ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 60


__ADS_3

Mertua dan menantu kini sangat bahagia setelah setahun tidak bertemu. Mereka saling tukar cerita, menangis bahagia, dan saling canda tawa.


"Icha pulang jam berapa ya Ma?"


"Jam 4, soalnya hari ini ada les privat, pasti dia senang banget lihat kamu datang."


"Icha ikut bimbel Ma?" Tanya Rani sedih. Gara-gara ia pergi, Icha sampai ikut bimbel, karena tidak ada yang ajari. Tetapi mau bagaimana lagi untuk saat ini belum bisa berkumpul dengan keluarga.


"Iya Ran, kemarin kan nilainya turun terus, jadi Daniel masukan saja les privat."


"Maaf ya Ma" Ucap Rani menatap Mama berkaca-kaca.


"Sudah, tidak usah di pikirkan Ran, lakukan yang menurutmu baik nak, Mama akan selalu dukung kamu." Terang Mama. Sebenarnya Mama ingin anak dan menantunya bisa segera berkumpul. Tetapi Mama terlalu egois jika menuruti egonya. Setelah apa yang anaknya lakukan kepada menantunya. Yang penting saat ini menantunya bisa memaafkan anaknya sudah sangat senang.


"Ma, Rani pingin buatkan roti goreng isi keju, kesukaan Icha, ada bahannya enggak?" Rani langsung bersemangat. Waktu nunggu jam 4 masih lama jadi bisa membuat surprise buat anak sambungnya.


"Bahannya apa?" Tanya Mama. Mama memang tidak terlalu mahir memasak seperti Rani. Jadi tidak tahu resep kue maupun Roti.


Bisa masak untuk suaminya juga karena belajar dari Bibi.


"Telur, terigu, mentega, sama pengembang Ma, itu bahan dasar, terus buat isian bisa keju, coklat dan daging sesuai selera, tapi kalau Icha sukanya yang keju." Tutur Rani sambil membuka lemari kusus menyimpan bahan makanan.


"Coba saja cari sendiri Ran, nanti Mama tinggal bantuin saja."


"Ada semua kok Ma, bahannya" Rani kemudian mengeluarkan bahan. Kemudian membuka kulkas. Di kulkas ada daging cincang dan keju.


"Ada semua kok Ma, Rani coba bikin ya" Rani bersemangat mengeluarkan bahan-bahan dan memulai membuat adonan. Selesai membuat adonan roti menunggu mengembang. Rani membuat isian, menumis daging cincang kesukaan Daniel.


"Ini bisa langsung di pulang-pulang Ran" Tanya Mama ingin membantu.


"Belum Ma tunggu 30 menit dulu"


"Kamu hebat ya Ran, kata Daniel kamu punya restoran sama Cafe ya?"


"Iya Ma awalnya iseng-iseng, nggak taunya masakan Rani banyak yang suka, Rani jadi semangat"


"Mama nggak pengen icip-icip di resto Rani, tapi lumayan jauh dari sini Mah"


"Pasti dong sayang, sebenarnya dari kemarin pengen kesana, sekalian ingin segera bertemu dengan kamu, tetapi kata Daniel nanti saja, yah, nggak jadi dech." Tutur Mama kecewa.


"Ma, bulan depan kan setahunnya restoran Rani"


"Rani mau undang rekan bisnis, pemilik perusahaan yang sudah mau kerja sama dengan Rani"


"Mau undang juga keluarga di kampung, menurut Mama bagaimana?"


"Waah...setuju banget sayang...Mama pasti bantu kamu mempersiapkan semuanya." Tutur Mama menatap Rani berbinar-binar.


"Rani seneeeng banget Ma, bisa buka resto, bukanya nggak di cukupi sama suami, tetapi Rani bisa membuka lapangan pekerjaan disaat orang-orang sulit mencari pekerjaan."

__ADS_1


"Iya sayang...Mama salut sama kamu" "Mama waktu masih muda seperti kamu, Mama juga senang mencari kesibukan yang menurut Mama membuat kepuasan sendiri, melenggang di panggung sebagai model, setelah hamil Daniel Mama berhenti total"


"Awalnya setelah Daniel lahir ingin terus menjadi model selagi masih ada yang mau kontrak Mama"


"Eh, setelah Daniel lahir rasanya sayang mau ninggalin anak." Tutur Mama senang, membayangkan dulu ketika menjadi model.


"Ngomong-ngomong Daniel jadi ingat, kemana suamimu?" Tanya Mama dari tadi tidak melihat anaknya.


"Dia kesal tuh Ma, lagi bad mood, gara-gara tadi Sherly ngamuk di Cafe"


"Sherly! mau apa lagi tuh anak?! Ingat Sherly Mama menjadi ikut kesal.


"Yah...yang jelas ingin mengadu domba Rani sama Mas Daniel Ma, dia bilang Rani buka usaha di modali sama pengusaha muda, apa coba maksud nya." Rani juga bingung bagaimana Sherly bisa mengarang cerita sampai sejauh itu.


"Terus Daniel terprovokasi gitu? dengan kata-kata sampah mulut Shelly?" Tanya Mama heran.


"Ya wajar Ma, Rani nggak menyalahkan Mas Daniel, sebab tempo hari, Sherly juga datang kerumah, menunjukkan surat nikah siri dengan Mas Daniel"


"Rani sempat bimbang juga, aku pikir benar, Rani Robek saja Ma suratnya, terus Rani lempar ke wajahnya."


