
Lidia menatap Zainaf tajam. Genderang perang akan segera di tabuh.
Tahu akan hal itu, Bambang siaga satu, khawatir yang di ceritakan Nyak fatimah waktu itu terulang kembali. Ketika Lidia, dan Zainaf bertengkar sampai jambak jambakan.
"Eh... ade tamu... kok kagak di ajak masuk sih Naf?" tanya Pok Sofiah, baru keluar dari kamar. Ia adalah Ibu Zainaf mencairkan ketegangan.
"Iya Bang, ayo... masuk" Zainaf ingin menggandeng tangan Bambang. Tetapi, Bambang menarik tanganya cepat.
Lidia pun maju mendekati Zainaf dan Bambang, kemudian berbisik di telinga Zainaf.
"Loe! kalau mau nyerang gue! gue ladenin! tapi... kalu loe main belakang, seperti kemarin... siap-siap saja loe! bakal bermusuhan dengan keluarga calon laki gue, loe jadi cewek jangan pengecut" "Dan loe harus siap masuk penjara, NGERTI!!" bisik Lidia penuh penekanan. Membuat Zainaf menciut bak lintah terkena garam.
"Ayo masuk. "Eh kamu Lidie... ajak gih, calon laki kamu masuk" kata Pok Sofiah.
"Terimakasih Pok" sahut Lidia.
"Ada siapa Nyak?" tanya Babe ghozali, yang baru saja selesai shalat kemudian keluar menemui tamunya.
Babe ghozali terkesiap, melihat siapa yang datang. Pasalnya, calon suami Lidia sampai datang kemari jika tidak ada apa-apa tidak mungkin.
Babe ghozali menatap Zainaf minta penjelasan. Menurut slentingan warga. Anaknya sedang ada masah dengan Lidia.
Semua masih diam terpaku, larut dalam pikiran masing-masing. "Ya Allah... ajak masuk Be" kata Pok Sofiah, menyuruh masuk sudah yang ketiga kalinya.
Semua masuk kedalam, duduk di bawah membentuk lingakaran beralaskan karpet. Bambang kemudian mengirim pesan kepada Daniel yang masih di samping rumah agar masuk.
"Kalau boleh saya tahu, ada apa ya nak, sampai datang kemari?" tanya Babe ghozali mengawali pembicaraan.
Namun, belum sempat dijawab,
Daniel pun masuk kedalam dengan wajah kaku.
Rani tersenyum ramah, kepada pemilik rumah untuk mencairkan suasana.
"Duduk nak" kata Pok Sofiah kepada Rani. "Terimakasih Bu..." sahut Rani, kemudian duduk di samping Lidia. Sementara Daniel duduk di samping Bambang.
"Begini Pak... Bu... saya datang kemari ingin minta pertanggung jawaban sodari Zainap. Sebab, putri Bapak dan Ibu sudah melanggar hukum." tutur Bambang.
"Maksudnya?" tanya Babe ghozali, yang ditakutkan benar-benar terjadi. Pasti anaknya berbuat yang tidak baik.
"Ini buktinya Pak" Bambang menunjukkan rekaman CCTV.
"Memang apa, isi di dalam karung yang dibawa anak saya?" tanya Babe ghozali bingung.
Zainaf kontan, wajahnya merah padam, pikiranya campur aduk. Bingung, bagaimana caranya menjawab pertanyaan Babenya nanti sudah pasti di cecar pertanyaan. Tenggorokan nya menjadi kering, dan bibirnya menjadi kelu, otaknya tidak lagi mampu berpikir untuk merangkai kata.
__ADS_1
"Tanyakan kepada putri Bapak" sahut Daniel.
Babe menatap Zainaf tajam, sementara Pok Sofiah, hanya diam masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.
"Bu-- bukan aye Be, yang di Vidio itu" kilah Zainaf.
"Babe tanya! apa isi dalam karung itu Naf?! tanya Babe menahan marah. Walaupun, belum tahu isi karung itu tapi melihat wajah Daniel yang tampak marah Babeh pun paham.
Bambang menunjukkan vidio ular yang sempat di rekam oleh Panji.
Babe dan Enyak terperangah.
"Plak" tangan Babe ghozali melayang ke pipi mulus Zainaf.
Ketika ingin menampar sekali lagi. Tangan Babe di cekal Nyak Sofiah.
Zainaf pasrah memejamkan mata mengelus pipinya yang terasa perih. Semua hanya diam tidak ikut campur urusan orang tua dan anak.
