
Kedua keluarga antara Jakarta dan Yogyakarta ngobrol dengan santai.
Sambil minum teh hangat dan cemilan.
Sementara Rani memasak di dapur. Kali ini, Rani memasak ikan Mas pesmol kesukaan Mama Nadyn dan Papa Nano. Dibantu Syntia, Rani mengulek bumbu banyak rempah-rempah hingga berwarna merah dan kekuningan. Syntia bagian menggoreng ikan.
"Sudah ikannya Ran, katanya setengah matang saja"
Rani ambil presto. "Susun di presto Syn, aku mau tumis bumbu"
Setelah bumbu wangi Rani menuangkan bumbu kedalam presto di masak dengan api kecil hingga durinya empuk.
Ikan pesmol, sayur asem, goreng tempe tahu, masakan rumahan kini telah matang. Mereka makan dengan lahap. Semua berkumpul termasuk karyawan Rani ruang makan Rani hampir penuh.
"Enak ya Ran, kalau rame begini, sedangkan Mama kalau di rumah hanya sendirian, apa lagi kalau nggak ada Icha"
"Paling bertiga sama Bi Inah dan Bi Sari" Tutur Mama.
"Mama menginap di sini saja"
"Lain kali saja Ran" Sahut Mama. Mama sebenarnya ingin menginap. Tetapi, Mama pikir tidak mungkin karena rumah Rani sudah penuh.
"Icha bobok di sini saja ya, nanti bobok sama Tante Nena" Kata Nena.
"Bobok sama Umi saja, besok kan minggu, malam senin Umi anterin" sambung Rani.
"Yah sebenarnya Icha mau, tapikan Icha belum ngerjain PR" Icha cemberut.
"Sudah, tidak usah cemberut, sekarang sama Uti dulu, malam jumat, Papa jemput Icha menginap di sini dua malam" Daniel memberi Usul.
"Atau, Umi sama Papa yang menginap disana" Sambung Rani.
"Yes! Ica setuju" Icha mengepalkan tangan ke atas dan menariknya kebelakang.
Malam telah Larut Papa Nano akhirnya pulang. "San, saya pamit, sayang sekali, besan belum bisa menginap di rumah saya" Ucap Papa.
"Insyaallah lain kali Pak Nano, mudah-mudahan kita di beri umur panjang."
Setelah kepergian Mama Nadyn masing-masing masuk ke dalam kamar. Daniel kekamar mandi, lalu Rani ambil minyak gosok badanya terasa sakit semua.
"Kenapa yank?" Tanya Daniel setelah keluar dari kamar mandi.
"Duh, badanku rasanya remuk Mas" keluh Rani seraya menguruti betisnya sendiri dengan minyak.
"Capek kamu yank, tiga hari loh kamu nggak istirahat"
"Iya, masuk angin juga nih kayaknya, mau minta tolong di kerok sama temen-temen, capek juga mereka, kasihan"
"Sini aku yang urutin, kamu tiduran aja" Daniel mengurut betis istrinya.
"Jangan kebiasaan di kerok yank, sebenarnya malah membuka pori-pori kulit, jadi gampang masuk angin."
"Tapi kalau nggak di kerok, rasanya nggak sembuh Mas, walau minum obat juga"
"Itu karena sugesti kamu saja yank"
Daniel mengurut betis, dan tangan.
Giliran bagian paha, Daniel menelan saliva, membangkitkan yuniornya. Tetapi Daniel kasihan melihat istrinya kelelahan. Tidak ada suara lagi dari bibir Rani, Daniel melongok wajah istrinya ternyata sudah tidur.
Daniel tersenyum menyelimuti Rani seraya memandang wajah Rani tidak berkedip.
"Kasihan sekali kamu yank, sampai susah payah mencari uang, padahal aku bisa mencukupi kebutuhan kamu. Tetapi kalau ini membuat kamu bahagia, aku bisa apa? gumam Daniel. Daniel mecium kening istrinya kemudian mendekap. Membawanya ke alam mimpi.
Keesokan harinya semua penghuni rumah Rani sudah sibuk dengan kegiatan di pagi hari.
Syintia menimang Wahyu, duduk di sofa, Wahyu berceloteh dengan bahasanya sendiri membuat gemas.
