
Sebulan kemudian, Eneng menerima pinangan Wibi. Walaupun hatinya belum bisa luluh, masih saja bersikap dingin terhadap Wibi. Demi kebahagiaan Enyak. Eneng akan melakukan apapun.
Pinangan ini akan di laksanakan di rumah Ibu Widi, atas permintaan keluarga Eneng. Tidak mungkin pinangan di lakukan di kontrakan Eneng yang sempit. Ibu Widi dengan senang hati menyetujuinya setelah menemui keluarga Eneng.
Ibu Widi berniat mengundang sahabat-sahabatnya. Kemudian ia mengajak Eneng ke butik miliknya memilih gaun. Sebab, acara pinangan tinggal kurang seminggu lagi.
"Kamu pilih yang mana Neng?" tanya Ibu Widi memilih-milih koleksi butiknya.
"Yang mana ya Bu? bingung" sahut Eneng tersenyum. Sebab, koleksi gaunnya bagus semua.
"Kamu cocok yang ini Neng, sebenarnya pakai apa saja kamu cocok. Tetapi ini lebih anggun" tutur Ibu Widi menunjukkan baju muslim lengkap dengan jilbab brokat harganya fantastis.
"Menurut kamu yang mana Bi?" tanya Ibu kepada Bambang yang dari tadi hanya diam.
"Yang mana saja Bu, yang penting tertutup. Kalau sudah dasarnya cantik, pakai baju apa saja juga cantik" Bambang melirik Eneng yang sedang merentangkan baju muslim dan menempelkan ke badannya."
"Gombal" ucap Eneng dengan suara di tahan, hanya mulutnya saja yang bergerak.
"Yang itu bagus Lid, supaya serasi sama kemeja aku" ucap Wibi sambil memegangi kemeja warna biru telur asin.
"Iya nggak Bu" Wibi minta pendapat Ibu.
"Betul Neng, apa yang di katakan Wibi" ujar Ibu seraya memilah-milah baju muslim dan jilbab.
"Tetapi mahal Bu" sahut Eneng malu-malu.
"Hehehe..." Ibu terkekeh. "Kamu ini lucu Neng, tenang saja. Ini butik Ibu sendiri kok."
"Iya Bu tapi..."
"Sudah...nggak usah tapi-tapian" Ibu melipat dress biru telur asin. Di tambah baju muslim, dan jilbab hingga beberapa pasang. Kemudian memasukkan kedalam kantong.
"Ya Allah...Bu...banyak sekali..." ujar Eneng keheranan. Padahal satu potong dress jika ia belikan di pasar bisa dapat sepuluh.
Eneng hanya bisa melongok memperhatikan tangan Ibu Widi yang sibuk memasukkan baju-baju ke dalam plastik.
"Sudah ayo" Ibu Widi mengajak Eneng kembali ke mobil. Setelah pamit kepada karyawannya yang bernama Fera.
"Kamu duduk di depan Neng" titah Ibu. Maksud Ibu Widi agar Eneng duduk di sebelah Bambang.
"Tapi Ibu sendirian" sahut Eneng.
"Sudah...sana, duduk di depan" Ibu Widi mengulangi perintahnya.
"Baik Bu..." Eneng kemudian duduk di depan.
"Sudah siang Bu, kita cari makan sekalian ya" ucap Bambang.
"Oh iya Bi, kita makan di restoran DUKRENGTENG saja, sekalian pesan catering untuk acara minggu depan" titah Ibu Widi.
"Baik Bu" sahut Bambang. Kemudian melajukan mobilnya menuju restoran Rani. Karena tengah hari, jalanan pun lancar tidak lama mereka sampai tujuan.
__ADS_1
Ibu Widi bersama anak dan calon menantunya masuk kedalam restoran mencari tempat duduk.
Nena yang sedang mengawasi karyawan keliling dan melihat orang yang di kenal kemudian mendekati.
"Selamat siang Ibu. Mas Bambang" sapa Nena.
"Selamat siang" sahutnya bersamaan.
"Bagaimana kabarnya Bu?" tanya Nena lagi.
"Alhamdulillah...baik" sahut Ibu dan Bambang.
Nena pun langsung menyalami tamunya. Menatap Eneng dan mengangguk tersenyum.
Nena melambaikan tangan kepada Wetress. Agar melayani tamunya.
"Ibu, saya tinggal dulu ya" ucap Nena.
"Oh bentar nak, bisa bertemu Rani?" tanya Ibu Widi kepada Nena. Sedangkan Bambang, memesan makanan karena Wetress sudah mendekat.
