ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 101


__ADS_3

Keesokan harinya Bi Inah sedang memasak di dapur menyiapkan sarapan pagi.


"Masak apa Bi" tanya Daniel yang baru selesai mandi rambutnya masih basah.


"Masak nasi goreng Tuan muda, Icha pesan soalnya"


"Oh ya sudah, di lanjut"


"Ada sayuran apa, di kulkas Bi?"


"Banyak Tuan, masih komplit" sahut Bi Inah sembari mengaduk aduk nasi goreng.


Daniel membuka kulkas, ambil telur, tomat, bayam dan keju parut.


Bibi memperhatikan apa yang Daniel bawa. "Buat apa Tuan?" tanya Bibi. Pasalnya belum pernah lihat boss nya ambil sayuran selama menikah dengan Rani.


"Mau buat omlet Bi, untuk sarapan Rani." tutur Daniel. Daniel pun segera mengocok telur, mengiris bayam sampai halus, di campur tomat dan keju, kemudian di dadar dalam teplon. Masakan pun matang lalu menyusun dalam piring.


"Wuih...masak apa itu bang?" tanya Deni yang baru menuruni anak tangga bersama Siska.


"Masak enak lah...untuk istri tercinta, masakan ini, cocok untuk ibu hamil" tutur Daniel.


"Halaah... yang lagi bucin! kemana saja selama ini? baru sadar kan sekarang, kalau istri abang sudah menghipnotis"


"Makanya..aku dulu klepek-klepek sama dia" cerocos Deni. Tidak sadar jika sebelahnya ada Siska yang menatapnya kesal.


Klepok! Daniel menggetok pundak Deni dengan sepatula. Memberi isyarat kalau Siska sedang marah.


"Eh, becanda Sis, maaf, maaf" Deni menciut seperti lintah terkena garam melihat tatapan Siska.


Daniel meninggalkan Siska bersama Deni yang masih menegang di dapur. Kemudian meletakkan omlet di meja makan.


"Pagi Papa...muach..." Icha berlari kecil di ikuti Rani di belakangnya.


"Pagi sayang..." sahut Daniel kemudian mencium balik pipi anaknya.


"Papa masak apa tuh? heemm.. baunya wangi..."ucap Icha mengendus angin.


"Papa masak apa memang?" tanya Rani. "Omlet yank, sini duduk." Daniel menunjuk kursi di sebelahnya.


Rani pun duduk.


Tidak lama nasgor nya sudah matang, Bibi meletakkan di meja makan.


Semua duduk mengelilingi meja.


"Lihat Pa, Mama tuh seneng...anak-anak kumpul begini" kata Mama Nadyn yang baru keluar dari kamar bersama Papa Nano. Kemudian ikut bergabung.


"Apa lagi kalau sudah tambah cucu Ma, lebih menyenangkan lagi." sahut Papa.


Setelah Papa dan Mama Nadyn ada di meja makan, semua sarapan. Di selingi obrolan ringan, di tambah celotehan Icha yang membuat gelak tawa.


Selesai sarapan, Daniel berangkat ke rumah sakit.


"Icha ikut boleh nggak Pa?" tanya Icha.


"Kerumah sakit masa ikut, sayang..." tolak Daniel.


"Yah Papa..." Icha merengut.


"Nanti setelah Umi pulang periksa, kita jalan-jalan ya..." Rani menengahi.


"Kemana Mi?"


"Icha maunya kemana?"


"Mau naik wahana" sahut Icha.

__ADS_1


"Ya...nanti kita naik wahana, tapi di mall Papa saja..." sambung Daniel.


"Okay..." sahut Icha.


"Dada Icha...Umi berangkat"


"Daaa...Umii..."


Daniel melajukan mobil kerumah sakit. 15 menit kemudian, sampai tempat yang di tuju. Yakni, Rumah sakit langganan Daniel.


Setelah melakukan serangkaian pendaftaran. Tibalah saatnya Rani mendapat giliran masuk keruangan dokter.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." dokter Rizal tidak memperhatikan siapa pasien berikutnya. Karena masih check data pasien sebelumnya.


"Waah...bagaimana nih kabarnya?" sapa dokter.


"Alhamdulillah...baik dok" sahut Rani.


"Sendirian lagi nih? kemana lagi suamimu?" tanya dokter ia pikir Rani datang hanya sendiri seperti dulu.


"Apa? mau maki-maki gue lagi loe" seloroh Daniel yang baru masuk karena tadi kekamar mandi dulu.


"Nggak hanya maki-maki! tapi pingin nonjok perut loe, yang mulai buncit" Ahahaha...dokter Rizal menimpali sambil terbahak bahak.


Rani hanya menggeleng, mendengar kedua sahabat yang berbicara seperti anak SMA.


"Apa kabar loe?" tanya Daniel.


"Gue baik" dokter Rizal menyalami sahabatnya.


"Kenapa nih, Istri loe? mau progam atau mau periksa kehamilan?"


