
Malam semakin larut. Rani terlelap dalam dekapan hangat sang suami. Rela berdesak-desakan di ranjang pasien, padahal ada sofa nganggur.
Jam 4 subuh Daniel terjaga dari tidur. Inilah dalam sejarah Daniel selama menikah dengan Rani bangun terlebih dahulu.
Daniel bergegas kekamar mandi gosok gigi dan melaksanakan panggilan alam.
Terdengar adzan subuh, Rani membuka mata. Tangan kirinya terasa berdenyut. Faktor infus karena kurang di gerakkan menjadi kaku.
Daniel keluar dari kamar mandi mendengar istrinya mengaduh. Bergegas mendekati.
"Kenapa yank? mana yang sakit?"
Daniel tampak panik.
"Tangan aku Mas, kok sakit begini?"
Daniel memeriksa tangan istrinya memang agak bengkak.
"Oh, di gerak-gerakkan begini" Daniel mengepal-ngepal lengan memberi contoh.
Rani menggerak-gerakkan tangannya. Setelah terasa lemas Rani menghentikan.
"Kekamar mandi dulu yuk, mau pipis kan?" tanya Daniel sambil menyisir rambut panjang istrinya. Kemudian di ikat.
"Iya" sahut Rani.
Daniel mematikan infus, lalu memapahnya kekamar mandi.
"Aku mau mandi Mas"
"Nggak usah Mandi yank, nanti di seka saja sama aku"
"Nggak betah Mas, sudah dua hari aku nggak mandi." rengek Rani.
"Ya sudah..." Daniel mendudukkan istrinya ke closet. Lalu menyiapkan air hangat dari shower.
"Sini aku buka bajunya" Dani membuka baju tidur Rani. Membuka kancing piama satu persatu. Bersusah payah ia menahan hasrat.
Yang terakhir membuka celana. Dan memapah agar berdiri di dekat kran.
Daniel menyabuni tubuh Istrinya berkali-kali meneguk saliva.
"Mas kenapa sih? dari tadi diam terus, nggak ikhlas ya mandiin aku!" Gerutu Rani. Sebab selama memandikan. Daniel hanya diam saja. Tidak tahu jika Daniel sedang berperang melawan si kecil yang meronta-ronta di dalam sana.
"Ya nggak lah...masa nggak ikhlas sih.... mandiin istriku yang canti ini" Cup. Setelah melilitkan handuk. Daniel membopong ke ranjang. Mengganti baju istrinya.
Daniel kemudian ambil air mineral dan meneguknya di dekat sofa. Menjatuhkan pantatnya dan bersandar. Seluruh tubuhnya terasa menegang. Setelah aman terkendali si kecil tertidur. Danel kembali mendekati istrinya.
"Mas mau kekantor ya?" tanya Rani meletakkan handphone dan menatap suami yang sudah duduk disampingnya.
"Nggak yank, mana tega aku ninggalin kamu disini"
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok Mas...sebaiknya Mas kekantor, disini kan ada suster"
"Iya sih...tapi tenang saja, di kantor sudah ada Deni sama Siska" sahut Daniel. Sebenarnya pekerjaan di kantor sudah pasti menumpuk. Pasalnya di tinggal selama seminggu.
"Aku mau pulang saja Mas...aku kan sudah sembuh, lagian aku bukan sakit parah kok, cuma klisir"
"Apa tuh klisir?" Daniel menyipitkan mata.
"Klisir itu sama dengan dehidrasi"
"Oh...Daniel mengangguk.
"Jangan dulu yank, paling tidak ya tiga hari lah di sini"
"Nggak mau...pokoknya aku mau pulang, lagian aku sudah doyan makan kok" ucap Rani cemberut.
Daniel menghela nafas panjang. Kalau istrinya sudah begini harus di turuti.
"Nanti Mas tanyakan dokter Zulmy dulu ya...sekiranya boleh... okay...kita pulang" sahut Daniel mengalah. "Tapi kalau belum di izinkan pulang, nggak boleh memaksa ya."
"Iya..."
"Yank, aku keluar dulu ya, pengen menghirup udara segar"
"Iya Mas, sekalian cari sarapan gih"
"Siap bidodari aku..."
Daniel kemudian keluar dari ruangan. Joging di depan rumah sakit, sekaligus mencari makanan.
Dirumah keluarga kecil yang selalu hangat. Sudah berkumpul di meja makan. Siapa lagi kalau bukan ibu Widi dan kedua anaknya.
