ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 110


__ADS_3

Malam berganti, seorang gadis membuka matanya perlahan-lahan merenggangkan otot kedua lenganya. Duduk sebentar kemudian melangkah kekamar mandi.


Setelah dari kamar mandi membereskan kamarnya sendiri. Menarik sepray dari kedua sisi, di keprek-keprek dengan lidi, setelah rapi membuka pintu kamar.


"Oh masih sepi, belum ada yang bangun" gumamnya. Ia melangkah melongok dapur belum ada Bibi disana.


Ia terdiam sejenak mendengar lantunan ayat suci AL Qur'an. Samar-samar terdengar merdu di telinga siapun yang mendengar. "Benarkah suara dia? tanyanya dalam hati. Ia pun berjalan perlahan menaiki anak tangga dan menuju ke sumber suara. "Oh ternyata memang suara dia" gumamnya.


Ia kembali ke kamar membuka lemari kayu jati yang mewah untuk ukuran ART seperti dirinya. Ia ambil mukena yang sudah berapa tahun ini hampir tidak pernah ia sentuh.


"Astagfirlullah...hamba sudah jauh meninggal kan perintahnya" Air matanya luruh.


Ia berjalan ke kamar mandi mengikat rambut panjangnya ambil air wudhu kemudian menjalankan shalat subuh.


"Ya Allah...ampuni hambamu...hanya karna kecewa dengan seseorang mengapa? harus melupakanmu"


"Hanya karena di kecewakan sekali mengapa hamba justeru mengabaikanmu, Ya Allah..."


Eneng bersujut bergetar menangis, mendengar lantunan ayat suci Al Quran tadi hatinya terasa di ketuk.


Ia mengusap air matanya berdiri melipat mukena dan sajadah meletakkan di lemari kembali.


Kemudian membuka-buka tumpukan baju kumalnya, yang sudah berapa tahun ini tidak pernah bisa ia beli. Di tumpukan terakhir menemukan yang ia cari kerudung bergo yang sudah sekian tahun ia tanggalkan.


Dulu dirinya termasuk anak yang sholeh. Namun, setelah kecewa dengan Wibi jarang menjalankan ibadah. Bahkan, jilbabnya pun ia tanggalkan.


Eneng mengenakan kerudung kembali berjalan menuju kaca mematut diri.


"Yaah...lumayan walaupun warnanya sudah belel namun, masih bisa aku pakai." gumamnya lirih.


Eneng keluar dari kamar, kemudian ke dapur. "Pagi Bi..." sapa Eneng. "Eh hantu! gendorowok! dedemit!" Bibi kembali latah.


"Ya Allah...Bibi...masa sih, Eneng di bilang dedemit." hehehe.


"Duh kamu Neng...kaget tau nggak?! Bibi mengelus dadanya.


"Maaf Bi"


"Kamu pakai kerudung Neng? makin cantik saja" puji Bibi. Memang benar apa yang dikatakan Bibi setelah pakai kerudung Neng makin cantik.


"Mana yang perlu dibantu Bi?"


"Oh, sudah selesai, tinggal di bawa kemeja makan" sahut Bibi.


Eneng kemudian membawanya ke meja makan.


Di meja makan, Bambang sudah menunggu, sambil memainkan handphone.


Tak. Eneng meletakkan piring. Bambang kemudian mendongak, menatap Eneng tidak berkedip. "Alhamdulillah...sudah pakai kerudung" "Sempurna" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Waah...calon Istri Mas Wibi, ternyata penampilannya baru, makin cantik loh" puji Bambang.


"Jangan nggombal, masih pagi! nggak punya receh!" sahut Eneng judes. Kemudian kembali ke dapur.


Bambang menatap Eneng dari belakang tersenyum senang.


"Door!" Dira mengejutan Bambang. "Kenapa kak? senyum-senyum sendiri?" Dira kemudian menoleh ke dapur. "Oh sedang kasmaran sama yang lagi di dapur?" selidik Dira.


"Ah, pagi-pagi Bawel kamu, mana Ibu?" tanya Bambang sebab Ibu tidak segera keluar dari kamar.


"Apa?" sahut Ibu yang tiba-tiba berdiri di samping Dira.


"Tidak apa-apa Bu" sahut Bambang.


"Sudah... pada sarapan" titah Ibu. Ibu pun sarapan bersama anak-anak setelah selesai, Bambang dan Dira hendak berangkat ke kantornya kemudian pamit Ibu Widi.


Krenteeeeng...glek. Eneng membuka pintu gerbang.


