Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 73 - Pantang Dipuji


__ADS_3

“Kalau kami tinggal di rumah utama, artinya tidur di kamar lamaku … lalu Sean? Ck, kamarnya ada di sebelah kamarku, sementara balkon kami menyatu. Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika begitu?”


Sepanjang jalan, Zean membatin dan belum menemukan titik terang atas permintaan Zia. Meski alasan sang mama amat logis, akan tetapi tetap saja ada perasaan yang tidak dapat Zean jelaskan saat ini. Berperang dengan pikiran semacam ini sedikit melelahkan, bahkan bisa dikatakan menyiksa batinnya sendiri.


Jika kini Zean tengah berperang melawan pikirannya sendiri, Syila juga demikian. Meski saat ini Zia tampak menerimanya, tetap saja ada perasaan takut dalam dirinya. Bagaimana nanti kedua adik iparnya, sungguh hingga detik ini Syila masih khawatir jika ternyata mereka menolak tanpa dia duga.


Jantung Syila semakin berdetak kencang kala memasuki kediaman keluarga ini. Hunian megah yang terdiri dari dua bangunan bak istana semakin jelas terlihat kala memasuki gerbang utama.


Syila berusaha menyembunyikan kekagumannya. Meski jujur saja saat ini langkah kakinya teasa berat bahkan berpikir tidak pantas untuk ikut masuk. Rumah yang Zean berikan untuknya sudah cukup mewah, akan tetapi begitu tiba di kediaman Mikhail wanita itu benar-benar dibuat takjub.


Tempat ini bukan mimpi, kemewahan pilar-pilar yang menjulang tinggi di hadapan Syila menegaskan jika kekayaan keluarga suaminya mungkin tidak akan habis sampai tujuh turunan. Otak Syila tidak melulu soal uang sebenarnya, hanya saja saat ini dia tengah merasa tidak pantas dengan status sosialnya.


Begitu tiba, Syila juga dibuat terkejut dengan sambutan beberapa orang di sana, pelayan dan juga para penjaga yang tampak seperti keluarga menyapanya dengan sebutan nona muda. Bukti bahwa Zia memang benar-benar menerimanya, semua yang bekerja di rumahnya diminta menghormati Syila sebagai menantu di rumahnya.


Tidak hanya itu, kedatangannya juga disambut baik kedua ponakan Zean di sana. Meski dengan tatapan sedikit bingung lantaran baru saja mengenal, Zavia dan Azkara tidak membantah begitu Zia memintanya untuk mencium punggung tangan Syila.


"Uncle, aunty ini siapa?"

__ADS_1


Bagi anak kecil seperti Azkara, mana mungkin dia paham permasalahan orang dewasa. Terlebih lagi, Keyvan memang membatasinya mengetahui hal yang belum menjadi kapasitasnya, hingga hanya Nathalia yang dia kenal sebagai istri Zean.


"Aunty Azka juga, namanya Aunty Syila," jawab Zean lembut seraya menunduk demi menyesuaikan tinggi Azkara.


"Aunty azka jadi dua dong." Azkara berpikir ini sebuah kebanggaan hingga dia bertepuk tangan kala mengetahui siapa Syila.


"Satu Azka, aunty Syila saja," jawab Zean mengusap pelan rambutnya.


"Yah ... Azka maunya dua, Uncle, kenapa aunty Nath tidak pulang juga sekarang?"


Baru saja Zean kembali ingin memberikan pengertian pada Azkara, secepat mungkin Zia mengambil alih cucunya. Khawatir jika nantinya ada kalimat yang menyinggung hati Syila, terlebih lagi saat ini menantunya tengah hamil muda.


Mata wanita itu tidak dapat berpaling dari kerapian yang tercipta di kamar Zean. Semua benar-benar tertata dengan baik, kamar tidur sang suami bahkan lebih besar dari rumahnya sebelum menikah.


Memasuki kamar Zean, dia percaya jika sang suami memang terlahir jenius. Foto dia memenangkan berbagai olimpiade dan debat tingkat nasional berjejer di sana, tidak heran jika pria itu selalu berhasil membuat lawan bicaranya terdiam.


"Kamu pintar ya dulunya?"

__ADS_1


"Dulu? Sampai sekarang tepatnya," ucapnya bangga hingga membuat senyum Syila redup, katakanlah dia seidkit menyesal memuji Zean barusan.


"Mama yang pajang semua itu, padahal sudah kusimpan sejak lama."


Zean dengan begitu banyak pencapaiannya, hanya Zia dan Mikhail yang begitu bangga. Sementara dirinya justru merasa hal itu sebagai beban lantaran kerap dianggap bahan perbandingan.


Tidak jarang dia dan Sean berkelahi lantaran guru ataupun teman-temannya menganggap Sean terlalu bodoh. Meski Mikhail dan Zia sama sekali tidak membedakan keduanya, akan tetapi di mata banyak orang Zean lebih segala-galanya dibandingkan Sean.


Syila mengangguk beberapa kali, dia kehabisan topik pembicaraan dan enggan jika hendak memuji Zean lagi. Punggungnya sedikit pegal, hingga dia memilih duduk di tepian tempat tidur. Ingin berbaring, tapi keberaniannya tidak sebesar itu.


Di saat yang sama, Zean justru menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Seakan benar-benar merindukan ranjang itu hingga tubuh Syila bahkan sedikit bergoyang. "Kita lanjutkan yang tadi," ucap Zean sembari menepuk sisi yang kosong di sebelahnya.


"Yang tadi?"


"Hm, cepat sini ... tidak ada yang menganggu kalau sekarang."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2