
Hingga sore hari, kediaman Zean masih tetap ramai. Mereka menghabiskan akhir pekan di sana. Syila yang sejak lama hanya merasakan hidup berdua bersama sang bunda, ikut merasakan bagaimana hangatnya keluarga ini.
Seseorang yang Syila pandang akan memiliki standar tinggi bahkan dalam pertemanan sekalipun, ternyata memiliki hati yang begitu mulia bahkan menerima kehadiran Syila dan Zulia tanpa memandang status sosial mereka.
"See you, Aunty ... besok Azka main sini lagi boleh ya?" tanya Azkara seraya menatap Syila penuh harap. Wanita itu memang menyukai anak kecil, hingga tidak butuh waktu lama untuk dia mendapatkan hati kedua ponakan Zean.
"Boleh, Sayang," jawab Syila lembut seraya mengacak rambutnya, berharap sekali anaknya nanti setampan Azkara jika laki-laki.
Jika putra bungsu Mikhayla itu tengah meminta izin untuk datang lagi kepada Syila, lain halnya dengan Mikhail. Pria itu tengah sibuk merayu Zean lantaran menyukai mawar putih yang Syila tata di taman belakang.
"Ayolah, Zean ... jangan pelit, yang lain masih banyak."
"Itu tanaman mertuaku, Pa, papa yang lain saja ... lidah buaya mau?"
Zean sangat mengetahui seberapa besar rasa sayang Syila terhadap bunga tanaman ibunya itu. Bahkan, dia rela membawa bunga-bunga tersebut dari rumah lama daripada harus diwariskan pada tetangga.
"Papa punya lidah buaya, atau kalau tidak Papa tukar deh bunga mawarnya," ujar Mikhail merasa ini adalah jalan tengah paling menguntungkan.
"Tukar apa?"
"Eceng gondok," jawab Mikhail masih terus menatap Zean, tanaman mawar kesayangan mertua juga sudah berada di tangan Mikhail.
"Halah, dimana letak keindahannya, Pa."
Sama-sama memiliki pendirian kuat, Zean menyayangi istrinya dan Mikhail juga sama. Mengatasnamakan Zia, dia mencoba merayu putranya ini. Namun, Zean memohon dengan sangat, lebih baik beli daripada merampas milik istrinya.
"Boleh ya," rayu Mikhail sekali lagi, sungguh dia sangat suka tanaman ini.
"Tidak, Papa boleh ambil yang lain, tapi jangan bunga itu."
Keputusan Zean tidak bisa diganggu gugat, sekali tidak tetap tidak. Dia rela jika harus memberikan sejumlah uang agar Mikhail berhenti memaksakan kehendaknya.
"Astaga anak ini, padahal cuma bunga."
__ADS_1
Perebutan antar kedua pria itu berlangsung cukup lama. Hingga mereka baru berhenti ketika Syila yang ikut campur. Pada akhirnya semesta berpihak pada Mikhail sebagai pemenangnya.
"Kamu kenapa justru membela Papa? Aku susah payah karena bunga itu, bahkan jariku luka, Syila."
"Sudah, nanti Ibu sembuh dia tanam bunganya lagi."
Ibu sembuh, entah kapan sebenarnya. Syila tersenyum getir ketika mengucapkan kalimat itu. Keduanya kemudian berlalu lantaran keluarga besar Mikhail benar-benar akan pulang, bahkan Bastian sudah menghidupkan mobil sejak beberapa menit lalu.
Selepas mereka pergi, Zean benar-benar berpuas diri. Hampir sepuluh jam dia tidak memeluk istrinya, jelas hal itu akibat dia yang harus memijat punggung Mikhail sekaligus menemaninya. Tidak hanya itu, Syila juga begitu sibuk dengan kegiatannya bersama Mikhayla dan juga Zia.
.
.
Siang harinya direnggut, bukan berarti waktu khusus bersama Syila hilang begitu saja. Pria itu mengajak sang istri untuk makan berdua di luar malam ini. Setelah statusnya jelas, Zean ingin merasakan hidup sebagai pasangan normal.
Dia berhak menghabiskan waktu di luar tanpa perlu sembunyi-sembunyi seperti dulu. Bersama kedua pengawalnya, Syila tengah merasa menjadi istri dari orang penting. Yah, Zean orang penting memang, tepatnya sedikit penting.
