ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 82


__ADS_3

Maharani PoV.


Astagfirlullah...mengapa hari ini ujian bertubi-tubi datang. Hamba hanya bisa berpasrah kepadamu ya Allah...." Semoga hamba kuat menghadapi.


Aku kemarin sempat bersumpah serapah dengan laki-laki yang bernama Bambang.


Tetapi... setelah penjelasan tadi, aku pun akhirnya mengerti. Walaupun dia telah lancang menaruh hati padaku. Tetapi....itu manusiawi bukan?


Toh, selama ini dia menghormati aku, tidak berbuat macam-macam. Lalu mengapa aku tidak memberi maaf kepadanya? Karena dengan memanfaatkan, nyatanya membuat perasaanku menjadi lega.


Aku ambil buku agenda di laci, ku goreskan pena di atas kertas merah jambu. Karena ini curhathan aku yang tidak membantah maupun menghakimi. Aku letakkan buku kecil di atas bantal, tangan kiri menopang pipi dan tangan kanan menulis. Karena aku dalam posisi tengkurap.


Tok tok tok


"Masuk..." Aku menoleh ternyata Nena yang masuk, membawa nampan, dan entah apa isinya. Segera aku simpan buku di tempat asal semula.


"Ran, makan dulu ya..." Nena meletakkan nampan di atas meja kecil di kamarku.


"Aku tidak lapar Nen" Memang, aku sama sekali tidak bernafsu untuk makan.


"Rani....makan sedikit ya....kamu dari siang tidak makan loh" Nena membujukku.


"Biar disitu saja Nen...nanti aku makan" "Terimakasih"


"Ya sudah...tapi nanti benar di makan ya...." Aku mengangguk. Nena kemudian duduk di sisi ranjang dimana aku rebahan.


Dertt deerr...Handphone di saku Nena bergetar. Ia merogoh dan melihat layar.


"Mas Dino Ran...ini vidio call" Nena menyodorkan telepon ke arahku. Melihat Mas Dino, di layar aku pun histeris.


"Mas Dino....hu huuu..."


"Eh dek, kok malah nangis sih...ya sudah aku tutup nih, kalau nangis" Ancamnya.


"Mas...aku mau pulang...hu huuu...jemput aku Mas...jemput...hu huuu..." Walaupun aku mencoba mencegah bulir air mata. Namun, tetap saja mengalir.


"Yang sabar dek...yang sabar ya...nih lihat ponakan kamu, dia sudah bisa ngoceh loh" Mas Dino mendekatkan Wahyu dalam gendongan Syntia di depan layar.


"Tante...tante..wahyu pengen di gendong nih.." Ucap Syntia menirukan anak kecil mengibur aku.


"Oau...oau...celoteh Wahyu entah apa maksudnya. Aku menghapus air mata. Wajah tampan wahyu yang tembem membuat aku gemas. Sesaat bisa menghibur aku.

__ADS_1


Aku melihat Bapak, melistas di samping Syntia.


"Ran Bapak nih...ingin bicara" Ucap Syntia. Melihat Bapak di layar. Aku kembali histeris.


"Bapak....hu aaaa...Rani mau mati saja...Rani mau menyusul Ibu...hu huuu....😢😢😢


"Rani...istigfar...sabar nduk...yang sabar sayang...mana anak Bapak yang kuat"


"Bapak...Weny pergi, Weny marah sama aku, hu huuu.."


"Bapak...Rani mau peluk Bapak...hu huuu..."


"Rani...Rani...dengarkan Bapak"


"Saat orang lain menghina kamu, menjauh dari kehidupan kamu, karena kesalahan kamu, tapi... Bapak tidak pernah menjauh dari kamu maupun malu nduk"


"Jadi Bapak menganggap Rani salah...hu huuu..."


"Duh, bukan begitu nduk, kamu anak baik, Bapak sangat percaya sama kamu"


"Suamimu mana nduk...Bapak ingin bicara kepadanya."


"Nduk...sudah...jangan nangis terus Bapak sedih loh, kamu mau Bapak sedih"


"Percayalah nduk, kamu anak baik, dan jika suami kamu memang benar-benar mencintai kamu, pasti akan memaafkan kamu, walaupun kamu salah sekalipun"


"Bapak yakin, suami kamu tidak akan marah, karena sejatinya suami kamu pria yang baik" "Yah..."


