
"Bang... kok Abang, ada di sini?" pekik seorang gadis berjalan mendekati Bambang.
Bambang seketika menoleh ke arah suara. Bambang sedang menunggu Eneng dan bersandar di mobil sambil memainkan handphone.
"Bang, kok surat saya nggak di balas?" ucapnya dengan tidak tahu malunya.
"Maaf, Mbak salah alamat" jawab Bambang dingin tanpa menatap obyek, malah sibuk dengan handphone.
"Yah... suratnya kemarin kan aku titipkan Lidie, pasti nggak di sampaikan ke Abang, kan?!
"Dasar tuh anak!" Zainaf terlihat kesal.
Bambang tetap tidak terpengaruh dengan omelan Zainaf.
"Abang sekarang mau kemana?" tanyanya kemudian. Ya, gadis itu adalah Zainaf.
"Mau kerumah Lidia, ada apa memang?" sahut Bambang cuek.
"Aku ikut ya Bang, kan rumah aku deketan sama Pok Lidie" "Ya, boleh ya, Bang" Desak Zainaf.
Bambang berdecak kesal mendengar suara cempreng di sampingnya.
"Nanti bilang saja! sama Lidia!" pungkas Bambang. Sesekali melongok ke arah pasar dengan harapan Eneng cepat kembali. Ia malas meladeni perempuan agresif seperti Zainaf.
Selama ini, Bambang pria yang hangat kepada siapapun. Namun, merasa jengah, jika ada perempuan yang tidak menjaga kehormatannya. Biar bagaimana wanita yang sulit di taklukan akan lebih menantang baginya.
"Memang kenapa Bang? musti bilang Pok Lidie" protes Zainaf mrengut.
"Karena dia calon istri saya!" ketus Bambang.
Zainaf melebarkan netranya. Pupus sudah harapannya, cintanya layu sebelum berkembang. Giginya gemerutuk dan tanganya mencengkeram celana jins yang di pakainya.
******
Di dalam pasar, Eneng berputar membeli sayuran pesanan Wibi. Setelah mendapatkan semuanya dia hendak membayar. Membuka uang pemberian Bambang tadi yang masih di genggam penuh di tangan.
"Satu juta? mata Eneng membulat setelah menghitung uang ambil seperlunya kemudian memasukkan kedalam tas slempang. "Oh ternyata orang kaya begini ya, suruh beli jengkol saja sampai kasih uang satu juta" monolognya.
"Oh iya... jangankan satu juta, 50 juta saja gampang" Eneng terus bergumam sambil beranjak ingin keluar meninggalkan pasar.
"Eh, bumbunya kan belum beli, kenapa sih ini? beli bumbu saja sampai lupa, cek" ia tepuk jidat.
"Bang, cabe merah 1/4, tomat 1/4" ucap Eneng kepada tukang sayur sambil memilih tomat yang masih keras.
__ADS_1
"Iya" jawab tukang sayur. "Ini Mbak, jadi 20 ribu" tukang sayur menyerahkan pesanan Eneng. Tidak banyak bicara, Eneng langsung membayar kemudian keluar.
"Tumben! nggak nawar, biasanya perhitungan banget" ucap pedagang kepada temanya sambil menatap kepergian Eneng.
"Sampean kui loh...nawar salah, ora nawar yo, salah!" omel tukang sayur sambil menoyor jidat temanya.
********
"Bang... aku duduk di depan ya... boleh ya Bang, please..." rengek Zainaf sambil menarik-narik tangan Bambang.
"Eheemmm... "Eneng berdehem melihat tingkah Zainaf. Zainaf dan Bambang menoleh tanpa melepas tangan Bambang. Justru mengeratkan peganganya.
"Naf, ngapain lo disini?" tanya Eneng pandangannya tidak lepas dari tangan Zainaf. Bambang kemudian menarik tanganya kasar.
"Lagi nungguin Pok Lidie" sahutnya langsung berjalan beberapa langkah dan masuk kedalam mobil.
"Kok lama banget?" tanya Bambang sambil membantu Eneng memasukkan sayuran kedalam mobil.
"Malah kebetulan kan? lama! jadi bisa pegang-pegangan tangan!" ucap Eneng ketus.
Bambang tersenyum senang, melihat Lidia cemburu.
"Kamu yang membawa mobilnya ya, aku duduk dibelakang" ucap Bambang. Mengalihkan.
Zainaf melihat Eneng yang menyetir menatapnya sinis. Ia pikir Bambang yang akan membawa mobilnya. Zainaf menoleh kebelakang Bambang masih asyik dengan handphone membuat hatinya semakin kesal.
