
"Assalamualaikum...Nyak Fatimah yang baru pulang dari pasar mengucap salam. Dengan membawa 3 kantong kresek untuk jualan besok pagi. Enyak benar-benar menikmati kebebasan. Hanya tinggal mencari uang untuk membayar kontrakan dan kebutuhan sehari-hari. Tidak perlu memikirkan membayar bunga rentenir yang tiap hari mendatangi dan merongrong.
"Waalaikumsalam..." sahut Eneng. Dengan sigap Bambang berlari kecil mendekati calon mertua membantu membawa belanjaan. Yah... calon mertua hanya dalam pemikiran Bambang. Sebab, Eneng belum menunjukan akan mengiyakan permintaannya.
"Ya Allah...Tuan pangeraaan...Tuan Pangeran disini?" Enyak benar benar tidak menyangka Bahwa akan kedatangan tamu yang sudah menyelamatkan anak gadisnya. Yang notabene tidak jadi dinikahi pria tua yang sudah beristri.
"Iya Bu.... kenalkan, nama saya Wibi" Bambang menyalami tangan Enyak Fatimah.
"Mari Bu... saya bantu" Bambang segera menenteng dua kantong kresek besar.
"Kagak useh, Tuan... bagen bae, Enyak aje yang angkat" Tolak Enyak, merasa tidak enak majikan anaknya masa iya? angkat-angkat barang.
"Tidak apa-apa Bu" Bambang bergegas mengikuti Enyak kedapur. Meletakkan belanjaan di samping meja.
Bambang menelisik dapur Enyak, tidak seperti dapur pada umumnya. Satu buah tungku yang masih bertengger panci aluminium cemong hitam bekas masak.
Tidak banyak barang di dapur hanya ada rak piring yang sudah hampir roboh, hati bambang teriris.
Betapa tidak? yang ia rasakan sejak kecil hidup tidak pernah kekurangan. Hanya selama setahun di hukum oleh Ayahnya. Itupun sudah membuatnya kelimpungan dan sampai tega menjadikan Lidia taruhan untuk mendapatkan uang satu juta. Wajar jika gadis itu tidak bisa memaafkan dirinya. Bambang menghela nafas panjang.
"Tuan kok bengong? maaf ye, beginilah keadaan Eneng" Enyak menatap Bambang sedih.
"Pasti Tuan jijik ye, lihat dapur Enyak"
"Oh tidak Bu, bukan begitu, sini saya bantu membereskan."
Bambang membuka kantong plastik dan mengeluarkan sebungkus tahu, telur, dan labu siam. Menyimpannya di atas meja.
"Ya Allah...Tuan pangeran...kagak useh repot..."Enyak semakin tidak enak."
"Udeh...Tuan keluar aje, temani Eneng, Enyak buat minum ye. Entu anak, keterlaluan emang, masa ada tamu kagak di suguhi minum" gerutu Enyak.
"Tidak usah repot Bu" Bambang memandangi Enyak yang sedang menyeduh teh celup dan menuangkan air dari termos kedalam gelas.
"Kagak repot, ayo keluar" Enyak Fatimah keluar membawa dua gelas air teh dan meletakkan di ruang tamu.
"Neng! kamu entuh! kebangetan ye...ada tamu kagak di suguhi minum, emang Enyak suke ajarin Eneng begitu?" Omel Enyak mendekati Eneng yang sedang melayani pembeli.
"Eneng, belum sempat Nyak, dari tadi banyak pembeli pan" dalih Eneng. Namun tidak seluruhnya berbohong.
"Ya udeh, ajak ngobrol Tuan, enyak mau masak dulu"
"Iya nyak"
Enyak kembali ke dapur melihat Bambang sedang bersusah payah menyalakan kayu bakar dengan korek api. Yang tadi Enyak tinggalkan, karena membuatkan dirinya minuman. Bambang tampak kebingungan bagaiman caranya menyalakan kayu bakar.
Sudah menghabiskan banyak korek. Namun, belum menyala juga. Bambang memutar otak kemudian ingat dulu waktu kemah menyalakan api unggun dengan minyak tanah. Bambang mengerling ke kanan dan ke kiri. "Oh itu minyak tanah" Gumamnya. Bambang ambil minyak dalam botol menuangkan sedikit api pun akhirnya menyala.
Bambang tersenyum senang bisa menyalakan api. Ibaratnya mendapatkan klien memesan mobil di showroom nya.
__ADS_1
"Astagfirlullah...Tuan... Kagak useh..udeh keluar aje ye..temani Eneng terus tehnya diminum." titah enyak.
"Baik Bu, kalau begitu saya keluar"
Bambang melangkah keluar mendekati Eneng yang sedang melayani pembeli.
"Rame terus ternyata ya?" Bambang berdiri di samping Eneng.
"Lumayan" hanya itu jawabannya.
"Duduk saja, nggak capek apa berdiri terus" ketus Eneng.
