ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 67


__ADS_3

Bambang menyalakan music pikiranya traveling, setiap orang tentu senang saat mendapatkan perhatian. Apa lagi dengan orang yang di cintainya. Sebaliknya, saat di abaikan, di acuhkan, dan tidak di anggap ada, pasti akan merasa kesal dan sakit hati.


Astagfirlullah...Bambang berkali-kali istighfar. Dulu menyakiti hati Lidia, dan kini justeru mengulangi kesalahan yang sama. Mengacuhkan Weny, yang nyata-nyata mengharapkan cinta darinya. Walaupun Weny tidak pernah menyatakan perasaannya, tetapi Bambang bisa menyimpulkan.


"Weny? berpikir tentang kamu apa kabar? bahkan hari ini harusnya aku menyapa kamu, bukan malah berandai-andai mengharapkan yang tidak mungkin akan aku miliki. Gumam Bambang.


Bambang meluncurkan mobilnya akan menuju tempat yang sudah hampir dua bulan tidak ia kunjungi.


"Assalamualaikum..." Bambang sampai ketempat yang ia tuju.


"Waalaikumusallam..." Tampak pria kira-kira berusia 40 tahun dengan surban dan baju koko melekat di tumbuhnya. Sedang komat kamit melafalkan dzikir lengkap dengan tasbih di tangannya. Seketika menoleh ke asal suara. Pria paruh baya tetap merampungkan berdzikir.


Bambang netranya menelusuri sekeliling. Masjid dengan ruangan besar Alquran tersusun dengan rapi. Tampak beberapa pria shalat masing-masing, karena waktu shalat berjamaah telah usai. Bambang ambil air wudhu lalu menjalankan ibadah shalat dzuhur.


Selesai shalat Ustadz Miftah sudah selesai berdzikir.


"Kemana saja kamu Bi?" Tanya Ustadz Miftah heran, biasanya Bambang selalu rutin mengaji ke masjid ini seminggu satu kali.


"Ustad, dera saya, Ustadz" Ucap Bambang tiba-tiba, tanpa menjawab pertanyaan Ustadz Miftah. Seraya menyerahkan kedua tangannya.


Bambang duduk bersimpuh di depan Ustadz seraya menunduk.


Ustadz menatap Bambang dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu? kamu telah melakukan Zina?"


Bambang menggeleng. "Lalu?" Tanya Ustadz.


"Karena saya mencintai istri orang Ustad"


"Dan pernah berbuat apa kamu dengan wanita itu?"


"Saya tidak melakukan apapun Tadz,


saya mencintai dia tanpa dia tau, karena saya tidak pernah mengutarakan perasaan saya, tetapi saya cemburu jika melihat dia romantis dengan suaminya Tadz."


"Lalu kenapa kamu bisa mencintainya jika dia dengan suaminya harmonis?"


"Ketika itu dia sedang bertengkar dengan suaminya Ustadz"


"Awalnya saya hanya kasihan, tetapi entalah saya menjadi tersiksa karena rasa ini Tadz."


"Kalau hanya mencintai dan tidak melakukan apapun, tidak perlu di hukum dera bi"


"Wajar kita mencintai seseorang. "Ya beginilah kalau kita sedang terkena yang namanya virus cinta"


"Namun, yang namanya cinta tidak biasa, justeru menyakiti diri kita sendiri, ibarat kucing nyolong ikan jalan pelaaan...agar tidak ketahuan sang pemilik" "Beda dengan yang cinta lazim akan tenang menjalani" "Ibarat kucing yang di beri makan sang pemilik, si kucing duduk dengan tenang" ya pokoknya, namanya orang sedang jatuh cinta tidak pakai logika."


"Tiba-tiba hadir tanpa kita undang, yang penting bagaima kita menyikapinya"


"Untuk apa kita harus mencuri ikan seperti kucing, padahal sang pemilik hati kita yaitu allah, menyediakan ikan yang berwarna warni sangat indah, kita hanya tinggal memilih" Titah Ustad Miftah.


"Kamu mengerti maksud saya Bi?"


"Saya mengerti Tadz."


"Perbaiki semua Bi, sebelum semua terlambat"


"Allah SWT dalam firmanya surat Al-Isro 32, Menganggap zina sebagai perbuatan keji dan buruk.


"Dan janganlah kamu dekati zina;

__ADS_1


sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."


"Lalu bagaimana caranya menghilangkan rasa ini Tadz?" Bambang menggeleng lemah.


"Jauhi dia, hindari tatap mata dengannya, hilangkan jika kamu menyimpan foto, atau barang-barang miliknya, jangan lihat Instagram, facebook atau apapun"


"Jika kalian berteman di aplikasi itu"


"Banyak lah berdoa dan berzikir, jika ada waktu luang, jangan sampai ada ruang di hati untuk memikirkannya" "Jika perlu buka hatimu untuk orang lain." Titah Ustadz panjang lebar.


Bambang mengangguk mengiyakan, bangkit dari duduk ambil sajadah. Meninggal Ustadz Miftah. Selanjutnya bersujud memohon ampun kepada allah. Bambang ambil alquran dan melantunkan ayat-ayat.


Ustadz menatap Bambang dengan senyum yang lebar.


Tidak terasa tibalah shalat ashar.


Bambang shalat berjamaah. Selesai shalat hati Bambang terasa lebih tenang. Kemudian minta izin kepada Ustadz untuk pulang ke rumah.


*********


Waktu sudah sore acara demi acara, berjalan dengan lancar. Para tamu undangan sudah pulang tinggal panitia, karyawan dan (eo) even organizer.


