ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 135


__ADS_3

"Ih, sok tahu! aku nggak pernah punya mantan kok" Lidia dan Bambang pun terus berdebat. "Kruk...kruuk" perut Lidia keroncongan terdengar nyaring menghentikan perdebatan mereka. Lidia wajahnya merah malu. Pasalnya, dia hanya makan sedikit kemarin siang. Keduanya kontan tertawa mendengar perut Lidia.


"Kamu lapar ya? cari makan yuk" kata Bambang kemudian menarik tangan Lidia agar berdiri.


"Mau cari makan di mana, di tempat sepi seperti ini?" Tanya Lidia memang di luar sangat sepi.


"Kita keluar saja, pake mobil" Bambang memberi usul. "Ini pakai kerudungnya" sambung Bambang, menyodorkan kerudung bergo milik Istrinya.


Mereka pun keluar kemudian mengunci Villa. Sudah tidak marahan lagi seperti tadi, gara-gara perut Lidia keroncongan ternyata ada hikmah bagi mereka.


"Mas saja yang keluar ya, aku pingin duduk di bawah pohon itu" ucap Lidia, ia ingin menghirup udara segar di tempat ini. Lidia ingin Bambang membeli nasi bungkus saja.


"Okay... sayang..." lagi-lagi panggilan Bambang membuat wajah Lidia seketika memerah.


"Mau di belikan apa?" tanya Bambang kemudian mencium pipi Lidia.


"Apa saja Mas" sahut Lidia kemudian ia berjalan menuju pohon yang rimbun. Burung-Burung tampak berkicau riang, menambah suasana hati senang.


Bambang berjalan cepat menuju pintu mobil kemudian membukanya. Netranya menatap kantong plastik putih yang terletak di jok belakang. Bambang mengambilnya kemudian mengintip. "Oh ini ada senek, ada kripik juga" gumam Bambang ternyata Dira menyimpan cemilan di dalam mobil.


Bambang membawa gulungan karpet yang biasa di simpan di bagasi mobil. Dan membawa kantong plastik yang berisi cemilan lalu memberikan kepada Lidia.


"Ini cemilan, buat umpan cacing di perutmu itu loh" kelakar Bambang.


"Ih, nggak romantis amat sih! ngasih makanan ke istri kok begitu" protes Lidia mengamati suaminya yang sedang menggelar karpet. Lidia duduk di akar pohon yang menonjol keluar.


"Memang kita sekarang suami istri ya?" hehehe. Lagi-lagi Bambang menggoda.


"Bukan! istrimu bukan aku, tapi We- ny!" Lidia bersungut kesal, menekan kata Weny.


Bambang tersenyum simpul, merasa gemas jika melihat istrinya sedang cemberut. Tanpa aba-aba Bambang menarik tengkuk Lidia kemudian melahap bibirnya. Keduanya pun sama-sama larut dalam buaian asmara yang melanda. Satu menit kemudian, Lidia memejamkan mata membuat Bambang semakin lincah meneguk manisnya madu asmara. Lidia tersadar bahwa ini di tempat terbuka mendorong tumbuh tambang.


"Nanti lanjut di kamar ya" ucap Bambang kemudian melangkah masuk kedalam mobil. Membuka kaca kemudian melambaikan tangan.


Lidia hanya bengong masih memegangi bibirnya. Lidia kemudian duduk di karpet memainkan handphone sambil sesekali menyantap Qitela.


.


Kalau ada kali di hutan 🎵


Boleh kita menumpang mandi.


Kalau ada umur panjang

__ADS_1


Boleh kita berjumpa lagi🎵


"Ola, ola, ole"


Plok, plok, plok


Suara anak-anak pramuka memecah keheningan. Lidia menoleh cepat.


"Prit, prit, prit.


Tampak tiga orang pembina berjalan mundur meniup peluit seiring langkah kaki anak-anak. Lidia pun fokus menatap anak-anak yang sedang bernyanyi riang gembira. Lidia kemudian meletakkan handphone di karpet tepat di depannya posisi ia duduk bersila.


"Waah... enak ini" seorang pria seusia Bambang, tiba-tiba menyomot Qitela tanpa permisi kemudian menyantapnya. Berjongkok di samping Lidia tanpa menginjak karpet.


Lidia spontan menoleh, salah satu pembina pramuka itu ternyata berbelok dari rombongan, kemudian menghampirinya.


