
Kehebohan di rumah Rani setelah kehadiran Bapak, Syntia, dan Mas Dino. Mereka saling tukar cerita menceritakan hal yang kadang lucu membuat mereka tergelak tawa.
"Assalamualaikum..." Tepat jam 8 malam teman-teman yang bekerja di rentoran Rani semua sudah pulang.
"Waalaikumsalam..." Jawab Syntia sedang duduk di sofa paling pinggir sontak berdiri menemui sahabatnya. Ternyata Weny, Nena dan kedua temanya di antar Bambang. Syntia berlari menubruk kedua sahabatnya.
"Weny..." "Nena..." mereka berpelukan cipika cipiki melepas kangen.
"Syntia..." "Akhirnya kita ketemu juga." Ucap Nena. Nena, Syntia, Rani. Memang paling akrab di banding dengan Weny.
Setelah bertemu sahabatnya. Nena dkk menyalami Bapak, Mas Dino, dan Daniel. Di ikuti Bambang.
Daniel menatap Bambang dengan ekspresi wajah kesal.
"Kamu siapa?" Tanya Bapak kepada Bambang.
"Saya sopir taksi Pak, nama saya Bambang, asli Semarang." Tutur Bambang seraya mengangguk sopan.
"Oh, dari Semarang le, pantas, suaramu logat jawanya kental" Ucap Bapak.
"Injih Pak" Bambang mundur lalu duduk di bawah.
"Mas duduk di atas saja, jangan di bawah" Syntia menunjuk kursi dengan jempolnya sambil mengangguk.
"Ndak apa-apa Mbak e, di bawah saja supaya adem" Sahut Bambang menghindari tatapan Daniel yang tidak bersahabat dengannya merasa ciut nyalinya.
*Terus saja berpura-pura polos, loe boleh membohongi semua orang. Tetapi tidak! dengan gue, awas! akan gue bongkar siapa loe. Kata Daniel dalam hati.
Daniel bukan orang jahat, tetapi sebagai laki-laki siapa yang tidak marah jika Istrinya ada yang mencintai selain dirinya. Tidak Daniel pungkiri Bambang orang baik. Tetapi mencintai istri orang apakah bisa di bilang baik? oh tidak. Begitulah Daniel berperang melawan batinya sendiri.
Semua wanita kebelakang membuat minuman, kecuali Rani posisinya masih duduk di samping Daniel. Daniel tangannya melingkar di pundak Istrinya.
Bambang menatap pasangan romantis di hadapannya membuat hatinya bagai teriris. Sekuat apapun Bambang berusaha untuk muv on mendekati Weny secara lahir. Tetapi batinya tidak bisa ia tampik.
Sementara di dapur.
"Weny, kamu bawa apa?" Tanya Syntia seraya mengaduk teh untuk Bambang.
"Biasa Syn, setiap malam kami membawa makanan dari restoran, kata boss kalau malam nggak boleh masak, capek katanya" Sahut Weny. Weny menyusun makanan dalam wadah untuk makan malam bersama.
"Kok banyak banget makanannya, apa saja memang" Syntia mengamati menu makan malam.
"Sini Weny, aku yang menyiapkan makan bersama Syntia, lebih baik kamu mandi gih" Kata Nena sudah selesai mandi terlihat segar.
Weny ambil handuk akan segera ke kamar mandi. Tetapi tangannya di tahan Nena.
"Tunggu! tehnya ayank kamu keluarin dulu" Goda Nena nyengir.
"Ah kamu ini Nen" sahut Weny seraya ambil teh dari meja dapur dan membawanya ke depan.
"Ayang" Syntia menatap Nena minta penjelasan.
"Jadi gini Syin, Weny tuh suka sama Bambang."
"Oh" Syntia hanya ber oh ria.
