ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 120


__ADS_3

Hai reader... jika berkenan, Mampir juga keceritaku yang baru. CERITA MAWAR. SUAMIKU MENIKAH LAGI.


.


.


.


"Bu, buka pintunya..." teriak Reno dari luar kamar.


"Dobrak saja Ren" titah Ayah Reno, yang baru saja datang.


"Brak! brak!" Reno mendobrak pintu, pintu terbuka Reno segera berlari. Melihat keadaan Ibu Erika tampak memprihatinkan.


"Ibu...jangan begini" ucap Reno memeluk Ibu Erika yang lemas tak bertenaga.


"Bawa kerumah sakit Ren" titah Ayah Reno dari luar kamar.


Reno dengan cepat membopong tubuh Ibunya membawanya keluar di ikuti Ayah.


Ayah Reno membuka pintu mobil kemudian Reno menidurkan Ibunya di jok tengah.


"Temani Ibumu Ren, Ayah yang nyetir" titah Ayah.


Ayah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tidak lama kemudian sampai di rumah sakit terdekat.


Ibu Erika kemudian di bawa ke UGD.


"Bagaimana keadaan Ibu saya dok?" tanya Reno setelah menunggu diluar.


"Ibu Anda depresi berat, di tambah lagi tidak makan beberapa hari. Membuat tubuhnya lemas." dokter memberi penjelasan. Menurut saran dokter Ibu Rika harus dirawat untuk beberapa hari. Terpaksa Reno menunda kepulangannya ke Jakarta.


Niat Reno ingin minta Restu untuk melamar Nena lagi-lagi gagal.


*********


Malam harinya dikamar Ibu Widi, jika mantanya Pak Siswo sedang meringkuk di rumah sakit.


Pak Siswo dan Ibu Widi sedang merasakan kebahagian.


"Mas mandi duluan..." ucap Ibu Widi bersemangat. "Ya" sahut Pak Siswo masuk kedalam kamar mandi.


Ibu Widi memperhatikan langkah pria yang kini menjadi suaminya. "Mimpikah aku? tanya nya dalam hati. Pasalnya pria yang di kagumi kini menjadi miliknya.


Ibu Widi tersenyum mengembang hingga Pak Siswo menghilang di balik kamar mandi. Ia bersandar di kursi sofa kamar, menengadah ke langit-langit.


"Ya" Allah...berikan rumah tangga aku langgeng, hingga ajal menjemput." Ibu meraup wajahnya.


Ceklek! Pak Siswo keluar dari kamar mandi.


Ibu Widi memperhatikan Pak Siswo tidak berkedip.


"Kamu kok, melihat aku sampai begitu? aku masih ganteng ya" hehehe, seloroh Pak Siswo mengusap kepala Ibu Widi.

__ADS_1


Ibu Widi seketika wajahnya memerah tersenyum malu-malu.


"Sudah gantian mandi sana" titah Pak Siswo.


Ibu Widi segera mandi. Lima belas menit kemudian sudah selesai. Keluar dari kamar mandi melihat Pak Siswo tidur di sofa.


Ibu Widi melongok Pak Siswo. Menelisik wajah suaminya dengan jarak dekat.


Sekarang saja masih ganteng begitu apa lagi waktu muda dulu ya? "kamu belum puas? lihat aku terus?" tanya Pak Siswo. Ibu Widi mundur hingga kepentok ranjang sangking kagetnya.


"Aduh" Ibu Widi meringis karena lutut bagian belakang kepentok. "Hati-hati Bu" titah Pak Siswo tidak beranjak dari Sofa.


Ibu merebahkan tubuhnya di kasur. Menit berlalu. Sudah tiga puluh menit menunggu, ternyata suaminya belum juga menyusul ia menjadi kesal sendiri. Mau bilang malu, tapi kalau nggak bilang pengen. (Suer ✌ budhe nulis sambil ngakak. 🤣)


"Mas" panggilnya.


"Heemm" sahut Pak Siswo.


"Sini..." ucapnya kemudian.


Pak Siswoyo pun bangun mendekat.


"Mas tidur di sini" titah Ibu Widi menepuk bantal yang sudah di tata di sebelahnya.


"Kamu sudah siap?" tanya Pak Siswo.


"Siap apa?" tanya Bu Widi. Kura-kura didalam perahu.


"Jangan bohong!" ucap Pak Siswo mencium bibir Ibu hanya asal nempel saja. Namun, di luar dugaan Ibu Widi menarik tengkut suaminya.


"Allahumma janibnasyaithona wa janibnisyatanamarazaqna." Artinya "Dengan nama Allah. "Ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan syitan dan jauhkanlah syitan dari rezeki (Bayi) yang engkau anugerahkan kepada kami.(HR Bukhari)


Setelah melafalkan doa Kedua insan yang sudah sekian tahun berpuasa. Kini berbuka dengan seteguk demi seteguk madu hingga habis satu botol. (Diabetes nggak ya?) sudah sepuh soalnya. 🤣


******


"Nyak Fatimeh, saya ikut ya" rengek Zainaf ketika keluarga Lidia ingin menyaksikan pinangan anaknya.