Keluarga besar Rani dan Daniel bersiap untuk pulang.


Papa Nano dan Mama akan mengunjungi kediaman Rani Deni juga ikut serta. "Pak Toto bawa mobil abang saja, biar mobil ini saya yang bawa, kasihan mereka kelihatan lelah" Ucap Deni kepada Sopir Papa.


"Baik Den" Pak Toto kemudian masuk kedalam mobil Rani.


Keluarga Pak Siswo sudah berangkat terlebih dahulu menggunakan mobil Rani.


"Icha sama Umi saja" Kata Rani. Rani Daniel dan Icha barengan satu mobil. Mereka duduk di belakang.


"Hoam...." Icha rupanya ngantuk sekali hanya dengan hitungan menit. Icha terlelap.


"Okay..." Kepala Icha di pangkuan Rani dan kakinya di pangku Daniel.


Jarak komplek Rani ke restoran tidak terlalu jauh, tidak terasa mereka sampai di rumah.


Daniel menggendong Icha dan membawanya ke kamar.


Sampai di rumah Pak Siswo sudah duduk di sofa menonton televisi.


"Bapak sudah mandi" Tanya Rani menjatuhkan bokongnya di kursi sofa. Kelihatan lelah sekali.


"Sudah nduk"


"Mas Dino kemana Pak"


"Dia lagi mandi nduk, kalau Syintia sedang menyusui Wahyu di kamar"


"Oh, saya buatkan teh ya Pak" Rani berdiri.


"Sudah nduk, ini....tadi sudah di buatkan Syntia kok, lebih baik kamu istirahat, kelihatan lelah sekali.


"Njeh Pak, Rani istirahat ya" Rani bergegas masuk ke dalam kamar melihat anak dan suaminya sudah tidur. Daniel terlelap di samping Icha dengan sepatu masih melekat di kakinya.


Rani geleng-geleng kepala meletakkan tas di atas bufet kemudian membuka sepatu Daniel membawanya ke rak.


Rani kemudian mandi. 20 menit kemudian, keluar dari kamar mandi ambil baju ganti. Setelah ganti baju lihat jam sudah hampir jam 5. Tidak mungkin tidur jam segini lebih baik ke bawah temani Bapak ngobrol pikirnya.

__ADS_1


"Ah bikin teh saja lah, segar kali" Gumamnya. Rani kedapur membuat teh dan menyusul Bapak duduk di kursi.


"Loh, nggak jadi tidur nduk?"


"Tanggung Pak, sudah hampir jam 5 kok, lagian sebentar lagi Mama sampai"


"Nduk, Bapak tidak menyangka, kalau kamu punya restoran sama Cafe semewah itu, Bapak pikir hanya kecil-kecilan" Bapak menatap Rani berkaca-kaca.


"Alhamdulillah Pak, Rani juga tidak menyangka, ini berkat doa bapak"


"Besok Bapak langsung pulang kampung ya nduk"


"Yah Bapak! Rani kan masih kangen" Jawab Rani cemberut.


"Hehehe...sudah 5 hari loh Bapak disini, Mas kamu juga kan harus ngajar"


"Atau begini saja, biar Mas Dino sama Mbak Syntia pulang dulu, terus Bapak belakangan nanti Rani yang antar" Usul Rani berbinar-binar.


"Yo tidak bisa begitu to nduk, Bapak sudah tidak bisa jauh sama Wahyu masalahnya"


"Yah Bapak" Rani bersender di pundak Bapak manja.


"Sudah...nanti kamu saja yang gantian pulang bersama suami dan anakmu" Bapak mengelus bahu anaknya.


Krenteeeeng...terdengar pagar di buka.


"Mama kayaknya sudah sampai Pak" Rani mengangkat kepalanya.


"Ya sudah, temui sana" Titah Bapak. Rani bergegas ke keluar rumah.


"Kok lama Pa, Ma" Tanya Rani menggandeng tangan mertuanya masuk kedalam rumah.


"Tadi macet sedikit soalnya" Sahut Mama. "Oh." Rani membulatkan bibirnya.


"Masuk Pa, adik Ipar" Ucap Rani menuggu di depan pintu.


"Waah...adem banget ya Ran rumahmu, di tambah semilir angin sore lagi." Ucap Papa.


"Iya Pa, Mas Daniel kalau pulang sore betah banget duduk di teras, adem katanya"


"Ngomong-ngomong Daniel sama Icha kemana Ran?" Tanya Mama.


"Istirahat Ma, capek banget kayanya"


"Ma, Pa, duduk dulu, Rani buatkan minuman ya" Tanpa menunggu jawaban Rani bergegas kedapur membuat minuman.


Rani membuat teh manis, Rani tahu walau Daniel tidak suka teh, tetapi Papa sama Mama suka minum teh.


Sementara diruang tamu. "San, nanti malam menginap dirumah saya ya" Kata Papa Nano.


"Lain kali saja Pak Nano, entah esok atau lusa saya sudah akan kembali ke kampung." Tutur Bapak.


"Kok cepat sekali San, besan belum pernah menginap di rumah saya, padahal saya sudah sering menginap di sana"


"Yang penting sudah bertemu disini, kita semua di berikan kesehatan alhamdulillah Pak Nano" sahut Bapak.


"Besok berangkat naik apa san, biar di antar sama Pak Toto ya" Mama nimbrung obrolan.


"Tidak usah Bu, saya naik pesawat saja biar cepat" sambung Bapak.

__ADS_1


"Ma, Pa, ini minum dulu" Rani menyuguhkan minum di depan mereka.


Bapak dan Papa Nono ngobrol hingga menjelang Maghrib.


__ADS_2