__ADS_1
"Waah, banyak banget menunya Nen" Syntia terbelalak melihat menu yang di siapkan. Kali ini Rani memesan Weny untuk membawa masakan kas Yogyakarta. Gudeg komplit, Opor ayam, sambal goreng krecek telur bulat, dan tempe tahu bacem.
"Memang restoran tutup jam berapa Nen?" Tanya Syntia pasalnya masakan yang Weny bawa masih hangat.
"Sekarang 24 jam Syn, ada tiga sift, awalnya hanya satu sift, karena banyak yang tidak kebagian jadi di bikin 3 sift. Tetapi kalau malam setiap tamu yang datang di periksa dengan ketat, khawatir ada yang membawa obat terlarang, minuman beralkohol dan senjata tajam." Tutur Nena.
"Aneh ya Nen, tengah malam memang ada yang makan gitu?"
"Terus kalau malam gini karyawannya tidak takut apa?"
"Di sini mah jangan tanya Syn, restoran yang sudah terkenal seperti milik Rani, pembelinya nonstop." Tutur Nena. "Lagian kalau malam, Rani mempekerjakan karyawan kusus pria." Sambung Nena.
"Apa yang perlu di bantu Mbak?" Mira dan Rini sudah selesai mandi. Mereka berniat membantu Nena.
"Siapkan karpet ya, terus di gelar" Titah Nena. Mira dan Rini lalu menggelar karpet.
Sementara di ruang tamu mereka masih asyik ngobrol.
Selama ngobrol Daniel tidak henti-hentinya memperhatikan interaksi antara Bambang dengan Istrinya. Tak lama kemudian ada tamu datang.
"Assalamualaikum..." Semua menoleh ke arah suara.
"Waalaikumsalam..."
Bambang terhenyak melihat siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Topan asisten pribadinya. Mendengar dari Weny bahwa Pak Siswo dan Mas Dino datang. Pulang kerja Topan langsung berangkat menuju rumah Rani.
Sesaat Bambang dan Topan saling pandang. Tetapi Topan tahu bahwa boss nya merahasiakan jati dirinya. Topan segera sadar dan pura-pura tidak saling mengenal.
Daniel menatap Topan tidak berkedip dan bertanya dalam hati.
"Topan, kamu apa kabar, baru berapa bulan di sini tambah putih saja." Sapa Rani kepada sahabatnya.
"Alhamdulilah Ran, aku baik, kamu bisa saja" Topan menyalami Bapak, Daniel dan semua orang yang berada di situ.
"Kamu kerja di mana le?" Tanya Bapak kepada Topan.
"Di showroom mobil Pak, Bapak apa kabar?" Topan kemudian duduk di samping Bapak.
"Baik le, Ayahmu juga titip pesan kalau di rumah pada sehat." Tutur Bapak.
"Topan hebat loh Pak, dia bekerja langsung mendapat posisi yang bagus, dapat kepercayaan boss lagi." Tutur Rani kepada Bapak. Bambang hanya diam menyimak sambil memutar teh hangat dalam gelas dan sesekali menyeruputnya.
Bapak mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Daniel mendengar perbincangan mereka menjadi tahu siapa Topan. Sebenarnya Daniel pernah bertemu waktu menikah dengan Rani Topan hadir dalam acara tersebut. Tetapi Daniel mungkin lupa, sedangkan Topan masih segar dalam ingatan ketika itu Daniel sedang cemburu dengan Reno dan suasananya menjadi tegang.
"Pak Daniel apa kabar?" Topan mengangguk tersenyum.
"Baik, kamu bekerja di Showroom?" Tanya Daniel.
"Iya Pak" Jawab Topan singkat, lalu menatap Bambang.
"Kamu kerja di Showroom mana?" Daniel mengulangi pertanyaannya.
"Di jalan xxx Pak" Sahut Topan.
