ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 75


__ADS_3

Pagi yang cerah Bambang menikmati suasana pagi, olahraga jogging. Di pantai Marina yang berjarak hanya ratusan meter dari Bandara Ahmad Yani Semarang. Dengan di temani Panji, Bambang memanfaatkan hari minggu dengan berjalan-jalan. Kapan lagi? di Jakarta seolah tidak ada waktu hanya untuk sekedar ke pantai.


Lelah berjalan, Bambang duduk santai di bawah pohon memandangi deburan ombak.


"Mas, aku cari jajanan dulu ya, tunggu di sini" kata Panji lalu beranjak meninggalkan Bambang. Bambang hanya mengangguk.


Bambang merogoh handphone di saku celana training. Mengambil beberapa gambar di penjuru pantai. Mengabadikan gambar di galeri ponsel.


Bambang membuka galeri foto melihat hasil jepretan. Deg. Mau tidak mau ia melihat foto Rani yang ia ambil setiap ada kesempatan. Bambang scroll foto satu persatu.


*Rani, maafkan aku, aku sudah lancang mencintai kamu, tanpa kamu tahu. Aku bangga bisa dekat dengan wanita seperti kamu. Kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal. Jujur Rani, ketika dulu kamu kembali ke pelukan suami kamu. Aku bukan marah atau kecewa, tetapi aku justeru semakin kagum sama kamu. Mengapa? karena kamu wanita yang bisa menjaga kerhomatan suami kamu. Kamu memang perhiasan Rani. Mulai saat ini, aku akan tutup lembaran kisahku untukmu. Dan aku akan membuka lembaran baru bersama sahabatmu. Doakan kami Rani, semoga kami bisa hidup bahagia dengan Weny. Dan akupun selalu berdoa semoga kamu dengan Bang Daniel bisa langgeng sampai maut memisahkan." Monolog Bambang jemarinya menelusuri foto. Bambang kemudian menghapus semua foto Rani. Air mata beningnya menetes. Mungkin kah? ini tetesan terakhir untuk Rani? entahlah.


"Mas sarapan dulu, ini loh, aku beli lumpia, uenak loh ini, lumpia kas semarang" Tutur Panji.


"Biasa saja apa Ji ngomongnya, tidak usah pakai ueeenak...cukup dengan kata enak" sahut Bambang.


"Ahahaha...yo ndak bisa to Mas, wong sudah dari sananya, kok"


"Lah sak karepmu Ji."


"Terus ini minuman apa?" Bambang mengaduk aduk minuman dalam mangkok.


"Ini minuman khas semarang juga Mas, namanya wedang tahu" "Cocok loh, di minum saat udara dingin begini" "Di cobo Mas, kuahnya rasa pedas jahe, dan rempah-rempah loh, ueeeenaaak....ahahaha" Bambang dan Panji memanjangkan kata enak bersamaan. Seraya menertawakan kata-kata mereka sendiri.


"Sudah Ji, kenyang, pulang yuk" Bambang berdiri mengibas ngibas training.


Mereka jalan bersebelahan sambil ngobrol.


"Mas Wibi, jam berapa nanti berangkatnya?" Tanya Panji.


"Sore kok, jam tiga, masih bisa menikmati santap siang yang ueeenaaaak! dirumah Tante" Bambang menggoda Panji dengan logat yang lucu.


"Ah Mas iki loh, senengane kok ngledek! kalau memang suaranya sudah begini dari sana, bagaimana?"


Bambang tidak menimpali, sepanjang jalan, panji bicara mbrebet tidak bisa diam.


Rumah Tante tidak jauh dari Bandara, hanya berjalan kaki 10 menit sudah sampai di rumah.


Bambang dan Panji masuk mengucap salam.


Semua keluarga berkumpul di ruang tamu. Bu Widi, Rumiati dan Om zuki sedang berbincang.


Ibu Widi, tiga bersaudara yakni, Ibu Widi anak pertama, Om Wisnu anak kedua dan Tante Rumi paling akhir mempunyai suami Om Marzuki.


"Habis jogging kemana kalian" tanya Om Zuki.

__ADS_1


"Kepantai Om" sahut Bambang seraya duduk berhadapan dengan Om Zuki.


"Sarapan dulu sana le...Mas mu di ajak" titah Ibu Rumi.


"Sampon bu, tadi jajan" sahut Panji.


"Mbak yu, terus kira-kira kapan sampean mantu?" Tanya Rumi.


"Masih tiga bulan lagi Rum, tetapi kapan tanggalnya masih di musyawarah"


"Sudah lama pacaran sama calonmu Bi" Tanya Om Zuki.


"Hehehe...tidak pacaran kok Om, langsung melamar saja, nanti pacaran setelah menikah"


"Waah..bagus sekali Bi, prinsip kamu, tuh di contoh Masmu itu loh Ji" Om Zuki menatap Panji.


"Jeh Pak" sahut Panji singkat.


Andai Om tau siapa saya, tidak sebaik seperti yang Om kira, aku hanya pria pendosa Om, bahkan sampai mencintai istri orang. Bambang mendadak gusar meraup wajah kemudian menunduk.


Obrolan berlanjut hingga siang hari, mereka saling bercerita tentang pengalaman masing. Selepas dzuhur, makan bersama.


Ibu Widi minta di antar Rumi mencari oleh-oleh, Om Zuki yang menyetir.


Sementara Bambang beristirahat di kamar sepupunya. Ia tidur-tiduran gulang guling. Pikiranya kemana-mana. Sebentar lagi akan menjadi suami dan harus bertanggung jawab dunia akhirat. Secara ekonomi tentu sudah siap. Tetapi untuk menjadi Imam yang baik, harus terus menerus belajar. Sepulang dari sini akan sering berguru kepada Ustadz Miftah.


Deerrr deerrr derrr.. "Hallo? suara Weny.


"Assalamualaikum..." Bambang mengucap salam.


"Waalaikumsalam..."


"Maaf ya dek, saya baru bisa kirim kabar, maklum lah tamu, kesana kemari ngobrol, jadi tertunda hubungi adek."


"Nggak apa-apa kok Mas, bagaimana lancar semua?"


"Alhamdulillah...lancar dek, untuk cerita yang lebih detail nanti kita ketemuan di sana ya"


"Baik Mas, Mas sekarang lagi dimana?"


"Saya masih di semarang dek, nanti berangkat jam tiga"


"Oh, hati-hati di jalan ya Mas..."


"Terimakasih, sudah gitu saja dulu ya dek" "Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumusallam..."


Bambang menutup handphone. Kemudian memejamkan mata. Tadi malam tidur hanya sebentar. Bambang tidur hanya satu jam.


Jam dua 30 menit, Bambang berangkat ke Bandara. Sebenarnya hanya dengan berjalan kaki pun sampai. Tetapi karena membawa oleh-oleh Bambang di antar Panji. Om Zuki dan Ibu Rumi juga ikut.


"Mas Wibi, kalau aku sudah lulus ikut kerja di showroom ya..." Kata Panji.


"Boleh, tetapi ada syaratnya" sahut Bambang.


"Apa to sarate?" Tanya Panji.


"Kurangi bicaramu itu, jangan ngecipris" Ucap Bambang.


Om Zuki hanya tersenyum tidak menimpali.


"Wibi!" sahut Ibu Widi yang mendengar obrolan mereka. Memberi isyarat Bambang tidak boleh bicara begitu.


"Boleh le, kamu cocok di bagian marketing, cocok di padukan dengan Dira"


"Swon budhe" sahut Panji.


"Dira sudah sebesar apa sekarang Mbak yu?"


"Ya sudah waktunya nikah Rum, sudah 23 th kok.


"Kalau calonmu umur berapa Bi?" Tanya Om Zuki.


"Berapa ya Om, belum tanya" hehehe...Bambang menggaruk kepala.


"We adalah! piye to sampean ki Mas, masak ndak tau umur calonnya." Panji menggeleng.


"Memang belum tahu le, Budhe kan yang jodohkan mereka"


"Oh pantas! fotonya saja hanya ada satu, kalau aku di jodohkan gitu ndak mau, seperti jaman Siti Nurbaya saja."


"Huss!" Bambang menatap Panji tajam. Khawatir Panji nerocos ke Om masalah foto. Panji akhirnya diam.


Tidak terasa Bambang sudah sampai Bandara. "Om...Tante...saya mohon pamit ya, maaf sudah merepotkan Om dan Tante"


"Hati-hati Bi...Mbak yu" Tante Rumi dan Ibu Widi berpelukan.


"Hati ya Bi, salam buat Dira." Om Zuki mengelus punggung Wibi.


"Baik Om Zuki, nanti saya sampaikan.

__ADS_1


"Aku berangkat ya ji, kuliah yang serius jangan memikirkan tiga dara melulu" ahahaha...Mereka berdua terbahak.


Setelah berpamitan kepada keluarga. Bambang pun berangkat.


__ADS_2