ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 81


__ADS_3

Hari merangkak cepat, tidak terasa ternyata sudah sore. Tetapi terasa lama bagi Bambang. Pasalnya dalam satu hari sudah di maki-maki calon istrinya dua kali. Topan meluncurkan mobil Bambang menuju rumah Rani yang hanya beberapa meter dari pos satpam.


"Tok tok tok...Topan mengetuk pintu.


"Eh kamu Pan" Sapa Nena yang membuka pintu.


"Rani ada?" Tanya Bambang seraya membuka masker.


"Ada, masuk dulu" sahut Nena.


Bambang dan Topan masuk kedalam.


"Duduk dulu, saya pañggilkan Rani" Nena hendak melangkah.


"Tunggu Mbak Nena, bagaimana keadaan Rani?" Tanya Bambang khawatir.


Nena pun duduk lesu. "Dia benar-benar terpuruk Mas Bambang, bagaimana tidak? gunjingan kanan kiri tentu membuat jiwanya terguncang, belum lagi dari sahabatnya sendiri" tutur Nena seraya ambil tissue dan menyeka air mantanya.


"Weny, maksudnya Nen?" Tanya Topan menduga-duga. Nena mengangguk.


"Hah! anak itu benar-benar keterlaluan!" sungut Topan.


"Sebentar ya...saya pañggilkan Rani dulu."


Nena pun beranjak ke kamar Rani.


Tok tok tok


"Masuk...tidak di kunci" sahut Rani. Suaranya serak karena terus menerus menangis.


Nena masuk kekamar sahabatnya, begitu saja, karena memang tidak di kunci.


"Ran, ada Bambang sama Topan" ucap Nena pelan.


"Mau apa dia, suruh dia pergi"


"Ran, kalau boleh aku usul, temui dia dulu, kalian ini sama-sama korban, siapa tahu dia punya jalan keluar" Nena memberi saran.


"Tapi dia sudah membohongi aku Nen...hiks hiks.


"Aku tahu Ran, mungkin dia punya alasan lain"


Rani berpikir, ada baiknya menemui Bambang, walaupun saat ini hatinya sedang kesal. Biar bagaimana, dulu Bambang telah menyelamatkan nyawanya.


Rani pun menemui Bambang, sedangkan Nena membuat minuman.


Rani sampai di depan Bambang. Bambang terhenyak, pasalnya Rani netranya bengkak, hampir tidak bisa di kenali, hati Bambang teriris. Bagaimana tidak? Bambang merasa, kekisruhan ini dia yang buat. Melihat tatapan Rani yang menghujam. Bambang menunduk.


"Ran, yang sabar ya..." ucap Topan.


Rani duduk tidak menimpali.

__ADS_1


"Sambil minum teh hangat ya...ngobrolnya" ucap Nena memecah ketegangan.


"Ran, aku...aku, minta maaf, karena aku, kamu menjadi seperti ini." Bambang takut untuk berucap.


"Apa tujuan anda, membohongi kami, kalau saya tau, anda seorang konglomerat saya tidak akan minta di antar jemput kemana-mana" ucap Rani kesal.


"Maaf" satu kata dari Bambang.


"Nyatanya maaf anda, tidak akan mengembalikan sahabat-sahabat saya, yang satu persatu pergi meninggalkan saya kan?!


"Hiks hiks...tangis Rani meledak lagi. Nena mengusap-usap punggung Rani.


Melihat tangisan Rani membuat hati Bambang semakin sedih.


"Aku akan ceritakan semua" Ucap Bambang seraya menunduk memainkan kuku-kuku nya, tidak berani menatap wajah Rani. Seperti anak sekolah yang di sidang Guru BP.


"Ketika itu..." Bambang tarik nafas.


"Ibu ingin aku segera menikah, selalu memilihkan jodoh untukku...." Bambang menatap keatas. "Semua anak teman-teman Ibu di kenalkan, aku menurut, dengan syarat boleh mengenal terlebih dahulu."


"Tetapi, pilihan ibu selalu tidak tepat, mereka rata-rata gadis yang liar, dan hanya mau harta aku, termasuk Sherly." Mendengar Nama Sherly disebut. Rani menatap Bambang. Mereka pun akhirnya saling menatap.


"Sampai akhirnya, aku punya rencana yang tidak masuk akal" Ucap Bambang memijit pelipisnya.


"Aku menyamar sebagai sopir taksi, dengan harapan, mendapatkan gadis yang baik dan sholehah, tanpa melihat harta aku"


"Tetapi, justru, aku...." Bambang kembali menunduk menjeda ucapannya.


