
Bambang berdiri di depan Eneng yang masih sibuk dengan setumpuk gosokan. Memperhatikan tangan kecil nan putih terus bergerak kesana kemari.
"Lid" panggil Bambang. Tetapi tidak di respons.
"Maafkan kesalahan aku dulu, aku tahu kamu pasti terluka."
Eneng terdiam.
Satu jam sudah Bambang berada di tempat setrika, tetapi tidak di anggap ada, oleh Eneng.
Ruangan setrika lama-lama menjadi gerah. Ia ambil salah satu kaos yang belum di gosok dan mengipasi lehernya sendiri.
Lidia pun sebenarnya gerah, tetapi demi tugas tidak mengurangi semangatnya.
"Kasihan Lidia kalau nggosok terus kepantasan begini" pikirnya. Bambang keluar meninggalkan ruang setrika.
Eneng menoleh kebelakang menatap tubuh jangkung berjalan keluar.
"Menyerah juga kan loe!" Eneng bergumam. Ia pikir Bambang menyerah. Namun, tidak lama kemudian Bambang kembali lagi.
Mendengar kretek kretek Eneng pikir Bi Ipah.
"Ada apa Bi?" tanya Eneng tidak menoleh ia pikir Bibi.
Bambang tersenyum simpul, mendengar suara Eneng sangat merdu di telinganya walaupun bukan ditujukan kepadanya. "Bukan Bibi tapi aku."
Mendengar jawaban Bambang, Eneng menghentikan tanganya sesaat. Namun, tetap tidak menoleh. lalu mulai menggosok kembali.
Bambang membawa kardus berukuran besar lalu membukanya.
Eneng sempat penasaran ingin mengetahui isi kardus tersebut. Melongok kardus tanpa Bambang tahu, karena Bambang posisi menunduk.
Kardus terbuka ternyata isinya kipas angin yang Bambang ambil dari gudang. Kipas masih sama sekali belum di pakai.
Bambang kemudian merakit kipas angin yang masih terpisah. Sesaat Eneng memandangi wajah Bambang yang posisinya menghadap ke arahnya. Wajah tampan terlihat lebih dewasa. Bambang mendongak. Dengan cepat Eneng membuang pandangannya.
"Trarara...jadi" ucap Bambang. Kemudian menyalakan kipas angin. Bambang duduk di kursi masih belum beranjak masih memutar otak bagaimana gadis di depanya ini agar mau memaafkan.
Jujur Eneng memang gerah, sebab di kontrakan selalu memakai kipas angin. Ia menggosok makin bersemangat.
Lain Eneng lain Bambang, ia paling tidak bisa terkena kipas angin yang ada malah masuk angin. Namun, demi orang dimasa lalunya ini, ia rela menahan dingin.
"Terimakasih" satu kata keluar dari mulut Eneng.
Bambang menatap Eneng senang. "Kamu sudah memaafkan aku?" tanya Bambang percaya diri.
"Tuan tidak punya salah, untuk apa minta maaf"
"Banyak Lid, sekarang apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan aku"
"Jangan panggil saya Lid, saya sudah katakan Tuan, bahwa Lidia sudah mati" ucap Eneng sinis.
Bambang akhirnya diam, merebahkan tubuhnya di bale yang keras biasa untuk menumpuk keranjang pakaian.
"Haicin...haicin..." Bambang bersin-bersin alergi kipas. Namun, tidak peduli.
15 menit kemudian. Eneng selesai menggosok. Merapikan gosokan dan melipat alas menggosok.
Eneng melirik pria yang tidur di bale. "Tumben diam" Gumamnya. Eneng mendekat menelisik wajah pria yang sudah menyakiti hatinya hingga saat ini masih belum bisa terobati.
Flasbach on.
Setelah mendengar pengakuan Wibi kepada temanya, bahwa dia hanya di jadikan tarohan uang satu juta.
__ADS_1
Lidia berlari tak tentu arah. Meninggalkan mangkok siomay yang sudah pecah. Dan meninggalkan tas yang masih di dalam kelas.
Lidia tidak peduli akan di panggil Guru BP besok. Sebab, saat ini baru istirahat jam pelajaran pertama. Yang ada dalam pikiranya saat ini, jauh dari orang yang bernama Wibi.
Cinta pertama yang ia rasakan selama 6 bulan ternyata hanya menorehkan luka.
"Lidia...tunggu" Wibi mengejar terengah-engah.
Lidia berlari sampai jembatan jika tidak takut dosa rasanya ingin loncat.
Wibi berhasil menyusulnya. "Lidia maafkan aku"
Wibi meraih tangan Lidia namun di tepis.
"Apa lagi kak! puas kakak sekarang! PUAS KAK!" "Kakak sudah membuat aku berharap, tetapi nyatanya kakak tidak menginginkan aku." hiks hiks.
"Yang perlu kakak tahu! sakit hati ini kak, sakiiittt...." hu huuu. Lidia menelungkupkan wajahnya di pagar jembatan menangis tersedu.