Sejak kapan suaminya romantis begini, jantung Syila berdetak dua kali lebih cepat. Seorang wanita tengah berbadan dua dibuat menangis kala membaca tulisan Will you marry me di hadapannya.
Lihat, kakinya bahkan bergetar. Lutut syila kini lemas, kenapa perasaannya masih sama. Tatapan Zean akan selalu indah dan menusuk hati Syila sampai dia tidak kuasa menolak pesonanya.
Pria itu merogoh sakunya, kotak kecil yang sempat Syila lihat beberapa bulan lalu kini kembali lagi. Sebagaimana janjinya, Zean akan membuat ikatan cinta keduanya benar-benar sempurna.
"Sekarang, apa cincin ini sudah boleh melingkar di jemariku, Ayana Nasyila?" tanya Zean tersenyum tipis dengan tatapan penuh damba ke arah istrinya.
"Ze-zean?"
Bukan sedang membuat drama, tapi entah kenapa air matanya berlebihan sekali malam ini. Padahal, ini sudah kali kedua Syila dilamar. Yah, caranya memang berbeda, sebelum menikah Zean juga memintanya menikah persis seperti ajakan jalan-jalan.
"Kenapa menangis? Apa kamu berharap aku membawa cincin yang baru?"
"Bu-bukan begitu, tapi aa ... kenapa harus dilamar lagi." Syila bahkan sesegukkan, padahal tidak ada adegan Zean mengancam akan mendorongnya dari lantai 23 ini.
__ADS_1
"Aku ingin mengulangnya, aku ingin melamarmu baik-baik ... pernikahan kita mungkin salah di mata banyak orang. Sekarang, izinkan aku memulainya dari awal."
Caranya mendapatkan Syila dapat dikatakan sedikit memaksa, dia egois dan bahkan menjerat Syila hinggga tuduhan sehina itu Syila terima dari keluarga dekatnya. Kini, dia ingin mengulang semuanya, bahkan jika bisa dia ingin merasakan yang namanya kencan sebagaimana pasangan kekasih.
"Pilihannya hanya ada dua, Syila ... kamu jadi istriku atau aku jadi suamimu. Pilih mana, Sayang?"
Kalimat lamaran macam apa itu, Syila yang tadinya terharu kini terkekeh hingga air matanya tergantikan secepat itu. Zean memang minim dalam melakukan hal semacam ini, hanya untuk sebuah kalimat itu dia bahkan mencari diberbagai sumber agar tidak begitu kaku.
"Dua-duanya, aku jadi istrimu dan kamu jadi suamiku."
Syila menyematkan cincin di jemari Zean yang sejak lama tidak berpenghuni itu. Entah siapa yang dilamar sebenarnya, Syila juga tidak mengerti karena sejauh yang dia ketahui seorang pria melamar wanitanya tidak begini.
"Sudah, jangan pernah dilepas ... apapun keadaannya," ucap syila sebelum kemudian melepas jemari Zean.
"Jika aku mati besok bagaimana? Cincinnya tetap harus kupakai?" tanya Zean santai tapi benar-benar merusak suasana hati Syila bahkan sontak menekuk wajahnya.
"Jangan asal bicara, gunakan bibirmu untuk hal yang baik-baik ... jangan biasakan ngaco," tutur Syila lembut layaknya memberi pengertian pada anak seusia Azkara.
Bukannya menjawab, Zean justru mengikis jarak dan mengecupnya lembut secara tiba-tiba. Mata Syila sontak membola, kebiasaan sekali ketika bicara dipotong dengan cara semacam itu.
"Kenapa menciumku tiba-tiba?" tanya Syila mengerutkan dahi seraya mengusap pelan bibirnya.
"Melakukan hal baik dengan bibirku, benar, 'kan." Zean tersenyum simpul dengan begitu santainya, wajah Syila yang kini memerah menjelaskan dia bingung hendak berbuat apa.
"Hm, benar ... ka-kalimatku yang salah."
.
.
- To Be Continue -
Hallo, Guys❤ Buat yang tanya kapan Sean, Jodoh Sean, Anunya Sean. Sabar ya, Sean nanti di novel baru, mungkin awal bulan tiga (Kalian tau kan jadwal aku up karya baru itu kapan -Tanggal 02/03-) Kenapa begitu thor? Pertama ada Renaga yang baru on-going dan aku nggak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi editor tidak menyarankan untuk on-going banyak. Ga diterima kontraknya, Beb❤
__ADS_1