
Bambang di bawa menyingkir oleh Topan di ajak kerumahnya. Topan segera membuka kotak P3K mencari alkohol, kapas, betadine, untuk mengobati bibir Bambang yang pecah.
Ibu setengah baya masih tampak cantik di usianya, yang hampir menginjak 40 tahun. Mengamati dari dapur. Kemudian berjalan mendekat.
"Astagfirlullah...ada apa ini Pan?" tanya Ibu Entin yang tak lain Mamanya Topan.
"Biasalah Ma, Ayah Weny pelakunya."
Ibu Entin yang biasa di panggil Teh Entin, berasal dari Bandung. Wajah putih dan tinggi semampai berambut ikal, ternyata wajah Topan menjiplak wajah Mamanya.
Ayah Topan yang asli penduduk setempat, menikahi Teh Entin ketika merantau ke Jakarta dahulu.
"Kenalkan Ma, ini boss Topan?"
"Oh jadi ini, boss kamu?" Mama menatap Bambang seksama.
"Perkenalkan Bu, nama saya Bambang" Bambang menjabat tangan Bu Entin.
"Oh, iya, saya sering lihat kamu di televisi, tetapi aslinya lebih ganteng" tutur Teh Entin. Lagi-lagi menatap Bambang tidak percaya.
Jika yang di beritakan saat ini, adalah boss anaknya.
Ibu Entin tahu, saat ini Bambang menjadi perbincangan di kampungnya. Ada yang kasihan dan ada juga, Ibu-Ibu yang benci kepadanya. Namun, Teh Entin sendiri tidak mau ikut campur.
"Ibu bisa saja" sahut Bambang tersenyum di paksakan, karena bibirnya sakit.
"Dilanjut, saya buat minuman dulu" Teh Entin berlalu menuju dapur.
"Pelan-pelan Pan, sakit tahu!" ucap Bambang meringis menahan rasa sakit.
"Ini sudah pelan sekali boss" sahut Topan.
*****
Dirumah Weny. Pak rt rw sudah berkumpul akan membahas masalah pembatalan perkawinan Weny dengan Bambang. Sebab, Pak Cipto kekeh pernikahan anaknya ingin di batalkan.
"Dino, cepat panggil Bambang kemari" titah pak Siswo.
"Njeh, Pak" Dino memanggil Bambang. Tidak lama Bambang datang bersama Topan dan Teh Entin. Karena rumahnya hanya berhadap-hadapan.
Bambang duduk di sebelah Pak Siswo dan Dino. Rasanya ada kekuatan jika duduk di samping beliau.
Weny duduk disamping Ayah dan Ibu menatap Bambang sekilas tampak lebam. Namun, segera membuang muka.
"Sekarang semua sudah berkumpul, kita tanyakan kepada kedua belah pihak"
"Nak Bambang dan Weny, apakah pernikahan ini akan di lanjutkan atau tidak?" tanya Pak Siswo.
"Sekarang saya tanyakan, kepada nak Bambang terlebih dahulu, apakah nak Bambang akan melanjutkan pernikahan ini? atau justeru sebaliknya?" tanya Pak Siswo.
"Terimakasih Pak, atas waktunya, sebelum saya menjawab pertanyaan Bapak, saya akan meluruskan dulu tentang isyu yang semakin memanas saat ini" tutur Bambang lugas.
"JANGAN BASA BASI! CEPAT JAWAB!!" bentak Pak Cipto.
"Cipto! kami belum mempersilakan kamu untuk bicara, lebih baik diam!" tukas Pak Siswo. Menatap Cipto tajam.
Pak Cipto pun terdiam, begitu juga semua yang berkumpul di rumah Weny.
__ADS_1
"Begini Pak Cipto, dan juga bapak-bapak sekalian" Bambang mengela nafas sebelum melanjutkan.
"Saya dengan Mbak Rani memang dekat, tetapi hanya urusan bisnis, tidak lebih" ucap Bambang.
"BOHONG! DIA PAK, OMONG KOSONG SEMUA!" Tukas Weny menatap Bambang mengintimidasi.
"Weny! diam dulu, biar nak Bambang menjelaskan" titah Bu Sri.
Weny pun diam.
"Saya lanjutkan, Pak, Bu"
"Begitu juga, hubungan saya dengan Bang Daniel, kami sangat baik, tidak mungkin kan kalau saya sampai ada hubungan dengan Rani"
"Bang Daniel dan Rani saling mencintai dan Weny tahu itu"
"Sebab, Weny dan Rani tinggal satu rumah."
Pak rt rw manggut-manggut.
"Banyak kok Pak, saksinya, Topan sebagai asisten pribadi saya, sehari-hari kami selalu bersama" "Jika saya mengencani Rani, tentu Topan pasti mengetahui"
"Dan masih ada saksinya, mungkin Bapak dan ibu tahu, Nena, Mira, Rini bahkan masih ada lagi Rudi dan Arif." Bambang menjelaskan panjang lebar. Semua yang berkumpul di rumah Weny percaya. Kecuali Pak Cipto dan juga Weny.
"Dan kesimpulannya, saya tetap akan melanjutkan, pernikahan ini, jika Weny berkenan tentunya"
"Saya kira hanya ini yang bisa saya sampaikan, Bapak dan ibu semua" "Saya mohon maaf, sekiranya ada kata-kata yang kurang sopan." Pungkas Bambang.
