
Bambang menyalakan mesin mobilnya pulang dengan membawa rasa kecewa. Padahal sudah jatuh bangun berjuang, tapi nyatanya cintanya bertepuk sebelah tangan. Biar bagaimana Bambang hanya bisa mengagumi tentu tidak akan bisa memiliki yang sudah menjadi milik orang lain.
Sakit? Iya. Perih hati tentu tidak bisa dihindari, haruskah hati ini di kungkung nelangsa? oh tidak! semua berhak bahagia. Itulah yang dirasakan Bambang saat ini.
Tepat jam 10 malam Bambang sampai di kediamannya.
Bambang masuk kedalam kamar. Telungkup di tempat tidurnya dengan isak tangis.
Izinkan aku menangis untuk malam ini. Ya Allah...untuk meluapkan kesedihan aku. Aku bukan lemah, ya Allah...hanya dengan cara ini bisa meluapkan kesedihan, kembali kuat dan jujur dengan diriku sendiri. Aku akan berusaha melupakan dan akan melabuhkan hati aku kepada orang yang memang membutuhkan aku. Bantulah hambamu ini. Ya. Allah...
Bambang menjerit dalam hati.
Tok tok tok..terdengar ketukan pintu Bambang segera mengusap air matanya dengan kedua punggung tangannya.
"Masuk"
Ceklek.
"Kamu baru pulang Bi?"
"Iya Bu"
"Makan dulu sana gih, kamu belum makan kan?"
"Sudah Bu, di rumah teman tadi"
Mendengar suara Bambang yang serak habis nangis, Ibu mendekati anaknya duduk di sampingnya dan bertanya.
"Kenapa, kamu menangis le?" Tanya Bu Widi. Mengangkat dagu Bambang yang masih tengkurap. Bambang akhirnya bangun dan duduk.
"Maaf Bu, selama ini Wibi sudah menjadi anak yang nakal, hu huuu..." "Menyimpang dari ajaran agama dan melanggar aturan yang di ajarkan Ibu sejak kecil." Bambang menunduk tidak berani menatap wajah Ibu Widi. Dengan tangis seperti anak umur tiga tahun yang minta di belikan permen.
"Apa maksudmu Bi" Ibu Widi menarik kedua bahu anaknya menatap Bambang tidak mengerti.
"Wi, Wibi! mencintai Istri orang Bu..."
"Apa?! Bu Widi seketika berdiri.
"Apa maksudmu Bi! jelaskan!" Ibu Widi menggoyang bahu Bambang.
"Maaf Bu" hanya itu yang terucap
dari mulut Bambang.
"Ceritakan Bi! siapa wanita itu dan apakah dia juga mencintaimu?"
Tanya Ibu Widi menahan kecewa.
Bambang menggeleng. "Dia tidak suka padaku, karena dia sangat mencintai suaminya, bahkan dia tidak tau jika Wibi suka padanya Bu." Tutur Bambang lirih.
Ibu Widi menjatuhkan bokongnya di ranjang. Setidaknya merasa lega wanita yang di sukai Bambang tidak membalas.
"Siapa wanita itu sampai bisa membuat mu seperti ini?" Tanya Bu Widi lembut sambil mengelus punggung anaknya.
"Di, dia pemilik restoran DUKRENGTENG Bu."
"Rani?" Tanya Bu Widi terkejut.
Bambang mengangguk. "Duh! Wibi...Ibu tuh rasanya ingin mithes kamu!" Tukas Ibu.
"Sudah! lupakan dia, masa depanmu masih panjang le, jangan sia-siakan hidupmu"
"Lebih baik kamu menuruti saran Ibu, nikahi Weny, dia anak yang baik, masalah cinta nanti akan tumbuh dengan sendirinya."
"Iya Bu, Wibi akan menerima perjodohan ini" "Benarkah?" Tanya Ibu Widi berbinar-binar dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Baiklah, besok akan Ibu atur pertemuanmu dengan dirinya."
"Tidak usah Bu, Wibi sudah bertemu dengannya, untuk sementara ini, Ibu jangan bilang kalau Wibi anak Ibu, karena yang mereka tahu Wibi sebagai sopir taksi."
Ibu manggut-manggut, mendengar penuturan Bambang.
"Ya sudah, sekarang kamu tidur, kelihatan lelah sekali kamu Bi"
"Ya Bu."
Bambang mencoba untuk tidur akhirnya dengan susah payah Bambang terlelap.
*****
Dirumah Rani, semua penghuni rumah sudah masuk kedalam kamar masing-masing.
Sementara Rani masih membersihkan wajah di depan cermin.
Daniel menghela nafas panjang menunggu Rani tidak juga naik ke ranjang.
"Yank!
"Heem..." sahut Rani karena wajahnya masih menggunakan masker bibirnya tidak bisa di buka.
"Cepetan dong, sini...."Panggil Daniel serak. Karena tidak ada sahutan Daniel bangun dan mendekati Istrinya.
"Yank, lama banget sih" Daniel memeluk perut Rani dagunya menempel di pundak.
"Kamu sekarang genit banget sih! dulu nggak pernah begini, apa jangan-jangan ada pria lain selain aku?"
Rani seketika berbalik badan menatap Daniel tajam. Daniel tersenyum ia berhasil menggoda Istrinya.
Rani berdiri menyingkirkan tangan Daniel. Bergegas ke wastafel mencuti wajahnya. Sebenarnya masih menunggu beberapa menit lagi baru di cuti. Tetapi karena tidak mau mendengarkan gerutuan Daniel Rani mengalah.
