ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 55


__ADS_3

Angin senja sepoi-sepoi masuk melalui jendela, membelai lembut kedua insan yang telah di mabuk asmara. Bergelung dalam kasih yang membara, melepas dahaga yang telah sekian bulan tertahan.


Langit berwarna oranye seolah menjadi saksi bisu.


Kedua insan yang telah mengarungi samudera cinta, mendaki gunung, menjelajah bukit, menuju puncak surga dunia. (Sok puitis 🤣)


Senja datang lalu sesaat menghilang mengantar keremangan malam.


Rani turun dari ranjang bergegas masuk kekamar mandi.


Daniel menggeliat tanganya meraba di sebelahnya mencari istrinya tetapi tidak ada. Mendengar gemericik air di kamar mandi Daniel terbangun menyusul. Rasanya tidak ingin di tinggal walau hanya sejengkal. Mungkin ini yang di bilang puber kedua untuk pria seusia Daniel.


"Yank, buka kamar mandinya" suara Daniel dari luar kamar mandi. Rani samar-samar mendengar. Karena kran sedang menyala Rani tidak menghiraukan.


"Tok tok tok, yank buruan, waktu magrib sedikit lagi habis" Ucap Daniel.


"Nggak! entar gantian" Sahut Rani mengencangkan suaranya.


"Yank cepet! maghrib nya telat nih."


"Ceklek! Rani keluar dari kamar mandi. "Ihh kebiasaan! teriak-teriak, kan ada kamar mandi satu lagi" Kata Rani melawati Daniel.


"Oh iya, ya, nggak kepikiran" Daniel garuk-garuk kepala.


"Salah sendiri, maghrib-maghrib clutak! keburu-buru kan jadinya" Rani mlengos lalu menuju lemari.


"Habisnya nggak tahan, lihat tubuh mulus" hehehe..." "Lagian, kamu menikmati juga kan sampai merem-merem." Daniel belum beranjak dari depan kamar mandi senang menggoda Rani.


"Mas Daniel! cepetaaaan!!" Bentak Rani sudah tahu telat shalat malah ngeres.


"Ahahaha...." Daniel tertawa lalu masuk kekamar mandi.


Rani geleng-geleng melihat kelakuan suaminya. Rani menyiapkan kaos santai dan celana pendek untuk suaminya. Kemudian shalat, tidak menunggu Daniel karena sebentar lagi waktu isya datang.


Setelah selesai, Rani menumpuk ketiga bantalnya kemudian bersandar di ranjang sambil memainkan handphone.


"Yank" sapa Daniel ketika baru keluar dari kamar mandi. Mandi cepat kilat tidak ada waktu untuk bersantai gosok-gosok badan.


"Apa lagi! cepetan, baju ganti sudah siap tuh" Sahut Rani geregetan.


"Kok kamu selalu menyiapkan baju, kapan belinya?" Tanya Daniel nggak nyangka Rani banyak stok baju untuknya.


"Yah, beli saja, siapa tahu kepakai, walaupun aku jauh dari Mas, hati aku terasa dekat" Sahut Rani tidak sadar membuat Daniel ge er.


"Lihatlah di lemari" Ujar Rani seraya menunjuk salah satu lemari yang terpisah.


Daniel membuka lemari sudah disusun baju santai, baju olah raga, kaos-kaos, bahkan pakaian dalam. Lalu Daniel membuka pintu lemari sebelahnya banyak kemeja yang di gantung rapi, bau wangi parfum laundry.


Daniel menitikkan air mata. Betapa merasa bersalahnya dia, ingat ketika masih satu rumah dengan Rani, tidak pernah sekalipun membelikan baju untuk Istrinya.


"Astagfirlullah Maaaass, shalat dulu! malah bengong!" Tukas Rani.

__ADS_1


"Iya, iya, nasip-nasip, punya istri galak" kata Daniel sambil memakai kaos. Padahal Daniel hanya ingin menghilangkan ke kegundahan hatinya.


"Bluk!" Satu bantal melayang. "Haiit...nggak kena" Daniel berkelit, ambil sarung yang sudah di siapkan Rani, kemudian shalat.


Selesai shalat Daniel merangkak naik ketempat tidur ikut bersandar di sebelah Istrinya.


"Yank"


"Heeemmm..." Rani hanya dehem.


"Terimakasih ya" Ucap Daniel menatap langit-langit.


Rani menoleh cepat. "Terimakasih untuk apa?"


"Semuanya yank, walaupun Mas sudah menyia-nyiakan kamu, kamu masih perhatian sama aku, ternyata kamu malaikat pelindung yang di kirimkan Allah untuk aku dan Icha." Daniel berkaca-kaca.


"Sudah, nggak usah mendramatisir, menjadi suami tuh jangan cengeng, yang tegar yang kuat" Pungkas Rani.


Akhirnya mereka terdiam, Daniel sibuk dengan lamunanya. Sementara Rani melanjutkan membaca novel.


"Lihat apa yank, dari tadi mantengin ponsel terus" Daniel melongok ponsel Rani.


"Lagi baca novel, ceritanya seru nih, mau baca dari kemarin nggak sempet terus" Tutur Rani tanpa melihat suaminya.


"Novel di baca, membaca tuh yang ada manfaatnya" Ucap Daniel.