Syintia kemudian menyalakan televisi. Berita tentang Rani merayakan ulang tahun restoran menjadi Trending. Tidak hanya itu, Daniel yang tertangkap kamera kemarin saat menggendong Rani menjadi viral.
__ADS_1
"Mas Dino, lihat tuh Rani sama Bang Daniel menjadi berita hit" kata Syintia.
"Oh iya, kok Rani mau di liput pas lagi begitu" Sahut Dino.
"Nggak tahu juga, tapi kok aku nggak lihat, kalau ada adegan itu" sahut Syntia sambil menyusui Wahyu, karena Wahyu menyusup ke dada Syntia minta minum.
Sementara di dapur. "Nen lihat ini, Rani menjadi viral di mana-mana" Weny berlari kecil menuju dapur menunjukkan handphone.
"Iya Mbak, di Instagram juga lagi rame" Rini menimpali.
"Oh iya, aku malah belum sempat pegang hp" sahut Nena seraya melihat handphone Weny.
"Ada apa nduk, rame banget?" Tanya Pak Siswo yang sedang menikmati teh.
"Bu Rani masuk televisi Pak" sahut Mira. Semua berkumpul di meja makan hendak sarapan sambil menonton televisi. Bapak yang tidak biasa menonton televisi akhirnya menoleh.
Rani memang lagi viral di media massa , media elektronik, media sosial.
Sementara di kamar. Yang bersangkutan baru selesai mandi. Rani mematut dirinya di depan kaca. Menyemprot badanya sedikit parvum, mengoles tipis wajahnya dengan make up natural. Pagi ini tidak mau kemana mana, ingin memanjakan dirinya. Nanti sore baru akan mengantar Bapak ke bandara.
"Yank" Daniel memeluk dari belakang. "Apa? please...jangan hari ini ya aku capek" sahut Rani.
"Memang apa? kamu pikiranya yang nggak-nggak, berarti kepingin dong" Goda Daniel. Daniel menatap wajah Rani di pantulan kaca, wajahnya memerah.
Ting ting ting, Rani ambil handphone dari samping, lalu membukanya. Ramai notifikasi dari WAG Teman sekelasnya waktu SMK.
"Chat dari siapa? serius banget bacanya" Tanya Daniel merasa di abaikan, melepas pelukanya dan merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang.
"Mas baca nih, kok teman-teman SMK pada ramai ada apa ya?" Tanya Rani.
Novita : Waah sahabat kita yang satu ini, suami kaya, perhatian, romantis, terkenal pula, masih cari duet juga, buat apa coba? memang ya, kalau punya wajah cantik, semua mudah di capai, cek cek cek"💕
Andri: Iya, kita susul aja, kejakarta, siapa tahu kecipratan"
Nanda: Kecipratan minyak apa Air" 🤣
Andri: Palamu peyang!" 😐
"Joko: Tanya saja Weny sama Nena, dia kan satu rumah"
Weny: "Apa sebut-sebut nama aku?"
Nena: Nih aku punya kejutan" Nena mengirimkan foto yang sedang berkumpul di depan televisi.
Syntya: Jangan bawa-bawa aku" "Aku nggak ikutan"
Joko: Syn, bilang sama adik iparmu, masih ada lowongan pekerjaan nggak, aku pengen kerja nih"
Topan: Badanmu gendut gitu, kerja di restoran menghabis-habiskan makanan" 🤣🤣🤣
Joko: 👊👊👊
Rani menutup WAG. Kemudian membuka IG.
Fotonya bersama Daniel yang sedang di gendong, mendapatkan 20 ribu Like. Comment positif bertebaran ada juga yang iri.
"Mas... tuh kan! malu aku! ternyata ada wartawan yang njepret" kata Rani manyun.
"Hehehe...biar mereka iri" sahut Daniel enteng.
****
Di tempat yang berbeda, seorang gadis berambut pirang menatap wajah Rani dalam foto dengan wajah devil. "Sekarang loe boleh tertawa! tunggu sebentar lagi! loe akan menangis darah!" Gumam wanita tersebut mengepalkan tangan.
