Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
Extra Part - Aku Mencintaimu


__ADS_3

Pertumbuhan Hudzai dari hari ke hari adalah anugerah yang tidak pernah ingin Mikhail lewati walau sehari. Dia seakan melihat Zean terlahir kembali, cucunya hadir sebagai pengobat rindu Mikhail yang memang sangat menyukai bayi. Meski semakin ke sini tingkahnya semakin di luar nalar, kemarin saja dia memecahkan celengan b4bi milik Zhavia, pria itu bahkan tidak tega memarahinya.


Tidak hanya berhenti di sana, ponsel milik Lengkara yang dia jadikan sebagai alat untuk mencari uang dikabarkan mati usai Hudzai lempar dari balkon kamar papanya. Cerianya Hudzai tetap menjadi obat dikala bencana yang menimpa keluarga Megantara.


Setelah vonis dijatuhkan pada Sean, saat ini Hudzai seolah menjadi pelipur lara Zalina juga. Di usianya yang kini menginjak 2 tahun 3 bulan, Hudzai menempatkan diri seolah dia adalah sosok pria dewasa. Cukup menghibur, dunia mereka tidak segelap itu dengan hadirnya gelak tawa Hudzai.


"Don't clai, Umma Zaina ... Om Teyan pelginya sebental," ucapnya setiap kali pamit pulang dari kediaman opanya.


Zalina tersenyum simpul menatap pemilik wajah tampan dengan mata bulat yang baru saja selesai mencium punggung tangannya. Tadi malam keluarga kecil Zean menginap di rumah utama, tentu saja atas paksaan Mikhail.


Tepatnya Zean yang tidak kuasa harus berpisah dengan Hudzai lantaran sang papa selalu meminta Hudzai tidur di rumah utama setiap akhir pekan. Alasannya sederhana, dia hanya ingin ketiga cucunya bersatu di malam minggu. Sudah tentu, tidur seranjang bersamanya yang membuat Zia harus rela tidur sempit mengingat ketiga cucunya tidak ada yang waras ketika tidur.


"Iya, Sayang ... terima kasih, Hudzaifa."


Pintar sekali, Zalina mengecup kening bocah jenius yang memang seakan melebihi anak seumurannya itu. Hudzaifah benar-benar cerdas, meski hingga saat ini bicaranya belum lurus, tapi begitu banyak hal-hal yang kerap tidak disangka bisa Hudzai lakukan.


"Pamit ya, Onty kala Hudzai pulang ya."


"Bodo amat!!"


Lengkara yang kesal dan tengah meratapi semua file penting di ponsel masih menunjukkan kemarahannya. Zean sudah janji akan menggantinya, tapi bibir Lengkara tetap maju beberapa centi di hadapan mereka.


"Kara, berani marah Papa cambuk mau?"


Zean terbahak kala mendengar papanya bergerak menjadi garda terdepan untuk membela putranya. Hingga saat ini posisi tertinggi masih dipegang Hudzaifah, tinggal menunggu saja putra Sean lahir dan melihat apa mungkin posisinya bisa digeser.

__ADS_1


"Papa kok begitu sih? Dipikir aku kuda," gerutu Lengkara yang memang lama-lama sebal pada Mikhail yang terus membela keponakan dibandingkan dirinya.


"Opa mau itu," rengek Hudzaifah yang membuat Zean mengerutkan dahi.


Susah payah dia mengamankan cambuk mainan yang Mikhail beli entah dari mana itu karena khawatir putranya keterusan. Kini, Sang Papa justru kembali menyerahkannya dengan sengaja.


"Siap pangeranku, ini Opa kasih."


Kebiasaan sekali, selalu saja membuat masalah kian rumit. Hudzai bertepuk tangan usai menerima senjata tempurnya bersama Azkara itu. Mereka pamit meninggalkan rumah utama menjelang siang hari.


Nasyila berusaha ada untuk menemani Zalina agar tidak begitu kesepian. Sebagaimana pesan Sean, selama dia di penjara Zean harus menjaganya. Meski sedikit sulit karena saat ini Syila juga tengah hamil muda, tapi dia tetap bersedia menjadi sosok sahabat untuk Zalina.


Bukan karena tidak percaya pada Lengkara ataupun Ameera, tapi memang sikap mereka belum begitu mampu untuk memahami perasaan orang dewasa seperti Zalina.


"Hudzai are you okay?" tanya Zean memecah keheningan karena sejak tadi putranya benar-benar diam.


Menyadari putranya begitu tenang, Syila menoleh dan bertanya pada Nesa, pengasuh baru setelah ketiga pengasuh sebelumnya mengundurkan diri karena tidak mampu menghadapi Hudzaifah. Padahal, Zean menggunakan jasa pengasuh baru tiga bulan ini, tepatnya sejak sang istri hamil.


"Iya, Nyonya."


"Syukurlah, kemarin dia tidak tidur," ungkap Syila yang kembali bersandar.


Perjalanan yang mereka lalui cukup cepat. Kedatangan mereka sudah disambut senyum hangat Zulia yang baru saja bertarung dengan alat dapur demi memenuhi ngidam putrinya yang ingin bolu kojo tadi pagi. Nesa segera menggendong tuan mudanya ke kamar. Sementara Zean dan Syila segera ke kamar karena memang istrinya terlihat lelah.


"Tidurlah, matamu sudah merah," tutur Zean mengecup keningnya lembut.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanya Syila yang kini menahan pergelangan tangan Zean.


Kejadian yang menimpa Sean membuat Syila justru benar-benar takut berjauhan dari sang suami. Mengingat bagaimana tersiksanya Zalina, wanita itu yang justru ikut merasakan perih.


"Kerjaan, Sayang ... tidak akan lama, aku tinggal sebentar ya."


"Apa tidak bisa di sini saja?"


Kehamilan Syila kali ini sedikit berbeda. Dia lebih manja dan tidak bisa jauh terlalu lama. Padahal, saat ini perusahaan sedang tidak baik-baik saja akibat kasus yang menjerat Sean.


"Baiklah, aku ambil laptop sebentar ... tapi kamu tidur ya."


Syila mengangguk pelan, matanya sudah mengecil pertanda jika dia memang ngantuk luar biasa. Jujur, sebenarnya Zean juga, tapi untuk saat ini dia tidak bisa mengutamakan tidur sebelum perusahaan baik-baik saja.


"Zean," panggil Syila kala sang suami baru saja hendak membuka pintu kamar, dia harus mengambil laptopnya lebih dulu.


"Hm? Apa, Sayang?"


"Aku mencintaimu."


.


.


Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Menyambut bulan yang penuh berkah ini, Author ingin meminta maaf lahir dan batin. Semoga diberikan kelancaran dan keberkahan untuk puasa di tahun ini hingga kita sama-sama dipertemukan dalam kebaikan di hari kemenangan.

__ADS_1


Selamat menunaikan Ibadah Suci Ramadhan 1444 H.


Salam hangat, Desy Puspita❣️


__ADS_2