"Aku...aku....justeru menyukai kamu Ran"


"Apa?" Tanya Rani netranya melotot.


Sedangkan Nena dan Topan, karena sudah mengetahui, hanya diam mendengarkan.


"Begitulah Rani...aku terjebak dengan permainan aku sendiri."


"Yang harus kamu tahu Ran, berbulan-bulan aku tersiksa karena rasa ini" "Aku menyukai wanita tetapi kenyataannya, wanita itu tidak bisa aku miliki"


"Aku sadar kok Ran, perbuatan aku sudah salah, tetapi, aku juga tidak minta rasa cinta aku hadir" Bukan dengan orang yang sudah mempunyai suami" "Bersusah payah aku untuk bisa melupakan kamu Ran."


"Dan sampai akhirnya Ibu menjodohkan aku dengan sahabatmu" "Jujur sampai saat ini, aku belum ada getaran di hati aku untuk dia"


"Awalnya aku sungguh ingin menikah dengan dia" "Toh, banyak kok orang yang tidak mencintai, namun, dengan berjalannya waktu justeru menjadi pasangan yang saling menyayangi."


"Tetapi kenyataannya....hanya kurang satu bulan kami menikah, dia menunjukkan sifat aslinya" Tutur Bambang melemah.


"Maksudnya?" Tanya Rani dengan dahi berkerut.


"Yah... begitulah Ran, tidak perlu aku ungkap disini"


"Jangan bilang! Abang akan membatalkan pernikahan dengan Weny" "'Saya tidak akan terima jika sahabat saya di sakiti!" Tutur Rani tegas.

__ADS_1


"Ihh...Rani! kamu ini, sudah disakiti seperti itu, masih juga membela dia"


"Biarin saja, dia tidak jadi menikah, kaya yang cantik saja, nanti juga gigit jari dia! memang benar pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!"


"Nena....mulut ini loh kalau ngomong, jangan begitu ahh" Rani mencubit pelan mulut Nena.


"Kamu ini Ran, sudah di katain kayak gitu masih juga belain dia" Nena nerocos kesal.


"Saya akan mencoba memperbaiki sekali lagi Ran, jika nanti aku berjodoh dengan dia, pasti Allah akan memudahkan jalanku" Ucap Bambang pasrah. Sekarang Bambang bicara dengan Rani dengan bahasa yang akrab, aku dan kamu.


"Kita tidak usah bahas tentang masalah Weny, sekarang bagaimana kita harus memecahkan masalah kita Ran"


"Aku akan membersihkan nama kamu, aku mencurigai orang yang sudah menyebarkan berita hoax"


"Tetapi aku akan selidiki lagi, agar kita tidak su udzon"


"Untuk suami kamu, jika perlu aku akan menemui untuk menjelaskan"


"Kalau bisa, jangan temui Mas Daniel Bang, saya khawatir malah menjadi masalah" Ucap Rani sedih.


"Baik Ran, ngomong-ngomong Bang Daniel kemana?" Tanya Bambang tidak mungkin, dalam situasi seperti ini beliau kekantor.


Rani menghela nafas. "Sekarang lagi ke jawa timur Bang, sudah saya hubungi nomor nya, tetapi tidak aktif" sahut Rani sedih.


Bambang, Topan dan Nena, menatap Rani iba.


"Sekali lagi saya minta maaf Ran, karena aku kamu, menjadi hancur."


"Sudahlah Bang, semua sudah terjadi, mau bagaimana lagi"


"Aku hanya bisa berdoa, semoga suami saya bisa memaafkan saya" Ucap Rani berkaca-kaca.


"Kamu yang sabar ya Ran, semoga masalah kamu cepat selesai" Ucap Topan yang dari tadi hanya diam.


"Terimakasih ya Pan"


"Kamu sudah telepon Bapak Ran, mengenai masalah ini?"


"Belum Pan, lagian...handphone saya rusak"


"Masalah itu gampang Ran, nanti habis maghrib, telepon pakai handphone aku" Ucap Nena.


"Mau pakai punya aku juga boleh kok Ran" Sambung Topan.


"Terimakasih kasih Pan, nanti aku pinjam Nena saja." Pungkas Rani.


"Ngomong-ngomong sudah sore, aku pulang dulu Ran" Ucap Bambang mengamati jam di tangannya.


"Baik Bang, ini teh nya di minum dulu"


Setelah meminum teh, Bambang dan Topan Pamit pulang. Beranjak pergi meninggalkan kediaman Rani.

__ADS_1


__ADS_2