"Wajar lah nduk... kalau dia merasa cemburu, karena Bapak mu ini juga laki-laki"


"Bapak percaya kok, sama Nak Bambang, dia anak yang baik, tidak mungkin mau berbuat macam-macem sama kamu"


"Terimakasih Pak...terus bagaimana, reaksi orang-orang kampung, pasti orang-orang membenci Rani kan? Rani malu..."


"Kenapa mesti malu nduk, kalau kamu memang benar, biarkan orang bergunjing, jangan membalas, karena akan mengurangi dosa kamu" Setelah Bapak memberi wejangan hatiku agak lega.


"Sudah nduk, istirahat yang cukup jangan sedih, nanti Bapak ikut sedih"


"Njeh Pak"


"Wes tak tutup yo nduk"

__ADS_1


"njeh Pak"


Bapak pun menyudahi vidio call. Ahh...andai saja aku dekat dengan Bapak, pasti sudah aku peluk tubuhnya yang sudah mulai menua.


"Sudah Ran, Benar kata Bapak, jangan terlalu bersedih, sebaiknya kamu makan dulu ya"


"Nanti kalau sudah lapar, aku makan Nen"


Author


Di balik sifat tegasnya, Pak Siswoyo merupakan pribadi yang hangat, dan penuh kasih sayang terhadap kedua anaknya. Maupun kepada masyarakat di kampung. Maka, tidak heran jika Pak Siswoyo menjadi panutan.


Pak Siswo, memperlakukan anak perempuannya bak seorang putri, ketika remaja dulu. Maka tak heran jika Rani sangat dekat dengan Bapak. Sebagai single parent, Pak Siswo bisa merangkap tugas sebagai Bapak dan sebagai Ibu.


Daniel PoV


Tiga hari sudah, aku di Jawa timur, setelah keluar dari Bandara hingga saat ini, sama sekali tidak ada signal.


Padahal, aku sangat merindukan Istriku. Aahh...ingat Istri, apa kabarmu? andai kamu mau ikut bersamaku sayang...tentu saja aku tidak menderita seperti ini. Aku rindu mulut bawelnya. Rindu masakanya dan Rindu semua yang melekat di tubuhnya. Setiap malam hanya bola dunia yang selalu menemani aku. Ingat bola dunia, biasa di rumah ia selalu ngomel kalau aku selalu teriak -teriak.


Setiap aku membuka handphone hanya kluewer-kluewer seirama dengan pusing nya kepalaku.


Aku sibak gorden hotel, dan melihat kerlap kerlip lampu dari kejauhan tampak indah. Tetapi, mengapa signal sampai hilang, padahal ini kan kota besar?


Sampai Jakarta nanti aku akan mengajak relasi, membahas tentang mendirikan tower.


Dimasa yang serba online seperti sekarang. Dengan lancarnya akses internet akan memudahkan anak-anak sekolah menambah pengetahuan.


Aku tutup kembali gorden dan keluar dari kamar hotel untuk makan malam. Sampai di lobby, aku menemukan masakan kas Jawa timur. Yakni rujak cingur. Melihat rujak cingur, aku menjadi semakin rindu kepada istriku. Karena dia sangat menyukai rujak ini. Lebih baik aku makan ini saja. Walaupun sebenarnya aku tidak menyukai masakan yang bau aneh ini.


Aku duduk menikmati makanan dan minuman. Tampak beberapa orang berbisik menatapku aneh. Ada apa sih mereka? Aahh...tidak peduli, toh aku tidak mengenal mereka. Memang dari kemarin banyak orang yang menatapku aneh. Sampai aku bercermin mungkin ada sesuatu yang membuat penampilan aku aneh. Tetapi tidak ada masalah kok.


"Mas sendirian?" Tanya wanita yang tiba-tiba duduk di depanku.


"Seperti yang anda lihat!" Jawabku dingin.


"Oh, Mas suka rujak cingur juga ya? Sama dong, dengan aku" Kata wanita itu. Aku pun berdiri, berlalu tanpa menghiraukan ocehannya.


"Eh Mas, tunggu! kalau Istri Mas selingkuh, jangan kalah, selingkuh juga dengan aku" Katanya. Ihh...dasar wanita gila pikirku. Aku pun kembali kekamar hotel tidak mengirukan dia.


.

__ADS_1


__ADS_2