__ADS_1
"Oh, mendiang pemiliknya dulu sahabat Papa saya, tetapi saya dengar sekarang di kelola anaknya" "Tolong sampaikan salam saya ya, dulu terakhir bertemu ketika dia masih SD." "Dekil gitu baru datang dari kampung." Tutur Daniel tersenyum samar mengingat Wibi masih kecil.
Topan dan Bambang saling pandang. Sebenarnya Topan ingin tertawa mendengar penuturan Daniel katanya dulu bossnya dekil ingin tertawa tetapi di tahan.
Obrolan Daniel dengan Topan semakin menghangat karena Topan nyambung untuk di ajak bicara.
Rani kemudian berdiri hendak ke dapur.
"Mau kemana yank" Daniel memegangi tangan Rani.
"Mau menyiapkan makan dulu ya, sebentar" Rani bergegas kedapur.
Setiap Daniel memanggil Rani dengan kata yank, Bambang hatinya seperti tersayat sembilu. Tetapi memang begitulah yang harus Daniel lakukan. Rani bahagia Bambang pun turut merasakan.
Bambang sudah berulang kali ingin menepis rasa dalam hatinya agar Rani segera hilang dari ingatannya. Tetapi lagi-lagi Bambang gagal.
Mencintai orang dalam diam dosakah? tentu tidak. Hanya mencintai istri orang itulah yang membuatnya menumpuk dosa, walaupun tidak menyentuh sama sekali.
Sebenarnya Ibu Widi terus mendesak agar Bambang segera menikahi Weny. Tetapi bagi Bambang memutuskan menikah adalah langkah besar di dalam hidupnya tidak ingin grusa grusu.
Menikah merupakan komitmen seumur hidup yang harus di jalani. Semua orang tentu ingin menikah dan ingin bahagia dengan pasangannya. Hanya sekali dan langgeng hingga maut menjemput.
Bambang merenung pikiranya mengembara hingga tidak sadar jika ada yang memanggilnya.
"Mas...Mas Bambang..." Weny yang memanggilnya. Berdiri di depannya mengamati pria yang telah singgah di hatinya kini sedang melamun. Padahal di sekitarnya telah sepi semua pindah keruang makan Bambang tidak menyadarinya.
"Eh, iy, anu, iya" Bambang tergagap menggaruk tengkuknya.
"Ayo...di suruh makan dulu sama Mbak Rani"
"Silahkan saja, saya sudah habis makan" Bambang beralasan padahal belum makan. Tetapi Bambang tidak nyaman jika berhadapan dengan Daniel.
Weny tidak menimpali kemudian ke ruang makan. Di ruang makan sangat ramai semua sudah berkumpul.
"Mana Bambang?" Tanya Rani. Menengok Weny.
"Nggak mau, sudah makan katanya" sahut Weny.
"Ya sudah, malu kali nduk, kamu ambilkan saja dan temani makan" Titah Bapak kepada Weny. Weny ambil nasi dua piring kemudian membawanya ke depan.
Keseruan makan malam telah selesai. Bambang pamit pulang.
"Mas Daniel...Mbak Rani saya pamit ya, maaf sudah merepotkan" Ucap Bambang.
"Tidak apa-apa Bang, saya malah senang kok, jangan lupa lusa hadir ke restoran, saya akan mengadakan syukuran kecil-kecilan.
"Insyaallah saya usahakan Mbak Rani. "Sudah pulang sana jangan sering-sering kemari" Daniel bergumam. Tetapi terdengar oleh Rani.
"Mas...nggak beleh begitu!" Tukas Rani menatap tajam.
Daniel menghela nafas tidak menimpali.
"Aku juga pamit Ran, sudah malam" Kata Topan. Setelah pamit dengan Bapak dan yang lainnya. Topan menyusul Rani kedepan yang sedang mengantar Bambang.
"Hati-hati ya Pan, jangan lupa lusa datang ke seni"
__ADS_1
"Okay..." Topan berlari menyusul Bambang. Tidak ada yang tahu jika Bambang menunggu Topan di pinggir jalan.