
"Anak kita mau diberi nama siapa Pa?" tanya Rani kepada Daniel sambil mencoba menyusui bayinya walaupun belum keluar asi.
"Aku sudah siapkan nama yank" sahut Daniel yang sedang mengamati Istri dan anak laki-laki nya.
"Siapa Pa?" tanya Rani bersemangat.
(Basheer Einas Daniel) "Menurutmu bagus tidak yank?"
"Bagus Pa, nanti kita panggil Einas ya" kata Rani senang sambil tersenyum menatap suaminya.
"Iya, yank" sahut Daniel sambil memainkan telapak tangan Rani.
"Belum keluar air susunya yank?" tanya Daniel beralih obrolan.
"Belum, kalau kata Syntia sih, dua hari baru keluar" sahut Rani.
"Nanti kalau sudah keluar aku kalah dong sama Einas" seloroh Daniel.
"Iihh... ngeres saja! pikiranya" cicit Rani mlengos, kemudian meletakkan Einas di sampingnya.
"Ahahaha..." Daniel tertawa lepas.
"Ih, ketawa nya! nyeremin" kata Rani memencet hidung suaminya.
"Eh, mulai berani ya?" kata Daniel. Canda tawa pun pecah memenuhi ruangan VIP yang kedap udara.
"Assalamu, alaikum" Mama Nadyn, Papa Nano dan juga Icha membuka pintu. Menghentikan candaan keduanya.
"Waalaikumusallam" Daniel menoleh lalu berdiri menyambut kedatangan orang tua dan anaknya.
"Yeee...aku punya adik..." seru Icha kemudian berlari menuju di mana adiknya bobo.
"Eit... sudah cuci tangan belum?" Daniel mencegah Icha ketika ingin menyentuh adiknya.
"Do not worry Papa, sudah cuci tangan tadi sama Uti" terang Icha.
"Benar kata Icha, tadi sudah cuci tangan kok" Mama menimpali.
"Selamat ya sayang... much-muach" Mama Nadyn mencium pipi Rani kanan kiri.
"Terimakasih Ma" sahut Rani
"Selamat Ran kamu sudah memberi hadiah untuk Papa dan Mama. Untuk pernikahan kami yang ke 35 tahun" sambung Papa Nano yang berdiri bersama Mama di samping ranjang. Kemudian melingkarkan tanganya di pundak Mama Nadyn.
"Terimakasih Pa, selamat juga, untuk Papa dan Mama" sahut Rani.
"Papa, dedek di kasih nama belum?" tanya Icha tidak mau mingser masih senang mencolek colek Pipi hidung dan dagu adiknya.
"Sudah" jawab Daniel kemudian jalan ke kursi sofa.
"Siapa namanya Umi?"
__ADS_1
"Namanya Einas sayang..." sahut Rani.
"Wow, namanya keren"
"Wah... cucu Uti gantengnya... tututuuu..." Uti mendekat kemudian menggendong Einas.
"Yah... uti... kok dedek di gendong. Icha kan jadinya nggak bisa melihat" kata Icha cemberut.
"Bentar ya, gantian" sahut Uti, sambil mengayun-ayun cucu laki-lakinya.
"Icha sini, kok terus Umi di lupakan" Rani pura-pura ngambek.
"Selamat Umi, Icha sayaaang... sama Umi" Icha kemudian memeluk Umi nya dengan rasa sayang.
"Tapi, Umi tetap sayang sama Icha kan? walaupun sudah ada dedek?" tanya Icha khawatir Uminya tidak sayang lagi kepadanya.
"Eh, kok ngomongnya begitu sih? ya jelas sayang dong. Icha itu anak pertama Umi" "Sudah pasti, sayang Umi tidak akan berubah sampai kapanpun" terang Rani.
Daniel yang sedang duduk di sofa bersama Papa Nano, menatap Istri dan anaknya penuh rasa syukur. Daniel menitikan air mata bahagia, mempunyai Istri yang baik, sayang dengan anak tirinya di tambah lagi cantik. Daniel berdoa semoga keluarganya selalu di berikan kebahagian.
Tidak ada bedanya Mama Nadyn, memperhatikan kedekatan antara menantu dan cucunya yang bukan terlahir dari rahimnya. Namun saling menyanyangi. Mama Nadyn sangat bahagia pilihanya untuk menjodohkan putranya dengan pengasuh cucunya dulu, ternyata tidak salah pilih. Mempunyai menantu tidak hanya cantik di luar, tetapi yang terpenting cantik di dalam.