"Siapa yang mengajari loe! berbuat jahat Naf? siapa?! bentak Babe, sangat kecewa dengan anak satu-satunya yang selama ini sangat ia sayangi. Babe menyesal, selama ini terlalu memanjakan anaknya.
Zainaf menangis tersedu-sedu sambil merangkul kaki Babe.
"Maafkan aye Be, aye hanya di suruh Be"
"Siapa yang menyuruh kamu? siapa?! sarkas Babe.
Babe pun akhirnya sedikit tenang mendengar ucapan Rani.
"Di-- dia..." Zainaf berbicara patah-patah karena takut. Zainaf mengangkat kepalanya bangkit dari kaki Babe.
"Cepat katakan Naf?" bentak Babe.
"Dia Sherly" ucap Zainaf tidak berani menatap wajah orang-orang yang sedang menginterogasi.
"Sudah gue duga. Batin Daniel mengepalkan tangan.
"Siapa Sherly?" tanya Babe mengangkat dagu anaknya.
"Aye kagak tahu Be, die entu kaya jalangkung, kadang tiba-tiba datang"
"Sudah tiga kali die temui aye secara tibe-tibe"
"Terakhir bertemu, waktu aye pulang dari rumah Pok Lidie, dia bilang, aye suruh temui die di belakang rumah Bang Wibisono"
"Aye di suruh bawa karung entu Be, awalnya aye kagak tahu apa isi dalam karung entu"
__ADS_1
"Aye nurut, karena kate Sherly---" Zainaf terdiam.
"Kata Sherly apa?! potong Daniel.
"Kata Sherly kalau aye membawa karung entu kekamar Lidie, aye bakal dapetin Bang Wibisono"
Semua orang kontan menatap Zainaf apa lagi Lidia tampak kesal. Namun, ia mencoba bersabar.
"Sumpeh Be, awalnya aye kagak tau, ape isi karung entu, kalau aye tahu, isi karung entu Ular, aye kagak bakal mau" tutur Zainaf.
Flashback on.
"Bawa karung ini ke kamar Lidia, pastikan, jangan sampai ada yang melihat" perintah Sherly.
"Tapi, apa isi karung ini?" tanya Zainaf menatap karung bergerak sedikit.
"Bukan apa-apa! lakukan saja apa yang gue suruh, lo mau dapetin Bambang nggak?" Sherly tersenyum licik. Sherly dendam, jika ia tidak bisa mendapatkan Bambang orang lain pun juga tidak boleh memilikinya.
Sherly sengaja meminta Zainaf menemuinya agak jauh dari rumah Bambang, agar tidak terekam SCTV.
Zainaf tampak ragu membawa karung itu. Ia melangkah lambat.
"Cepetan!" tukas Sherly mlotot.
Zainaf akhirnya berjalan cepat, menuju gazebo lalu berhenti sejenak. Setelah memastikan suasana tampak lengang, karena masih menyaksikan acara, Zainaf mengendap-endap masuk ke kamar Lidia.
Sebenarnya setelah membuka karung itu Zainaf sempat panik, ia takut kalau sampai Ular itu mengigit Lidia dan sampai meninggal. Maka, dia akan menjadi pembunuh.
Sejahat jahatnya Zainaf, tentu ia tidak mau menjadi pembunuh, apa lagi Pok Lidie tetangganya sendiri. Namun, Ular terlanjur keluar dari karung. Zainaf ketakukan tidak mungkin juga menangkap Ular itu kembali. Karena nyawa dia sendiri tarohanya.
Zainaf pun keluar dari kamar selama menghadiri acara ia tidak tenang.
Flashback off.
"Astagfirlullah... Zainaf! Babe kagak habis pikir ame kelakuan lo!" beram Babeh.
"Sekarang Babe kagak bisa tolong lo Naf, tanggung sendiri perbuatan lo!" tukas Babe ghozali.
"Pok, maapin aye Pok, bilang ame keluarga calon metua empok, jangan penjarain aye" Zainaf tiba-tiba menghabur ke pangkuan Lidia.
"Loe! kemarin juga bilang begitu Naf, sama gue.
Katanya, kagak mau ngulangin perbuatan lo! tapi apa Naf? lo bohong sama gue kan?! kata Lidia kesal. Sebab, waktu itu Zainaf datang kerumahnya minta maaf, dan Lidia pun memaafkan. Namun, Zainaf mengulangi kesalahannya lagi. Bahkan, lebih parah.
****
__ADS_1
Maaf... budhe telat up, karena otak perlu istirahat sejenak. 🤝🤝🤝