
Bambang menatap gadis yang sedang terpejam. Benar apa yang di katakan dokter, jika Lidia sampai kelaparan. Sebab, dari pagi sudah stres, memikirkan acara lamaran. Syok, gara-gara ada Ular dikamarnya. di tambah nggak sempat makan.
"Ibu panggil Bi Ipah ya, supaya ambil makanan" ucap Ibu Widi kemudian meninggalkan kamar. Diikuti semua orang yang berada di situ, kecuali Daniel dan Rani.
"Iya Bu" sahut Bambang.
Tidak lama kemudian Bi Encum, masuk mengantarkan makanan.
"Ini makananya Tuan" Bibi membawa nampan berisi sepiring nasi dan air minum.
"Taro di meja Bi" sahut Bambang tanpa menoleh.
"Ayo makan dulu" ucap Bambang menyenderkan tubuh Lidia di atas bantal yang sudah di susun tinggi oleh Rani.
"Sini, aku suapi" Bambang menyodorkan sendok ke mulut Lidia. Namun menggeleng.
"Makan sendiri saja" ucap Lidia lirih, melirik Rani malu.
"Nggak apa-apa Mbak Lidia, nggak usah malu sama aku mah" kata Rani paham maksud Lidia.
"Iya Ran"
Bambang menyuapi calon istrinya sedikit demi sedikit akhirnya habis.
"Kok aku dari tadi nggak lihat Mas Dino, sama Mbak Syntia ya Ran?" tanya Bambang, sambil memberi minum Lidia.
"Dia pulang duluan tadi, setelah lamaran anaknya rewel, nggak mau melihat banyak orang" tutur Rani.
Wahyu memang dari tadi rewel terus, kemudian Dino mengajaknya pulang bersama Nena. Sebab, Nena juga harus kerja walaupun Rani mengizinkan libur.
"Bang" panggil Bambang kepada Daniel.
"Apa?"
"Aku heran, kok Ular bisa keliaran di rumah ini ya?" tanya Bambang tanpa menatap Daniel Sebab, sambil mengusap bibir Lidia dengan tisue selesai minum.
"Siapa lagi? kalau bukan manusia Ular itu! pasti menyebarkan makluk yang sebangsa denganya!" sungut Daniel horor.
"Heh, Mas! nggak boleh su udzon! kebiasaan!" omel Rani, nggak ingin suaminya main tuduh.
"Kamu itu loh yank, selalu... saja! membela dia" kata Daniel kesal.
"Bukan membela Mas, tapi apa-apa jangan suka main tuduh!" Tukas Rani.
"Sudah, sudah... jangan malah kita ribut sendiri, kita check rekaman CCTV" lerai Bambang.
"Oh iya, betul Bang" sahut Rani.
"Ya sudah! ayo... nggak usah nunggu lagi" Daniel bersemangat ingin cepat tahu siapa pelakunya. Tidak mungkin hanya kebetulan, dua ekor Ular bisa masuk kekamar tanpa di sengaja.
"Aku nanti nyusul ya, mau mengganti pakaian Lidia dulu" ucap Rani.
__ADS_1
"Ya, terimakasih Ran" kata Bambang, kemudian meninggalkan Rani dan Lidia keluar dari kamar bersama Daniel.
"Ayo Mbak, ganti baju dulu" ucap Rani sudah memeggang baju santai yang ia ambil dari lemari.
"Aku mau ke kamar mandi dulu" tutur Lidia, segera di iyakan oleh Rani dan di papah kekamar mandi.
"Ran, aku kok bingung, siapa sih yang di maksud tadi?" tanya Lidia lirih. Setelah selesai dari kamar mandi.
Rani menghela nafas panjang. Kemudian menceritakan siapa Sherly. Rani pun sebenarnya sepaham dengan suaminya. Namun, Rani tahu watak suaminya yang tidak sabaran. Jadi, hanya bisa menenangkan.
"Oh jadi, gitu... ceritanya Ran"
kata Lidia setelah mendengar penuturan Rani.
"Iya, aku juga ingin cerita satu lagi sama kamu."
"Agar kamu tidak salah paham jika mendengar dari orang lain" kata Rani.
