ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 53


__ADS_3

Inti dari keluarga bahagia adalah masing-masing mengangkat satu sama lain. Menyikapi dengan bijak dalam satu permasalahan. Kini Daniel akan bermuara bagaimana sebaiknya memperlakukan seorang istri. Memperbaiki hubungan, selalu jujur, dan tidak menduakan cintanya dengan wanita lain. Malam nanti Daniel akan datang kerumah istrinya. Dengan semangat pagi ini, Daniel mengantar buah hatinya ke sekolah dengan rasa gembira.


"Nanti malam, Papa tidak pulang ya sayang" Kata Daniel menoleh Icha sebentar karena sedang menyetir.


"Mau nginap di rumah Umi ya Pa?" Tanya Icha berharap Papa Daniel akan mengajaknya serta.


"Betul" Sahut Daniel tetap fokus ke depan menatap jalanan.


"Icha nggak boleh ikut?" Tanya Icha Manyun.


"Bukan tidak boleh sayang, perjalanan dari rumah Umi kesini hampir satu jam loh" Tutur Daniel.


"Bisa-bisa Icha terlambat ke sekolah."


"Yah Papa" protes Icha cemberut.


"Nih, dengerin ya, Papa akan membujuk Umi pelan-pelan supaya mau tinggal bersama kita"


"Tetapi Icha harus sabar, kalau Papa terburu-buru kesanya memaksa, khawatir Umi malah nggak mau."


"Sudah, nggak usah manyun cantiknya berkurang nanti" Pungkas Daniel tersenyum, tangan kirinya mengelus rambut Icha.


"Okay Papaku yang ganteng, harus semangat" Sambung Icha.


"Gitu dong! baru anak Papa"


Daniel meyakinkan Icha 10 menit kemudian sudah sampai di sekolah. Icha turun dari mobil memberi salam Papa kemudian masuk kedalam kelas.


Daniel melanjutkan perjalanan menuju kantor. Sampai di Kantor Ia tersenyum melewati karyawannya yang sedang bertugas sesuai posisi masing-masing. Karyawan saling pandang melihat keramahan boss yang hampir satu tahun tidak pernah mereka lihat.


"Boss tumben banget mau senyum sama kita, biasanya kalau baru sampai mukanya di tekuk"


"Ah loe tuh, Pak Daniel masam, loe sewot, giliran senyum loe curiga! bingung gue ck"


Begitulah obrolan para karyawan pagi-pagi mereka sudah gibah.


Daniel masuk kedalam lift menuju lantai lima. Sampai di lantai lima ketika menuju ruangan terdengar obrolan Deni dan Siska.


"Sis, nanti malam aku mau ajak kamu, menemui Mama Nadyn ya" Kata Deni sudah hampir dua bulan jadian dengan Siska sekretaris Daniel. Setelah susah payah muve on dengan Rani akhirnya Denì menyambut cinta Siska yang sudah lama Siska rasakan. "Aku mau memperkenalkan kamu kepada Mama sama Papa"


"Benarkah?" Siska menatap Deni berbinar-binar.


"Beneran dong"


Sahut Deni. Selama tidak ada Rani Deni tinggal sama Mama Nadyn sedangkan rumahnya sendiri di tempati bibi.


"Okay, tetapi nanti pulang kerja antar aku ke salon ya"


"Nggak usah ke salon juga kamu sudah cantik kok" Sahut Deni tersenyum menggombal dan mengacak rambut Siska.

__ADS_1


Siska wajahnya merah merona.


"Kalian pacaran?" tanya Daniel yang sudah mendengar perbincangan sejoli sejak tadi menatap Deni dan Siska bergantian.


"Hehehe...abang sudah sampai?" Bukan menjawab Deni malah balik bertanya. Deni tersenyum malu gombalanya kepergok sama abangnya.


"Ah loe Deni! sudah, kerja! jangan pacaran terus". Daniel berlalu menuju ruangannya. Deni dan Siska segera melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Hingga sore hari Daniel bekerja dengan semangat. Daniel melirik jam di pergelangan tangan kemudian menumpuk dokumen lalu keluar.


"Sis, saya pulang duluan ya"


"Baik Pak, salam buat Bu Rani ya."


"Ya" hanya satu kata yang Daniel ucap.


"Ceklek! Deni keluar dari ruangannya.


"Gue duluan Den, awas! kalian mesum di kantor gue arak keliling komplek!" Tukas Daniel kemudian meninggalkan mereka.


Daniel menuju parkiran. Setelah menemukan benda mahal yang setia menunggu kedatangannya. Daniel menyalakan lalu meluncur turut merebutkan jalanan yang macet. Suara klakson bersautan masing-masing ingin segera sampai di rumah dan menemui orang yang dicintai dan di sayangi.


Begitu juga Daniel, seolah-olah yang tinggal di jalanan hanya raganya. Karena pikiranya sudah berasa di dekat orang terkasih. 15 menit terasa lama akhirnya Daniel sampai di Restoran.


Daniel masuk kedalam. "Silahkan duduk Tuan" wattress mendekati Daniel banyak karyawan yang belum tahu jika Ia suami Rani, hanya sebagian saja yang tahu. Daniel memesan kopi hanya untuk mengembalikan kadar gula yang terbuang bersama energi.


