ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 132


__ADS_3

Suasana pesta semakin meriah, tamu-tamu berdatangan tidak hanya tamu Bambang dan Lidia. Tetapi banyak juga tamu dari pihak Ibu Widi.


"Assalamualaikum" Weny memberi salam kepada Ibu Widi dan Pak Siswo. Setelah Topan mengajak Weny bergabung. Topan memberi saran agar Weny menemui Bu Widi, Pak Siswo, dan juga Bambang. Walaupun bagaimana silaturahmi tetap harus dijaga.


"Waalaikumusallam... " sahut Bu Widi dan Pak Siswo yang sedang berbincang dengan tamu kemudian menoleh.


"Eh Weny... apa kabar nak?" tanya Ibu mengusap kepala Weny.


"Sehat Bu" sahut Weny canggung, kemudian mencium punggung tangan Ibu yang setahun lalu hampir menjadi bagian dari keluarganya. Namun gagal.


"Pak Cipto apa kabar nak?" tanya Ibu basa basi walaupun Ibu Widi sudah menikah dengan Pak Siswo. Namun, selama menikah belum pernah pulang kampung.


"Baik Bu" sahut Weny.


"Kok Ayahmu tidak di ajak nduk?" tanya Pak Siswo, sudah hampir dua bulan tidak bertemu dengan tetangganya itu.


"Ayah lagi repot Pak" jawab Weny.


"Duduk nak" titah Ibu kemudian mereka pun ngobrol, beberapa menit kemudian Ibu ada tamu yang lain lalu meninggalkan Weny.


.


.


Waktu sudah sore tamu masih banyak. Lidia tampak lelah di pelaminan. Bambang kemudian memanggil orang terdekat agar mengambilkan minum untuk istrinya. Tidak lama kemudian ada yang membawa segelas teh hangat. Sebenarnya tadi ada yang memberi ice buah. Tetapi Lidia ingin yang hangat.


"Minum dulu ya" Bambang menyodorkan gelas.


"Termakasih" jawab Lidia, kemudian meneguk teh hangat tinggal setengah. Kemudian memberikan kepada Bambang.


Bambang pun menghabiskan minum bekas Lidia.


"Ih... itukan bekas aku Mas" Lidia menatap Bambang seksama. Tidak percaya kalau Bambang mau minum bekasnya.


"Memang kenapa? kita kan suami istri sekarang. Bibir ini sudah aku icipi tadi kan" kata Bambang sambil memegang bibir Lidia dengan telunjuk. Sehingga membuat Lidia tersipu ingat adegan di mobil tadi pagi.


"Terus... pegang-pegang! nggak sabar nunggu sampai malam ya!" Daniel datang bersama sahabatnya membuat Lidia tersenyum malu. Bambang yang fokus menatap Lidia pun menoleh.


"Eh dokter" sapa Bambang, ternyata yang datang dokter Zulmy dan dokter Rizal.


"Selamat broo" ucap Rizal pendek.


"Terimakasih dok" sahut Bambang.

__ADS_1


"Selamat cantik. Namanya siapa? waktu di rumah sakit, belum sempat menanyakan nama Nona?" tanya Zulmy.


"Lidia dok" sahut Lidia setelah berbincang sebentar kedua dokter itu pun pergi.


"Sabar dulu... jangan icip-icip banyak orang!" seloroh Daniel kemudian mengejar dokter tidak lagi mendengar jawaban Bambang.


***


"Yank, kamu ini lagi hamil loh. Jangan kecapean. Sini ikut aku" titah Daniel melihat Rani dari pagi belum istirahat. Kemudian Daniel mengajaknya istirahat.


"Sini duduk, kamu dari tadi pasti belum makan. Mau makan apa? aku ambilkan ya" kata Daniel perhatian, Daniel tahu Rani melewatkan makan siang.


"Apa saja Mas" Rani memang kelihatan lelah. Sebab, dari kemarin belum istirahat. Tidak lama kemudian Daniel datang membawa makanan dan minuman.


Daging bakar, salmon segar, dan jus buah.


"Banyak banget Mas" protes Rani.


"Kamu itu makan untuk berdua yank , kamu sudah melewatkan makan siang kan" sahut Daniel, mengelus perut Rani.


"Iya, suamiku... bawel iihh!" Rani pun makan tidak memperhatikan suaminya lagi.


"Mas, aku mau ketoprak dech makanan kas betawi" kata Rani setelah hidangan di piring habis tidak tersisa.