"Hati-hati di jalan ya le...mudah-mudahan....keluarga Weny memaafkan kamu" Doa Ibu Widi.
"Kok memaafkan sih Bu...memang Wibi salah apa?"
"Ini usaha Wibi yang terakhir ya Bu, untuk mendekati Weny"
"Jika nanti gagal, Wibi angkat tangan" ucap Wibi menyerah.
"Bukan begitu maksud Ibu...mudah-mudahan Weny mendengarkan penjelasan kamu"
"Jika kali ini kamu gagal, Ibu serahkan jodoh kamu, cari sendiri, Ibu tidak akan ikut campur lagi..."
Ibu Widi kali ini menyerah, tidak akan lagi mencarikan jodoh untuk anaknya. Sebab, sudah sekian kali, mencarikan jodoh untuk Wibi tetapi tidak ada yang pas.
"Yang sabar Bu, Wibi bukan perjaka tua, yang harus mengejar target untuk mencari jodoh"
"Wibi tuh baru 28 th Bu, apa lagi aku kan anak laki-laki, teman Wibi yang perempuan saja banyak kok, yang belum menikah sampai sekarang."
"Yang penting Wibi akan terus berdoa dan sambil berusaha mencari, tentunya."
__ADS_1
"Iya le...Ibu mengerti"
"Memang yang namanya Weny tuh seperti apa sih? sombong banget sampai nggak mau mendengar penjelasan kakak!" Dira yang dari tadi hanya diam, langsung sewot.
"Yah...namanya orang lagi emosi nduk, yang jelas kita harus maklumi"
"Andai di posisi kamu, pasti kamu akan melakukan hal yang sama" terang Ibu.
"Sudah lah...tidak ada gunanya, kita berdebat" pungkas Bambang.
"Assalamualaikum..." Topan pun datang yang akan menemani, Bambang menemui Weny.
"Waalaikumsalam..."
Setelah Bibi membukakan pintu, Topan langsung masuk.
"Sini le, sarapan dulu" Ibu Widi mendekati Topan mengajaknya bergabung di meja makan.
"Terimakasih Bu, saya sudah sarapan tadi" tolak Topan santun.
"Sudah...duduk dulu, masih 30 menit kok, kalian berangkatnya."
Dira yang berada di depan Topan jantungnya dag dig dug der. Pasalnya Dira menahan perasaan itu sejak Topan baru pertama kali masuk ke showroom. Tetapi selalu menyembunyikan perasan itu. Namun, Topan rupanya tidak peka.
"Ayo sarapan dulu" titah Ibu Widi.
Demi menghormati tuan rumah. Topan ambil sepotong roti dan melahapnya.
Dira mecuri pandang ke arah Topan. Dan tidak luput dari perhatian Ibu Widi.
"Sudah siang Bu, Wibi berangkat"
"Hati-hati le..."
"Iya Bu."
Bambang mencium punggung tangan Ibu. Setelah mengusap kepala anaknya Ibu Widi mengantarkan Bambang sampai halaman rumah, di ikuti Dira.
Bambang kali ini naik taksi bersama Topan. Sebenarnya Dira bisa mengantarkan sampai Bandara. Tetapi Bambang tidak tega.
*****
"Nduk, jangan gegabah ambil keputusan, nanti kamu menyesal loh" titah Ibu Sri di dalam kamar anak gadisnya.
"Weny sudah ambil keputusan Bu, tidak sudi mempunya suami yang sudah berani selingkuh, masih belum nikah saja sudah begitu! apa lagi nanti, ciih"
"Weny, dengarkan Ibu nak, undangan sudah disebar, segala sesuatunya sudah siap, terus kita akan membatalkan semuanya? Ibu malu-nak, Ibu malu...." Raut Ibu Sri sedih dan kecewa.
"Oh jadi Ibu malu, hanya karena membatalkan acara, dunia tahu kok Bu, seperti apa calon suami Weny. "Seharusnya Ibu yang malu mempunyai menantu seperti dia" Emosi Weny pun meluap-luap.
Ibu Sri terduduk lesu di lantai, rasanya sudah kehabisan kata-kata. Selama seminggu membujuk anak dan suaminya. Pertengkaran kerap terjadi akhir-akhir ini.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Ibu Sri bangun dari duduknya. Kemudian keluar dari kamar anaknya.
Braakk. Weny menutup pintu kamar dengan kasar. Ibu Sri hanya bisa menggeleng dan memandangi pintu.