ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 71


__ADS_3

Pagi-pagi sebelum berangkat bekerja keributan pemuda pemudi kakak beradik hampir terjadi setiap hari. Apa lagi hari ini hari senin, dimana kebanyakan orang, malas untuk beraktivitas. Tetapi tidak untuk budhe.💪🤣


"Dir cepet bangun sudah siang nih" Bambang membangunkan Dira lalu Membuka gorden kamar.


"Aahh...kakak...masih ngantuk nih!"


Dira menarik selimut menutup tubuhnya sampai kepala.


Bambang geleng-geleng kepala. Sudah menjadi kebiasaan Dira. Selesai subuh tidur kembali. Berbeda dengan Bambang selepas shalat subuh membaca alquran dan berzikir.


"Yo wes! kalau kerjaan kantor nggak selesai, minggu depan nggak boleh ikut kakak ke Yogyakarta." Tukas Bambang.


Dira membuka selimut yang menutupi wajahnya menatap Bambang lekat.


"Kakak minggu depan mau jalan-jalan keliling Jogja" tutur Bambang lagi.


"Beneran kak?" Dira seketika bangun melempar selimut kemudiam lari kekamar mandi.


Bambang tersenyum memperhatikan adiknya hingga menghilang di balik pintu kamar mandi. Kemudian Bambang keluar dari kamar Dira. Menuju kamarnya membuka baju koko dan menggantinya dengan kemeja.


Di meja makan Ibu Widi sudah menunggu kedua anaknya. Dua gelas susu murni dan Banana pancake sudah tersedia. Ibu Widi sendiri hanya memilih sarapan teh manis hangat dan pisang goreng. Memang sih, kurang sehat. Tetapi lebih cocok di lidah Ibu Widi.


"Pagi Ibuku...muach..." Bambang mencium pipi Ibu. Ia yang sudah rapi dengan kemeja dan dasi menghias lehernya membuat ketampanan nya semakin bertambah.


"Adikmu mana le?" Tanya Ibu Widi seraya menyeruput teh. "Biasa bu, Dira namanya juga, susah di bangunkan." sahut Bambang menggeser kursi dan mendudukkan bokongnya.


"Apa? lagi ngomongin aku ya? gibah itu namanya" protes Dira yang baru menuruni anak tangga. Dira kemudian duduk di samping Bambang.


"Mandi cepet banget, sabunan nggak tuh?" Bambang melirik Dira yang sedang menggigit Banana pancake.


"Cium saja, wangi nggak" jawab Dira enteng. Tetap serius dengan sarapanya.


"Kalian ini kapan...ngobrol serius" keluh Ibu Widi menggeleng kan kepala.


"Oh iya Bu, ada yang ingin Wibi bicarakan" Ucap Bambang serius, kemudian membersihkan mulutnya dengan tissue.


"Ada apa le?" Ibu menatap Bambang seksama. "Hari sabtu, Wibi minta di antar ke Yogyakarta Bu" klonteng...Dira reflek menjatuhkan garpu yang di pegang, sangking senangnya mendengar kata Jogja. Ibu dan Widi, seketika menoleh. Dira memutar kursi menghadap Wibi.


"Kakak beneran ya, mau ke Jogja?" Tanya Dira bersemangat.


"Dira...dengarkan dulu, kakakmu mau bicara" titah Ibu. "Iya Bu" Dira akhirnya diam.


"Hari sabtu Wibi mau melamar Weny Bu" Ucap Bambang. "Kamu serius le..." Tanya Ibu senang. Bambang mengangguk. "Alhamdulilah....Ibu senang le..." Ibu tersenyum rasa senangnya tidak bisa di ucap dengan kata-kata.


"Weny, atau Rani?" Tanya Dira menimpali. "Weny Dira...Rani itu sudah punya suami" terang Ibu. Bambang Diam tidak menimpali.