"Duh. du du... yang sedang berbahagia, punya suami perhatian...


punya Ibu baru, punya kakak baru. Mau punya dedek pula" Suara seseorang yang tidak asing bagi Rani berceloteh.


Rani menoleh. Reno datang menggandeng Nena.


"Kok sudah sore baru datang Mas?" tanya Rani, kemudian memutar kursi menghadap Reno dan Nena.


"Sebenarnya mau berangkat dari tadi sih... tapi malas-malasan dulu di kasur. Maklum hari minggu" sahut Reno panjang lebar.


"Suamimu kemana Ran?" tanya Nena, sebab tadi Rani sedang bersamanya kemudian di ajak Daniel.


"Apa?" Daniel pun akhirnya datang dengan sepiring ketoprak di tanganya.


Nena langsung kicep tidak bertanya lagi. Walau setiap hari tinggal bersama Daniel jarang menyapa Nena jika tidak perlu sekali. "Lo Baru datang Ren?" tanya Daniel.


"Iya Bang" jawab Reno kemudian duduk berhadapan dengan Daniel.


"Kalian kapan mau menikah?" tanya Daniel sambil memainkan telapak tangan Rani.

__ADS_1


"Tenang Bang, nanti di undang kok" sahut Reno entah mau jawab apa. Sebab, setiap menjalin hubungan dan akan melangkah ke jenjang yang lebih serius selalu ada hambatan.


"Sudah ketemu pengantinnya belum?" tanya Daniel kemudian.


"Belum bang, soalnya langsung pengen ketemu Nena dulu" sahut Reno melirik Nena mengulas senyum. "Ayo aku antar" Daniel pun mengantar Reno.


.


.


"Selamat Lidia... muach, muach" serombongan teman Lidia pun datang.


"Kamu ternyata CLBK ya... ahahaha" seloroh salah satu teman Lidia.


Lidia tersenyum tidak menimpali malah melirik Bambang.


"Selamat ya Lid, kami sudah punya buntut semua. Tinggal kamu yang belum. Semoga kamu cepat dapat momongan" ucap teman yang satu lagi.


"Selamat Lid, aku juga masih sendiri. Awalnya menunggu kamu. Eh, ternyata kamu malah menikah dengan orang kaya. Yah... aku sadar kok memang tidak sebanding dengan suami kamu" tutur Maulana. Membuat Bambang terkejut, kemudian menatap Lidia dan Maulana bergantian.


"Eh, sudah. Cari makan yuk" ujar salah satu teman Lidia mencairkan ketegangan. Mereka pun pergi, Lidia menatap punggung Maulana hingga menghilang.


Suasana di pelaminan pun menjadi hening, keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Selamat Bang Wibisono" ucap Reno yang baru datang bersama Daniel, memecah keheningan.


"Terimakasih Mas Reno, kok sampai sore begini?" tanya Bambang.


"Maklum bang, hari minggu. Malas kemana-mana, enaknya jadi kutu kasur" sahut Reno terkekeh. Saat sedang bergurau dua orang gadis datang. Dia Nena, sedang mengantar Weny.


Awalnya Weny tidak mau menemui pengantin. Tetapi, teman-temanya menasehati mau tak mau Weny mengiyakan.


Nena berjalan mendekati Reno. Sedangkan Weny mendekati pengantin ingin mengucapkan selamat.


"Selamat menempuh hidup baru Mbak" ucap Weny lancar, kemudian menjabat tangan Lidia.


"Terimakasih... Mbak yang bernama Weny kan?" keduanya tersenyum. Setelah berbasa basi Weny berdiri di depan Bambang.


"Sel-- selamat. Ma-- Mas" ucap Weny suaranya tersendat, tenggorokan terasa kering. Keduanya pun diam. Keringat dingin meluncur di seluruh tubuh Weny. Pandangan Weny pun mendadak buram.


"Bruk" Weny pun jatuh menimpa dada bidang Bambang. Bambang terkejut melihat wajah Weny memucat reflek Bambang membopong tubuh Weny meninggalkan pelaminan.


Daniel, Reno dan Nena pun mengejarnya. Tinggal Lidia sendiri masih terpaku. Ada rasa sakit di hatinya. Lidia kemudian menjatuhkan tubuhnya di kursi pelaminan.

__ADS_1


Hingga 30 menit berlalu, Lidia menunggu Bambang belum juga datang. Karena sudah menjelang Maghrib tamu pun sudah jarang yang hadir. Dengan derai air mata Lidia melangkah gontai menuju villa.


__ADS_2