
Traang...nampan lepas dari tangan eneng, tangannya mendadak lemas gemeteran. Laki-laki yang telah melukai hatinya 7 tahun yang silam kini berada di depanya.
"Neng kenapa kamu?" tanya Bu Widi menghampiri eneng. Membuat eneng sadar dari lamunan.
"Nyonya, maaf nyonya, saya tidak sengaja, jangan pecat saya" kata eneng khawatir di pecat. Padahal baru pertama kali bekerja di rumah ini sudah berbuat kesalahan. Pasalnya, eneng sangat membutuhkan pekerjaan ini.
"Ya sudah, lain kali hati-hati ya, lagian siapa yang mau pecat kamu?" tanya Bu Widi kasihan melihat wajah eneng seperti menanggung beban.
"Terimakasih nyonya, saya bersihkan dulu." si eneng melangkah cepat ambil sapu dan fengki.
Bambang ternganga, bukan karena gelas yang pecah. Namun, melihat gadis yang dulu pernah ia sakiti hadir di hadapanya.
Tidak lama, eneng datang membawa alat pembersih.
"Maaf nyonya, saya sudah membuat makan malam nyonya dan Tuan terganggu" ucap eneng menyesal sebab ketiga penghuni meja makan itupun menunda makan malamnya.
"Sudah, jangan dipikirkan" titah Ibu.
Srang...srang...srang si eneng menyapu beling yang berserakan.
"Hati-hati neng, belingnya" kata Bi Ipah yang membawa nampan berikutnya.
"Iya Bi"
"Ya Allah...kenapa baru pertama kali kerja sudah begini sih? kenapa dia yang menjadi boss aku" monolog eneng dalam hati.
"Auw..." pekik si eneng, menginjak beling karena sambil melamun darah pun mengucur.
"Duh eneng, hati-hati saya bilang" kata Ibu.
"Bi, ambil obat, si eneng kena beling" pangil Ibu agak kencang karena Bibi di dapur agak jauh.
"Baik nyonya."
Dira dan Bambang pun mendekat. "Dalam nggak lukanya Mbak?" tanya Dira.
"Nggak kok Non" sahutnya. Sedangkan Bambang berdiri di depan eneng hanya diam masih bingung semua yang terjadi hari ini.
Yang pertama tadi, ada Ibu-Ibu yang di paksa bayar hutang. Dan yang kedua, saat ini malah bertemu dengan gadis cantik di masa lalunya.
"Ini obatnya neng, biar Bibi yang bersihin, kamu obati saja"
"Terimakasih Bi" eneng mengobati lukanya, sebenarnya hanya tergores sedikit. Namun, karena di kaki darahnya keluar banyak.
"Sudah neng, kamu istirahat saja, hanya tinggal bereskan meja makan kok, nanti Bibi saja"
"Tapi kan Bi?"
"Sudah, masuk kamar gih" titah Bibi.
Eneng berdiri kemudian menatap Bambang sekilas yang masih terpaku di depannya. Kemudian berjalan pincang masuk kedalam kamar.
Si eneng menjatuhkan badanya di kasur dengan kasar. Menghela nafas panjang menatap ke atas plafon.
__ADS_1
Flashback on
"Haii...boleh gabung nggak?" tanya Bambang duduk di depan eneng dan salah satu sahabatnya. Ketika itu mereka sedang berada di kantin sekolah.
"Oh, silahkan kak"
Deg deg deg.
Jantung eneng bergetar, padahal banyak kakak kelasnya yang menyukai dirinya. Namun, tidak mampu membuatnya bergetar.
"Kenalkan, nama aku Wibi, kelas 3 IPA." Bambang mengulurkan tangannya dan tersenyum.
"Saya Lidia kak, kelas satu IPA" Lidia menyambut uluran tangan Wibi lagi-lagi dadanya bergetar.
"Mau makan apa? nanti aku traktir" ucap Bambang.
"Saya sudah pesan baso kak"
"Oh"
Flasbach off.
Kring..kring..
Hp butut eneng bergetar ternyata Ibunya yang telepon.
"Assalamualaikum..." suara enya dengan hp judulnya. "Bagaimana nak, pertama kali kerja, majikanmu baik nggak?"
"Waalaikumusallam..."