Bambang duduk dibekang Eneng. Setelah pembeli pergi Eneng membawakan teh manis yang di buat Enyak tadi.
"Di minum Tuan" Eneng menyodorkan teh.
"Hihihi..." Eneng tertawa geli setelah tidak sengaja menatap Bambang.
"Kenapa tertawa begitu?" tanya Bambang tapi hatinya senang sudah 3 jam disini baru kali ini Eneng tertawa cekikikan.
"Itu?" hihihi..." Eneng menunjuk wajah Bambang. Bambang penasaran dengan wajahnya merogoh handphone dan berkaca. Ternyata hidungnya, pipinya cemong.
"Hahaha..."Bambang ikut tertawa tanpa berpikir lagi berjalan ke kamar mandi umum, dan membasuh wajahnya.
"Neng...Tuan pangeran, di ajak masuk gih...makan siang dulu" titah Enyak dari dalam.
"Mari Tuan" ajak Eneng.
"Ayo, makan seadanye..Tuan pangeran..emang makananye kagak mewah seperti di rumah Tuan, tapi.. lumayan buat ngeganjel perut.
"Ya Allah...saya jadi merepotkan" Bambang tidak enak hati.
"Kagak...Tuan pangeran... Neng, sendokin nasi untuk Tuan" titah Enyak
"Iye Nyak"
Eneng menyendok nasi untuk Bambang. Kemudian untuk dirinya sendiri. Kali ini Enyak masak pecak terong tidak lupa ikan asin gabus di bumbu balado.
Bambang makan dengan lahap. Sebab ia bukan orang yang pilih-pilih makanan.
******
Sementara keluarga yang sedang berbahagia kini menikmati wisata ke Ancol. Daniel, Icha, dan Deni berenang di pantai. Namun, bagi Rani lebih nikmat mencicipi berbagai kuliner pantai daripada berenang.
Lain Rani lain Siska sepanjang jalan hingga sampai tujuan terus mengeluar isi perut nya padahal sudah tidak ada isinya.
"Sini Sis, aku baluri minyak angin" Rani membaluri Siska dengan minyak. Kemudian menempel pusernya dengan salonpas.
"Umi.... Icha mau ke taman boneka" rengek Icha. Tampak sudah selesai berenang berjalan ke arahnya bersama Papa dan Om nya.
__ADS_1
"Tapi kasihan Tante Siska sayang... dari tadi muntah terus" Rani membujuknya.
"Yah..Umi..." Icha kekeh ingin ke taman boneka. Sebab sudah di bayangkan dari kemarin.
"Nggak apa-apa Mbak Rani, sudah lebih baik kok" Siska menengahi.
"Beneran Sis, nggak apa-apa?" tanya Deni kepada Istrinya.
"Nggak apa-apa Mas, ayo" Siska menggandeng tangan Suaminya.
Lelah berenang Daniel mengajak adik dan keluarga kecilnya ke taman boneka.
Tampak antrian panjang mengular hanya ingin menyenangkan anak dan Istrinya.
Wisata keancol rasanya belum abdol jika belum mengunjungi taman tersebut.
Icha di temani Papanya berkeliling naik perahu, naik kuda. Sementara Bumil lebih nyaman menunggu santai sambil nyemil di suatu tempat.
Tidak terasa waktu sudah sore mereka pun pulang. Deni menyetir mobilnya sendiri.
Sementara mobil Daniel di bawa Pak Toto.
Icha langsung tidur di belakang. Rani melongok Icha tampak kepalanya membentur-bentur kaca tidak terasa sakit, mungkin sangking kelelahan.
"Mas, betulkan posisi Icha, kasihan" pinta Rani. "Okay..." Daniel membetulkan posisi anaknya di tidurkan terlentang. Daniel pun mengamati anaknya sudah terlihat besar.
"Icha sudah besar yank"
"Iya, kan sudah kelas empat Mas.."
"Terimakasih kasih yank...kamu sudah merawat Icha seperti anakmu sendiri" Daniel menatap Icha berkaca-kaca.
"Mas ini bicara apa sih? nih Mas, Icha itu malaikat kecil kita yang sudah membuat kita bersatu" "Beberapa kali angin menerpa rumah tangga kita. Namun, Icha lah menjadi benteng yang kokoh, sehingga rumah tangga kita tidak goyah" tutur Rani.
"Iya Yank, aku bangga punya istri seperti kamu"
"Tidur sini yank" Daniel menepuk pangkuannya.
Rani pun merebahkan diri di pangkuan suaminya.
"Belum bergerak ya, si dedek?" Daniel mengelus perut Istrinya.
"Ya belum lah Mas, kan baru empat bulan, nanti kalau sudah 6 bulan tuh, baru dech, mulai bergerak."
"Oh gitu, ya udah... kamu juga tidur yank, jangan kecapean."
"Iya Mas"
Rani pun pulas di pangkuan susminya.
__ADS_1