
Jam tujuh malam keluarga Ibu Widi, sudah berkumpul di meja makan.
Bi Ipah mondar mandir sendiri mengangkat makanan dari dapur dan menyusunnya di meja makan.
"Eneng kemana Bi? kok tidak membantu?" tanya Ibu Widi sambil menyendok nasi untuk kedua anaknya.
Bibi terdiam tidak segera menjawab menatap majikan nya satu persatu.
"Bi, kok malah bengong?" tanya Bambang ingin cepat mendapatkan jawaban. Sebab, sejak dari lantai dua sudah clingukan mencari gadis pujaan hatinya.
"En, Eneng tadi pulang Nyonya" sahut Bibi gemetaran.
"Pulang?" tanya Bambang, Ibu Widi dan Dira serentak.
"Betul Nyonya, tadi saya sudah mencegah. Tetapi, sepertinya tekatnya sudah bulat" terang Bibi.
Bambang tertunduk lesu, tidak bedanya dengan Ibu Widi.
"Saya kebelakang dulu Nyonya, permisi" Bibi meninggalkan majikannya dan kembali ke dapur.
"Ada apa memang?" tanya Dira heran melihat Ibu dan kakaknya seketika berwajah muram.
"Ibu sih, main tuduh, kacau kan semua!" ucap Bambang agak naik satu oktap. Padahal seumur hidup Bambang tidak pernah berbicara meninggi kepada Ibunya.
"Kok Ibu yang salah Bi, padahal kamu yang sudah mesum!" tukas Ibu.
"Mesum? apa sih maksudnya?" Dira bertanya dengan dahi berkerut.
"Kakak mu itu nduk, mesum di kamar mandi!" sahut Ibu Widi menatap Bambang mlengos.
"Apa sih? Dira nggak nyambung?" tanya Dira menggaruk tengkuknya. Tidak bisa mencerna apa yang Ibu Widi dan Bambang bicarakan.
Ibu menghela nafas panjang kemudian menceritakan apa yang terjadi di kamar mandi.
"Masa sih Bu, Dira nggak yakin, kalau kakak berbuat begitu" sanggah Dira.
Ibu mecolek lengan Dira yang duduk di sebelahnya. Dira pun mengerti apa yang di maksud Ibu Widi.
"Nggak tahu Dir, Ibu main tuduh, sekarang Lidia sudah pergi" keluh Bambang.
"Sekarang Wibi mau cerita, biar jelas semuanya. Wibi tadi siang pulang dari rumah sakit, terburu-buru ingin buang air kecil, cepat-cepat lari ke kamar mandi"
"Nah, tiba-tiba Lidia masuk kedalam menubruk, padahal Wibi baru pakai celana belum sampai atas lagi" tutur Bambang malu, ingat ketika menindih Eneng tadi.
"Hahaha..." Dira tertawa geli mendengarkan cerita kakaknya.
"Ngapain sih malah ketawa, lagi!" Tukas Bambang.
"Itu artinya sengsara membawa nikmat kak?"
"Maksudnya?" Bambang menatap adiknya melotot.
"Sengsaranya, kakak kena jewer sama Ibu, nikmatnya bisa nindih Eneng" ahahaha.." Dira terbahak. Lantas mendapat plototan kakak nya.
__ADS_1
Sedangkan Ibu Widi menyimak obrolan anaknya tersenyum di tahan.
"Iya Bi, Ibu percaya sama kamu, sekarang tugas kamu cari si Eneng sampai ketemu, terus bawa kesini"
"Ibu perhatikan kamu suka sama dia kan le?"
"Iya Bu, tapi harus cari kemana?" tanya Bambang frustasi.
"Telepon satpam Komplek namanya Pak Rohim tanya alamatnya" titah Ibu Widi. Kemudian memberikan nomor telepon kepada Bambang.
*******
Deerrr deerrr derrr.
"Assallaamualaikum..." Eneng menjawab telepon di seberang sana.
"Lo entu ye...bikin encang malu tau kagak?! Ternyata Encang Rohim yang telepon.
"Maksudnye ape Cang?" tanya Eneng seraya gulang guling di kasur.
"Jangan berlage lo! lo udeh Encang cariin gawean, lo malah kabur kan?!
"Kalau tau bakal begini, Encang kagak peduli ame lo! bagen bae lo di kawin ame bangkutan entu?! sarkas encang di seberang sana.
"Iya cang, aye ngerti, Eneng tenangin diri dulu barang sehari, besok Eneng balik kesono, Cang" sahut Eneng. Memang benar apa yang di katakan Encang Rohim, seharus tidak main pergi saja.
"Tenangin diri, emang ngape lo?"
"Mana Enyak lo, Encang pengen ngomong" tukas Encang.