Di dalam mobil ketiganya saling diam. Tidak lama kemudian sampai kontrakan Eneng. Eneng menghentikan mobil di depan bebek bakar. Jika ingin masuk kekontrakkan harus berjalan kaki dulu, karena gang nya hanya muat motor. Walaupun kontrakannya tepat di belakang pecel Bebek. Namun, jika hendak masuk, harus berjalan memutar.
"Aku nggak mampir ya Lid" ucap Bambang sambil melirik jam tangannya.
"Ngga apa-apa" sahut Eneng sambil mengangkat belanjaan.
"Tapi kamu keberatan Lid" Bambang memperhatikan belanjaan Eneng tampak tidak tega.
"Sudah... jangan pikirkan saya, lebih baik Tuan berangkat. Nanti kesiangan" ucap Eneng sambil mengibas kibas jok mobil, karena ada kotoran yang jatuh dari plastik.
"Aku berangkat" ucap Bambang.
"Ya, hati-hati" Eneng salim tangan Bambang. Zainaf pun ingin melakukan hal yang sama. Namun, Bambang cepat masuk kedalam mobil.
Zainaf semakin kesal.
Bambang melambaikan tangan kepada Eneng. Lalu menutup kaca mobil melesat pergi.
__ADS_1
"Lo ya Pok. Keterlaluan ame gue! gue kasih amanat, kasih surat untuk Abang. Tapi lo umpetin kan?! tuduh Zainaf sinis.
"Enak aje, main duduh lo! orang suratnye gue sampein kok!" sahut Eneng terbawa emosi. "Udeh! gue mau balik"
"Mau masak buat calon lakik gue" Eneng menekan kata "lakik" hingga membuat Zainaf marahnya sampai ubun-ubun.
"Memang dasar songong, lo Pok! kagak punye perasaan! Empok demen ame Abang kan? jadi, surat gue kagak lo sampein?!
"Kalau gue demen, ngape emang? orang Abangnye juga demen ame gue!" sahut Eneng memanas manasi. "Lagian lo! jadi cewek, kagak punye urat malu! segale kirim surat ame cowok yang baru lo lihat!" sambung Eneng sewot.
"Heh! diem lo! jage congor lo, jangan asal ngejeplak!" sarkas Zainaf menunjuk-nunjuk wajah Eneng. Eneng menepis tangan Zainaf karena hampir menyolok matanya.
Pertengkaran terus terjadi mereka masih berada di samping lesehan pecel Bebek. Pemilik lesehan pun keluar melerai.
"Astagfirlullah..ada apa ini? berhenti!" sentak tukang pecel Bebek. Namun, kata-katanya tidak bisa menghentikan. Malah saling jambak jambakan. Kerudung Eneng pun di tarik oleh Zainaf.
"Ada apa ini Pak?" tanya pemilik kontrakan kebetulan sedang melintas entah dari mana.
"Ini Bu, gadis pada bertengkar susah di pisah" jawab tukang pecel Bebek.
"Ya Allah... saya panggil Enyak nya saja Pak" ucap pemilik kontrakan kemudian berlari menuju rumah Eneng.
"Pok Imeh... " panggilnya kencang.
"Ada ape Munah? teriak-teriak" ucap Ibu Fatimeh. Sambil melayani lontong sayur.
"Lidie berantem Pok, suseh di pisahin" kata Pok Maimunah.
"Berantem? ame siape?" tanya Ibu Fatimah mendekati Pok Munah.
"Ame Zainaf Pok, ayo cepat" pungkas Maimunah menarik tangan Ibu Fatimah.
Mereka berlari menuju di mana Eneng berada. Ibu Fatimah terkejut melihat anaknya sudah acak-acakan. Bahkan baju baru yang Lidia pakai baru sekali pun robek.
Ibu Fatimah heran selama ini, Lidia tidak pernah bertengkar.
"Eneeeeng... berhenti!" teriak Ibu Fatimah. Kedua gadis yang sedang bergulat itupun berhenti.
"Lo lo pade! macam anak yang kagak pernah sekolah lo ye?" bentak Bu Fatimah.
Eneng menunduk tidak menjawab. Mengatur nafasnya yang masih ngos ngosan.
"Zainaf! pulang!" Ibu melotot melihat Zainaf. Zainaf pun ngeloyor pergi kaosnya sudah tidak berbentuk.
__ADS_1
"Eneng! kite pulang!" sarkas Enyak Fatimah. Menengteng belanjaan berjalan cepat menahan amarah.