"Oh Pak Daniel" sapa Nena yang sedang mengontrol para karyawan. "Sudah lama Pak?" Tanya Nena kemudian.


"Belum, Rani ada?" Tanya Daniel angkuh tanpa menatap Nena seraya mengaduk aduk kopi di depannya.


"Kenapa kamu Nen, nggremeng koyo kaum kurang ambeng?" Tanya Weny yang sedang berpapasan dengan Nena.


"Bilang sama Rani tuh ada suaminya di bawah, kok Rani mau sih punya suami angkuh gitu!"


"Eh jangan ngomong gitu, kalau Rani dengar, ndas mu di thuthok! sepatula mau?!


Ucap Weny memperagakan menggetok kepala Nena. Walau sedang marah dengan suaminya, jika ada yang menghina suaminya pasti Rani tidak akan tinggal diam.


"Ya elah, bercanda juga, sama sahabat sendiri masa mau main getok sih!" Sambung Nena.


Weny tidak menimpali Nena. Lalu masuk keruangan Rani.


"Ran suamimu menunggu di bawah" Weny menyembulkan sedikit kepalanya.


"Suamiku kesini?" Tanya Rani heran. Bilangnya mau kesini minggu depan. Tetapi ternyata hari ini sudah datang. Untung tidak ada kuliah malam ini. Weny hanya mengangguk.


"Ya Wen, aku segera kebawah." Sahut Rani dari dalam.


Mungkin kesempatan Rani untuk meminta penjelasan tentang pernikahan siri yang di katakan Sherly kemarin. Walaupun menepis kata-kata Sherly. Tetapi hati Rani merasa resah.


"Okay...."kata Weny sambil berlalu ingin menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


Rani bergegas kebawah menuruni anak tangga. Netranya mengitari, mencari sosok suaminya.


Pandangannya tertuju di salah satu meja. Daniel tidak melihat kedatangan istrinya yang sudah berdiri di depannya. Karena sibuk dengan handphone di tanganya.


Tak, Rani meletakkan tas di atas meja. Daniel kemudian mendongak.


"Eh sudah selesai yank?" Tanya Daniel tersenyum. Rani tidak menjawab lalu meraih tangan suaminya dan mencium punggungnya.


Rani duduk di depan suaminya dengan wajah cuek.


"Ngapain kesini?! tanya Rani ketus.


"Loh suaminya datang kok gitu sih?" Daniel melihat ada ketegangan di wajah Istrinya.


Ada apa lagi ini perasaan kemarin sudah baik-baik saja? Tanya Daniel dalam benak. Daniel tidak berani bersuara lagi. Ia menyecap kopinya pandangannya tidak lepas dari wajah Istrinya. Yang di tatap tidak peduli.


"Mau pulang sekarang?! Tanya Rani cemberut.


"Ikhlas nggak nih, ngajak pulang kok galak begitu" Ucap Daniel tersenyum.


"Bodo amat!" Ucap Rani kesal, lalu berdiri mendahului Daniel.


Daniel pun beranjak kemudian mengejar Istrinya meninggalkan kopi yang masih setengahnya.


"Nen nanti mobilnya kamu yang bawa ya, terus motornya suruh Weny saja" Pesan Rani sebelum berangkat.


"Okay boss" Sahut Nena.


Rani keluar dari Cafe clingak-clingak mecari mobil suaminya.


Daniel berdiri di samping Istrinya. Hatinya bersorak, Ia pikir Rani tadi akan membawa mobil sendiri. Ternyata Rani menunggu dirinya.


"Ayo" Daniel menggadeng istrinya membawa ke mobilnya.


Daniel membukakan pintu. Setelah Rani masuk Daniel pun demikian. Memasang sabuk pengaman lalu meninggalkan restoran.


Didalam mobil saling diam. Sebenarnya Daniel sudah gatal ingin bertanya tetapi tidak punya keberanian.


Tidak lama kemudian mereka sampai di depan rumah.


Rani bergegas masuk kedalam menuju kamar.


Daniel menyusul, menjatuhkan tubuhnya di kursi sofa menyandarkan kepalanya.


Kenapa lagi dengan kamu yank, andai kamu tahu, walau aku sering jatuh dan terbangun, sebenarnya sakit sekali. Tetapi aku pura-pura tegar di depanmu. Karena aku tau, kamu lah kekuatan aku. Aku tau kamu tidak bisa sepenuhnya percaya kepadaku. Tetapi yakin lah, aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Itulah suara hati Daniel.


Daniel beranjak dan akan mengetuk pintu kamar Rani. Berkali-kali tangannya terulur, namun menariknya kembali. Akhirnya Daniel memberanikan diri.


Tok tok tok. Bekali-kali Daniel mengetuk pintu tidak di buka. Kemudian Daniel mendorongnya ternyata tidak di kunci.

__ADS_1


Rani berdiri di depan jendela tatapanya kosong. Baru saja ingin memulai dari awal. Tetapi pernyataan Sherly kemarin membelenggu hatinya.


"Kenapa?" Daniel melingkar kan tangannya di pundak Istrinya. Sama-sama berdiri di depan jendela kamar. Menatap semrawutnya jalanan sore. Daniel melihat Rani sedang menangis. Kedua tanganya menarik pundak Rani. Akhirnya berhadapan. Daniel menyeka air mata Rani dengan jarinya.


__ADS_2