"Siapa anda?" tanya Lidia basa basi, padahal dari pakaiannya sudah jelas mengenakan baju pramuka.


"Teteh lupa ya? kita kan pernah bertemu" ucap pria itu sambil terus mengunyah, sepertinya ia kelaparan juga.


"Ketemu, dimana?" Lidia mengerutkan dahi.


"Tadi itu loh teh, yang membawa senter" ucapnya sambil tersenyum. "Kenalkan, nama saya Wawan" Wawan mengasungkan telapak tangannya ingin bersalaman. Tapi Lidia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Lidia pun akhirnya cepat berdiri ketika melihat mobil Bambang dari kejauhan. "Maaf saya mau menjemput suami saya" ucap Lidia kemudian melangkah pergi.


"Suami?! gumam Wawan. Wawan pun akhirnya pergi tidak merasa berdosa membawa kantong plastik milik Lidia yang berisi cemilan.


.


"Kok lama Mas?" tanya Lidia ketika sampai di mobil, kemudian mengambil alih tengtengan dari tangan Bambang.


"Macet, sudah lapar ya" sahut Bambang sambil menutup pintu mobil kemudian memencet remote.


"Sudah nggak begitu lapar sih, kan sudah ngemil," sahut Lidia tidak canggung lagi bergelayut di lengan Bambang kemudian berjalan menuju karpet.


Bambang melihat lengan lidia yang mengeratkan peganganya seperti takut kehilangan, tersenyum lebar bahagia membuncah.


"Kok banyak banget Mas makanannya" kata Lidia setelah sampai di karpet sambil mengeluarkan makanan dari plastik.


"Nggak apa-apa, sekalian beli cemilan, makan yang banyak. Supaya kuat 5 ronde" sahut Bambang enteng kemudian meneguk air dalam botol kemasan.


"Lima ronde?" Lidia menatap Bambang seksama masih belum paham maksud kata-kata Bambang.

__ADS_1


"Sarapan dulu dech nanti kamu juga tahu" kata Bambang tertawa bahagia menambah ketampanannya.


Lidia mengangguk kemudian mereka menikmati nasi rames sesekali Bambang menyuapi istrinya.


"Teteh, Teteh. Sorry, tadi cemilanya saya bawa," suara pengganggu itupun tergopoh-gopoh datang lagi menghampiri mereka.


Bambang menatap Wawan, bergantian menatap Lidia ingin penjelasan.


"A a kenalkan, nama saya Wawan. Tadi saya pas lewat disini, lihat Teteh lagi makan cemilan, karena lapar, saya mampir dech" tutur Wawan.


Lidia deg degan tidak karuan khawatir Bambang cemburu. Sedangkan Bambang hanya diam mendengarkan sambil memainkan handphone.


"Eh, pas saya lagi makan, di tinggal pergi sama Teteh. Ya sudah, saya ambil saja sisa makanannya" jujur Wawan sambil melirik kantong plastik di depan Lidia.


"Oh, kamu mau? bilang saja mau Mas, jangan bertele-tele"


Sahut Bambang tahu apa maksud laki-laki itu kemudian memberi satu bungkus nasi rames. Memang tadi sengaja membelinya lebih.


"Terimakasih A a, Teteh. Samawa ya" ucap Wawan tersenyum ramah kemudian pergi meninggalkan mereka.


Bambang dan Lidia pun, akhirnya tertawa terbahak bahak.


"Lucu, tuh orang" ucap Lidia geleng kepala kemudian meneguk air. "Masa tadi pagi waktu aku jalan-jalan pakai mukena, disangka pocong"


"Mana pakai senterin muka aku lagi," adu Lidia.


"Lagian...kamu jalan-jalan sendirian. Nggak mau bangunin aku"


"Kalau ada orang jahat bagaimana?" omel Bambang.


"Buktinya kan nggak ada orang jahat Mas" Bantah Lidia.


"Ah, kamu ini membantah saja kalau di bilangin"


"Ayo" Bambang menarik tangan Lidia.


"Kemana?" tanya Lidia, masih enggan Bangun dari duduknya.


"Ayo melanjutkan yang tadi" sahut Bambang mengedipkan mata sebelah. Mereka pun bergandengan tangan menuju villa.


***


"Kira-kira mau apa ya mereka??? 🤣🤣🤣.

__ADS_1


Terimakasih yang masih setia mengikuti cerita ini. 💕


__ADS_2