"Ooo..." Dira menggelembungkan pipinya. "Soalnya, waktu itu kakak ngigau Bu" "Rani....aku cinta sama kamu..." "begitu Bu" Dira menirukan Bambang ketika memimpikan Rani.


"Dira! bisa diam nggak!" Bambang melototi adiknya. Bambang kesal dengan susah payah ingin melupakan Rani malah di ingatkan. "Iya! iya...Dira diam" sahut Dira mrengut.

__ADS_1


"Lanjutkan le..." Sahut Ibu, sudah tidak sabar ingin segera melamar wanita pilihannya.


"Nanti Ibu melamar Weny, sekalian silaturahmi"


"Tidak usah mengajak Weny dulu Bu...jika Ayah Weny sudah menerima Wibi, baru kita ajak Weny minggu berikutnya"


"Oh, iya le, Ibu setuju."


"Dira boleh usul tidak?" Tanya Dira serius. "Usul apa?" Tanya Ibu dan Bambang bersamaan.


"Sebaiknya, kakak bicara terus terang sama.... siap tadi?" Dira mengingat ingat nama Weny. "Weny" Jawab Ibu.


"Ya, sebaiknya kakak jujur, sebelum semua terlambat, Weny akan merasa di bohongi, jika kakak terus menyembunyikan identitas kakak" terang Dira.


Iya, kakak akan menjelaskan pelan-pelan, jangan sampai Weny tahu dari orang lain" sahut Bambang.


"Terus kita di Jogja jalan-jalan nggak kak?"


"Ya lihat situasi dan kondisi" jawab Bambang.


"Sebaiknya jangan jalan-jalan lah, fokus dulu sama tujuan" nasehat Ibu.


"Yaah...ya sudah dech! Dira nggak mau ikut" Dira cemberut. "Sebaiknya kamu bantu Om Wisnu sama Topan Dir, kakak kamu sudah pergi masa kamu ikut pergi juga" Terang Ibu. "Nanti dech, kalau ada waktu luang baru kita jalan-jalan okay..." Sambung Ibu Widi mengelus kepala anaknya. Dira mengangguk.


"Sudah jam 7 Dir, ayo berangkat" Bambang pun berangkat. 15 menit kemudian sampai di Showroom. Bambang dan Dira bergegas masuk keruangan masing-masing.


Tok tok tok..." masuk" Sampai di ruangan, Bambang duduk di kursi Derektor belum mulai bekerja. Menggoyang kan kursi menunggu Topan.


"Pagi boss" Topan masuk keruangan boss.


"Pagi, duduk" Bambang memutar kursi menghadap Topan. "Minggu depan saya akan pergi ke kampung kamu"


"Oh ya? ada apa boss, tujuan boss datang ke kampung saya?" Tanya Topan penasaran. "Saya akan melamar Weny." sahut Bambang yakin.


"Alhamdulilah...baik boss semoga lancar"


"Saya mohon boss, bahagia kan sahabat saya" Ucap Topan.


"Tidak perlu kamu ajari!" Tukas Bambang.


"Iya boss, tetapi apa boss sudah jujur siapa boss sebenarnya?"


Bambang menggeleng. "Saya akan jelaskan perlahan"


"Baik boss, semoga Ayah Weny akan menerima boss" Topan dan Weny yang tinggal nya hanya 10 langkah dari rumah Topan. Topan tahu segalanya tentang sifat keluargannya Weny. Selesai bercakap-kakap mereka kembali bekerja.


*******


Pagi berganti siang, pulang dari kampus Rani menuju restoran. Mengecek pengeluaran dan pemasukan dari hari jumat sampai hari minggu yang sempat tertunda. Benar-benar super women, tidak pernah mengeluh, segalanya harus tetap ia syukuri.

__ADS_1


Waktu berjalan hingga sore Rani bergegas menuju bandara. Ingin memberikan surprise untuk suaminya.


