ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 96


__ADS_3

Jam satu siang setelah shalat dzuhur. Bambang bersandar di kursi kebesarannya seraya mengayun tubuhnya sendiri. Setelah bekerja dari pagi rasanya ingin sekedar melepas lelah.


"Mau pesan makanan apo boss" tanya Topan basa basi, Topan perutnya sudah keroncongan dari tadi. Tetapi, boss belum mengajaknya makan siang.


"Kita makan di luar saja, cari pecel bebek" sahut Bambang. Bambang memang bukan orang yang pilih-pilih tempat untuk makan. Yang penting bersih, mau di pinggir jalan juga tidak masalah.


"Baik boss, mari" Topan berjalan terlebih dulu memanaskan mobil. Kemudian Bambang menyusul.


"Tempatnya di mana boss?" tanya Topan setelah di dalam mobil.


"Di ujung jalan dekat perkampungan itu ada pecel bebek 24 jam" sahut Bambang.


Topan menjalankan mobilnya hanya 10 menit sampai di lesehan.


Mereka turun dari mobil, kemudian memesan pecel bebek dan air jeruk hangat.


"Silahkan Mas" kata pelayan meletakkan 2 porsi pecel bebek + nasi sambal dan lalap.


"Terimakasih" ujar Topan. Bambang menikmati hidangan dengan lahap. Karena perut nya memang sudah lapar. Sesuap demi sesuap akhirnya habis. Mereka tinggal menikmati minuman jeruk hangat.


"Bayar sekarang! atau anak loe sebagai gantinya!" terdengar suara laki-laki menggelegar di belakang lesehan.


"Tolong saya juragan, hiks hiks, beri saya waktu seminggu, saya akan mencoba mencari pinjaman lain" tutur seorang wanita.


"Brak! brak! brak" suara gebrakan entah apa yang di gebrak. Karena suara itu pas di belakang tenda lesehan, suaranya memekakkan telinga Bambang.


"Suruh keluar anakmu!" sarkas Bapak-bapak itu.


"Ampun Tuan, toloonng....toloooong...jerit seorang Ibu. Karena tidak tahan Bambang pun keluar, sebenarnya tidak mau ikut campur. Tetapi, ini sudah mengarah ke penganiaan.


Bambang melihat Bapak bertampang sangar dengan ketiga temannya menarik paksa seorang Ibu. Di rumah kontrakan tiga pintu, posisi kontrakan ibu itu tepat di belakang lesehan.


"Lepaskan saya Tuan, tolong tuan hu huuu...suara tangis seorang Ibu memelas.


"Lepaskan dia!" Bambang berusaha melepaskan tangan pria sangar itu.


"Apa urusan loe, dia punya hutang hanya janji, janji terus!" sarkas Bapak itu.


"Lepas! kata saya! atau saya akan telepon polisi!" ancam Bambang.


"hahaha..terserah loe mau lapor polisi kek! yang penting hutang gue lunas" tukas Bapak sangar itu.


"Berapa hutangnya?" tanya Bambang.


"Ahahaha..kenapa tanya berapa hutangnya! mau bayar loe?! tanya Bapak tadi menunjuk wajah Bambang.


"Saya tanya! berapa hutangnya?! Bambang pun akhirnya membentak.


"50 juta!" sahut Bapak sambil melipat kedua tangannya di bawah dada tersenyum meremahkan.


"Topan, sini kamu" Bambang memanggil Topan yang diam menyaksikan pertengkaran itu. Kemudian Bambang membisikan sesuatu.

__ADS_1


"Baik boss" sahut Topan kemudian pergi meninggalkan keributan.


"Mana? katanya loe mau bayar?! tanya Bapak itu menjentikkan kedua jarinya.


Tidak lama Topan pun kembali dan menyerahkan sesuatu kepada Bambang.


"Ini, cek seperti yang anda minta, tapi, jika anda mengganggu ibu ini sekali lagi! tidak segan-segan saya akan melaporkan anda ke polisi" ancam Bambang.


"Tenang boss...tenang, hutang sudah lunas, saya tidak akan kemari lagi" Bapak itu menepuk pundak Bambang kemudian melangkah pergi.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya Bambang lembut. Menatap seorang Ibu yang kira-kira seumuran dengan Ibu Widi.


"Saya tidak apa-apa Tuan"


"Terimakasih Tuan, kalau tidak ada Tuan entah apa yang akan terjadi"


"Saya akan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan akan mencicilnya Tuan" tuturnya.


