
Lidia berjalan pelan tampak anggun bola matanya berputar melirik pinggang kiri kanan, kemudian menunduk menatap gaun panjangnya. Masih bertanya-tanya "Bagus nggak ya? ia bertanya dalam hati.
"Wow... keren... " ucap Bambang tiba-tiba berjalan mendekati Lidia, ia tersenyum manis. Membuat rona wajah Lidia memerah menyembunyikan rasa malu.
"Ih, ngagetin!" Lidia pura-pura kesal. Kemudian mencubit lengan Bambang.
"Ow!" Bambang meringis memegangi lenganya pura-pura sakit walau nyubitnya keras, nanum terhalang oleh kemeja.
"Shory" ujar Lidia menarik tangan Bambang menggulung kemejanya hingga sampai siku, kemudian memeriksa.
Mata Lidia menelisik tangan Bambang menunduk di bawah hembusan nafas calon suaminya. Bambang membiarkan tangannya di bolak balik sisinya memeriksa mana yang sakit. Ya jelas tidak ada yang sakit sebab. Bambang hanya berpura-pura.
Bambang tersenyum simpul tangan kirinya terangkat ingin membelai pipi mulus nan putih tampak dari samping. "Astagfirlullah... belum halal" batinya, segera mengurungkan niatnya. Bambang semakin menunduk turut memeriksa tangannya, padahal hanya modus. Karena, ingin mengendus aroma wangi kepala calon istrinya. "Heemm... harumnya..." batin Bambang sambil memejamkan mata.
Jedug.
"Ow!" pekik mereka, tatkala Lidia mengangkat kepalanya dengan gerakan cepat, kemudian membentur bibir Bambang.
Lidia meringis menatap Bambang mengelus kepalanya yang sakit.
Bambang pun tak kalah sakit karena terkena benturan kepala Lidia hingga bibirnya jontor.
Lidia kemudian mundur. "Hihihi..."Lidia tertawa cekikikan menatap Bambang dengan bibir monyong, tampak lucu.
"Sakit kok malah di ketawain sih!" protes Bambang.
"Ayo sini" Lidia menarik tangan Bambang kemudian membawanya ke depan kaca.
Bambang melihat wajahnya di depan cermin bibirnya jontor sebelah bagian atas, ia membelalakan mata.
"Yaah... gantengan berkurang deh" cicit Bambang.
"Hihihi..." Lidia kembali tertawa.
__ADS_1
"Ahahaha..." keduanya pun akhirnya tertawa menatap kaca melihat wajah Bambang tampak berbeda. Biasanya walaupun mereka tinggal satu rumah tidak pernah seakrab sekarang.
"Sudah selesai belum?" tanya Ibu Widi, beliau kembali. Sebab, tadi meninggalkan Lidia karena ada salah satu pemilik mall yang ini memesan pakain mewah miliknya.
"Saya sudah kok Bu" jawab Lidia, kemudian masuk kedalam kamar pas ingin mengganti gaunya.
"Tinggal kamu Bi" ucap Ibu Widi tanpa melihat wajah anaknya. Ambil kemeja dan jas dengan warna senada pilihan Lidia.
"Ini di coba dulu?" Ibu Widi menyerahkan pakaian kepada Bambang. Kontan terbelalak kala menatap wajah anaknya.
"Kamu habis ciuman!" tuduh Ibu, bibirnya mencebik kemudian bersedekap di depan Bambang.
"Ih, ya nggak lah Bu. Orang habis kepentok kepala Lidia" sahut Bambang.
"Benar Bu, tadi kepala saya membentur wajah Mas Wibi" imbuh Lidia, Ibu Widi percaya kemudian melanjutkan memilih baju untuk Bambang.
Setelah selesai mereka pulang kerumah.
*****
"Pernikahan Bambang kan kurang seminggu lagi Pak. Berarti harus menjalani ritual pingitan, menurut Bapak bagaiman? sedangkan saat ini mereka tinggal satu rumah." tutur Ibu Widi.
"Bagaimana kalau Bambang untuk sementara biar tinggal di rumah Rani" usul Pak Siswo.
"Betul Pak, ide yang bagus itu" sahut Ibu antusias. Toh dirumah Rani ada kamar tamu Bambang bisa tidur di sana.
Malam harinya mereka berkumpul di meja makan. Sambil membicarakan rencana Pak Siswo sore tadi.
"Jadi aku harus pergi dari rumah ini Bu" kata Bambang setelah di beritahu Ibu.
"Ya memang harus begitu Bi" sahut Ibu sambil mengisi gelas untuk minum suaminya.
"Mendingan saya saja yang pulang ya Bu" usul Lidia tidak enak hati, karena dia tinggal di sini Bambang harus pergi.
__ADS_1
"Jangan" cegah, Bambang dan Ibu bersamaan.
"Kamu tetap di sini. Biar Ibu yang atur" titah Ibu Widi.
"Kenapa harus pakai acara pingit-pingit, apa lagi tuh?" Dira menimpali.
"Nanti kamu juga tahu Dir" sahut Ibu.
Malam ini juga, Bambang berkemas hendak berangkat ke rumah Rani sebelumnya telepon Daniel untuk meminta izin. Tentu Daniel menyetujui.
Acara pingit biasanya tradisi adat Jawa. Ritual sebelum menikah yang masih di yakini hingga kini.
Yakni, calon pengantin wanita di larang keluar rumah dan bertemu calon pengantin pria.
Alasanya keduanya agar saling merasakan Rindu. Saat pernikahan nanti keduanya saling bahagia karena lama tidak bertemu.
*****
Tiga hari kemudian Bambang klimpungan tidak bisa tidur. Wajah calon istrinya seolah menari di kelopak mata.
"Belum tidur Bi?" tanya Daniel mengejutkan karena langsung nyelonong masuk ke dalam kamar.
"Duh! kaget Bang" ujarnya, kemudian bangun dari tidur lalu duduk di tepi ranjang.
Daniel pun ikut duduk di samping Bambang, mereka duduk bersebelahan. "Nggak bisa tidur Bang" sahut Bambang memijit pelipisnya. "Dulu waktu Abang mau nikah di pingit nggak?" sambungnya.
"Ya sama saja lah Bi, tapi kan memang waktu itu Rani pulang kampung, mengurus pernikahan kami" sahut Daniel.
"Kenapa memang? sepertinya kamu gelisah sekali?" tanya Daniel menatap manik mata Bambang ada garis hitam di bawah mata.
"Ya kangen lah Bang! sudah tiga hari nggak ketemu loh" jawab Bambang tampak frustasi.
"Ah! kamu ini berlebihan!" Daniel menoyor kepala Bambng. "Sudah tidur, nanti kalau kurang tidur pas akat jelek lo" Daniel mengingatkan.
__ADS_1