"Sekarang, saya akan tanyakan kepada nak Weny, apakah ingin lanjut atau sebaliknya?"
Weny berdiri menatap Bambang membunuh.
"Belum menikah saja sudah main di belakang! apa lagi nanti!" Emosi Weny meluap-luap.
"Jadi saya mohon, terutama kepada Ibu saya! agar menyudahi pernikahan omong kosong ini!" "permisi."
Weny pergi meninggalkan ruang tamu. Semua orang yang berada di rumah itu melongok, melihat sikap Weny. Pasalnya. Sarjana S1 kelakuannya seperti orang yang tidak berpendidikan.
"Sekarang kita sudah tahu, jawaban dari kedua belah pihak, sekarang saya tanya sama kalian, Cipto, dan kamu Sri." Kata Pak Siswo.
"Saya membatalkan pernikahan anak saya!" Tukas Pak Cipto.
"Lalu bagaimana dengan kamu Sri?"
"Dengan berat hati, saya menuruti anak dan suami Pak" Pungkas Ibu Sri.
"Baiklah" sahut Pak Siswo.
"Nak Bambang, ternyata nak Weny sudah tidak ingin melanjutkan, pernikahan ini." Pak Siswoyo menatap Bambang prihatin.
"Baik Pak, saya tidak bisa memaksa."
Sahut Bambang pasrah. Segala sesuatu yang dipaksakan tentu tidak akan baik menurut Bambang. Inilah bagian dari ujian hidupnya. Mau tidak mau Bambang harus menerima dengan ikhlas.
"Tetapi, ini sudah menjadi kuputusan Weny sendiri"
"Saya akan terima. Namun, jika
__ADS_1
Weny berubah pikiran, saya tidak akan menarik kata-kata saya"
"Biar bagaimana, saya sudah memberi kesempatan kepadanya, tetapi Weny kekeh"
"Jika Weny tegas, saya juga lebih tegas." Bambang sudah putuskan jika Weny kelak ingin mengajaknya kembali, sudah tidak mau menerimanya.
"Baik Pak rt, Pak rw, masalah isu ini adalah tentang anak saya, berarti ada kaitannya dengan saya"
"Saya mewakili anak saya, mohon maaf"
"Tetapi, saya sebagai orang tua, tidak akan membela anak saya, jika memang anak saya salah"
"Dan anak saya saat ini sudah besar, saya tidak akan ikut campur, biar mereka menyelesaikan masalah ini sendiri" Pungkas Pak Siswo.
"Saya mewakili warga di sini, juga minta maaf Pak Siswo, mungkin saat ini mereka butuh penjelasan dari nak Bambang dan juga Rani sendiri" tutur Pak rw.
"Betul Pak, saat ini saya belum bisa memberikan penjelasan, karena ada alasan yang tidak bisa saya ungkap di sini" kilah Bambang. Tidak mungkin bilang jika Rani saat ini sedang sakit.
"Saya akan selesaikan masalah saya satu persatu, jika sudah tiba waktunya, saya akan meluruskan pemberitaan yang sudah sangat merugikan Rani dan juga saya sendiri."
Bambang menyudahi pembicaraan. Kemudian warga membubarkan diri.
Bambang memutuskan, akan tinggal di Yogyakarta selama tiga hari. Karena menunggu Topan. Agar bisa melepas kangen dengan keluarga dulu, tidak mungkin langsung pulang begitu saja.
*****
Di rumah sakit Rani sedang di periksa oleh dokter Zulmy.
"Bagaimana dok, saya sudah boleh pulang kan?" tanya Rani penuh harap.
"Jangan dulu ya, tekanan darah kamu masih sangat rendah, dan HB kamu hanya 8 loh, paling tidak harus dinaikan sampai 10 jika tidak sampai 12" tutur dokter Zulmy.
Dengan lesu Rani pun menuruti saran dokter.
"Saya pamit dulu ya, vitamin tambah darah, jangan lupa di minum agar cepat pulih."
"Baik dok terimakasih." sahut Rani. Zulmy lalu meninggalkan ruangan.
"Nah kan? Mas bilang juga apa, sabar dulu makanya yank" Daniel menimpali.
"Ini coba ngaca, wajah kamu masih pucat begini kok" Daniel memperlihatkan wajah pucat Rani dengan kaca kecil yang di bawa Mira tadi malam.
"Ya...aku jelek banget ya Mas..." ucap Rani cemberut. Melihat wajahnya dari pantulan kaca.
"Kata siapa kamu jelek, kamu itu, wanita paling cantik, di mata aku" Rayuan maut Daniel pun keluar.
"Iiihhh...nggombal!" Rani mlengos.
"Nggak percaya...coba tanya sama Bambang" ucap Daniel terkekeh. Membuat Rani terkesiap.
"Iiihhh...kok Bambang sih Mas! sebel aku" sahut Rani kesal.
"Eh Mas, ngomong-ngomong Bambang, bagaimana ya, masalahnya dengan Weny, sekaranga kan lagi di kampung Mas"
"Biar saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, kamu jangan pikirkan mereka, pikirkan kesehatan kamu sendiri, mau cepet pulang tidak?" ucap Daniel kesal istrinya selalu memikirkan orang lain.
"Iya aku nurut, tapi aku kangen sama Icha" rengek Rani.
__ADS_1
"Gampang...besok kan minggu, biar Pak Toto yang mengantarkan kesini." Pungkas Daniel.