"Oh ada Bu. Sebentar, saya pinggilkan." pungkas Nena. Kemudian Nena berjalan ke lantai dua memanggil Rani.
Tidak lama kemudian Rani menemui Ibu Widi.
"Ibu..apa kabar?" tanya Rani berbinar menatap Ibu Widi.
"Alhamdulillah...sehat nak, Kamu sendiri bagaimana?"
"Mbak Neng, sekarang berhijab? Semakin cantik" puji Rani.
"Alhamdulillah Mbak, baru kepala yang berhijab. Tetapi, hati saya belum" sahut Eneng.
"Hehehe...Mbak Neng bisa saja. Masalah itu, biar Allah yang menilai" Rani berpendapat.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Ibu Widi. Melihat Rani dan Eneng berbincang akrab.
"Sudah Bu, waktu itu bertemu di rumah sakit" sahut Rani.
"Oh gitu" "Sepertinya kamu gemukan nduk?" tanya Ibu. Memang benar saat ini Rani terlihat lebih berisi.
"Iya Bu, sekarang di perut ada si dedek" sahut Rani tangannya mengelus perutnya sendiri.
"Jadi...kamu hamil Ran?" tanya Bambang yang dari tadi hanya diam.
"Betul" sahutnya senang.
"Alhamdulillah..." ucap mereka bersamaan.
Obrolan basa basi semakin hangat. Kemudian Ibu Widi memesan catering untuk acara pinangan.
"Oh, jadi Abang sama Eneng ingin segera menikah?" tanya Rani.
__ADS_1
"Iya Ran, doakan lancar ya, semoga calon pengantin wanitanya nggak ngambek lagi" sindir Bambang.
"Maksudnya?" tanya Rani mengerutkan dahi.
Eneng menatap Bambang tajam. Yang di tatap hanya nyengir.
"Jangan dengarkan dia Mbak" ucap Eneng.
Ibu Widi dan Bambang sepakat memesan makanan khas betawi dan khas Jawa. Ia mengundang kira-kira 500 orang.
Rani pun menyanggupi. Derr deerr. Handphone Ibu Widi bergetar. "Sebentar ya, saya angkat telepon dulu" ucapnya. Kemudian jalan keluar.
"Ran aku numpang toilet ya" ucap Bambang.
"Silahkan Bang" sahut Rani.
Bambang pun beranjak dan menuju toilet.
"Mbak Neng, sudah lama ya? kenal dengan Bambang?" tanya Rani sambil menyedot air jeruk hangat.
"Belum Mbak Rani, baru dua bulan?" sahut Eneng tersenyum senang bisa ngobrol akrab dengan Rani.
"Oh, aku kira sudah lama? teman kuliahnya Bambang ya?" cecar Rani. Bukan maksud Rani keppo. Tetapi ingin lebih dekat dengan Eneng.
"Bukan Mbak, sebenarnya saya ART nya, Ibu Widi. Tetapi, saya di jodohin" sahut Eneng jujur.
"Hehehe..." Rani terkekeh. Eneng menciut, ia pikir Rani mentertawakan dirinya karena ART menikah dengan majikanya.
"Berarti kita sama Mbak Neng"
"Maksudnya?" tanya Eneng.
"Aku dulu juga sama, seperti kamu, bekerja di rumah majikan aku" "Terus... di jodohkan sama mertuaku sama Mas Daniel yang sekarang ini menjadi suamiku" tutur Rani ingat ketika di jodohkan dulu.
"Oh. Ya Allah...jadi begitu, ceritanya Mbak? Tetapi... Mbak Rani bisa menjadi sukses seperti sekarang ini" Eneng menelisik seluruh restoran yang banyak sekali pengunjung. Terkagum-kagum.
"Yah...intinya harus sabar, karena aku sabar. Aku temukan kebahagiaan yang hakiki." ucap Rani antusias, menatap wajah Eneng mengulas senyum.
"Ayo pulang, ibu mana?" tanya Bambang yang baru dari toilet.
"Masih diluar" sahut Eneng tanpa mengangkat kepalanya.
"Sudah puas belum ngorolnya?" tanya Ibu Widi yang baru selesai telepon.
"Sudah Bu" sahut Eneng.
"Nduk, minggu depan datang ya, suami kamu di ajak" titah Ibu Widi.
"Insyaallah...Bu, saya usahakan" jawab Rani.
"Ya sudah nduk, kami pulang dulu ya" pamit Ibu Widi. Rani menyalami Ibu. Kemudian cipika cipiki dengan Eneng. Lalu mereka pun keluar meninggalkan restoran.
__ADS_1
Rani mengantar sampai parkiran memperhatikan langkah Eneng seperti gambaran dirinya dulu.