Sampai Bandara Rani menunggu 10 menit lagi pesawat yang terbang membawa Daniel akan mendarat.


Rani melihat suaminya dari kejauhan tersenyum. Rani bersembunyi di balik tumpukan troli.


"Hallo...Om ganteng..." Rani menutup mulutnya agar Daniel tidak mengenali suaranya. Daniel menoleh ke sumber suara tetapi tidak ada orang. Daniel kembali menarik koper.


"Om ganteng...sombongnya..." Ucap Rani menahan tawa. Daniel berbalik arah menuju suara. Sebenarnya ingin di abaikan, tetapi penasaran. Daniel mendekati tumpukan troli di samping tembok dan akan melihat siapa perempuan yang berani memanggilnya.


Rani menutup mata suaminya dari belakang. Daniel tersenyum dari aroma tubuhnya sudah tahu siapa pelakunya. Secepat kilat Daniel berputar. "Buaaa....hahaha... mereka berpelukan, baru tiga hari tidak bertemu rasa setahun. Daniel memutar tubuh Rani dalam pelukan seperti di felm-felm. Daniel melepas pelukan memegang kedua sisi punda Rani.


"Kamu cantik" Danel menoleh hidung Rani. "Iihh..malu...lihat tuh orang pada lihatin kita."


Daniel menoleh memang banyak orang yang sedang berbisik menatapnya.


"Eh itukan pengusaha yang terkenal itu" Bisik-bisik seorang gadis.


"Ho oh, terus wanita cantik itu kan pemilik restoran DUKRENGTENG" sahut wanita yang satu lagi.


"Iya, yang waktu itu sempat viral" "Waah....sos seeettt..."


Begitulah bisik orang-orang yang sedang berada di bandara. Sadar menjadi perhatian Rani menarik suaminya berjalan menuju parkiran.


Rani membuka pintu mobil seraya ngos ngosan, sebab ia berjalan setengah berlari.


"Mana kuncinya aku yang bawa?" Tanya Daniel kasihan melihat istrinya kelelahan.


"Mas nggak capek?" Tanya Rani seraya masuk kedalam mobil. Disusul suaminya setelah menyimpan koper di bagasi.


"Capek sih, tapi masih capek kamu lah, pasti kamu tadi dari restoran langsung jemput aku kan?"


"Kok Mas tahu"


"Tahulah, aku tuh punya agenda kamu" sahut Daniel. Walaupun sibuk selalu memperhatikan istrinya.


"Mendingan restoran kamu suruh orang saja yang kelola yank, aku nggak tega melihat kamu kecapekan" Titah Daniel.


"Untuk saat ini, biar dulu Mas, toh aku masih bisa kan bagi waktu untuk MAS" Rani menoleh suaminya yang sedang fokus nyetir.


"Bukan begitu yank, aku hanya kasihan lihat kamu pontang panting, jangan khawatir, aku bisa kok menghidupi keluarga aku."


"Nanti kalau aku sudah hamil baru akan istirahat Mas." Daniel menoleh. "Kapan hamilnya kalau kamu selalu kelelahan?"


Rani menghela nafas panjang tidak menjawab pertanyaan Daniel. Ia menatap jalananan. Kejadian kehilangan anaknya beberapa bulan yang lalu. Masih menyisakan trauma


untuk kembali mengandung. Rani menahan cairan yang akan jatuh dari kelopak mata. Mungkin saat ini biar begini dulu, paling tidak ia bisa menyelesaikan pendidikan S2. Yang penting tidak menunda kehamilan. Tetapi juga tidak ingin ngotot seperti dulu sampai bolak balik konsultasi ke dokter. Rani akan serahkan segalanya kepada allah swt.


Daniel yang melihat Rani murung merasa bersalah. Karena sudah egois menanyakan tentang anak setelah apa yang ia perbuat kepada istrinya. Di dalam mobil mereka saling diam tenggelam dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2