"Dua-duanya" sahut Daniel seraya memeluk pinggang Rani di depan Rizal.


"Kok dua-duanya?" tanya dokter kemudian mempersilahkan sahabatnya duduk.


"Ya, mencoba periksa lah, siapa tahu, Allah memberikan hadiah di ulang tahun pernikahan gue yang ketiga"


"Tetapi jika belum, kami mau progam, iya nggak yank?" Daniel menoleh istrinya minta persetujuan.


Rani pun mengangguk tersenyum.


"Baiklah, mari Nona, rebahan" titah dokter.


Rani merebahkan diri, dokter melakukan serangkaian check, menanyakan beberapa hal. Durasinya cukup lama, mungkin karena yang pertama.


"Selamat bro, loe akan segera menjadi bapak, selamat Nona" dokter menyalami pasutri.


"Alhamdulillah...ucap syukur Rani dan Daniel bersamaan.


"Apa keluhannya Nona?"


"Tidak ada dok"


"Tidak mengalami morning sickness?" tanya dokter.


"Alhamdulillah, tidak dok, malah inginya makan terus" sahut Rani.


"Termasuk makan gue Zal" Ahahaha. Daniel tertawa senang. Sebab Istrinya akhir-akhir ini suka minta duluan.


Rani meremas paha Daniel kesal. Malu sama dokter atas kekonyolanya.


"Kenapa periksa sampai terlambat? jangan bilang! loe nggak perhatiin istri loe" tuduh dokter.


"Elah loe! su uzon aja sama gue! tanya saja sama istri gue apa alasanya" pungkas Daniel.

__ADS_1


"Memang sudah berapa bulan dok?" tanya Rani. Tidak menimpali kekonyolan dua orang itu. Sebab, akan berbuntut panjang karena Rani sudah lelah.


"Sudah empat bulan Non"


"Alhamdulillah...ucap Rani.


Setelah mendengar penjelasan dokter tentang anjuran dan pantangan. Rani dan Daniel pun pamit pulang.


******


Sampai halaman rumah sakit, Rani berpapasan dengan Bambang.


Bambang baru turun dari mobil di antar Eneng.


"Bang Bambang, di sini juga? siapa yang sakit?" tanya Rani menatap wanita cantik di sebelah Bambang mengangguk tersenyum.


"Aku kurang enak badan nih Ran" sahut Bambang.


"Waah... superman bisa sakit juga ternyata" seloroh Rani.


"Kamu ini Ran...bisa saja"


Rani menatap Bambang minta penjelasan siapa wanita yang bersamanya.


"Kenalin Ran, ini calon istri aku" ucap Bambang. Langsung mendapat plototan Eneng. Bambang senang bisa menggoda Eneng bisa mengurangi cenut-cenut di kepalanya.


"Alhamdulillah...cantik banget, kenalkan Mbak, nama saya Rani."


"Nama panggilan saya Eneng, Mbak Rani...Mbak Rani kan suka ada di televisi" Eneng senang bisa melihat Rani yang ia idolakan. Pemilik restoran sukses sudah pasti pintar masak.


"Mbak, kapan-kapan ajarin masak ya, saya pengen pinter masak seperti Mbak Rani.


"Mbak Neng bisa saja, ya sudah, cepetan gih, di ajak masuk calon suaminya, sudah cengar cengir menahan sakit sepertinya" goda Rani.


"Bukan ca- " Eneng baru mau berucap tapi Daniel sudah berdiri di samping Rani.


"Ayo yank" ajak Daniel yang baru keluar dari ruang administrasi.


"Sudah Mas?" tanya Rani.


"Sudah" sahut Daniel kemudian mendekati Bambang.


"Kamu sakit Bi? wajahmu pucat"


"Iya Bang, agak meriang ini badan"


"Mbak Eneng kenalin ini suami aku" ucap Rani sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


"Oh iya Mbak Rani, saya juga lihat suami Mbak di televisi"


"Ya sudah, cepat masuk sana, semoga cepet sembuh ya Bi..." Daniel menepuk pundak Bambang.


"Terimakasih Bang Daniel...saya masuk dulu ya..."


"Mbak Rani..saya masuk dulu, senang berkenalan dengan Mbak" ucap Eneng tersenyum.


"Saya juga senang, bisa berkenalan dengan Mbak Eneng" sahut Rani.


"Nggak usah pakai Mbak, Neng saja panggilnya, Mbak Rani"


"Siiip..." Rani mengacungkan jempol nya. Kemudian menuju tempat parkir.


Bambang dan Eneng masuk kedalam.


Eneng kemudian ambil nomor antrian berobat, lalu menunggu di panggil.


"Apa maksud Tuan, bilang sama Mbak Rani, kalau saya calon istri?!

__ADS_1


"Ya, kan memang calon istri?" sahut Bambang enteng.


"Huh! nggak jelas!" Eneng mlengos kesal.


__ADS_2