ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 70


__ADS_3

Dengan tangan gemetar sangking groginya, Weny ambil jaket dari tangang Bambang kemudian memakainya.


"Ayo kita pulang, sudah jam 10" Ucap Bambang berjalan menuju mobil Weny mengikuti langkahnya.


Di dalam mobil Weny mengamati cincin yang melingkar di jari manisnya. Seolah belum percaya sebentar lagi ia akan merubah statusnya. "Inikah hasilnya merantau selama 6 bulan? Gumamnya seraya tersenyum.


Dan tidak luput dari perhatian Bambang. Bambang turut tersenyum samar. Tanpa Weny ketahui.


"Nggak suka ya, sama cincin yang aku beli, kok di lihatin terus?"


"A, anu, suka, suka banget, terimakasih ya" Ucap Weny gugup.


"Kira-kira berapa orang ya Mas, yang akan silaturahmi ke kampung, besok saya akan telepon Ayah?" Tanya Weny mengalihkan dan menetralkan detak jantungnya.


"Hanya berdua saja kok, saya sama Ibu" sahut Bambang. "Oh, lalu Ayah Mas?" Tanya Weny belum tahu jika Ayah Bambang sudah tiada.


"Ayah saya sudah meninggal"


"Oh, maaf, saya nggak bermaksud membuat Mas sedih"


"Nggak apa-apa kok" Bambang kemudian menghentikan mobilnya.


"Kok berhenti Mas?" Weny heran tiba-tiba Bambang berhenti.


"Hehehe...." Bambang terkekeh.


"Kok malah tertawa sih!" Weny cemberut.


"Lupa sama tempat tinggalmu?" Tanya Bambang menggoda, padahal sudah sampai di perbatasan komplek.


"Hah? Weny netranya mengerling wajahnya memerah karena malu. Sangking senangnya sampai tidak sadar jika sudah sampai. "Hehehe. nyengir menatap Bambang.


"Maaf, saya nggak bisa mengantar kamu sampai rumah ya" Bambang merasa bersalah. "Nggak apa-apa kok Mas, terimakasih, untuk semuanya"


"Sama-sama" sahut Bambang.


"Berani nggak?" Tanya Bambang tidak tega membiarkan Weny berjalan malam-malam sendirian.


"Berani kok Mas, kan banyak security."


"Oh, hati-hati ya Wen" "Daaa...Weny" Bambang melambaikan tangannya.


"Daaaa...Mas Bambang..."


Bambang memperhatikan Weny hingga menghilang di tikungan jalan, kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.


******


Di rumah Rani, saat ini ia hanya tinggal bersama sahabat-sahabat nya. Sebab Daniel ada rapat keluar kota untuk membahas pembuatan cabang gudang bahan pokok untuk memperluas usahanya. Besok sore baru akan pulang.


"Nen, Weny kok belum pulang sih! sudah jam 10 lebih nih" Rani gelisah memikirkan Weny.


"Ya allah Ran, segitu khawatir nya, biarin aja, dia bukan anak kecil lagi kali?? lagian dia kan pergi sama Bambang" Sahut Nena.


"Justeru sama Bambang itu Wen, dia kan laki-laki pergi berdua sampai malam, sudah gitu baru pertama lagi cek!"


"Hahaha...jangan bilang kamu cemburu ya Ran?"

__ADS_1


"Blug! bantal melayang ke kepala Nena.


"Mulut ngomong nggak di saring, kamu pikir aku perempuan apa?!


"Aku tuh cinta banget sama suami aku walaupun suka ngeselin, tetapi banyak sisi baiknya."


"Walau semarah apapun aku kepada suami, aku paling anti berkhianat, aku kalau sudah mencintai seseorang tentu tidak akan pernah mendua"


"Aku juga heran sama kamu Ran, kok bisa kamu tuh sampai cinta banget sama suami kamu, padahal Pak Daniel tuh somsek, mana pernah menyapa kami kalau nggak perlu-perlu banget" cerocos Nena.


"Heh! jangan kurang ajar!" Rani mencubit bibir Nena. Kesel suaminya di bilang somsek.


"Hahaha...bercanda Ran, gitu saja marah" Kata Nena.


"Bercandamu nggak lucu, tau?! Rani bersungut-sungut.


"Ran, aku jadi khawatir nih, jangan-jangan....Bambang mendekati Weny hanya untuk pelarian saja" "karena gagal medapatkan kamu, sebab Bambang tuh mencintai kamu Ran."


Nena kali ini serius.


"Husss...mulut mu di jaga kalau ngomong, dari tadi kamu itu nerocos terùs! jangan suka salah sangka, dosa tahu!"


"Astagfirlullah...iya Ran, mudah-mudahan dugaanku salah"


"Tetapi, kenyataannya Bambang dulu memang suka sama kamu Ran" Sahut Nena.


Rani menghela nafas, apa iya sih? Bambang suka kepadanya. Sebab Daniel juga bicara begitu. Jika memang benar, tentu dia tidak akan memaafkan. Sebab Bambang mancing di air keruh, berarti ia menolong dirinya tidak tulus dan ada embel-embel. Rani benar-benar kecewa. Rani mau memaafkan jika Bambang bisa melupakan dirinya dan tulus mencintai sahabatnya.


"Kok malah melamun sih Ran" Nena memperhatikan Rani.


"Hmmm...Nen, kalau yang kamu bilang itu benar, apakah Weny mengetahuinya?"


"Sukurlah Nen, aku khawatir jika Weny tahu bahwa Bambang pernah menaruh hati padaku. Weny tentu akan kecewa."