*****
Sore harinya Bapak pamit pulang. Rani bersama Daniel mengantar Bapak ke bandara.
"Hati-hati ya Pak" hiks hiks Rani memeluk Bapak sambil menangis.
__ADS_1
"Sudah...jangan nangis, sudah besar kok manjanya nggak ilang-bilang" Bapak menepuk pundak anaknya.
"Mas Dino, Syntya, nitip bapak ya" hiks hiks.
"Okay...adikku...cepat bikin adik Icha ya...biar Wahyu ada teman" Bisik Dino. Rani tidak menimpali.
"Rani...aku pamit ya..." Syntia memeluk Rani.
Bapak masuk kedalam Bandara di ikuti Dino dan Syintia. Bapak melambaikan tangan. Begitu juga dengan Rani.
"Sudah jangan nangis, kan ada aku" Daniel menggandeng Rani. Membukakan pintu dan masuk kedalam mobil. "Mau kemana dulu?" Tanya Daniel menghibur Istrinya.
"Pulang saja Mas aku mau tidur, capek soalnya"
"No problem"
Mobil berjalan satu jam kemudian sampai di rumah.
**********
3 bulan berlalu keadaan rumah tangga Daniel dan Rani sangat bahagia.
Bambang dengan Rani juga tidak pernah bertemu lagi. Mereka saling menjauh. Sebaliknya, Bambang mulai mendekati Weny. Walupun jarang bertemu karena kesibukan masing- masing. Tetapi Bambang selalu kirim pesan hanya sekedar menanyakan kabar.
Seperti malam minggu ini Bambang mengajak Weny berkencan. Bambang hanya menunggu di perbatasan komplek. Karena tidak ingin bertemu lagi dengan Rani. Bukan bermaksud memutuskan silaturahmi. Tetapi inilah jalan yang terbaik untuk melupakan Rani. Pikir Bambang.
"Maaf ya Mas, lama menunggu" Ucap Weny melihat Bambang bersandar di belakang mobil seraya memainkan handphone.
"Nggak masalah, jangankan menunggu satu jam, setahun juga aku siap" Sahut Bambang tersenyum.
Seketika Wajah Weny memerah. "Ayo masuk" Bambang membukakan pintu mobil lalu mengajak Weny ke salah satu mall. Sampai di dalam, mereka berjalan bersebelahan keduanya sama-sama canggung dan kaku.
"Kamu pernah menonton film nggak?" Tanya Bambang menoleh kesamping.
"Pernah juga sih Mas, waktu di kampung"
"Sama pacar?" Tanya Bambang pura-pura tidak tahu. Padahal kartu Weny sudah di pegang oleh Bambang, mengorek informasi dari Topan.
"Ya, nggak lah, aku kan belum pernah pacaran"
"Ah masa..."
"Ya sudah kalau nggak percaya"
Sahut Weny tidak berani menatap Bambang.
"Kita nonton ya, sebelum nonton kita makan dulu."
"Terserah Mas saja" sahut Weny. Bambang mengajak Weny makan di restoran Mall.
Mereka pesan makanan sesuai selera masing-masing.
Selesai makan, wattress menyerahkan nota. Weny terbelalak, melihat harga makanan. Jika di restoran Rani mendapat 6 porsi sementara di restoran ini hanya mendapat dua porsi. Padahal rasa makanannya jauh memanjakan lidah di restoran sahabatnya.
"Mas aku ke kasir ya" Weny beranjak. Tetapi sebelum melangkah lengan Weny di tahan.
"Mau ngapain?"
"Ya mau bayar lah" Sahut Weny. Weny menatap tangan Bambang, masih memegangi lenganya.
"Eh sorry" Bambang melepas pegangan nya.
"Sudah, duduk dulu, nanti saya yang bayar" Titah Bambang.
"Tapi mahal Mas, kita parohan ya"
"Hehehe...kamu ini lucu, saya kan yang traktir kamu, berarti saya yang bayar. Jawab Bambang.
"Memang Mas, narik taksi hari ini rame ya?" tanya Weny. Weny merasa tidak enak, kasihan penghasilan sopir taksi kira-kira tiga hari hanya untuk traktir makan.
__ADS_1
"Tenang saja, lumayan kok" Jawab Bambang.