Tutur Rani menyesal sempat tidak mempercayai suaminya.


"Ya Allah... tuh anak sampai nekat begitu!" Sesal Mama.


"Eh ngomong-ngomong adonanya sudah ngembang Ma" Ucap Rani membuka serbet penutup baskom.


"Oh...bisa besar gitu ya" Mama melongok baskom.


"Setelah ngembang gini, terus di kempesin Ma, biasanya Rani kalau untuk isian box suka di timbang biar rata, tetapi kalau hanya untuk makan sendiri tinggal di pulung Ma, menurut selera." Rani membulatkan adonan, kemudian di bentuk bermacam-macam bentuk agar menarik, memberi isian Coklat, keju, dan daging cincang yang sudah di tumis dengan bumbu dan sayuran.


"Sudah Ma, ini tinggal di goreng" Rani menyiapkan penggorengan dan menggoreng hingga matang.


"Cobain Ma" Rani menyodorkan kue ke mertuanya. "Enak Ran, waktu itu kan Mama pernah makan roti kaya gini, di rumah teman Mama."


"Di rumah Ibu Widi ya Ma?"


"Iya, kok kamu tahu" Sahut Mama sambil makan roti masih hangat-hangat terasa nikmat.


"Itu salah satu pelanggan setia Rani Ma, setiap ada acara pasti pesan sama Rani."


Ketika sedang ngobrol. Daniel turun dari lantai atas, kas baru bangun tidur. Rambutnya acak-acakan dan netranya memerah. Tanpa permisi Daniel nyomot satu roti isi daging lalu melahap duduk di kursi meja makan."


"Eh tuh anak ya! main comot nggak permisi, nggak sopan tahu!" Kata Mama menatap Daniel kesal. Daniel tetap makan tidak menjawab.


"Ihh cuci dulu apa tuh muka, baru bangun juga! mana matanya merah lagi" Kata Rani ikut kesal. Daniel tetap tidak menjawab. Berdiri dan kembali ambil satu roti.


"Waa...ada orang lapar Ma" Sindir Rani menatap Mama tersenyum.


"Ya, makan yang kenyang ya Pak, kalau sudah kenyang kan marahnya tambah kuat" Kata Rani sambil meletakan sepiring roti di depan Daniel.

__ADS_1


"Iya nggak Ma?" Rani melirik Mama.


"Betul" Ucap Mama.


Daniel menatap Rani merengut. Tetapi ambil satu roti lagi.


Rani duduk di depan Daniel menatap suaminya sambil tersenyum senang. Karena suaminya suka masakannya. Daniel habis tiga roti sekaligus.


"Apa sih senyum-senyum! nggak ikhlas masakannya di makan suaminya?! Daniel melirik Rani sekilas kemudian mlengos kesal. Tetapi sambil mengunyah.


"Nggak! ikhlas kok Tuan, ini di habiskan" Rani menunjuk piring di depanya, lalu berdiri ambil air minum untuk suaminya.


"Sudah di masakin bukan terimakasih malah cemberut ya Ran, lain kali jangan mau masakin." Sindir Mama kemudian duduk di kursi sofa. Menyalakan telivisi dengan remote.


"Terimakasih" Pada akhirnya Daniel berucap.


"Nggak usah terimakasih, kalau terpaksa, kalau terimakasih karena di suruh mah, sudah nggak asyik." Jawab Rani berdiri, kemudian menyusul Mama duduk di sofa panjang.


Daniel menghela nafas panjang ikut berdiri dan duduk di samping Rani.


"Iiihh...cuci muka dulu sana, biar segar! sekalian shalat ashar" Titah Rani.


"Iiihh...ribet banget sih hidup!" Pungkas Daniel. Kemudian berdiri menangkupkan kedua tangannya ke pipi Rani dan menekanya, hingga bibir Rani membentuk hurup O. Lalu ngloyor ke kamar mandi. Mama Nadyn hanya geleng-geleng melihat kelakuan anaknya.


"Mas Daniel....jadi suami nggak ada lembut-lembutnya pisan sih" Tukas Rani seraya memegangi pipinya yang memerah. Daniel tersenyum senang bisa mengerjai istrinya.


"Assalamualaikum..." Icha akhirnya pulang di antar Pak Toto.


"Waalaikumsalam...." Rani dan Mama menoleh.


"Umiiii..." Icha berlari langung duduk di pangkuan Rani.


"Wah anak Umi yang cantik sudah pulang" Kata Rani sambil menciumi pipi Chubby Icha.


"Umi kapan datang?" Tanya Icha mendongak.


"Tadi siang" Sahut Rani.


"Umi buat roti goreng isi keju loh, kesukaan Icha." Rani mengelus kepala Icha ternyata sekarang kalau sekolah pakai kerudung. "Tapi salim Uti dulu dong" Titah Rani.


"Waah...pasti enak" Icha menjilat bibir dengan lidahnya membayangkan makan roti isi keju. Kemudian mencium punggung tangan Uti.


"Hehehe..." Rani dan Uti terkekeh melihat gaya Icha seperti orang lapar.


"Mana rotinya?" Tanya Icha bersemangat.


"Ganti baju dulu, cuci tangan pakai sabun, baru makan roti" Titah Rani.


Icha bangun bersemangat, kemudian naik kelantai atas masuk kedalam kamar. Meletakkan tas di meja belajar kemudin kekamar mandi.

__ADS_1


Daniel sudah keluar dari kamar mandi kelihatan segar kemudian duduk di samping Rani.


__ADS_2