Daniel kemudian menyusul Rani ketempat tidur.
"Tetapi memang ada yang suka sama kamu yank"
Rani menoleh cepat. "Siapa memang?! Tanya Rani masih cemburut.
"Bambang, siapa lagi?" Jawab Daniel tanpa ragu.
"Jangan ngawur Mas, Bambang tuh orangnya polos, apa adanya, nggak mungkin neko-neko" sambung Rani membela bambang. Rani tidak menyadari kalau Danel mendengar Istrinya memuji Bambang rasasa panas.
"Tau nggak Mas, Bambang tuh orangnya agamis, rajin shalat, terus baik, pandai menghibur, kalau aku sedang sedih" ucapnya tersenyum menatap keatas. Ingat ketika Bambang menghibur dirinya saat sedang terpuruk.
"Ah kamu tuh!" Daniel menoyor jidat Rani.
"Puji saja terus! iya, aku memang jauh dari kriteria kamu, ilmu agama pas pasan, nggak bisa menghibur kamu, bisanya hanya nyakiti kamu terus." Sahut Daniel kesal.
"Huh! marah lagi deh! baru mau baikan"
"Siapa yang marah, aku sadar diri kok, aku sudah tua, nggak seperti Bambang."
"Sudahlah Mas, aku capek banget, maup tidur." Ucap Rani miring membelakangi Daniel.
"Maaf, aku hanya mau bilang, kalau Bambang suka sama kamu itu nyata, tapi aku percaya kok sama kamu."
Rani balik badan menatap Daniel.
"Nggak mungkin Mas...sudah ahh! tidur, sudah malam."
"Kamu kurang peka, aku laki-laki jadi tahu, bagaimana caranya menilai bahwa orang itu suka atau nggak." Tutur Daniel.
"Ah masa bodo Mas! dia mau suka, atau nggak itu urusan dia, yang penting aku nggak menimpali." Sahut Rani. "Sudah tidur! jangan ngomongin orang, dosa tahu!"
__ADS_1
"Iya dech tidur, tapi bikin dedek dulu ya" hehehe.
"Ihh ngarep"
"Kan, melanjutkan tadi sore yang tertunda yank" Daniel kemudian melancarkan aksinya. Berkali-kali hingga kelelahan kemudian tidur.
Keesokan harinya Rani terbangun badanya terasa sakit semua. Berjalan kekamar mandi saja rasanya lemas
*****
Sementara Weny dkk sudah berjibaku, dengan tugas masing-masing.
"Kok tumben banget, boss belum bangun?" tanya Nena yang sedang membuat bubur kacang hijau.
"Ya elah kamu Nen, kan ada suaminya, kalau bangun juga nggak bakalan buru-buru kedapur"
"Betul juga kamu Wen"
"Nen aku tuh pengen tanya sama kamu, tapi lupa terus"
"Mau tanya apa sih Wen, serius banget." Ucap Nena sambil mengaduk bubur.
"Bagaimana sih ceritanya, kok kamu bisa jadian sama Reno, setahu ku dia dulu kan cinta banget sama Rani?" Tanya Weny penasaran.
"Hehehe...aku juga nggak nyangka Wen, awalnya Reno dipukuli orang sampai babak belur, akhirnya aku datang ke Apartement, awalnya Mas Reno menolak keras, nggak mau membukakan pintu untuk aku."
"Aku akhirnya membujuknya, dengan berat hati dia terima aku"
"Aku obati lukanya, aku buatkan masakan, ya gitu deh, lama-lama dia mengutarakan perasaannya" hehehe. Nena tersenyum mengingat awal jadian dengan Reno.
"Terus belakangan ini, aku baru tau ternyata yang menghajar Reno suami Rani." Tutur Nena berbisik.
"Wattt! seriusan kamu?" Tanya Weny memebelalakan Netranya.
"Ya gitu, katanya sih karena cemburu."
"Terus kapan kalian akan menikah?" Tanya Weny mengalihkan pembicaraan khawatir Rani mendengarkan.
"Nggak tahu Wen, aku bingung, Mas Reno sudah mengajak nikah beberapa bulan yang lalu"
"Tetapi kamu tahu kan bagaimana Ibunya Reno, nggak bakalan suka sama aku." Tutur Nena sedih.
"Katanya nggak boleh gibah! kok Mbak Weny sama Mbak Nena malah pagi-pagi semangat banget" Pungkas Rini yang sudah wangi siap berangkat.
"Eh Iya, aku belum mandi" Nena berlari kecil kekamar mandi. Gara-gara ngobrol lupa waktu.
"Sini, aku bantu Mbak Weny" Rini menyiapkan bubur kedalam mangkok, kemudian Weny menata roti yang akan di makan dengan bubur kacang hijau.
Akhirnya mereka sarapan bersama.
"Nen, kamu yang bawa mobil aku berangkat sama Mas Daniel ya"
"Siip.." Weny mengacungkan jempol nya.
Daniel berangkat mengantarkan Rani dulu sebelum kekantor.
Sampai di kantor, Daniel sudah di suguhkan banyak pekerjaan.
******
"Reader yang baik hati dan tidak sombong, besok budhe keluar kota dulu selama tiga hari, kalau tidak sempat up, mohon bersabar"
Doakan semoga perjalanan budhe lancar.
.
__ADS_1