang jelas Zean tengah merasa bersalah pada istrinya.


Meski sebenarnya Zean sedikit lebih tenang lantaran tidak ada bekas luka, pukulan ataupun lainnya di tubuh sang istri, tetap saja dia menyesali keputusannya yang memilih berpisah kemarin.


Terlalu percaya kepada bodyguard, hingga dia lengah sekalipun sudah berusaha. Bersyukur saja Nathan tidak kehilangan akal sehatnya, sang istri masih baik-baik saja dan kembali dalam keadaan utuh.


Selang beberapa lama, Zean tersadar dari lamunannya. Dia kembali mengulangi kebiasaan lamanya, tanpa sadar menangis dan membuat Syila yang ternyata kini terbangun jelas saja bingung.


"Kenapa? Apa masih ada yang sakit?"


Sebagai istri yang selalu mengutamakan sang suami, dia panik tentu saja. Zean kembali menangis seperti waktu itu, ingin dia ejek, tapi keadaannya tidak tepat. Terlebih lagi, ketika Zean menjerit padahal Syila hanya menyentuh tangannya.


"Kenapa sih?"


"Jangan dipegang!!"


"Ya kenapa? Tangannya kenapa?"


"Kesemutan" jawab Zean pelan, setelah tadi dia meninggi bahkan membuat telinga Syila sedikit sakit, pria itu mengaduh pelan hingga membuat Syila mendadak merasa bersalah.


"Kenapa ditahan, kan bisa bangunin aku."


"Tidak tega."


"Aku pijat mau?"


"Jangaaan!! Sumpah jangan disentuh, biarkan begini saja."


"Kita coba dulu, biasanya semb_"


"Syila stop!! Jangan sentuh aku," pekiknya makin menjadi ketika Syila hendak memberikan pertolongan pertama untuknya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, Syila hanya bisa menunggu sang suami sedikit lebih tenang. Tidak akan dia usik karena disentuh sedikit saja Zean menjerit seakan terancam nyawanya.


Baru juga Syila dibuat kagum mendengar ceritanya jika dia berhasil melumpuhkan Nathan tanpa bantuan Sean, kini semua kembali dan Syila dapat buktikan seorang Zean memang tetap akan begitu.


"Kamu mau kemana?"


Hendak disentuh dia enggan, tapi ketika Syila beranjak dia juga seakan tidak rela. Zean menatapnya kesal, sementara Syila menunjukkan jam di atas nakas dan memang sudah waktunya mereka untuk bangun.


"Tapi masih gelap, semalam juga hujan, Sayang."


Dia tengah merayu agar tidak Syila tinggalkan, akan tetapi dia tidak sadar jika teriakannya adalah alasan kenapa Syila memilih bangun dan beranjak membuka tirai kamarnya.


Pagi pertama pasca kejadian yang sama sekali tidak ingin Syila rasakan lagi, cukup sekali dan kmarin adalh kali terakhir dia menatap wajah Nathan.


Pemandangan pagi ini sejenak menenangkan jiwanya, di saat tengah memandang ke luar sana, mata Syila tertuju pada Sean yang juga menatap ke arah jendela kamarnya.


Sial, Syila masih malu dan dia memilih kembali ke pelukan suaminya. Aib yang mungkin akan dia simpan hingga akhir hayat, dia tengah mengutuk diri sendiri lantaran tidak bisa membedakan keduanya.


"Kamu kenapa?"


"Tidak, di luar dingin ternyata."


Mendengar kata dingin, Zean mengurungkan niatnya untuk bangun dan kembali bergemul di bawah selimut. Sepertinya keadaan Zean cepat sekali membaik, wajas saja sebenarnya, dia hanya kesemutan, bukan patah tulang.


"Kamu baik-baik saja?"


"Sudah, tidak kesemutan lagi ... nanti saja bangunnya, di luar masih dingin."


"Iya ... ibu juga pasti masih tidur."


Mau tidak mau, Syila lebih baik kembali ke pelukan suaminya dibandingkna harus bertemu Sean di bawah. Dia benar-benar lupa jika pria itu bermalam di sini juga.


"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Syila menatap lekat wajah Zean yang masih terlihat membiru di sana.


"Boleh, tanyalah."

__ADS_1


"Sean akan lama di sini?" tanya Syila ragu sebenarnya, akan tetapi dia lebih takut jika tidak bertanya kepada sang suami.


"Tidak, hanya sebentar karena dia ingin memastikan kita aman ... kenapa? Kamu tidak nyaman ada dia?"


"Bu-bukan begitu, ta-tapi aku hanya bertanya saja."


Wajah Syila mencurigakan, dan seorang Zean yang kerap dibuat bodoh karena pikirannya sendiri sontak menyimpulkan sesuatu yang tidak seharusnya.


"Tidak biasanya kamu begini, katakan ada apa sebenarnya?" selidik Zean dengan sorot tajam yang memaksa Syila untuk mengaku segera.


"Tidak ada."


"Bohong, harus ada!! Cepat katakan."


"Tapi janji jangan marah," pinta Syila menatap Zean khawatir, bagaimanapun lembutnya Zean tetap saja Syila tidak boleh melupakan fakta jika Zean adalah pria panas dingin.


"Tergantung apa dulu."


"Janji dulu, baru aku_"


"Iya-iya janji, cepat katakan." Zean menatapnya serius, tatapan tajam yang selalu berhasil membuat persendian Syila terasa ngilu.


"Semalam ...."


Bingung sekali rasanya, akan tetapi memang seharusnya Syila jujur agar tidak semakin menjadi masalah. Jika sampai Zean justru mengetahuinya dari Sean, maka jelas akan semakin menjadi masalah.


"Hm, semalam kenapa? Nathan melakukan sesuatu padamu?"


Zean menantinya dengan sabar, meski hatinya sudah panas dan siap mengejar Nathan ke dalam sel saat ini juga. "Bicaralah, aku tidak akan marah," tutur Zean selembut itu hingga mmebuat Syila yakin untuk bicara.


"Semalam aku tidak bisa membedakan antara kamu dan Sean, sampai akhirnya aku salah peluk."


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2