
Sore hari Mama Nadyn sangat bahagia setelah shalat ashar. Keluarga Mama duduk bercengkerama di ruang tamu. Sambil menunggu Papa Nano, dan Deni pulang.
"Kalian sebaiknya bersatu, jangan sampai terpengaruh dengan kata-kata wanita macam Sherly"
"Sherly tuh ingin kalian bertengkar dan saling menjauh pasti dia akan tertawa." Terang Mama menatap menantu dan anaknya bergantian. Tangan kirinya menopang pelipisnya dan siku kirinya berlandaskan pinggiran sofa.
"Dan kamu Dani! jangan gampang terpengaruh, oleh orang yang tidak bertanggung jawab"
"Kalau dikit-dikit marah, ngambek! emosi, yang tidak bisa kamu kontrol, apa kamu ingin, Rani pergi meninggalkan kamu lagi! iya?! Tanya Mama menatap Daniel tajam.
"Iya Ma Dani tau" Jawab Daniel yang duduk di samping Rani tanganya melingkar di pundak Istrinya.
"Bener ya, Mama mohon kalian jangan sampai bertengkar lagi, Mama ingin kalian belajar dari pengalaman kemarin"
"Terutama kamu Dani, kamu jangan mau menang sendiri, buktinya kamu di tinggal Istrimu kemarin seperti ayam kehilangan induknya kan." Mama menasehati menantu dan anaknya.
"Dengar tuh, jangan menang sendiri!" Bisik Rani di telinga Daniel. Daniel mencubit pundak Istrinya kecil.
"Aww...sakit tau!" Rani meringis. Untung cubitanya terhalang kerudung kalau tidak pasti lecet.
"Iiihh...nyebelin..." Kata Rani memindahkan tangan Daniel dari lehernya cemberut.
"Hehehe...memang sakit apa? orang cuma begini doang" Daniel kembali mencubit perut Rani.
"Aaahhh...Mas Danieeel...!!" Daniel kemudian bangun dari duduk dan melenggang sambil tertawa" ahahaha...."
"Kalian ini seperti bocah kecil saja!" Mama geleng-geleng kepala.
"Mas Daniel tuh Ma ngeselin!" Adu Rani seraya berlari kecil mengejar Daniel.
"Nih rasain" Rani berhasil menangkap Daniel kemudian merangkul dari belakang dan menggelitik perutnya.
"Ahahaha....ampun...ampun...geliii...aaahhh..."Daniel meronta-ronta.
Mama Nadyn tersenyum senang melihat kelakuan anak dan menantunya.
"Umiii...rotinya mana?" Icha jalan cepat menuruni anak tangga dan ingin cepat sampai meja makan. Membayangkan makan roti. Karena perutnya memang sudah lapar.
Rani dan Daniel menoleh ke arah Icha kemudian melepas rangkulanya. Rani mendekati Icha tetapi sebelumnya mencubit lengan Daniel.
"Duh! sakit yank" Daniel mengelus tanganya.
Rani bergegas mendekati Icha dan menyiapkan roti goreng memilihkan yang rasa keju lalu meletakkan di atas meja makan.
"Ini sayang...rotinya di makan ya"
"Pasti dong Umi" Icha membawa piring dan duduk di depan televisi mendekati Uti. Rani membuntuti.
Mereka duduk bertiga dan menonton televisi. Daniel yang masih berdiri di bawah tangga ikut bergabung dan duduk di samping Rani. Rani bergeser ngeri di cubit kembali.
"Kenapa Umi?" Tanya Icha melihat Uminya yang duduk gelisah.
"Papa tuh! dari tadi KDRT" Jawab Rani menatap Daniel dan membuang muka. "Cup! Daniel mencuri pipi Rani dari samping tersenyum senang.
"Ih, modus!" Rani memencet hidung mancung Daniel. Mama Nadyn mengamati diam-diam tersenyum di tahan.
"Papa nggak makan roti, enak ini cobain" Icha mendorong piring di depanya ke depan Papanya.