"Haiii...cewek..." Bambang tersenyum manis. "Mas berangkat dulu ya.." Bambang melambaikan tangannya dari dalam mobil.


"Iiss..lebay tingkat Dewa!" tukas Eneng. Kemudian meninggalkan Bambang.


Bambang menggelengkan kepala tidak henti-hentinya tersenyum semenjak bangun tidur tadi.


Bambang sudah lebih dulu menghidupkan mobil. Sementara Dira biasa, sebelum berangkat membetulkan riasan wajahnya terlebih dahulu perona bibirnya rusak setelah sarapan.


Setelah Dira masuk Bambang menjalankan mobilnya.


"Oh nggak tahu tuh! kemarin dari temanya Lidia" sahut Bambang tetap fokus kedepan.


"Kok nggak di buka kak?" Dira memperhatikan kakanya.


"Malas, kenal juga nggak kok, buang saja" sahutnya.


"Aku buka ya kak" tanpa menunggu jawaban dari Bambang. Dira membuka amplop tulisan tangan tampak rapi.


**********


...Untuk ...


...Abang ganteng...


Pertama-tama dengan rasa kasih dan melalui surat ini, sudikah kiranya Abang ganteng menerima perkenalan ini.


Sejak pertama kali melihat Abang, hatiku merasakan getaran yang berbeda. Namun, ternyata aku baru menyadari bahwa aku mencintai Abang.


Setelah tadi malam aku memimpikan Abang. Namun, ternyata ada yang hilang setelah Abang tadi ingin pulang.


Dengan membuang rasa malu aku menulis surat ini. Dan sudikah kiranya Abang ganteng membalas perasaan ini.

__ADS_1


...Aku tunggu jawaban Abang....


...Zainaf Nur Wahid....


... I love you 💘 ...


"Hahaha..." Dira tertawa terbahak-bahak.


Bambang melotot sebentar kearah Dira kemudian kembali menatap kedepan.


Bukan melotot kaget karena isi surat itu. Namun, kesal mendengar tertawanya Dira. "Heh! kamu ini! anak perempuan tertawa seperti itu!" Omel Bambang.


"Kedengaran nggak ada harga di depan laki-laki tahu!" Nasehat Bambang.


"Hup iya" Dira menutup mulutnya.


"Ini nih, baru cewek nekat" hehehe. Dira merasa malu. Membayangkan dirinya jika bersama Topan seberani itu. Padahal Dira manahan cintanya kepada Topan sampai satu tahun baru satu bulan ini cintanya tersambut.


"Buang tuh suratnya, nanti Lidia baca lagi" titah Bambang.


"Berani juga ini cewek kak, perlu di acungi jempol"


"Waah...Eneng ada saingan ini, memang kakak bertemu dia berapa kali?"


"Kemarin dua kali, sama tadi pagi sekali" sahut Bambang.


"Cantik kak?"


"Nggak ada apa-apa jika di bandingkan Lidia" sahut Bambang tersungging.


"Kakak kok tiap manggil Eneng Lidia? memang kakak pernah bertemu dengan dia sebelumnya?"


"Dia itu adik kelas kakak, waktu SMA"


"Oh begitu ya, tapi pernah ada rasa sama dia kak?"


"Ceritanya panjang Dir" Bambang menceritakan kepada Dira kisah cintanya dengan Lidia dulu. Bahwa Bambang pernah mempermainkan perasaannya.


"What! kakak keterlaluan...pantas, aku perhatikan, Eneng selalu ketus, jika bicara pada kakak"


"Nih kak, orang itu awalnya mencintai kita dengan tulus, tetapi, bisa berubah sangat benci, karena kita pernah melukai perasaannya." Dira berpendapat.


"Kayak yang pernah mengalami saja kamu" sahut Bambang meremehkan.


"Iih..ya jangan sampai kak, aku mengalami, tapi aku sering melihat kisah cinta teman-teman, awalnya madu, bisa berubah menjadi racun." tutur Eneng.


"Terus bagaimana kak, seandainya Eneng nggak bisa memaafkan kakak, yaah..aku sih, ambil pahitnya saja kak"


"Kakak akan berusaha keras, kakak yakin dia jodoh kakak" "Tahu nggak Dir, ketika kakak melamar Weny dulu, kakak setiap malam shalat istikharah, dan yang hadir dalam mimpi bukan Weny, melainkan Lidia."

__ADS_1


"Semoga kak" pungkas Dira.


Obrolan kakak adik itupun berakhir setelah mereka sampai showroom. Setelah parkir Bambang dan adiknya masuk kedalam.


__ADS_2