"Heee...jangan salah, kata siapa baca novel nggak bermanfaat, banyak kok novel yang bisa aku jadikan pelajaran" "Malahan, aku ikut WAG salah satu novel yang bisa di jadikan inspirasi, the power of mak-mak"


"Kenapa sih, bapak-bapak tuh, suka posesif kalau istrinya baca novel, ada loh temen kuliah aku, kalau lagi baca novel suka di marahi, terus bacanya tengah malam, kalau suaminya bangun pura-pura tidur" hehehe. ( Ada yang suka begini nggak ya mak-mak?) 🤣🤣🤣.


"Ngapain sih nglihatin terus?" Tanya Rani berpaling, malu di lihatin terus.


"Yank, kamu tuh banyak banget perubahannya, makin cantik, terus banyak banget peratatan make up"


"Service nya juga sekarang luar biasa" Kata Daniel tersenyum membayangkan pergulatan tadi. Rani tampak luar biasa. Mungkin karena masing-masing menahan hasrat.


"Iihh..nyebelin" Rani nyubit perut Daniel.


"Ahahaha...jadi pengen lagi yank"


"Aku tuh merasa seperti pengantin baru"


Rani melototin Daniel kesal. "Bisa diam nggak"


"Iya, aku diam sekarang"


"Aku lapar yank" Daniel mengelus perutnya, sebab sudah hampir jam delapan.


"Oh iya, sampai lupa, Mas sih ngobrol terus" "Aku pesan anak buahku ya, aku mau pesan makanan yang spesial buat Mas" Ucap Rani menarik jenggot Daniel yang tidak terawat.


"Eh mulai nglunjak kamu ya" Kata Daniel padahal senang jenggotnya di pegang.

__ADS_1


"Maaf ya Mas, aku nggak jadi menyiapkan makan malam dech, gara-gara Mas Daniel juga sih, minta jatah nggak tepat waktu!" Rani bersungut sungut.


"Berarti sekaran boleh lagi ya, kalau tadi nggak tepat waktu, sekarang ini waktu yang tepat" Daniel mulai beraksi. Daniel membelai lembut rambut Istri nya, menarik pundaknya pelan, mereka saling tatap dan menyatukan bibirnya.


"Ting tong...ting tong..." Suara bel rumah menyadarkan mereka.


"Mas ada tamu, aku bukain ya"


"Biar aku saja yang buka, siapa sih tamu malam-malam begini" Daniel nggremeng sendiri. Dia lupa bahwa di rumah ini tidak hanya tinggal berdua. "Aku ikut dech Mas"


Daniel menggandeng lengan Rani.


"Ceklek!


"Assalamualaikum...Mbak e, Mas e" Bambang datang memakai kaos sederhana dan celana robek di dengkul untuk menyempurnakan samarannya.


"Waalaikumsalam...masuk bang" Daniel mempersilahkan Bambang masuk. Sedangkan Rani tidak bersuara masih ingat bra pink yang di belikan Bambang membuatnya tidak mempunyai muka.


"Duduk bang" Ucap Daniel.


"Terimakasih Mas e" Bambang duduk menatap Rani sesaat, lalu menunduk menyembunyikan kegugupannya.


Sementara Rani ingin rasanya ngumpet, kalau tidak menghargai tamu undangannya.


"Yank, duduk sini" Daniel menepuk sofa di sebelahnya.


Deg! Dada Bambang sesak mendengar panggilan Daniel kepada wanita yang telah memporak porandakan hatinya.


"Aku buatkan minuman dulu ya Mas"


Rani bergegas ke dapur membuat minuman.


"Ada apa ya, Mas, memanggil saya kesini?" Tanya Bambang setelah kedua pria itu saling diam.


"Saya mau mengucapkan terimakasih, karena kamu sudah menolong Istri saya waktu keguguran"


"Seharusnya saya yang ada di sampingnya waktu itu, bukan kamu, terus terang, saat itu aku sedang sibuk hingga tidak meperhatikan Istri saya" Tutur Daniel merasa bersalah.


"Oh tidak apa-apa Mas, sebagai manusia kita kan harus saling menolong."


"Sudah lama kamu menjadi sopir taksi?" Tanya Daniel. Setelah berbincang-bincang dengan Bambang otak cerdas Daniel langsung bekerja. Bambang seperti bukan sopir taksi pada umumnya. Daniel manggut-manggut memutar otak.


Siapa sebenarnya pria ini, gaya bicaranya seperti di buat-buat, jika memang menyamar. Lalu untuk apa? tidak salah lagi, dia memang mencintai Rani. Monolog Daniel.


Bambang merasa di perhatikan menjadi salah tingkah.


"Ba, baru setahun, mas e, iya setahun" Jawab Bambang gugup.


"Ini minum dulu" Rani membawa nampan berisi 3 gelas teh manis.


Rani duduk di sebelah Daniel. Daniel tangannya melingkar di pundak Istrinya. Daniel ingin tau reaksi Bambang jika memang Bambang ada perasaan dengan Rani.

__ADS_1


Ya Allah kuatkan hati aku, dan hilangkan rasa ini, ya Allah ampuni aku, karena aku sudah Zina mata. Bambang merasa gelisah dan tidak luput dari perhatian Daniel.


.


__ADS_2