
"Zean?"
Dia terlalu lelah sepertinya, sampai tidak bisa membedakan kedua pria itu. Hampir saja dia memeluk Sean, beruntung Sean sedang dalam keadaan waras. Dia yang panik cepat-cepat menghentikan Syila yang hendak merengkuh tubuhnya.
"Aku bukan suamimu, tunggu di sini."
Malunya luar biasa, Syila memilih diam dan menerima jaket pemberian Sean. Hujan di luar sana cukup menusuk kulitnya, mereka tampak datang berdua dan Sean akan kembali naik ke atas sana.
"Tunggu di sini, jangan kemana-mana ... aku akan kembali bersama Zean nanti."
Meski kekhawatirannya terlampau besar, Syila tetap menurut dan kini terpejam seraya mengelus perutnya. Demi Tuhan dia ketakutan dalam kesendiriannya. Bahkan dia sampai hampir memeluk Sean yang dia kira suaminya, jangan salahkan Syila. Tempat ini minim pencahayaan sementara hari sudah malam.
Selang beberapa lama Syila menunggu, dia baru menyadari jika tempat ini sudah dikepung sejak tadi. Dia menatap ke luar, orang-orang dengan berseragam hitam mulai masuk ke dalam bangunan itu. Hujan belum berhenti, Syila dapat melihat bagaimana Nathan yang sudah tidak sadarkan diri dibawa pergi beberapa orang itu.
Sementara suaminya belum juga keluar, dia yang khawatir tidak memiliki keberanian untuk keluar, tapi kesabarannya tidak sebesar itu. Hingga, Syila baru bisa bernapas lega kala melihat kedua pria yang bak pinang dibelah dua itu tengah berjalan mendekat.
Syila yang sejak tadi menunggunya, jelas saja menghambur ke pelukan Zean kala pria itu masuk ke dalam mobil. Padahal tubuhnya seakan sakit semua, tapi malam ini dia benar-benar membuktikan jika seorang Zean bukan anak mama.
"Maaf, aku terlambat."
Satu kalimat itu yang terucap dari bibirnya, mendapati dirinya tidak salah orang lagi, Syila terus memeluknya sembari memeriksa tubuh Zean. Khawatir sekali ada luka dari senjata tajam yang tadinya sudah Nathan persiapkan, beruntungnya tidak ada luka semacam itu dan perut Zean dia pastikan aman-aman saja.
"Kamu baik-baik saja, Sayang? Apa dia menyakitimu? Hm? Katakan, bagian mana yang sakit?"
Syila menggeleng pelan, tidak ada bagian dari tubuhnya yang sakit. Sama sekali tidak, justru yang seharusnya dia pertanyakan adalah Zean sendiri. Pria itu selalu mengkhawatirkan sang istri, padahal dirinya juga hampir mati.
__ADS_1
"Kita pulang, maaf aku terlalu lengah ... seharusnya hal semacam ini tidak akan terjadi."
Bukan salah Zean, tapi memang yang mereka hadapi adalah jelmaan ibliss. Sean sudah katakan sejak awal, tapi tampaknya cara melindungi Syila kurang dan masih terlalu mudah untuk seorang Nathan.
Sembari menunggu mereka meluapkan sejuta kerinduan, Sean menghubungi Bastian dan kawan-kawannya. Hilangnya dua bodyguard Syila jelas menjadi tanggung jawab mereka juga, terlebih lagi Sean yang memberikan pekerjaan itu pada mereka.
Nasib baik tampaknya tengah berpihak pada mereka, kabar terkait dua pria yang kini terdampar dan sudah menjalani perawatan di rumah sakit terdekat membuat Sean sedikit lebih tenang.
"Apa kita perlu ke rumah sakit dulu, Zean?"
"Tidak, ke rumah saja."
"Rumah kita?"
"Rumahku, kau ingin Papa jantungan atau bagaimana?" kesal Zean lantaran pria itu justru mempertanyakan hal yang bisa dia jawab sendiri.
Hingga menikah, Zean masih perlu didampingi. Akan tetapi malam ini bukan hanya Nathan yang dia buat bungkam, melainkan Sean juga. Keraguan Sean tentang kemampuannya sejak tadi sore membuat Zean sebal, hingga dia memilih bertindak sendiri dalam mengeksekusi Nathan tanpa bantuan Sean.
Bermodalkan kemampuan seadanya, dan juga amarah lantaran tidak terima Nathan memeluk istrinya, pria itu mampu membuat Nathan tumbang pada akhirnya. Sean benar-benar hanya menyaksikan, dia mengerti jika saudaranya mampu tanpa bantuan.
.
.
Apa yang Syila alami sama sekali tidak boleh sampai ke telinga Zulia. Mereka tiba di kediaman Zean ketika menjelang larut malam. Bersama Sean yang awalnya ingin pulang, pria itu terpaksa tetap berada di rumah saudaranya lantaran khawatir antek-antek Halim masih ada yang berotak sama seperti Nathan.
__ADS_1
Pria bodoh yang melakukan segala sesuatu dan berakhir membuat lelah. Jangankan harta, dia justru kembali terancam dengan hukuman yang lebih berat lagi. Zean tidak sebodoh itu, terlebih lagi Sean yang berdiri di belakangnya.
"Mandi dulu," titah Zean tiba-tiba ketika Syila hendak membersihkan lukanya.
"Mandi?"
"Hm, rambutmu lembab ... nanti sakit," ujar Zean lembut, tepatnya lelah.
Mengatasnamakan rambutnya yang lembab karena hujan, padahal Zean memintanya mandi lantaran ingat bagaimana Nathan yang memeluknya seperti tadi. Dia cemburu? Anggap saja begitu, karena memang faktanya demikian.
"Kamu juga seharusnya mandi, sekalian saja mau ya?"
Memang Syila adalah wanita yang sedikit menyiksa. Kala Zean segar bugar, sekalipun dia tidak pernah mengajak mandi bersama. Sekalipun berhasil, itu karena Zean yang mencuri kesempatan dan memaksa masuk ketika istrinya tengah membersihkan diri.
"Kamu menggodaku? Badanku masih sakit semua, Sayang," lirihnya hingga membuat Syila salah tingkah. Padahal, sama sekali tidak ada niat Syila untuk menggodanya, sang suami memang lebih baik mandi bersama.
"Hanya mandi, tidak yang lain."
.
.
- To Be Continue -
Hai, ughtea💣 Pakabar, kenapa tuh komen di dua eps kemaren sepi? Terus di eps sebelumnya tembus 111😠aku takoooot kalian ngamok-ngamok atau ngapain di sana makanya ga aku cek satu-satu. Maafin aku ya, yang terakhir ini janji deh 🖤
__ADS_1
Babay🖤 Semoga masih pada setia ya, saranghae🤗🤗
Ramein dulu komennya di eps ini jika aku sudah dimaapkeun.