
"Sudah! mendingan kamu tidur. Banyak istirahat, jangan lebay! nanti kalau di pelaminan biar tampil beda" saran Daniel.
"Iya, Bang."
"Tumben. Abang kesini sendirian,
Rani memang kemana?" tanya Bambang. "Biasanya dirumah aja nempel terus, kaya lem sama perangko." cerocos Bambang heran, tidak biasanya Daniel kekamarnya hanya sendirian. Daniel memang biasa nggak mau lepas sama Rani selalu manja.
"Lagi ngobrol sama Nena, obrolan perempuan nggak nyambung ah! mendingan kesini." pungkas Daniel. Daniel ikut merebahkan tubuhnya di kasur Bambang. Mereka bercerita tentang pernikahan.
*****
Malam akad nikah. Dirumah Ibu Widi, keluarga dari semarang sedang riuh berkumpul membuat parsel serahan.
Alat Ibadah mukena, sajadah, tasbih kitap suci AlQUR'AN.
Perlekapan kosmetik. Skin care Wajah.
Tas branded, sepatu mahal, pakaian dan juga paket perhiasan emas.
*****
Semetara Rani membuat parsel kue untuk serahan adat betawi. Roti buaya, dodol, wajik, uli dan masih banyak lagi kas daerah betawi. Di bantu Nena.
"Oh kalau adat betawi begini ya Ran? berarti kamu dulu juga begini?" tanya Nena sambil menyusun kue-kue.
"Ya, tapi nggak adat betawi juga sih? lebih cenderung umum, Mama Nadyn biar lahir di Jakarta tapikan Ibunya orang Bandung. Sedangkan Ayahnya orang Jakarta" tutur Rani.
"Tapi kok Icha manggilnya Uti, seperti orang Jawa"
"Menurut cerita, Ayah Papa Nano berasal dari keturunan, terus Ibunya Orang Jawa" terang Rani.
Nena manggut-manggut mendengarnya.
"Kamu sendiri bagaiman Nen? katanya Mas Reno sudah mau melamar kamu? Kok kamu nggak cerita sama aku?" tanya Rani.
"Gagal Ran, Ibu Rika masuk rumah sakit waktu Mas Reno ingin minta restu" sahut Nena dengan raut menyerah.
"Yah, yang sabar ya Nen, kalau jodoh nggak kemana kok" hibur Rani.
"Nen, ngomong-ngomong persiapan catering besok bagaiman?" tanya Rani mengganti topik pembicaraan.
"Siap Ran, pekerja yang bagian shift malam siap semua, kusus bagian koki lembur juga" sahut Nena.
Obrolan ngalor ngidul pun berakhir, sebab waktu sudah malam.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya MUA sudah datang ingin merias pengantin wanita.
"Selamat pagi Mbak" sapa perias berwajah cantik kusus untuk pengantin dan dayang-dayang. Sedangkan perias laki-laki tapi kemayu untuk umum.
Perias pun mulai membuka peralatan. "Tubuhmu wangi sekali habis luluran ya..." tanya perias.
"Iya" jawab Lidia singkat. Hari ini Lidia lebih banyak diam rasanya campur aduk. Seperti biasa yang di alami para calon mempelai, jika waktu akad nikah akan di laksanakan. Lidia merasa gugup, deg degan dan entah apa lagi.
MUA mulai memoles, wajah Lidia pun di sulap menjadi sangat cantik. Tidak hanya cantik, make up hijaber. Gaya muke up berkiblat pada gaya korea yang sedang menjadi trend remaja masa kini dengan bibir gradasi dan hasil yang memukau.
"Waah... kamu cantik sekali Mbak Lidia" puji Rani. Padahal dirinya juga tidak kalah cantik dengan pengantinya.
"Bisa saja, kamu juga luar biasa cantik kok Ran." sahut Lidia.
"Umi, Icha cantik nggak?" tanya Icha karena Icha pun turut di muke up.
"Untuk putri Umi yang satu ini... jangan di tanya, sudah pasti cantik dong" puji Rani menatap lekat ke wajah Icha.
"Ini anaknya Mbak Rani?" tanya sepupu Lidia, Juriah namanya ia juga dipoles yang akan mendampingi Lidia bersama Nena.
"Betul" jawab Rani singkat.
"Berarti Mbak Rani nikahnya masih terlalu muda, anaknya sudah besar soalnya?" Juriah semakin keppo. Lidia kemudian memberi isyarat kepada sepupunya agar diam.
"Sudah siap belum? penghulu sudah menunggu" Tante Rumi menyusul ke lantai atas.