"Sekarang gantian, Papa yang menggendong" kata Papa Nano membuyarkan lamunan Daniel dan juga Mama Nadyn.
"Hati-hati loh Pa, sudah lama nggak menggendong bayi, soalnya" Mama mengingatkan.
"Jangan khawatir Ma, kalau Mama mau. Papa masih bisa loh memeberi Mama anak" Guraunya sambil mengambil alih Ainas dari gendongan Mama Nadyn.
" Iya nggak Dan? Ahahaha..." tawa Papa Nano terdengar nyaring sambil berjalan kembali duduk di sofa mendekati Daniel.
"Terserah Papa sama Mama saja dech" sahut Daniel. Daniel pun ingin mencontoh kedua orang tuanya walapun sampai tua selalu menjadi pasangan yang selalu harmonis.
Icha bergegas mendekati Akung kemudian duduk sambil mengusap-usap tangan adiknya.
Waktu sudah sore, Mama, Papa dan Icha pun kembali pulang.
****
"Hoeek...hoeek" tangis Einas memecah keheningan, saat ini Rani hanya sendiri. Daniel sedang menjalankan shalat maghrib di mushola rumah sakit.
"Cup cup cup sayang..." Rani mencoba menenangkan.
Creek
Pintu di buka ternyata Daniel sudah selesai maghrib.
"Kenapa yank? kok Einas menangis?" tanya Daniel mendekat.
"Pa, tolong bikin susu bisa nggak?" tanya Rani masih menenangkan anak laki-lakinya.
"Bisa yank" dengan cepat Daniel mengambil botol, menuangkan air panas dan air dingin, mengatur suhu agar tidak kepanasan. Daniel kemudian menuangkan dua takar sendok susu kemudian mengocoknya.
__ADS_1
"Ini yank" Daniel memberikan botol susu kepada Istrinya. Einas pun seketika diam setelah menyedot susu.
"Assalamu, alaikum" tampak Bambang bersama Lidia masuk kedalam, sambil membawa buah dan cemilan.
"Waalaikumusallam" sahut Rani dan Daniel bersamaan.
"Selamat ya Ran" ucap Lidia kemudian cipika cipiki.
"Terimakasih Mbak. Mbak Lidia belum ada tanda-tanda kehamilan?" tanya Rani.
"Belum Ran, Mas Wibi tuh! sudah kepingin banget, padahal baru tiga bulan menikah" adu Lidia.
"Alhamdulillah... aku akhirnya punya keponakan" kata Bambang tidak menanggapi kata-kata Lidia, kemudian mendekati Rani duduk di ranjang.
"Eh, duduknya di sini! nggak boleh dekat-dekat!" Omel Daniel posesif, kemudian menarik Bambang agar duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Alaaah... pelit amat sih Bang!" sahut Bambang. "Cuma pengen lihat dedek lebih dekat loh? nggak boleh! cek" sambungnya.
Rani dan Lidia hanya menggelengkan kepala melihat suami mereka setiap berkumpul ada saja yang di ributkan. Tetapi mereka saling menyayangi.
"Boleh aku gendong Ran?" tanya Lidia.
"Boleh" sahut Rani.
Lidia kemudian menggendong Einas tampak sudah terbiasa walaupun selama ini belum pernah menggendong bayi.
"Hati-hati" ucap Daniel melihat anaknya di gendong Lidia.
"Tenang Bang, nggak akan kenapa-kenapa kok" sahut Lidia menatap Daniel wajahnya tampak khawatir.
Bambang memperhatikan istrinya yang sedang menggendong Ainas. Ia berpikir andaikan itu anaknya. Rasanya Bambang sudah ingin menimang bayi.
"Kenapa loe? bengong saja?! sergah Daniel mengejutkan Bambang yang sedang melamun.
"Selamat ya, Bang. Abang sudah punya jagoan, terus aku kapan?" tanya Bambang.
"Elah loe! drama amat sih, menikah baru tiga bulan kok sudah ngarepin anak"
"Gue saja tiga tahun lebih baru di kasih" ujar Daniel.
"Iya juga ya Bang" pungkas Bambang.
Daniel dan Bambang pun berbicara panajang lebar. Mereka duduk di sofa. Kali ini mereka membahas tentang bisnis mereka.
Rani dan Lidia pun sedang ngobrol tentang kehamilannya, sampai proses melahirkan.
****
"Hallo reader yang baik hati... Selamat tahun baru 2022. 💪💪💪
"Semoga kita semua selalu di berikan kebahagian dan kesehatan." Aamiin... Aamiin... yarobbal alamin. 💕
__ADS_1