"Sudah Bu, tidak usah di pikirkan, saya permisi Bu" Bambang hendak melangkah. "Tuan tolong berikan alamatnya, saya akan mencicilnya"


"Ini kartu nama saya Bu, kalau Ibu mau silaturahmi silahkan, tapi masalah uang tadi, jangan di pikirkan."


Di depan kontrakan ada rumah yang lebih besar. Seorang Ibu setengah baya, sedang mengintai di balik jendela. Ia pemilik kontrakan tersebut. Setelah Bambang ingin pergi dia lari keluar.


"Mas...tunggu"


"Ada Bu?


"Berapa totalnya Bu?" potong Bambang. Bambang sudah tahu arah pembicaraan itu.


"2500 kalau termasuk bulan ini ya 3 juta" sahut Pemilik kontrakan enteng. Bambang kemudian ambil uang tunai dari dalam dompet dan membayar 5000,000. untuk 5 bulan ke depan.


"Tuan jangan, biar nanti saya bayar sendiri" kata Ibu pemilik hutang itu merasa malu dan tidak enak.


"Sudah Bu, tidak apa-apa, saya permisi" Bambang pun pergi meninggalkan tempat itu, menuju mobil berama Topan. Kemudian kembali ke showroom.


*****


Dirumah Ibu Widi seorang gadis. Mengerjakan tugasnya dengan rapi dan cekatan.


"Neng, istirahat dulu, ayo makan bareng" panggil Bi Ipah dari dari dapur. Mereka hanya berdua Ibu Widi tadi pergi entah kemana.


"Iya Bi" sahut gadis itu mendekati Bibi. "Duduk di sini saja neng biar adem" kata Bi Ipah, duduk di lantai.


Mereka pun makan bersama.


"Pemilik rumah ini baik ya Bi" kata si eneng.


"Betul neng, nyonya Widi anaknya ada dua, baik-baik semua"


"Nggak membeda bedakan setatus, malah Bibi suka di ajak makan bareng di meja makan, tapi Bibi nggak mau lah, malu" tutur Bi Ipah.

__ADS_1


Si eneng hanya manggut-manggut.


"Kamu umurnya berapa neng?" tanya Bibi. Sambil mengunyah makanan.


"25 Bi"


"Waah...kalau di kampung Bibi, umur 25 tahun sudah punya anak dua neng"


"Si eneng belum kepingin menikah gitu?"


"Boro-boro mikirin nikah Bi" keluh eneng.


"Kenapa memang, kamu kan cantik neng?"


"Beginilah Bi, nasib orang susah, dulu Waktu Babe masih hidup, keluarga saya, serba berkecukupan.


"Tetapi, setelah Babe meninggal, semua menjadi kacau Bi" tutur eneng sedih.


"Maaf neng, bukan maksud Bibi mau ingetin Babe eneng, Bibi nggak tau kalau Babe eneng sudah mendahului kita" ujar Bibi menyesal.


"Nggak apa-apa kok Bi" ucap eneng.


"Sudah kenyang Bi, saya mau menggosok pakaian"


"Oh iya neng, Bibi juga mau mencuci piring."


Bibi dan eneng pun kembali bekerja. Eneng menggosok pakaian sampai sore, karena hari pertama jadi agak banyak.


Setelah pekerjaan sudah rapi, si eneng pun mandi. Mengganti baju dan membantu bibi di dapur.


Bambang, Dira, Bu Widi pulang bersama. Kemudian membersihkan badan di kamar mandi masing-masing.


Tibalah saatnya makan malam bersama. Dira dan Wibi sudah menunggu di meja makan.


"Bi bagaimana kerjanya si eneng" tanya Bu Widi berbisik sebab tadi sudah pesan kepada Bibi agar memperhatikan si eneng. Sebab baru pertama kali kerja.


"Bagus nyonya, ranjin, baik dan rapi pula" Bibi memuji.


"Syukurlah.." "Ya sudah, saya kemeja makan dulu Bi"


"Ya nyonya"


"Apa lagi yang mau di bawa ke meja makan Bi?" tanya eneng, setelah keluar dari kamar, sudah mandi terlihat segar.


"Oh ini bawa minuman saja"


Eneng membawa minuman ke meja makan belum sampai di meja melihat pria yang ia kenal. Tangan eneng tiba-tiba gemetar.


Traaaang...gelas dalam genggaman eneng pun jatuh, hancur berkeping-keping. Sontak Bambang, Dira dan Bu Widi. Menoleh cepat.


****

__ADS_1


"Siapa hayo...cewek itu pasti sudah ketebak, di part sebelumnya sudah di sebut.


__ADS_2