
Zean adalah seseorang yang tidak ingin berbeda dengan manusia lainnya. Sebagaimana yang dia ketahui ritual penting setelah resepsi pernikahan adalah malam pertama, tidak lupa bulan madu dan sejenisnya.
Semua harus terlaksana, entah apa alasannya yang jelas Zean benar-benar frustrasi andai tidak berjalan dengan lancar. Masih di hotel yang sama, Zean memutuskan menetap untuk beberapa malam di sini.
Keinginan Zean didukung penuh oleh kedua orang tuanya. Baik Zia maupun Mikhail seakan benar-benar mengerti apa yang putranya inginkan. Syila bahkan bingung sendiri kapan mereka menyiapkan semua perlengkapannya untuk malam ini.
"Kita tidur di sini malam ini?" tanya Syila menatap bingung sang suami yang kini mengulas senyum ke arahnya.
"Iya ... ini kan malam pertama kita."
Malam pertama kata dia, seorang Syila sampai tidak bisa berkata-kata mendengarnya. Entah bagaimana konsep malam pertama bagi Zean, tidakkah dia lihat jika saat ini Syila tengah berbadan dua. Lantas, kenapa seakan masih merasa pengantin baru saja.
"Malam pertama? Tidak salah dengar?" Syila mengerutkan dahi lantaran merasa ini terlalu konyol untuk dijawab.
"Tidak, memang benar malam pertama ... malam ini statusmu bukan jadi istri rahasia lagi, apa salahnya jika kita rayakan, Sayang?"
Memang tidak salah, sama sekali Syila tidak menyalahkan sekalipun Zean menggunakan kalimat malam pertama untuk saat ini. Hanya saja, untuk melayani Zean sebagaimana pengantin baru lainnya sama sekali Syila tidak mampu, dia lelah bahkan keberatan perut sebenarnya.
Saat ini dia hanya pasrah duduk di tepian tempat tidur. Zean mendekat, gaun sang istri tampak tidak nyaman di matanya saat ini, tapi entah kenapa sejak tadi Syila tidak meminta bantuan padanya.
"Apa tidak panas? Aku lepas boleh ya?"
__ADS_1
Mulutnya masih bertanya, tapi tangannya sudah bergerak untuk membuka gaun itu. Anggukan pelan Syila dia anggap sebagai persetujuan, ya meskipun sebenarnya tanpa persetujuan Syila akan tetap dia buka juga.
"Enakan?"
Mata Syila dia paksa terbuka lebar, dia menguap lebar-lebar seakan sengaja membuat Zean mengerti bahwa dia memang lelah dan tidak ada ritual seperti yang Zean minta. Namun, Zean seakan menutup mata dan dia buta akan keadaan istrinya.
Usai memastikan semua terlepas dari tubuh sang istri, Zean memandangi Nasyila lekat-lekat. Bukan malam pertama, tapi memang Zean seakan tidak ada bosannya, tubuh sang istri yang sedikit berisi ini teramat menggemaskan di mata Zean.
"Tubuhmu lengket, mau mandi atau aku lap-lap saja?" Zean memberikan penawaran yang memang tetap berakhir mencuri sentuhan di tubuh istrinya nanti.
"Dipikir aku bayi." Syila berdecak sebal seraya menepis pelan jemari Zean yang mulai menelusuri wajahnya.
"Hahaha santai dong, Sayang ... emosian."
Mandi bersama Zean sudah tentu akan memakan waktu lama, bahkan sangat lama. Jemari Syila bahkan keriput kini, bibirnya menggigil dan itu adalah hal biasa. Harus dengan emosi lebih dulu baru pintu hati Zean terketuk untuk meninggalkan kamar mandi.
Zean sedari dahulu memang baik, dia lembut dan juga penyayang. Jauh sebelum dia mengutarakan cinta dan sebagainya, pria itu memang sudah sangat manis. Akan tetapi, malam ini dia benar-benar berbeda, Syila seakan merasakan sensani menjadi ratu yang tengah dilayani dayang di istana.
Tidak hanya sebatas mengeringkan rambut, tapi juga Zean yang kini mendadak ingin menata rambut sang istri entah dengan alasan apa. Nalurinya mendadak ingin saja, malam ini dia ingin melihat rambut istrinya benar-benar bergelombang persis Syila sewaktu kecil.
"Aku bisa send_"
__ADS_1
"Aku saja, hal semacam ini mah kecil."
"Awas panas, rambutku rusak mau tanggung jawab?" tanya Syila mengelus dadanya, fakta di lapangan sudah terjadi bahkan kulit kepalanya terasa panas seketika.
Bukan tidak percaya Zean akan menyakitinya, tapi entah kenapa dia mendadak ragu dengan kemampuan Zean yang kini menguasai catokan baru hadiah dari Lengkara beberapa hari lalu.
"Aman, serahkan saja padaku ... tidak ada hal yang tidak bisa kulakukan di dunia ini, Sayang. Ingat itu," bisiknya penuh percaya diri, bermodalkan niat dan kemauan dia yakin akan membuat istrinya tampil berbeda malam ini.
"Aaawwh, panas."
"Diam, kepalanya jangan gerak-gerak dong."
Firasat Syila kian buruk saja, rambutnya sudah sebagian Zean ubah total. Ikal kalau kata Zean, tapi di mata Syila gaya rambutnya lebih pantas disebut kribo. Detik demi detik berlalu, Syila semakin ragu melihat pantulan dirinya di cermin.
"Ini gaya rambut apa sih? Susah-susah aku buat dia jadi lurus alami, kenapa jadi persis mie begini?"
Layaknya seorang pelanggan yang tidak menyukai jasa salonnya, Syila protes dan mendadak stres melihat dirinya seperti ini. Jujur saja dia ingin menangis, tapi tampaknya ini adalah keberhasilan Zean.
"Perfect, kamu harus membayar mahal atas karya tangan hebatku ini, Sayang."
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -