
Lidia berjalan perlahan sambil mengangkat gaun panjangnya khawatir kakinya keseleo.
Ia masuk kedalam kamar tanpa memperhatikan sekeling. Ketika hendak menutup pintu langkahnya terhenti. Ia memusatkan pendengaran ketika mendengar suara desis.
"Ceeeessss... ceeesss..."
"Suara apa tuh?" monolog Lidia. Ia menekan sakelar yang hanya di belakangnya.
Setelah lampu menyala,
bola matanya berputar mencari sumber suara, dan tertuju di pojok ranjang.
Ular Kobra sebesar lengan anak kecil mendongak menatap Lidia tajam. Kepala gepeng dengan mulut menganga siap menyemburkan ludahnya.
Lidia menutup mulutnya dengan rasa campur aduk. Takut, khawar dan juga ngeri. Lidia berjalan murdur ingin berbalik keluar.
Namun, belum hilang rasa terkejutnya tepat di belakangnya juga ada satu ekor. Walau yang satu ini terlihat sedang tenang melingkar tertidur. Namun, Lidia tetap saja takut. Tanpa berpikir lagi, Lidia loncat ketempat tidur.
*****
Bambang yang masih di panggung menunggu Lidia sudah lima belas menit belum jua kembali, padahal sudah menahan lapar. "Mana sih Lidia? kok lama sekali?" Monolog Bambang.
Bambang berjalan hendak menyusul. Ketika ingin melangkah Bambang mendengar teriakan Lidia.
"Tolooong..., tolooong..." pekik Lidia.
Bambang mempercepat langkahnya ketika sampai di depan kamar. Ia melihat Lidia berdiri di atas tempat tidur.
"Ada apa?" tanya Bambang terlihat panik. Ia melangkah cepat masuk kedalam kamar.
"Mas... awas..." pekik Lidia. Telunjuknya menuju Ular yang tadi melingkar itu mendongak kearah Bambang.
"Mas..." Lidia menarik Bambang agar naik ke tempat tidur kemudian memeluknya erat.
"Tenang... tenang ya...Mas mau cari cara untuk mengusir ular itu" ucap Bambang menepuk pundak Lidia.
"Mas! jangan turun aku bilang!" sentak Lidia ketika Bambang ingin turun mencari alat untuk memukul Ular tersebut. Pasalnya pintunya sudah di halangi Ular.
Lidia tercengang melihat kejadian ini.
"Ceeeess..., ceeees" Ular itupun kembali mendesis. Bambang merogoh handphone dan mencari nama yang bisa cepat di hubungi.
"Hallo📞
__ADS_1
"Bang! cepat kekamar Lidia suruh satpam membawa alat untuk memukul Ular"
Tut.
Bambang mematikan poselnya kemudian mengantongi kembali.
Lidia masih belum melepas pelukanya. Khawatir di tinggal Bambang.
Kemudian terdengar ramai suara derap langkah kaki yang memakai sepatu.
Tampak Daniel, Rani, Papa Nano Mama Nadyn satpam terengah-engah.
"Wibi...Lidia... kamu baik-baik di dalam?" tanya Daniel.
"Baik Bang! mana satpam?" teriak Bambang dari dalam.
Disusul Ibu Widi, Pak Siswo semuanya berkumpul di luar kamar. "Astagfirlullah... kenapa bisa ada Ular masuk kedalam rumah..." Ibu Widi ingin masuk kedalam.
"Bu... berhenti!" Pak Siswo menarik tangan Ibu Widi.
"Pak santam cepat! pukul ular itu!" pekik Bambang. Semua panik melihat dua Ular yang sedang menjulurkan lidahnya.
"Prak prak prak. Satpam memukul Ular tersebut dengan kayu panjang. Namun, Ular berkelit. Berkali-kali satpam mencoba tetap gagal.
"Coba sini Pak" Pak Siswo ambil kayu dari tangan satpam kemudian mencoba memukul Ular tersebut. Bukan mati satu ular itupun meluncur keluar dari kamar.
"Ada apa ini Mbak?" tanya Om Marzuki, di susul Tante Rumi, Om Wisnu, Istri, dan kedua anaknya. Mereka tadi masih menemani tamu yang terahir pulang. Ketika tamu sudah sepi mereka mencari Ibu Widi yang tidak ada di tempat.
"Ada Ular di dalam" sahut Rani yang bergelayut di tangan Daniel.
Panji yang baru datang. Sebab, tadi kekamar mandi dulu tampak mendekat.
"Ono opo to Mba e?" tanya Panji kepada Rani, sebab melihat wajah-wajah semua menegang.
"Ada Ular dik" sahut Rani.
Panji langsung ke depan mendekati satpam dan Pak Siswo yang masih berusaha melumpuhkan Ular.
"Pak... nuwun sewu... mundur-mundur" ucap Panji dengan santai. Satpam dan Pak Siswo pun mundur.
Panji kemudian masuk kedalam. "Hati-hati lee" titah Ibu Widi dan Tante Rumi kompak.
"Panji! jangan main-main kamu!" bentak Bambang. Melihat Panji dengan santai masuk kedalam.
__ADS_1
"Seeettt" desis Panji, tanpa menoleh ke arah Bambang. Mengangkat satu tanganya memberi isyarat agar diam, kemudian mendekati ular. Semua mata tertuju padanya. Bingung dan was-was apa yang akan di lakukan Panji.
"Bismillahirrahmannirrahiim..." Cek Panji menangkap leher Ular.
Semua ternganga keheranan.
"Ambil karung Bi" kata Panji kepada Bi Ipah" Panji membawa Ular keluar dari kamar.
"Baik Mas" jawab Bi Ipah kemudian ambil karung beras. Tak lama kemudian Bibi kembali menyerahkan karung kepada Panji.
Panji memasukkan Ular kedalam karung kemudian mengikatnya.
"Bruk" Lidia ambruk jatuh di samping Bambang dan telungkup di tempat tidur.
"Lidia..." pekik Bambang membalik tubuh Lidia hingga terlentang. Semua orang berbalik menatap Lidia.
Bambang menepuk tepuk pipi Lidia dalam pangkuannya. Namun, tidak juga bangun.
"Kenapa Lidia?" tanya Ibu Widi berlari kedalam kamar.
"Lidia pingsan Bu" sahut Bambang rasanya seperti mimpi buruk, setelah mimpi indah.
Rani kemudian ikut naik ke tempat tidur menempelkan minyak kayu putih di hidung Lidia.
Wajah Rani hampir nempel ke pipi Bambang tanpa Rani sadari sangking panik.
Daniel yang melihat dari luar pintu membulatkan mata. Pikiranya melayang ke masa-masa ketika Bambang mencintai Rani dulu. Kembali menari di pelupuk mata. Bukanya tidak tahu situasi, walaupun Bambang menganggap Rani seperti adiknya. Namun, tetap saja Rani dan Bambang adalah orang dewasa dan bukan muhrim.
Daniel kemudian ikut naik ke tempat tidur, lalu duduk di tengah antara Rani dan Bambang. Menyekat antara Bambang dan Rani menjadi pembatas.
Rani tidak menyadari itu tetap menempelkan minyak kayu putih ke hidung Lidia.
Lain Rani, lain Bambang. Bambang tahu maksud Daniel. Namun, yang ia pikirkan saat ini bagaimana Lidia cepat sadar.
Ibu Widi, Tante Rumi dan Mama Nadyn masih berdiri memutari tempat tidur.
Sementara di luar.
"Le, kita harus waspada, mencari ular yang satu lagi, pasti masih bersembunyi di dalam." titah Pak Siswo.
"Njeh Pak" sahut Panji. Pak Siswoyo mengajak para laki-laki untuk mencari Ular. Memeriksa di kolong-kolong, di sudut-sudut ruangan yang kira-kira bisa di jadikan persembunyian ular.
Hampir satu jam mereka menelusuri setiap ruangan. Namun, nihil.
__ADS_1
"Kiaaaa... sakiiiit..." pekit seorang pria yang berada di dalam gudang.
.