"Tok tok tok...assalamualaikum..." Mendengar ketukan pintu, Nena kedepan membukanya.


Ceklek.


"Duuuhhh...yang habis kencan, tidak tanggung-tanggung pulang sampai larut malam," "Rani khawatir tuh!"


Weny masuk, nyengir, tidak menimpali Nena yang setengah ngomel.


"Ran, sorry kemaleman" Ucap Weny lalu duduk di sofa samping Rani, tanpa di persilahkan. Di ikuti Nena.


"Nggak apa-apa kok, hanya khawatir saja, aku pikir kamu di bawa kabur sama Bambang" hehehe.


"Iya, aku sudah di bawa kabur, diajak makan, di ajak nonton, dan..." Weny mengulum senyum ingat surprise yang di berikan Bambang.


"Iihh..kamu ini mau cerita nggak sih?! Nena nyikut Weny gregetan mau cerita tapi belibet.


"Ran...Nen... lihat" Weny menunjukkan jari manisnya dengan wajah berbinar kepada kedua sahabatnya.


Nena mengerutkan dahi, sementara Rani melebarkan netranya. Otak cerdas Rani langsung menangkap. Berbeda dengan Nena masih belum mengerti ia pikir Weny membeli cincin.


"Waahh...Alhamdulillah...selamat ya Wen" Rani merangkul pundak sahabat di sebelahnya.


"Ada apa sih kok pada girang, kalau cuma cincin mah aku juga punya" Nena menujukkan cincin.

__ADS_1


"Ahh, kamu ini telmi amat, Weny sudah di lamar sama Bambang" terang Rani.


"Oooo..." Nena membulatkan bibir dan mata. "Selamat...aku ikut senang" mereka bertiga berpelukan.


"Sudah, pada tidur yuk, besok kan kerja, sudah jam 11 nih." Titah Rani. Mereka masuk kekamar sedangkan Rini dan Mira sudah tidur sejak jam 9.


Di kamar, Rani membuka handphone, karena tegang memikirkan Weny sampai lupa dengan benda pipihnya. 10 panggilan dari Daniel membut mata Rani membelalak.


"Ya allah...marah nggak ya Mas Daniel aahh..."monolog Rani.


Rani menimang handphone mengetuk ketuk di tangan. "Di telepon balik nggak ya? aahhh...tapi kan sudah malam" Rani mendadak gusar khawatir suaminya marah. "ahh...bodo amat! mendingan tidur" Rani meletakan handphone di sampingnya. Rani memejamkan mata.


Deerrr deerrr derrr... Rani melihat siapa yang telepon ternyata Daniel video call.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..." Kamu kemana saja sih? aku telepon nggak di angkat, pesan nggak di balas, dari jam sembilan tahu nggak!" Omel Daniel. Wajahnya seperti singa ngamuk. Ia bersandar di ranjang hotel dengan satu bantal. Selimut menutup tubuhnya sampai perut, sayup-sayup terdengar suara televisi.


"Maaf...aku tadi ngobrol sama Weny, sama Nena, handphone aku di kamar."


"Alesan saja! kemana kamu tadi? CEPAT BILANG!" bentak Daniel. Rani melakkan handphone dan menutup telinganya seraya memejamkan mata. Seketika Daniel diam tidak ada suara. Beberapa menit kemudian Rani perlahan membuka mata dan kembali meraih handphone.


Di lihat Daniel masih di sana.


"Masih mau marah nih? kalau hanya mau marah-marah, lebih baik aku tutup saja, dari pada mendengar omelan Mas, tidur aku jadi nggak pules." sahut Rani pelan. Lebih baik mengalah dari pada menyiram kobaran api dengan bensin.


"Habisnya, aku tuh khawatir sama kamu, kirain ada apa-apa"


"Biasanya kamu kemana-mana kan bawa handphone"


"Iya, iya...nanti aku kelonin nih handphone, dari pada ngelonin suami nggak ada" sahut Rani kesal. "Hehehe..kamu sih di ajak nggak mau, kalau kemarin mau kan aku bisa kelonin kamu" Daniel mulai mencair.


Rani memijit pelipisnya pusing sama sikap suaminya, kadang emosinya meluap tetapi tidak lama tertawa lagi.


"Yah, Mas kan tahu sendiri, tugas aku banyak, harus urus restoran, menyusun skripsi" "Terus hari jumat sabtu kemarin, aku menemani Mama menemui klien Papa, gitu dech, jadi nggak sempat telepon Mas"


"Ya sudah...aku minta maaf." Ucap Daniel.


"Bagaimana rapatnya lancar?" Tanya Rani.


"Alhamdulillah sayang...pendaftaran usaha kita sudah di setujui pemerintah setempat" "Surat Izin Perdagangan (Siup) sudah keluar, tinggal mendirikan bangunan.


"Sukurlah Mas, tapi jangan lupa kalau mendirikan bangunan tenaga project jangan lupa merekrut warga setempat" "Agar tidak terjadi kecemburuan sosial di kemudian hari."


"Siap Istriku.."


"Sudah malam Mas aku tutup ya, ngantuk nih"


"Yah...sebenarnya aku masih kangen yank"


"Besok kan Mas sudah pulang"


"Iya sih, tapi aku pengen yank, sudah 3 malam nggak loh" hahaha.


"Teruuusss..." "kita kan jauh, ngeres saja sih pikiranya!"


"Buka bajunya yank, aku mau lihat"

__ADS_1


"Mas Daniel...ih nyebelin!"


__ADS_2