"Aku memang bodoh kak! karena aku sudah mengakui bualanmu, kakak ternyata PEMBOHONG!"
"Semua yang kakak bilang! HANYA NOL BESAR!" hu huuu.
"Lidia? bukan begitu maksudku" Wibi kembali mendekat. Hati Wibi pun sedih mendengar tangisan Lidia.
"JANGAN MENDEKAT ATAU AKU AKAN LONCAT!" teriak Lidia.
Wibi mundur dua langkah.
"Kakak mengajak aku terbang tinggi, tetapi kakak berhasil membuat aku jatuh kedasar jurang"
"Aku benci kakak! aku benciiii..." hiks hiks.
"Lid, aku akan jelaskan Lid" Wibi akan mendekat. Tetapi Lidia keburu naik angkot.
Sejak saat itu, Lidia menjadi gadis pendiam, pemurung. Kejadian itu membuatnya trauma. Ia menjauhi setiap pria yang ingin mendekati.
Flasbach off.
Lidia masih memandangi Wibi yang tertidur pulas. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Lalu meninggalkan Wibi kedapur, akan membantu Bi Ipah menyiapkan makan malam.
"Apa yang perlu di bantu Bi?" tanya Lidia mengejutkan Bibi.
"Copot copot copot" Bibi pun latah.
"Kamu ini, Neng bikin kaget saja" ucap Bibik seraya memegangi dadanya.
"Hehehe...maaf Bi, Bibi latahnya lucu" Lidia menjadi terhibur.
"Sini, saya yang kupas kentang Bi" Lidia ambil alih pisau dari tangan Bibi.
"Memang kamu nggak capek Neng, kan baru selelai menyetrika."
"Nggak apa-apa Bi, ngupas kentang kan sambil duduk"
"Neng, kamu kan cantik, seperti anaknya orang kaya, kenapa mau bekerja begini?"
"Kan hanya seperti orang kaya Bi, nyatanya bukan kaya beneran, tinggalnya saja hanya di kontrakan sempit. Lagian kenapa, kalau kerja beginian? yang penting kan halal"
"Betul sekali Neneng."
"Bibi mau masak soto ya?"
__ADS_1
"Iya Neng"
"Kak Wibi, masih suka soto Bi?"
Bibi mengerutkan dahi.
"Tahu darimana kalau Tuan Wibi suka sama soto?"
"Oh, a anu, dari Nyoya" jawab Lidia tergagap karena keceplosan.
Di tempat setrika Bambang membuka mata melirik jam di tangannya. Ternyata sudah sore, ia mengerlingkan mata mencari Lidia sudah tidak ada. Bambang bangun dari tidur kepalanya terasa pusing.
Hiacin...hiacin... Bambang pun bersin-bersin terus. Ia berdiri dan kembali naik tangga rasanya hampir tidak kuat untuk menapaki anak tangga.
Eneng mengamati dari dapur. "Kok seperti sempoyongan ya" gumanya.
Eneng membiarkan saja lanjut membantu bibi.
"Bi, sudah matang semua kan? saya mandi ya..."
"Iya Neng terimakasih sudah membantu Bibi."
"Sama-sama Bi"
Eneng kemudian mandi, mengganti pakaian.
Waktu sudah menjelang Maghrib.
Tin...tin..tin. Mendengar klakson mobil. Eneng berlari kecil keluar membuka pintu gerbang. Topan mengantar Ibu Widi, bersama Dira.
"Assalamualaikum..." Ibu Widi mengucap salam.
"Waalaikumsalam..." sahut Eneng. Salim tangan Ibu.
"Wibi di rumah nggak Neng?" tanya Ibu Widi.
"Tadi ada nyonya, mungkin di kamarnya"
"Itu anak! di telepon dari tadi kok nggak di angkat." gerutu Ibu.
"Mungkin sedang tidur nyonya" sahut Eneng seraya mendorong gerbang.
"Itu siapa Dir?" tanya Topan. Yang di maksud Eneng.
"Itu ART baru, pengantinya Wati."
"Oh."
"Aku langsung pulang ya Dir " pamit Topan. "Iiihh...buru-buru amat sih! makan malam dulu kek" Dira merengut.
"Besok lagi saja ya...daaa..." Topan melambaikan tangan. Dira menatap kepergian Topan, yang sudah tidak terlihat lagi.
"Sini, saya yang bawa tasnya Non" ucap Eneng kepada Dira yang masih berdiri di luar pintu.
"Terimakasih Neng" mereka masuk kedalam.
Jam 7 malam Ibu Widi dan Dira sudah duduk di meja makan menunggu Wibi tidak cepat turun.
"Neng tolong panggil Wibi ya" titah Ibu.
"Baik nyonya"
Eneng kelantai atas keringat dingin mengucur. Ingin menolak tidak sopan. Tetapi di suruh panggil Wibi? Eneng rasanya ingin mati berdiri.
__ADS_1