Tampak Encang Rohim beserta istri dan kedua anaknya turut hadir. Dan tetangga-tetangganya terdekat pun turut di undang termasuk Zubaidah.


"Mendingan gak usah ikut dech lo! bikin rusuh lagi, entar di sono" ketus Zubaidah.


"Kagak pok, sumpeh dech. Aye pan udeh minte maaf ame Lidie" sahut Zainap menyakinkan.


"Udech, kalau Zainaf pengen ikut boleh kok" Enyak menengahi.


"Yes! benar Nyak?" tanya Zainaf kegirangan.


Nyak mengangguk. Mereka segera berangkat menyewa tiga mobil angkot milik tetangga.


Meskipun hari minggu jalanan cukup padat. Mungkin, ini saatnya orang-orang mengajak anaknya libur di luar daripada diam di rumah beristirahat.


"Assalamualaikum..." keluarga Eneng sampai di rumah Ibu Widi. Ibu Widi dan Pak Siswo menggunakan batik solo seragam tampak serasi. Menyambut tamu undangan.

__ADS_1


"Waalaikumusallam..." masuk jeung Fatimah, silahkan duduk" ucap Ibu Widi.


Enyak Fatimah dan rombongan pun duduk di kursi yang sudah di sediakan. Karena acara akan di adakan jam 10 pagi. Maka kerabat dekat pagi-pagi sudah datang.


Tampak Mama Nadyn, dan Papa Nano melangkah elegan bergandengan mesra. Seolah tidak kalah dengan pengantin baru.


"Eh jeung Nadyn, selamat datang" ucap Ibu Widi kemudian cipika cipiki.


"San, selamat ya, ternyata sudah meresmikan pernikahan. Sayang, kami tidak di undang" kata Papa Nano. "Papa ihh!" Mama Nadyn mencubit lengan suaminya.


"Tidak apa-apa Bu Nadyn...memang kami tidak mengundang. Cukup keluarga saja. Malu, sudah tua soalnya" sahut Pak Siswo.


"Jeung Nadyn, kenalkan. Ini calon besan saya" ucap Ibu Widi. Mama Nadyn dan Nyak Fatimah pun berkenalan. Beliau mengobrol santai di selingi canda tawa tampak akrab.


Namun, sedang asyik nya berbincang tamu yang tidak di undang pun datang. Ia adalah, Mama Laura, Papa Gunawan, dan Sherly bergandengan tangan dengan Ronald.


"Jeung Widi mengundangnya?" tanya Mama Nadyn setengahnya berbisik.


"Tidak Jeung Nadyn" sahutnya. Beliu menjadi tegang, khawatir kehadiran mereka membuat kegaduhan.


***


Semenatara di dalam kamar masing-masing calon ratu. Pagi yang cerah, matahari bersinar terang. Seolah turut merasakan kebahagian seperti yang di rasakan Bambang dan juga Eneng.


"Kamu cantik banget Mbak Lidia" ucap Rani, saat menemani Eneng yang sedang di rias.


"Apa lagi kamu Ran, kalau nggak jalan bareng suami, pasti di kira belum "married" ucap Eneng.


"Pasti banyak, laki-laki yang naksir sama kamu" sambungnya.


Memang benar apa kata Eneng, jika jalan hanya sendirian Rani di sangka masih lajang.


"Bisa saja kamu Lid" sahut Rani.


"Umi Icha, nggak ada yang boleh ganggu Tante" protes Icha.


"Umi cuma punya Icha sama Papa" ucapnya sambil bergelayut.


"Pasti dong cantik" sahut Eneng mencubit pelan pipi tembem Icha.


***


Di kamar Bambang. "Abang dulu pakai acara tunangan nggak?" tanya Bambang kepada Daniel.


"Tidaklah... Bapak nggak bakal boleh pakai acara tunangan" sahut Daniel.


"Pokoknya serba cepat dech, melamar saja Mama yang membelikan cincin" hahaha. Mengingat kala itu Daniel terbahak. Padahal hatinya sudah mencintai Rani tapi gengsi untuk mengakui.


"Cek. Payah Abang! nggak ada romantis romantisnya" omel Bambang.


"Namanya juga di jodohkan, semua perlu proses"


"Iya, Abang tipe laki-laki penyiksa hati wanita" sindir Bambang.

__ADS_1


"Hus! jangan diungkit! itu kan dulu" sahut Daniel.


"Sudah... ayo turun. Setengah jam lagi, acara di mulai" Daniel memperingatkan. Bambang melangkah menuruni anak tangga di ikuti Daniel.


__ADS_2