"Syukurlah neng, dari tadi enya mikirin kamu terus, khawatir majikan kamu galak"
"Nggak kok nya, doakan eneng ya, moga betah, terus bisa ngumpulin uang, buat cicil hutang nya"
"Oh iya neng, ngomong-ngomong hutang, nya mau cerita nih"
"Kenapa nya? laki-laki tua itu kasar lagi, sama nya?" tanya eneng kesal. Membayangkan laki-laki tua itu menagih hutang dengan kasar.
"Benar neng, tapi tiba-tiba ada anak muda yang ganteng, melunasi hutang nya, malah membayar uang kontrakan segala" tutur enya.
"Laki-laki ganteng? siapa nya?"
"Nya juga nggak tahu neng, tapi dia tadi ninggal alamat"
"Biar saja lah neng, nya mau giat dagang, supaya bisa menyicil, setidaknya aman, hutangnya nggak pakai bunga, jadi nggak nambah-nambah terus" tutur nya.
"Iya sih nya, tapi siapa pria itu?"
"Nanti neng, kalau nya sudah punya uang buat cicil, kita datang kealamatnya, sudah gitu dulu ya neng, tadi nya beli pulsa hanya 5 ribu langsung habis nih" tut hanpon nya terputus.
****
Sementara Bambang di kamarnya gelisah memikirkan gadis di masa lalunya yang saat ini bekerja di rumahnya.
__ADS_1
Flasbach on
Saat itu Bambang dengan ketiga temannya yang nakal sedang duduk di kantin.
"Eh, lihat tuh anak baru, cantik kan?" tanya fredy.
"Yang mana?" tanya Rony.
"Yang duduk berdua itukan?" sambung Riko.
"Betul" sahut fredy.
"Waah...benar kata loe, memang cantik dia, boleh juga tuh" kata Riko.
Sedangkan Bambang hanya diam tidak menimpali, kepalanya pusing. Sebab, sedang di hukum oleh Ayahnya tidak di kasih uang jajan selama sebulan. Karena ketahuan icip-icip minuman beralkohol. Kredit card miliknya pun di sita.
"Gue punya ide nih" otak kotor Fredy bereaksi. Sebab Fredy kesal berapa kali mendekati wanita itu tidak di respons.
"Apa?" tanya Riko dan Rony bersamaan.
"Kita tarohan, siapa yang bisa taklukan dia, uang satu juta milik gue ini jadi milik loe" tantang fredy.
Karena memang sedang butuh uang, Bambang pun tertarik. Kemudian melalukan ide konyol itu bersama ketiga temanya.
Tidak memakan waktu yang lama. Bambang yang bisa meluluhkan wanita cantik adik kelasnya itu.
Pertemuan pun sering terjadi, Lidia benar-benar jatuh cinta dengan Bambang.
Di taman belakang sekolah yang sepi. Bambang dan ketiga sahabatnya berkumpul.
"Mana uang taruhan yang loe janjikan, gue yang menang kan?" Bambang tersenyum jenaka.
"Tenang bro" Fredy merogoh dompet dari saku celananya.
"Nih uang nya" Fredy menyerah kan uang tersebut. Bambang senang mengibas-ngibas uang tersebut. Setidaknya aman sampai 10 hari pikirnya.
"Praaang..Lidia menjatuhkan mangkok siomay yang di peganganya. Hatinya hancur berkeping-keping.
Ia berlari tak tentu arah, dirinya hanya di jadikan tarohan uang satu juta. Ia menangis menyesali mengapa cintanya harus berlabuh dengan pria brengsek macam Wibi.
Flasbach off.
"Astagfirlullah...Bambang menyesal. masihkah gadis itu mau memaafkan dirinya? yang nyata-nyata dia sudah melukai hatinya.
Waktu sudah hampir jam dua belas malam. Namun, ia tidak bisa memejamkan mata. Tenggorokan nya terasa haus kemudian kelantai bawah ambil minum.
Dibawah berpapasan dengan eneng yang tak lain Lidia. Bambang menatap gadis itu matanya sembab seperti habis nangis.
Bambang ingin menyapa. Namun lidahnya kelu untuk berucap.
Setelah ambil minum Lidia kembali kekamar. Tidak memperhatikan seonggok manusia yang sedang memikirkan dirinya.
Bambang mengela nafas panjang dan duduk di kursi meja makan sambil meneguk segelas air.
__ADS_1
****
"Maaf part ini belum bisa menampilkan Rani.