"Sudah Tante" sahut perias. Lidia berjalan pelan di dampingi dua dayang sementara Nena dan Juriah membantu mengangkat gaun panjangnya dari belakang. Rani bersama Icha sudah kebawah lebih dulu bergabung dengan Daniel.
******
Jam sembilan pagi acara akad nikah akan segera dimulai. Yang di pandu oleh MC.
Lantunan kitap suci AlQUR'AN yang di bawakan oleh Topan. Di lanjutkan dengan sambutan, dari pihak Laki-laki di wakili oleh Daniel, kemudian pihak laki-laki memberikan serahan.
Sambutan dari pihak perempuan Encang Rohim yang mewakili. Di lanjutkan ceramah oleh penghulu.
Kemudian akad nikah pun di laksanakan.
Bambang sudah duduk di kursi dan berdampingan dengan Lidia berhadapan dengan penghulu dan Encang Rohim yang akan menjadi wali nikah.
Bambang dengan jas silver yang melekat di tubuhnya tampak gagah dan keren. Bambang belum memperhatikan calon istrinya yang gelisah di sampingnya. Jika mengetahui calon istrinya seperti putri kahyangan, mungkin Bambang tidak sabar menunggu malam.🤣🤣🤣
******
__ADS_1
"Bambang Wibisono, saya nikahkan dan kawinkan engaku dengan Lidia wati binti Sabeni, dengan satu set perhiasan 1kg emas. Di bayar tunai."
.
.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lidia Wati binti Sabeni, dengan mas kawin tersebut, tunai. ( kalau salah betulkan sendiri budhe sudah lupa soalnya) 🤣🤣.
"Sah,"
"Sah"
"Sah."
Lidia kini sudah sah menjadi istri Bambang. Penyerahan mahar secara simbolis. Kedua mempelai menyelipkan cincin ke jari dua belah pihak kemudian penandatanganan surat nikah oleh kedua mempelai.
Usai upacara pernikahan di tutup dengan acara sungkeman. Sungkeman menjadi momen sakral dalam pernikahan adat Jawa. Menjunjung tinggi hubungan orang tua terhadap anak.
Selama sungkeman Lidia tidak henti-hentinya menangis ingat ketika Babe Sabeni masih ada. Suasana menjadi mengharu biru. Para tamu undangan pun larut dalam tangis.
Nyak Fatimah dan Ibu Widi, yang duduk di atas dengan posisi lebih tinggi kedua mempelai berjongkok bertumpu pada lutut di lantai. Suara musik mengalun lembut dengan suara MC yang melankolis. Mengundang drama penuh tangis.
Selesai acara sungkeman Lidia bersama MUA di bawa kekamar membetulkan riasan yang sudah nyaris hilang karena drama tangis tadi.
Acara demi acara telah selesai pengantin kemudian di boyong ketempat resepsi. Yakni ke hutan yang sudah di persiapan.
Mobil pengantin berjalan paling depan Panji yang menyetir. Di ikuti puluhan mobil dari dua keluarga maupun kerabat dekat.
Di dalam mobil Bambang melingkar kan tangan kirinya ke pinggang Lidia. Lidia bergeming keringat dingin meluncur. Merinding bulu-bulu di sekujur tubuhnya.
"Lid" Bambang mengencangkan tanganya.
"Apa?" suara Lidia lirih tidak berani menatap Bambang.
"Kok kamu keringetan? kita ini sekarang sudah menjadi suami istri loh" ucap Bambang kemudian memutar tubuhnya menghadap Lidia. Lalu tanganya menarik dua pundak Lidia agar menghadapnya. Mereka pun berhadapan.
Cup. Bambang mengecup kening Lidia. Lidia semakin berkeringat tetap menunduk. Bambang kemudian menarik dagu Lidia agar mendongak menatap wajahnya.
Mata mereka pun bertemu saling pandang. Bambang menarik pelan tengkuk Lidia kemudian melahap bibir istrinya yang masih penuh muke up. Lidia pun memejamkan mata, hanyut dalam gelora asmara. Membiarkan laki-laki yang di cintainya sejak kelas satu SMA itu menikmati bibirnya.
Tin tiin..."
Suara klakson membuyarkan konsentrasi mereka. Lidia reflek mendorong tubuh Bambang hingga terjengkang. Itulah pekerjaan Panji mengerjai pengantin yang lupa bahwa didepan ada orang selain dirinya.
"We...lha! sampean ki dasar kampret elek! nggak tahu ya, ada jomblo. Ck, mbok ya kalau yang, yangan tuh, lihat sikon" omel Panji.
__ADS_1
"Lha wong nunggu nanti malam saja kok ndak sabar!" sambung Panji kesal.