"Iya, nyobain yang keju dech" Daniel makan yang rasa keju.
"Kamu sudah habis tiga, belum kenyang Dan?" Tanya Mama.
"Kayaknya masih muat tiga lagi" Sahut Daniel sambil mengunyah.
__ADS_1
"Awas entar perutnya gendut, mendekati 40 tahun loh" Rani menimpali.
"Biarin! sudah laku ini, sudah resiko punya Istri pinter masak punya restoran lagi" Sambung Daniel.
"Mas bulan depan aku ingin merayakan setahun berdirinya restoran ya?" Kali ini Rani serius.
"Boleh! lakukan saja yang menurutmu baik."
"Okay thanks" Rani tersenyum menatap suaminya.
"Terus lokasinya di mana, kayaknya di resto nggak akan muat yank"
"Di lahan parkir itu saja Mas, kita sulap di pasangin karpet dan tenda di siapkan jauh-jauh hari."
"Lahan parkir, dimana?" Tanya Mama. "Di samping restoran Ma, aku beli tanah itu aku cicil, yang punya tanah butuh duit cepat" Jawab Rani. Daniel menoleh cepat.
"Kamu punya hutang yank?" Tanya Daniel.
"Yah...kalau nggak gitu darimana? harga tanah itu sampai 2 m" Sahut Rani.
"Kurang berapa, aku lunasi ya?" Tanya Daniel dan memberi saran.
"Jangan dulu Mas, sekarang ini masih bisa teratasi, nanti kalau kepepet baru aku bilang sama Mas." Sahut Rani enteng.
"Tuh, kamu kan begitu yank! kapan sih kamu mau anggap aku suami kamu!" Sahut Daniel kesal.
Mama Nadyn melihat ketegangan Daniel hanya menghela nafas.
"Maaf, bukan begitu Mas, itu kan tanah aku beli 6 bulan yang lalu, sebelum bertemu Mas, lagian aku hanya ingin tahu sampai sejauh mana restoran aku berkembang." Sahut Rani meyakinkan suaminya agar tidak merasa di langkahi.
"Semua aset yang Rani miliki, boleh nyicil Mas, Ruko, Rumah, mobil, semua aku cicil" "Tetapi alhamdulillah akhirnya teratasi, hanya tinggal tanah itu yang belum." Tutur Rani panjang lebar.
"Mama pikir Istrimu benar Dani, berikan kebebasan Rani untuk mengembangkan usahanya, jangan lantas kamu iri"
"Bukan begitu Ma, Mama nggak tahu saja, Rani tuh dari dulu kalau ada keperluan pribadi nggak mau bilang, dulu waktu kuliah sembunyi-sembunyi cari biaya kuliah sendiri, ATM yang Dani kasih nggak di pakai!" Adu Daniel kesal.
"Papa sama Umi tuh, kebiasaan! kalau lagi kumpul ribut melulu! bingung Icha" Timpal Icha tepuk jidat.
"Bukan ribut sayang...ini namanya diskusi" Terang Mama.
"Papa tuh, kalau lagi ngomong jangan ngotot jadi kaya orang ribut!" Protes Icha.
Daniel menghela nafas kalau Icha sudah protes lebih baik diam.
Begitu juga dengan Rani.
"Habis berapa rotinya?" Tanya Uti mengalihkan pembicaraan.
"Habis tiga" hehehe...Icha menunjukan 3 jarinya.
"Papa habis 4" Daniel nimbrung.
"Kalian pada doyan apa lapar?" Tanya Uti.
"Dua duanya" Sahut Daniel dan Icha barengan.
"Tadi siang nggak jadi makan gara-gara Sherly!" Ujar Daniel ingat ketika ribut di resto tadi jadi kesal.
"Tante Sherly Pa?" Tanya Icha. Icha memang paling nggak bisa akur dengan Sherly.