"Apa Ran?" Lidia kemudian duduk bersemangat ingin mendengar cerita dari Rani.
"Kamu pasti tahu kan? foto hoak yang beredar setahun yang lalu?"
Lidia mengangguk.
Rani akhirnya menceritakan semuanya. Termasuk jika Bambang pernah menaruh hati kepadanya.
Lidia mengangguk paham.
"Tentu tidak Ran... sebelum ada klarifikasi setahun yang lalu, aku sudah yakin, kalau kamu bukan orang yang seperti itu." jujur Lidia.
"Terimakasih Mbak" pungkas Rani.
"Sekarang sudah tahu ceritanya kan? aku tinggal ya? mau ikut check rekaman CCTV" ucap Rani.
"Silahkan Mbak" sahut Lidia.
*****
Sementara Bambang dan Daniel check rekaman CCTV melalui komputer di kamar Bambang. PC menggunakan beberapa bantuan aplikasi yang populer adalah CMS (Central Manajemen Syistem) karena software tersebut memiliki fitur yang lengkap ringan dan mudah di gunakan oleh orang awan sekalipun.
Bambang dan Daniel melihat samar, seorang wanita mengendap-endap dengan menggunakan masker.
Wanita itu membawa karung goni dan masuk kekamar Lidia saat orang -orang fokus dengan acara serahan.
"Sialan! pakai masker lagi?" sungut Bambang.
"Coba zoom" kata Daniel.
Setelah di zoom tetap tidak bisa mengenali.
"Benar ada yang menyusup Mas?" tanya Rani yang baru masuk.
__ADS_1
"Benar yank, tapi kami nggak mengenal fostur tubuh wanita ini, apa mungkin kamu mengetahui?" tanya Daniel.
"Ini mungkin nggak? kalau Sherly orangnya?" tanya Bambang kepada Rani.
"Bukan!" sahut Rani yakin.
"Lalu siapa?" tanya mereka bertiga seketika berpikir.
"Jika bukan Sherly, apa mungkin Lidia punya musuh?" tanya Rani menatap Bambang.
"Musuh? aku nggak tahu" Bambang menggeleng.
"Coba kita tanya Lidia, siapa tahu mengenalnya" semangat Bambang, kemudian berdiri.
"Terus... Lidia di bawa kesini Bang? masih lemas loh, dia" ucap Rani.
"Kita check pakai handphone saja" sahut Bambang. Mereka bergegas menuju kamar Lidia.
******
"Lid, kira-kira kamu kenal perempuan ini nggak?" tanya Bambang menatap layar handphone, bergantian menatap Lidia.
"Zainaf" sahut Eneng.
"Zainaf? siapa itu?" tanya Rani dan Daniel serentak, menatap lekat manik Lidia.
"Dia itu yang naksir sama ini orang Mbak" sahut Eneng kesal menunjuk Bambang di depannya. Kemudian mlengos.
"Kok jadi marah sama aku, memang aku suka sama dia? enggak kan" sahut Bambang.
"Ooo... jadi begitu ceritanya?" tanya Rani. Manggut-manggut.
"Tapi... apa kamu yakin Lid?" tanya Daniel. Sedangkan Bambang masih mencerna ucapan Lidia sambil berkali-kali zoom vidio ingin mengetahui lebih jelas.
"Saya nggak salah kok Bang" sahut Eneng.
"Kurang ajar! ini anak, mau main-main sama gw!" sungut Bambang mengepalkan tangan. Setelah yakin jika itu fostur tubuh Zainaf.
"Masa, orang jatuh cinta sampai nekat mau bunuh orang gitu sih?! ucap Rani heran.
"Memang dia siapa?" tanya Daniel.
"Dia itu tetangga saya Bang, pernah kirim surat sama Mas Bambang. Tapi nggak di balas, eh, malah marah sama saya" tutur Lidia.
"Sekarang sudah jelas siapa orangnya, kalau kamu sudah sehat. Kita besok kerumahnya" ucap Bambang.
"Aku tinggal dulu ya... lapar" ucap Bambang kepada Lidia sambil mengusap perutnya sendiri.
"Iya" sahut Lidia.
Mereka pun kebawah, meninggalkan Eneng sendiri.
__ADS_1