"Ada Cang bentar"
"Nyak...Encang pengen ngomong nih" pekik Eneng dari kejauhan.
"Yee...bentar..." sahut Enyak dari luar.
Enyak berlari ambil telepon Nokia kecil dari tangan Eneng yang hanya bisa buat telepon dan sms saja.
"Hallo Bang" sapa Enyak Fatimah.
"Hallo Meh, bilangin entu ame Ening, jangan dablek kalau di bilangin, udeh orang suseh mah kagak usah belagu! ngarti kagak?"
"Iye Bang nanti aye bilangin" sahut Enyak.
Tut. Encang menutup telepon.
"Nyak, kok Encang malah ngomelin Eneng sih?" tanya Eneng manyun.
"Udeh...antepin bae, sekarang kite makan dulu" titah Enyak Fatimah.
Eneng dan Enyak makan menggelar tikar yang sudah rombeng yang penting bisa buat alas duduk.
Enyak masak sayur asam, Ikan asin pedak, sambal terasi dan semur jengkol.
__ADS_1
"Enyak tumben, masak banyak macemnye?" tanya Eneng. Biasanya Enyak kalau masak hanya satu atau dua macam. Tetapi, sekarang ada empat macam.
"Yah...Enyak entu sekarang lega...Neng, kite sudah bebas dari hutang. Walau nanti kite kudu bayar, seengganye kagak pakai bayar bunga lagi" tutur Enyak.
Eneng menatap Enyak ada raut bahagia di wajahnya, mentikkan air mata. Ia berpikir, seharusnya tidak boleh egois harus memberikan Enyaknya kebahagiaan.
Seharusnya Eneng tidak boleh mengecewakan Enyak. Hanyak Enyak dan Encang Rohim yang ia punya sekarang.
Eneng menikmati semur jengkol yang legit, kapan lagi? di rumah Ibu Widi tentu tidak menyukai jengkol.
******
"Umi...dedek Icha di perut Umi, laki-laki atau perempuan?" tanya Icha sambil mengelus perut Rani.
"Umi belum tahu sayang...kan belum bisa di lihat?" sahut Rani tersenyum.
"Icha mau laki-laki atau perempuan?" timpal Daniel.
"Icha pengenya perempuan, kalau anak-anak laki nanti seperti Reyhan tuh! nyebelin!" sahut Icha Ingat temanya yang bernama Reihan suka bandel.
"Laki-laki atau perempuan harus kita terima sayang...tidak semua anak laki-laki bandel kok, contohnya Akung, Kakek, Om Deni, semua baik kok. Kecuali...." Rani melirik Daniel.
"Kok aku sih, yang di lihat yank?" tanya Daniel paham jika Istrinya menyindir dirinya.
"Kecuali siapa Umi?" tanya Icha memperjelas. Juga melirik Papanya.
"Kecuali yang nakal" Rani memencet pelan hidung Icha yang sedang memeluk lutut Uminya.
"Sepertinya anak kakak Ipar, laki-laki deh, menurut cerita orang yang sudah hamil, kalau hamilnya laki-laki suka malas dandan, malas mandi, terus doyan makan apa saja" tutur Siska.
"Masa sih Sis, setahu aku kalau hamil anak laki-laki memanag suka kedinginan jadi malas mandi. Wajah kusam dan berjerawat nih contohnya pipiku banyak jerawat, berarti anakku laki-laki kali?" tanya Rani.
"Tetap cantik kok yank, walaupun berjerawat" Daniel menimpali.
"Huh gombal mah pinter!" sahut Rani.
"Nah, kalau hamil anak perempuan, ciri-cirinya apa kakak Ipar?" tanya Siska kemudian.
"Menurut teori...kalau anak perempuan muka berminyak, mengalami ( Morning sickness) seperti kamu itu Sis"
"Waah...berarti anak kita perempuan Mas" kata Siska kepada Deni.
"Apa saja Sis, yang penting sehat" sahut Deni.
"Tapi, jangan mempercayai 100 persen Sis, itu kan Rahasia Allah.." ucap Rani.
"Sudah malam yank, cha, bobok yuk, besok katanya mau jalan-jalan." titah Daniel kemudian mengajak anak dan Istrinya kekamar.
*****
Maaf ya reader, kalau ada yang kurang suka dengan dialog bahasa disini. Dan kata-katanya kurang pas.
Sebab di disini ada 3 tokoh 3 karakter bahasa daerah. Budhe tidak menyudutkan bahasa manapun. Budhe memang orang Jawa tetapi hanya numpang lahir loh. Besar di Jakarta dan kebanyakan teman orang betawi. Setelah menikah pindah ke Tangrang tetangga orang Sunda. Jadi kesimpulannya budhe asli orang (Jabenda) Jawa, Betawi dan Sunda🤣🤣🤣 selamat membaca.
__ADS_1