"Sudah, nggak usah ngomongin dia, lebih baik habisin tuh roti" Titah Rani kepada Icha.
"Oh iya Mas, nanti tolong antar aku service handphone ya" Kata Rani mendongak menatap Daniel. handphone nya rusak gara-gara di tepis Sherly.
__ADS_1
"Beli saja yank, kenapa harus di service" Ucap Daniel enteng.
"Yeah...bukan masalah beli Mas, ini handphone keramat." Jawab Rani ingat ketika membeli handphone nya harus jualan dulu.
"Iya nanti aku antar, mau sekarang yank?"
"Nggak lah aku mau siapkan makan malam dulu" Rani kemudian berdiri hendak ke dapur.
"Kenapa nggak minta tolong Pak Toto saja Ran, pulang jemput Papa"
Usul Mama.
"Oh gitu ya Ma, boleh kalau nggak merepotkan" Sahut Rani langsung menuju kulkas.
"Mau masak apa Ma?" Tanya Rani kencang.
Karena dari dapur ke ruangan keluarga agak jauh.
"Terserah kamu saja." Jawab Mama.
"Assalamualaikum...Papa dan Deni sudah pulang.
"Waalaikumusallam..." Jawab Mama.
"Papa apa kabar?" Tanya Rani mendekati Papa mertuanya dan mencium punggung tangannya.
"Kamu kemana saja..." Papa nguyek-uyek kepala Rani.
"Hehehe..." Rani hanya terkekeh tidak menjawab.
"Sehat kan kamu nak?" Tanya Papa Nano. Seraya duduk di kursi sofa dan membuka kaos kaki.
"Alhamdulillah, sehat kok Pa."
"Hatinya yang tidak sehat Pa" Seloroh Deni. Langsung dapat plototan dari Daniel.
"Adik Ipar, sekarang tinggal di sini ya?" Tanya Rani.
"Iya kakak Ipar, Mama sama Papa tuh suruh Deni tinggal di sini." Sahut Deni. Rani kemudian kebelakang ambil roti dan air minum untuk Deni dan Papa Nano.
"Oh iya, adik Ipar, nih cobain roti, Pa cobain" Rani menyuguhkan minum dan roti.
"Ya elah...Deni pakai di ambilkan minum, biar saja ambil sendiri!" Timpal Daniel posesif.
"Elah Bang! sekali-kali izini kakak Ipar melayani adiknya." Sahut Deni.
"Waah...enak kakak ipar, coba dulu jadi Istri aku, pasti gemuk nih badan"
Bluk! Bantal sofa melayang ke kepala Deni. Daniel kesal mendengar candaan adiknya.
"Ah ribut melulu!" pungkas Rani kemudian bergegas ke dapur dan memasak.
Rani mulai memasak di bantu Bibi, kali ini Rani akan membuat rollade. Daging cincang tadi masih banyak. Daniel paling suka masakan yang ada unsur daging. Agar tidak kolesterol Rani perbanyak bumbu bawang putih dan bawang bombay. Rani juga membuat sayur sop untuk menetralisir lemak yang terkandung dalam daging. Menjelang maghrib masakan sudah matang. Rani kemudian mandi.
Selesai Mandi Rani bingung mau pakai baju apa. Sebab tidak membawa baju ganti. "Ceklek" Daniel masuk ke kamar.
"Cari apa yank, cari baju ganti ya, ini baju kamu" Daniel membuka lemari baju Rani pindahan dari BSD, Masih tersusun rapi.
"Oh iya, terimakasih ya" Ucap Rani ambil baju santai, ia masih mengenakan handuk. Daniel memeluk dari belakang. "Yank..." Panggil Daniel dengan suara meminta sesuatu.
"Apa! mau maghrib ini jangan macam-macam" Sahut Rani.
"Yank....please..." Daniel tiba-tiba mengangkat tubuh Rani dan membawanya ke ranjang. Terjadilah pergulatan senja. Bayangkan sendiri. 🤣🤣🤣.
__ADS_1